
"Sayang. Sayang... bangun."
"Kenapa?" tanyaku dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun dan cepat mandi. Kita mau pergi."
"Ke mana?"
"Jangan banyak tanya. Cepat atau aku yang memandikanmu, mau?"
"Iya, iya, aku bangun, Mas. Biar aku mandi sendiri," kataku masih dengan malas-malasan.
"Lama," protesnya. Dia menggendongku dan membawaku ke kamar mandi.
"Turunkan aku. Aku mau mandi sendiri," kataku.
Dan, yap, dia menurunkan aku -- persis di bawah shower, dan langsung menyalakannya. "Sialan! Dingin...," teriakku.
Saat itu Reza malah tertawa, seakan hal itu adalah lelucon yang sangat lucu. "Maaf, ya. Aku hanya bercanda. Biar kusiapkan air hangat."
"Biar aku sendiri. Kamu keluar." Kudorong dia sampai keluar, lalu aku pun menutup pintu.
"Cepat, ya Sayang," teriaknya dari balik pintu.
"Yeah. Kuusahakan."
"Jangan bercanda. Jangan lebih dari lima belas menit. Dandan, dan jangan lupa nanti siapkan pakaian ganti."
"Cerewet. Memangnya mau ke mana?" Tak ada jawaban. "Mas? Halo? Mas?"
Huh! Dia sudah pergi tanpa menjawab pertanyaanyku.
Kurang dari dua puluh menit perjalanan, kami tiba di pelabuhan Tanjung Benoa. Aku yang keheranan mulai rewel bertanya kenapa dia mengajakku ke pelabuhan.
__ADS_1
"Kita akan berlayar."
"Berlayar?"
"Yeah. Hadiah yang kujanjikan hari itu."
Mulutku membulat tanpa suara saking senangnya. Langsung kudekap Reza dengan penuh suka cita. "Terima kasih. Kamu selalu tahu apa yang kumau. Aku senang."
Dia pun membalas pelukanku dan mencium keningku, tanpa kata, tanpa suara, dia hanya menyampaikan rasa sayang dan cintanya dengan pelukan. Yeah, pelukan itu sudah kembali hangat seperti sebelumnya. Pelukan yang sangat kusukai keeratannya, yang hanya dengan kedua tangannya, tapi terasa mendekap seluruh tubuhku dari kepala hingga ujung kaki.
"Aku bisa memelukmu sepanjang malam, nanti di villa. Sekarang kita nikmati apa yang ada di depan mata, ayo."
Kami pun tergesa karena kapal yang akan kami naiki segera melepaskan jangkarnya. Setengah berlari kami menuju Quicksilver Cruise yang akan segera diberangkatkan oleh nahkodanya, sebuah kapal pesiar yang akan menemani kami hari ini menuju Pantoon Nusa Penida.
"Kenapa kamu senyum-senyum?" tanyaku yang masih ngos-ngosan.
"Tidak kenapa-kenapa," sahutnya santai. "Makanya tadi kubilang cepat, supaya santai. Tidak ngos-ngosan begini."
"Ya, oke. Aku yang salah. Lagi-lagi aku," celotehnya sambil berjalan ke nomor kursi kami.
Kuciumi pipinya setelah kami duduk. "Aku yang salah. Maafkan Nara, ya Mas?" Jurus jitu senyuman maut ala putri manja pun keluar.
Reza tersenyum, lalu menyandarkan aku ke dadanya, merangkulku dan mengelus kepalaku. "Iya, Sayang. Aku sayang kamu."
Sesampainya di Nusa Penida, kapal merapat di Pantoon, sebuah pelabuhan terapung milik Quicksilver Bali, di sana terdapat dua lantai yang diisi dengan bangku-bangku panjang tempat para pengujung istirahat, ibaratnya itu tuh saungnya. Di sana juga disediakan berbagai macam fasilitas wisata air, seperti banana boat, snorkeling, kapal semi submarine dan waterslide yang bisa dimainkan sepuasnya.
Perjanjian dan kesepakan kami hari ini; tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan, semua pelayanan paket wisata ini wajib dijajal. Banana boat, hayuk. Snorkeling apalagi, meskipun itu pengalaman pertamaku, dan itu salah satu tujuan Reza mengajakku, untuk snorkeling.
