
Jumat pagi. Kubuka mata malas-malasan. Energiku rasanya terbang entah ke mana. Rasa kesalku atas kahadiran Salsya tadi malam masih saja tersisa. Menurut feeling-ku kehadirannya itu untuk mengganggu hubunganku dengan Reza. Aku yakin dia ingin merebut Reza dariku.
Apakah aku harus bertahan -- dengan konsekuensi mungkin aku akan lebih patah hati? Meski Reza punya sejuta janji manis nan indah untuk masa depan kami, bagaimana jika suatu saat dia ingkar janji? Walau bagiku ia seperti malaikat, dia tetap manusia biasa, bisa khilaf. Jangankan dia yang tidak punya ikatan darah denganku, ayahku, yang jelas-jelas darahnya mengalir di tubuhku, bisa dengan tega meninggalkanku. Atau sebaiknya aku mundur baik-baik, melepaskannya dengan ikhlas, merasakan sakitnya sekarang di saat sakit itu sedang bertahta di hatiku? Ah, hatiku benar-benar galau.
Pusing dengan pengandaian, kuputuskan lari pagi di sekitar penginapan, berharap aku bisa melupakan sementara kegelisahan yang kurasakan ini. Sebab aku belum dapat memutuskan; apakah akan meneruskan atau berhenti?
Selesai salat subuh, langsung kuambil jaket dan memakai sepatu. Tapi, belum hilang rasa kacau di hati dan pikiranku, tiba-tiba masuk pesan di whatsapp dari nomor tak dikenal. Mataku membulat. Aris.
》 Hi, are you, Inara? Its me. Aris.
Aku merinding. Mungkin dia mengetahui nomor baruku dari bibiku, Tante Mami. Kenapa tiba-tiba banyak sekali hal-hal yang menjengkelkan?
"Mau ke mana, Mbak?" tanya Aarin yang baru kembali ke kamar, entah dari mana.
"Jogging," jawabku singkat. Aku tidak ingin berbasa-basi mananyakan apakah dia ingin ikut, sebab aku memang tidak ingin pergi dengan siapa pun.
"Dengan siapa? Mas Reza?"
Aku tidak mengatakan apa pun, hanya menggeleng lemah.
"Sendiri? Tapi ini masih cukup gelap," katanya khawatir.
"Tidak apa-apa. Aku pergi, ya. Bye Aarin."
Aku lari di sekitar penginapan sendirian. Musik yang mengalun dari earphone mengentak dengan irama cepat. Aku menggerakkan badan sambil bersenandung. Tanpa sadar ada yang mengikuti.
"Siapa kamu? Mau apa?" pekikku ngos-ngosan saat melihat orang yang menepuk bahuku, dia memakai jaket dan masker. Kulepas earphone dan langsung menyerangnya.
"Awww! Sakit!" teriaknya menahan perutnya yang kena tendanganku.
"Kenapa kamu mengikutiku?" tanyaku saat mengenali suara Reza.
"Aarin yang bilang kamu jogging. Aku tidak mau kamu sendirian, bahaya."
"Aku bisa jaga diri," sanggahku, keras kepala.
"Oke. Silakan lari. Tapi biarkan aku mengikutimu. Aku janji akan jaga jarak, ya?"
"Terserah." Aku lanjut lari, meninggalkannya di belakang sana.
Setengan jam. Aku sampai ke area pantai dan menghentikan langkahku. Tidak. Aku tidak ingin ke bibir pantai karena ada Reza di belakangku.
"Kok berhenti? Ayo, kita ke pantai," ajaknya. Tapi aku menggeleng. "Tolong. Kita harus bicara. Diam itu hanya membuat kita saling menyakiti."
"Aku sudah terlanjur sakit. Apa bedanya?" celahku seraya berbalik.
__ADS_1
"Tunggu." Disambarnya tanganku. Aku menggigil. Lututku lemas. Dia menatapku tanpa bicara. Lalu menarik tanganku dengan cengkeramannya yang kuat. Aku tidak berontak, tidak ingin ada orang sekitar yang terganggu. Entah, mungkin juga memang karena nuraniku ingin melakukan itu. Aku menurut, seperti Anya mengikuti langkah Ale yang menggandeng tangannya dalam Critical Eleven. Bedanya, langkah kami berakhir di pantai, bukan di ranjang.
