
"Sudah?" tanya Reza. Dia ada di belakangku. Mengagetkan sekaligus memutus lamunanku. Kurasa dia mengikuti sedari aku masuk tadi.
"Kamu membuatku kaget," kataku seraya menoleh ke belakang. "Sejak kapan kamu berdiri di sana?"
"Sejak tadi," sahutnya. Dia berjalan ke arahku, lalu duduk di sisi kursi yang kududuki. "Bahkan aku mendengar semua yang kamu katakan pada Ibu," katanya, persis setelah merangkulkan tangannya di pundakku.
"Kamu sih, kenapa harus menceritakan keributan kita kemarin." ucapku, bukan bertanya. Lebih tepatnya mengutarakan sebuah penyesalan.
"Maaf, kemarin Ibu yang tanya. Apa menurut kamu aku harus berbohong?"
Tentu saja tidak. Sebab, aku sendiri tidak bisa berbohong dan tidak bisa berpura-pura pada ibunya. Apalagi Reza, sang anak yang pernah dikandung sembilan bulan di rahimnya. "Tidak. Tentu saja kamu tidak boleh berbohong."
"Seperti kamu yang juga tidak bisa berpura-pura manis. Apa yang kamu katakan pada Ibu, itu dari dasar hatimu," tuturnya dengan penuh pemahaman terhadapku.
Aku mengangguk. Dalam pikiranku terlintas kenangan-kenangan masa SMA-ku. Salah satu bagian yang kuanggap tidak pahit dari masa putih abu-abu itu. Kenangan di mana dulu aku sering bermain peran di atas panggung. Yeah, aku adalah anggota teater. Dunia di mana aku selalu ingin memerankan sosok antagonis. Di mana aku bisa menunjukkan sisi lain dalam diriku, tentang amarah, tentang sikap jahat, tentang topeng untuk menunjukkan pada penonton bahwa aku juga bisa menjadi Inara yang tidak baik. Anehnya, aku bisa memerankan karakter dalam naskah. Tapi di depan orang-orang yang menyayangiku, aku bahkan tidak bisa berbohong, apalagi berpura-pura. Di depan ibuku, Ihsan, Reza, bahkan di depan ibunya. Topeng itu tidak akan pernah bisa kupakai. Bahkan untuk kebohongan kecil sekalipun.
"Berapa lama kamu mau bengong di sini? Tidak lapar?" tanyanya, lagi-lagi memutus lamunanku.
"Oh, aku melamun?"
"Kamu pikir kamu sedang apa?"
Aku menggeleng. "Ayo," kataku sembari berdiri. "Tentu saja aku lapar. Lama-lama di sini nanti bahaya. Bisa-bisa kamu yang kumakan."
"O ya? Silakan. Aku bersedia," bisiknya. "Kita bisa saling memakan satu sama lain. Mau? Yuk?"
Aku tergelak. Tawaku pecah. "Dasar nakal!"
Dia menarikku ke dalam pelukannya, dan perlahan merapat ke dinding. Tubuhku terkunci dalam himpitan lengannya yang kekar. "Memang. Aku memang nakal, sedikit."
"Sedikit?"
"Mmm-hmm. Boleh cium?"
Aku naif. Aku tidak bisa mengiyakan, apalagi menolak. Tapi, tanpa kuiyakan pun bibir Reza langsung menempel dan mendebarkan hatiku.
"Sudah, nanti ada yang melihat. Aku malu."
Dia menggeleng dengan senyumannya yang lebar. "Sekali lagi."
"Memangnya aku ganja sampai kamu ketagihan?"
__ADS_1
"Lebih dari ganja. Kamu bahkan memabukkan dan membuatku tergila-gila. Aku kecanduan."
Yap. Sekali lagi, bibirnya menguasaiku dan kami menyatu dalam hasrat yang bersambut. Aku pun kecanduan.
...♡♡♡...
Raline sudah kembali ke meja makan saat aku dan Reza keluar. Aku mengedarkan pandang dari meja makan ke arah panggung. "Oh, dangdutan," gumamku.
Di atas sana, Rafasya berbisik pada Zaim yang siap-siap memainkan trinada (chord), Zaim berdiri persis di depan organ electronic atau yang familiar dengan nama electone. Jenis alat musik seperti piano atau keyboard, yang biasa ada di acara-acara organ tunggal.
"Hei, kamu tadi nyanyi lagu apa?" tanyaku pada Raline.
"Perawan Idaman," jawabnya. "Tapi kesal. Gara-gara Mbak Nara pergi, Mas Reza juga ikut pergi."
"Lah? Memangnya kenapa? Apa hubungannya?"
"Nyawer dulu harusnya, baru boleh pergi." Raline merajuk.
"Oh...," aku menyahut dengan intonasi panjang.
"Ya sudah, nyanyi lagi sana. Nanti kusawer," kata Reza.