Lo? Kan kemarin sudah ke sana-sini, kok tidak snorkeling? Hiks. Karena kemarin itu prinsipnya harus satu nusa, satu bangsa, dan satu rasa. Semuanya harus menikmati hal yang sama. Ada yang tidak mau snorkeling, artinya semua tidak boleh. Aneh, ya? Iya, kan sekelompok orang gila.
Lumayan puas snorkeling dan ternyata olah raga air itu membuat perut lapar yang memang kebetulan sudah jam makan siang. Dan itu adalah salah satu hal yang menyenangkan karena all you can eat, kau bisa bolak-balik mengambil makanan sampai kenyang. Yang lebih menyenangkan adalah makanannya enak, lauknya beragam dan lengkap, berikut makanan penutupnya juga disediakan.
"Ingat, ya," kata Reza. "Jangan jaim. Cicipi semua menu yang halal."
__ADS_1
"Kamu tidak malu apa? Pemilik restoran tapi begitu?"
"Hei, ingat. Di sini, aku bukan pemilik restoran, dan kamu bukan penulis. Kita adalah sepasang pengembara yang sedang berkelana. Oke?"
"Oke," kataku sambil tertawa sebab Reza masih saja menyebut kata itu, PENGEMBARA. "Kamu ya yang ambil. Aku tinggal makan," kataku.
Reza pun memonyongkan bibirnya mendengar perkataanku.
"Hei, ingat," kataku menirunya. "Everything for me. Dan itu berlaku selamanya." Aku tersenyum sumringah.
"Oke. Baik Tuan Putri Kesayangan. Everything for you," ia bersenandung sambil berjalan.
Setelah perut kenyang, kami pun langsung bersih-bersih dan berganti pakaian. "Salat, ya," pesannya padaku. Nyesss... nampaknya dia sudah paham kalau aku jarang salat saat sedang di luar. "Iya, Mas," sahutku tanpa bantah.
Setelah itu kami naik perahu lagi ke tempat kapal selam. Itu -- untuk kali pertama aku masuk kapal selam dan melihat keindahan laut. Kami pun tak lupa mengabadikan momen-momen indah hari itu.
Ketika hari sudah semakin sore, waktunya untuk kembali ke Tanjung Benoa. Kami kembali masuk ke kapal pesiar yang akan membawa kami ke Tanjung Benoa, aku dan Reza memilih duduk di luar merasakan angin dan suara debur ombak. Sore itu matahari terbenam sungguh indah dan terasa dekat sekali. Aku menyukainya.
"Jadi, berlayar yang seperti ini sudah cukup atau mau yang sekelas titanic?"
"Yang seperti ini sudah cukup kok, Mas. Tidak perlu dengan kapal segede gaban itu," jawabku. "Eh, tapi kamu tahu dari mana aku kepingin berlayar?" Aku heran. Lalu kutatap matanya dengan lekat. "Kamu baca notes aku, ya?"
Reza pun memicingkan sebelah matanya, membuat bibirnya sedikit menyungging. "Yeah, pernah," jawabnya.
"Pantas saja."
"Bukan masalah, kan? Selanjutnya, kamu bisa langsung mengatakan apa pun yang kamu mau. Atau kamu tulis, dan biarkan aku membacanya. Everything for you. Oke?"
Aku mengangguk. "Pasti," kataku tanpa ragu.
Setelah itu dia menjelaskan kepadaku, sebenarnya dia mau mengajakku dinner di kapal pesiar tadi malam. Niatnya begitu. Tapi tidak jadi karena semua kapal berlayar di jam yang sama. Tidak ada pilihan jam lain atau setidaknya jam makannya bukan pada jam magrib, waktunya tidak pas sama sekali menurutnya. Juga tidak ada keterangan di website mana pun apakah di kapal itu ada fasilitas khusus tempat salat atau tidak. Yeah, dia memang bukan orang yang suka bertanya-tanya di laman website. Daripada nanti kebingungan mau salat magrib di mana, dia pun membatalkan niatnya dan memilih mengajakku ke Jimbaran.
"Aku tahu aku naif dan munafik. Salat iya, pacaran dengan kamu iya, berduaan dan mencium kamu juga iya. Apalagi hari itu aku sampai berbuat begitu, sampai kebablasan. Tapi bukan berarti aku harus sengaja meninggalkan salat, kan? Dan sebaiknya kamu meninggalkan aku kalau aku meninggalkan salatku. Karena jelas aku lelaki yang buruk kalau aku meninggalkan salat. Kalau Tuhan saja bisa kutinggalkan, apalagi kamu."
__ADS_1