Reza mengajakku duduk. Kuikuti kemauannya. Kami duduk dalam diam beberapa saat sampai ia buka suara. "Yang semalam itu Salsya. Dia..."
"Aku tahu. Dia mantan pacar kamu, si koki cantik andalan ibu kamu. Aku melihat fotonya yang masih kamu simpan di album keluarga. Bahkan sepertinya kamu masih menyimpan dia di hatimu," tudingku tanpa melihat ke arahnya.
Dia nampak terkejut karena aku mengetahui semua hal yang kucetuskan itu. "Mengenai album itu... aku minta maaf."
"Kamu sudah terlalu sering meminta maaf dalam kedekatan kita yang bahkan belum genap satu bulan." Aku menyela ucapannya lagi.
Dia mengangguk, lalu mendesah dengan berat. "Aku tahu," ujarnya.
"Langsung saja. Apa yang kalian bicarakan semalam? Apa yang dia mau? Dan kenapa dia menemui kamu? Atau kalian memang janjian bertemu di sini?" Lagi-lagi aku menudingnya.
Dia menggelengkan kepala. "Sama sekali tidak seperti itu," katanya. "Tolong, biarkan aku jelaskan dulu. Kamu dengar, jangan menyela, oke?"
Kutelan ludah getir. Jika saja ini drama sinetron, tentu saja aku sudah dicerca para emak-emak haters, sebab mulutku yang terus saja nyerocos menjawab ucapan-ucapan Reza. Terpaksa kuanggukkan kepala. "Silakan," kataku.
"Kemarin Salsya melihatku di Sanur. Dia mengikuti kita seharian. Dia sengaja ingin menemuiku. Merasa tidak punya celah karena kamu selalu di dekatku, makanya dia menitip pesan ke sepupu kamu. Sungguh, aku tidak janjian sama sekali. Dia menetap di sini beberapa bulan yang lalu. Belum lama ini kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Jadi..."
Aku mengangkat alis karena Reza tidak melanjutkan kalimatnya. "Jadi? Apa? Lanjutkan!"
Menundukkan kepala. Ada penyesalan dan rasa bersalah di wajah tampan kekasihku itu. Setidaknya itu yang kulihat. "Dia menuntut cerai pada suaminya. Dia tetap tidak bisa mencintai lekaki itu meski beberapa tahun bersama."
Reza menatapku, membiarkan aku menangis, seolah dia benar-benar ingin melihatku menangis, seolah -- air mataku adalah cinta yang ia tunggu, yang ingin ia lihat dengan mata kepalanya sendiri, cinta yang ingin ia rasakan dan ia ingin meresapi kedalamannya.
Kuhapus lelehan air yang meluncur dari sudut mata sambil mengangguk. "Tidak apa-apa. Aku akan melepas kamu dengan ikhlas. Mungkin kalian memang soulmate, cinta sejati. Sementara aku hanya pendatang baru, pemeran pendukung yang tak berarti apa-apa. Hanya tempat persinggahan sementara. But, thanks. Kamu membuatku bahagia walau sesaat." Meskipun meninggalkan perih. Meski kamu mengoyak kembali hatiku yang sebenarnya bahkan belum menyatu secara utuh. Aku sakit, Mas. Batinku merontah. "Kamu bisa meninggalkan aku sekarang. Kamu kembali pada Salsya. Aku bisa melepas kamu dengan ikhlas sebab kita belum menikah."
"Kalau kita sudah menikah? Apa yang akan kamu lakukan?"
Aku mengedikkan bahu, dan menggeleng pelan. "Entah. Mungkin aku akan membunuh kalian berdua. Terutama kamu. Aku tidak akan pernah menerima perselingkuhan. Aku tidak akan diam seperti Bunda. Minimal, kutelanjangi dia di depan umum."
Reza tertawa. Hmm... kamu mengajakku bercanda? "Ini bukan momen yang tepat untuk bercanda," tandasku.
"Kan kamu yang mengambil kesimpulan sendiri. Salsya cuma bilang dia mau kembali ke Bogor, dia minta pekerjaan di restoran, jadi koki seperti dulu. Bukan mengajakku balikan."
