
Hari senin, Reza dan aku ikut membersihkan villa pribadi milik keluarga Alfi. Villa mewah dengan sepuluh kamar yang hampir dua bulan tidak dibersihkan. Sebab, mereka hanya membersihkannya enam bulan sekali, hanya ketika musim liburan, saat keluarga besar mereka datang -- berlibur di sana. Rasanya tidak sopan jika kami hanya datang di saat semuanya sudah beres, meski menggunakan jasa cleaning service panggilan. Setidaknya kami memastikan sendiri semuanya sudah oke.
Sepupu-sepupuku memutuskan berangkat lebih cepat, siang itu juga, supaya bisa beberapa hari liburan di Bali katanya, dan rencananya mereka akan pulang pada hari minggu pagi. Dewi Fortuna benar-benar berpihak pada mereka. Bagaimana tidak, mereka bisa menempati villa mewah secara gratis berkat Ari yang berteman dengan Alfi, begitu juga dengan sarapan dan makan malam yang di tanggung oleh Reza. Bagaimana denganku? Aku bahagia, meski ada rasa agak kurang nyaman, agak sedikit tidak rela. Sebab aku masih mengharapkan waktu Reza khusus untukku, setelah beberapa hari dia meninggalkanku dan berangkat sendirian ke Solo. Aku takut perhatiannya teralihkan dariku.
Melihatku yang tak bisa menutupi kemurunganku sejak pagi, Reza mengajakku jalan-jalan berdua setelah jam makan siang. Kami bermobil menuju Pantai Sanur, dan menghabiskan sisa siang yang sempit itu di sana, sebelum rombongan yang ditunggu-tunggu tiba di Bali. Butuh waktu lebih dari dua puluh lima menit untuk sampai ke Pantai Sanur, kami melalui jalan By Pass Ngurah Rai sejauh 13.0 km.
Sebelum memutuskan ke sana, Reza menanyaiku aku ingin pergi ke mana, dan itu pertama kali dia menanyakan pendapatku tentang tujuan perjalanan kami, alasannya karena kami hanya punya waktu sedikit, sebelum menjemput sepupu-sepupuku di bandara. Waktu belum pas untuk duduk-duduk di tepi pantai, sunrise sudah lama lewat, sementara sunset masih sangat lama. Aku juga tidak mau pergi ke waterbom ataupun waterpark, karena kami sudah melakukan itu di Surabaya, meskipun suasananya berbeda, tapi pada intinya sama, bermain air. Aku tidak mau diajak berbelanja oleh Reza, setidaknya untuk saat itu, terkecuali saat aku sudah menjadi istrinya, pikirku. Aku juga mengakui aku kurang suka tempat-tempat bersejarah, dan terakhir kukatakan -- selain menyelam, aku tidak menguasai olahraga air satu pun. Tapi aku tidak tahu harus pergi ke mana. Akhirnya dia mengambil keputusan sendiri, dia mengajakku ke Pantai Sanur. Lo, katanya belum pas untuk duduk-duduk di pantai? Aku mengernyitkan dahi.
Pesisir Pantai Sanur berpasir putih, membentang luas dari utara ke selatan dengan air lautnya yang tenang. Andai kami datang di saat pagi, tentunya kami bisa melihat matahari terbit. Nuansa di Pantai Sanur memang berbeda dengan Pantai Kuta yang menyuguhkan sunset karena pantainya menghadap ke Barat, sedangkan Sanur menyuguhkan pemandangan matahari terbit, yang muncul dari garis cakrawala ufuk Timur.
Setibanya di Pantai Sanur, perhatianku langsung tertuju pada para wisatawan yang sedang asyik mengendarai jetski. Aku bahkan tidak memerhatikan apa yang dilakukan Reza saat itu, tahu-tahu dia menyodorkan jaket pelampung kepadaku. Awalnya aku kegirangan, tapi setelahnya aku jadi ragu.
"Kamu bisa main jetski?" tanyaku.
"Tenang, aku sudah sangat berpengalaman. Tugas kamu hanya duduk, dan pegangan yang erat."
"Pegang atau peluk?"
"Iya, peluk yang erat, Sayang."
"Oke, Masku."
Benar saja, dia sudah sangat lihai sekali mengendarai jetski, dan itu membuatku penasaran, siapa yang pernah duduk di tempatku, di belakang Reza, dan memeluk erat tubuhnya saat mengarungi lautan biru, seperti aku memeluknya kala itu. Tentu saja kutanyakan hal itu padanya tanpa menyebut-nyebut nama mantan pacarnya.