Raline langsung ngacir naik ke panggung begitu Rafasya selesai dengan lagunya. Kali ini Raline menyanyikan lagu Syexsyi, persis Regina Xenia. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku atas kepercayaan diri yang dimiliki adik sepupuku itu.
"Aku harap kamu mulai terbiasa berada di tengah-tengah para vokalis gagal," kataku pada Reza.
"Tidak masalah. Kalian punya hobi yang unik. Hampir tidak pernah sepi."
"Harap maklum, ya. Kami anak kampung, mainnya organ tunggal. Bukan ke tempat karaoke yang nyanyi saja harus bayar." Kuberikan cengiran lebar pada Reza. "Tapi boleh juga Alfi, villa-nya dilengkapi alat musik seperti ini. Nge-band oke, mau dangdutan juga oke."
"Kamu juga suka dangdutan? Kemarin kamu nyanyi dangdut."
Aku menggeleng. "Kalau sekadar nyanyi bisa. Kalau harus benar-benar dangdutan dengan cengkok-cengkoknya, aku tidak bisa. Dan tidak ada sumber keturunannya."
"Mereka?"
"Oh, kalau mereka semua, itu menurun hobi dari nenek, kakek, dan ayah mereka."
"Kamu sendiri? Mungkin dari ayahmu juga?"
Pertanyaan Reza membuatku tertegun. "Entahlah. Mungkin iya. Mungkin tidak. Bisa jadi. Kata Bunda, laki-laki itu memang hobi mendengar dan bernyanyi lagu dangdut lawas. Zaman-zamannya Hamdan Att, Caca Handika, Imam S Arifin, dan lainnya yang sezaman dengan mereka," ungkapku datar, tanpa bara semangat sama sekali. Aku tidak suka membicarakan sosok ayahku.
__ADS_1
"Kalau bakat menulis? Dari Bunda?"
Aku yang tadinya sedang menyendok makanan dan baru saja akan menyuapkannya ke mulutku -- mendadak berhenti. Aku tidak suka dengan pertanyaan itu, sebab tidak ada orang yang tahu tentang seni yang mengalir dalam diri ibuku. Ibuku penulis, tapi selalu menggunakan nama samaran. Meski ibuku sama sekali tidak bisa menyanyi ataupun menari, tetapi ibuku sering bermain peran dalam pentas teater pada masa-masa remajanya dulu. Satu hal yang tidak diketahui oleh keluarga kami, bahkan nenekku pun tidak mengetahuinya. Ibuku juga menyukai seni lukis meski tidak bisa melukis. Dan meskipun bukan model dan bukan photographer, ibuku senang melihat hasil-hasil karya seorang photographer. Sebab itu, ibuku sangat mendukung keahlian Zizi, dan mengiyakan saat Zizi meminta izin untuk menjadikan aku sebagai model dadakan.
"Hei, melamun terus," tegurnya. Dia sudah berdiri di belakangku, bukan lagi duduk di depanku. Rupa-rupanya, dia baru saja pergi ke panggung untuk memberikan saweran pada Raline.
"Oh. Aku... ee... sori, aku mau minum, Mas," kataku gugup.
"Aku mau melihat kamu nyanyi dangdut di atas sana," ucapnya. Bisa diartikan itu sebuah permintaan.
"Aku?" Hampir saja teh melati dingin yang kuminum itu menyembur dari mulutku. Aku menggeleng. "Tidak mau."
"Nanti aku kasih hadiah."
"Saweran?"
"Bukan. Sesuatu yang lebih menyenangkan dan salah satu hal yang kamu inginkan."
"Sesuatu yang aku inginkan? Apa?" tanyaku heran.
"Sori, maksudku sesuatu yang pasti diinginkan oleh setiap wanita."
"Apa?"
"Rahasia dong. Sebuah kejutan."
"Aku tidak mau kalau tidak diberi tahu apa hadiahnya."
"Ya sudah. Kamu sendiri yang akan menyesal." Dia melengos. Pura-pura merajuk.
"Oke. Tapi tidak harus yang benar-benar dangdutan dengan cengkoknya yang luar biasa itu, kan? Dan jangan request judul lagunya. Aku hanya hafal sedikit lagu dangdut."
Reza tidak jadi merajuk. Malah langsung sumringah, persis Raline tadi. Lalu dia mengisyaratkan simbol oke dengan jari jempol dan telunjuknya yang menyatu membentuk lingkaran bulat.
Kulangkahkan kaki naik ke atas panggung. Dan lagu Mimpi Manis miliknya Dewi Persik pun kulantunkan. Reza hanya melihatku dari jauh, tidak mendekat, dan tidak menyawer. Hanya bertepuk tangan dan suitan yang paling keras dibanding tepuk tangan dari penonton lainnya setelah laguku berakhir.
"Jadi, apa hadiahku? Mana?" Aku langsung bertanya begitu turun dari pangung.
"Masih rahasia dong. Tunggu tiba waktunya."
Wewww... bibirku langsung monyong. Dasar!
__ADS_1