"Oh, sebab itu dia menggenggam tangan kamu seperti memohon?"
Reza mengangguk.
"Lalu? Kamu mengiyakan?"
"Kubilang akan kupikirkan dan kubicarakan dulu dengan kamu."
"Dan sebab itu dia merasa senang lantas memeluk kamu? Dan, kamu menikmati pelukannya?"
__ADS_1
"Hei, jangan cemburu," katanya. "Aku hanya... emm... semacam rasa kaget, karena aku belum pernah melihatnya lagi semenjak dia datang ke rumah, dulu, waktu dia datang berpamitan pada Ibu dan bilang dia akan menikah dengan lelaki lain."
"Lalu?"
"Itu lebih dari tiga tahun yang lalu."
"Lalu?"
"Aku kasihan padanya. Aku tidak tega kalau langsung menolaknya."
"Mas, dia yang memutuskanmu, meninggalkanmu, ingat?"
"Aku kasihan. Dia..."
"Dia menjanda. Dia yatim piatu. Dia tidak punya siapa-siapa. Kamu ingin menolongnya, menjadi pahlawan atas keterpurukannya? Seperti Super Hero yang selalu ada? Kamu siap melakukan segala hal demi mantanmu? Seperti itu? Waw. Manis sekali. Hebat sekali!"
"Kenapa kamu marah-marah begitu? Kamu belum dengar..."
"Apa kamu ingin menerimanya? Kamu ingin memberinya pekerjaan? Supaya bisa bertemu dengannya lagi?"
"Bukan seperti itu."
"Jawab saja, ya atau tidak."
"Kamu tidak mengerti."
"Buat aku mengerti," sahutku, dengan suara jauh lebih keras daripada yang kuinginkan.
Reza tertawa lagi, terkikik-kikik.
Aku kesal. "Apanya yang lucu?"
"Kamu. Kamu yang lucu. Ingat tidak baru saja kamu bilang kamu akan melepasku dengan ikhlas. Tapi sekarang kamu marah-marah. Any way, aku suka melihat kamu cemburu." Dia mengedipkan mata. Sesuatu yang belum pernah dilakukannya sebelumnya. Kemudian ia menyandarkan aku di dadanya. Satu tangannya merangkulku. Satu lagi mengelus-elus kepalaku. "Aku hanya kasihan melihatnya. Bukan karena masih punya perasaan. Tidak sama sekali. Aku tidak punya perasaan lagi padanya. Meskipun ada sejuta Salsya, yang aku mau cuma satu, kamu. Kamu satu-satunya yang ingin kujadikan istriku, ratuku, permaisuriku, bidadariku. Di dunia ini ataupun di surga nanti. Hanya kamu."
Ahhh... dia gombal. Tapi berhasil membuatku meleleh.
"Aku sangat mencintai kamu. Sangat sayang pada kamu. Jangan sedih lagi, ya. Lupakan soal Salsya," ujarnya.
Kutatap Reza dengan penuh harap. "Mas," kataku. "Jangan terima dia bekerja di resto kamu, ya? Aku bukannya bermaksud jahat, tapi jangan memberikan kesempatan untuk orang ketiga hadir di antara kita. Awalnya bisa saja karena kasihan, seperti ayahku, ujung-ujungnya dia tergoda, sekarang hidupnya dikelilingi janda, kanan kiri oke. Semuanya mau dijadikan pasangan dan rela digilir. Aku tidak mau, Mas. Jika kamu nanti jadi suamiku, aku tidak mau berbagi dengan siapa pun. Seperti aku yang hanya milik kamu, seperti itu juga aku mau kamu satu-satunya milikku. Janji?"
"Aku janji. Tapi kamu punya hutang maaf karena sudah menamparku semalam."
Hah! Kugelengkan kepala kuat-kuat. "Tidak! Aku tidak akan meminta maaf untuk itu. Sebab kamu salah, kamu membiarkan dia memegang tangan kamu, kamu juga membiarkan dia memeluk kamu. Kalau lain kali kamu melakukannya lagi, bukan hanya sekadar tamparan yang akan kamu terima."
"Hmm... oke." Dia mendengus keras. "Yeah, aku mencintai kamu, meskipun kamu barbar..."
__ADS_1