Reza menjelaskan padaku bahwa pertama kali dia belajar jetski dulu waktu dia mengusir kegalauan. Mendengar kalimat itu aku langsung mengerti itu terjadi tiga tahun lalu, saat dia ditinggal menikah oleh mantan pacarnya. Dan setelah itu mengendarai jetski menjadi hobinya setiap kali dia datang ke Bali, dan saat-saat itu dia hanya sendirian, katanya. Tapi, mana tahu? Seberapa jujur dia padaku? Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Entah kenapa, untuk hal satu ini -- hal-hal yang berhubungan dengan masa lalunya, aku tidak bisa memercayainya seratus persen.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Nanti kesan romantis kita hari ini jadi hilang."
"Iya, oke. Kamu memang sangat romantis. You are the best."
Dia, Reza Dinata, seorang lelaki yang bisa membaca hati dan pikiranku hanya lewat tatapan matanya. Kok bisa? Apakah dia seorang cenayang? Kalau kaubilang karena cinta, bagaimana denganku? Aku tahu aku cinta, tapi aku tidak bisa membaca pikirannya. Hmm...
Setelah bermain jetski, dia bermaksud mengajakku terbang dengan parasailing. Tapi aku menolaknya, aku tidak punya keberanian untuk terbang tanpa Reza. dia pun mengganti gagasannya, dia mengajakku untuk menyelam ke bawah laut, tapi aku juga menolak, aku tidak membawa baju renang, tidak memakai tank top, juga tidak membawa pakaian ganti. Meskipun pakaianku sedikit basah karena bermain jetski. Dan tentu saja aku tidak mau kalau hanya menyelam dengan memakai bra. Mungkin aku dipandang norak. Aku memang pendosa, tapi aku masih gadis yang dibesarkan dengan budaya ketimuran, meski aku tidak sepenuhnya menutup aurat. Dan di saat-saat seperti itu, pemikiran bahwa betapa naifnya aku -- kembali bermunculan di otakku.
__ADS_1
Akhirnya kami memilih Big Garden Corner, lokasinya tidak jauh dari Pantai Sanur, kurang dari lima belas menit kami sudah tiba di sana, hanya menempuh jarak 7.0 km. Objek wisata ini adalah sebuah galeri seni batu dan taman patung, namun nuansanya sangat berbeda dengan galeri patung yang lain. Banyak daya tarik yang dapat dilihat di lokasi ini. Pertama, ada patung batu dalam jumlah yang sangat banyak, dari ukuran patung kecil sampai ukuran patung yang besar, seperti patung Buddha. Kemudian ada replika arca dan miniatur Candi Borobudur yang memiliki tinggi lima meter. Ada rumah pohon ukuran kecil, terbuat dari kayu dan bambu, beratapkan jerami. Keunikan dari rumah pohon ini ialah; di sekitar area tangga dan rumah pohonnya terdapat patung kera. Di sekitar area taman, tersedia banyak sekali tempat duduk untuk bersantai, dengan bantal dan kursi warna-warni. Ada juga tempat nongkrong santai yang berada di area kebun, dengan payung besar, dan tersedia meja kayu. Selain di lokasi miniatur Candi Borobudur, tempat lain yang paling di minati sebagai spot foto adalah di jalan setapak dengan atap payung warna-warni.
Setelah merasa puas menyusuri Big Garden Corner, kami memutuskan untuk langsung menuju bandara. Dan kami telat. Rombongan The Fantastic Eleven sudah tiba di bandara beberapa menit lalu. Termasuk Alfi dan Mayra juga sudah datang untuk menjemput mereka. Seperti halnya Reza, Alfi, Mayra, dan Tirta, ada satu tamu lagi yang ikut meramaikan liburan kami, namanya Aarin Ali Khan, gadis cantik keturunan India, berkulit sedikit lebih cerah daripada kulitku, dia teman dekatnya Ihsan. Begitulah pengakuan Ihsan, dia tidak menyebut gadis itu sebagai pacarnya.
Dari bandara, kami langsung menuju villa, menghabiskan sisa siang dengan rapat dadakan, menentukan tempat-tempat yang akan kami kunjungi selama liburan di Bali, dan itu sulit, karena kami harus menyatukan keinginan kami masing-masing menjadi satu tujuan yang sama. Tapi Alfi berhasil menengahi sampai semuanya rampung. Akhirnya keputusan ke mana saja tujuan kami ada di tangan Alfi.
Setelah rapat dadakan itu rampung, kami semua sepakat melewati sore itu di Pantai Kuta. Aku ingin mengepang rambutku, dengan kepangan kecil-kecil seperti gadis papua, sambil duduk di pantai menunggu sunset dan mengobrol dengan Reza, karena selama di Pantai Sanur dan Big Garden Corner kami terlalu sibuk dengan aktivitas-aktivitas mengabadikan momen kebersamaan kami.
Sepanjang sore itu, aku dan Reza selalu bergandengan tangan sambil berjalan. Konon katanya, bergandengan tangan sambil berjalan merupakan sebuah simbol dari kesetiaan, membuktikan bahwa kita adalah pasangan yang saling memiliki satu sama lain dan tidak ingin terpisah apalagi sampai kehilangan. Seperti itulah Reza Dinata menyampaikan perasaannya kepadaku, dengan menggenggam dan menggandeng tanganku.
Suasana Pantai Kuta menjelang senja itu sangat ramai, banyak wisatawan-wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara menikmati waktu sore yang bersahabat. Turis-turis asing nan seksi dalam balutan bikini berseliweran di depan mata. Begitu pun dengan wisatawan lokal yang juga tak kalah seksi dengan bikini ala turis dari mancanegara. Ada juga yang sekadar berjalan-jalan bersama keluarga ataupun duduk-duduk bersama beralaskan tikar, menemani anak-anak mereka yang asyik bermain pasir.
"Mas, lihat arah jam tiga," kataku. "Bagaimana? Kamu suka yang seseksi itu?"
Seorang turis wanita tengah duduk di atas pasir. Bagian dadanya besar dan sangat montok, terlebih dengan bikininya yang bermotif loreng dan warna kulitnya yang eksotis.
"No. Oversize," katanya seraya menggelengkan kepala dan mengangkat tangan dengan mempraktikkan gerakan seperti meremas.
"Itu tangan kamu maksudnya ngapain?"
"Kalau bibir seseksi itu, bagaimana?"
"Yang mana?"
"Itu, cewek Indo yang lagi makan es krim, arah jam sepuluh."
"Emm... seksi... tapi tidak tahu bagaimana rasanya. Aku sukanya bibir kamu, kecil, mungil, tapi manis. Omong-omong rasanya juga manis."
Aku baru hendak memukulinya karena gemas, tapi dia langsung menghindar, kemudian lari. Kami berkejaran seperti dua anak kecil yang sedang asyik bermain. Sampai aku berhenti karena kelelahan. Lalu kami duduk berdampingan di atas hamparan pasir putih yang membentang luas sejauh mata memandang.
"Mas, kamu masih ada hutang penjelasan atas pertanyaanku tadi malam. Jawabannya apa?" tanyaku, menagih janji.
Reza tersenyum tipis. "Kenapa aku mendekati kamu? Pertanyaan yang lebih tepat itu kenapa aku tertarik padamu? Jawabannya; karena kamu merasakan kesepian yang sama, seperti yang kurasakan. Kita sama-sama memiliki ruang kosong di dalam hati kita, entah kenapa dari awal aku punya keyakinan kita bisa saling mengisinya satu sama lain. Kamu ingat waktu kita pertama kali bertemu di Surabaya? Di pantai, kamu sendirian, aku melihat kesedihan di mata kamu. Sejak itu tidak tahu kenapa, aku ingin menjadi seseorang yang bisa memberikan kebahagiaan untuk kamu. Aku mau melihat kamu bahagia. Tapi aku tidak tahu kenapa. Satu-satunya alasan yang kutahu -- karena aku mulai mencintai kamu. Tapi jika kamu bertanya kenapa aku mencintai kamu, aku juga tidak bisa jawab. Bukan karena kamu cantik, bukan karena kamu manis, atau alasan lain. Aku mencintai kamu. Hanya itu yang kutahu. Kalau kamu, kenapa kamu tertarik padaku?"
__ADS_1
Aku tidak menjawab, sebab aku tiba-tiba melamun.
"Hei! Sayang? Kok melamun? Aku bertanya."
"Emm... kenapa?" Aku terlanjur hilang fokus karena masih terngiang-ngiang dengan jawaban Reza yang baru saja menguasai pikiranku.
"Oke, tidak perlu dijawab," katanya. "Aku tahu jawabannya, kamu tertarik padaku karena aku setampan Reza Rahadian."
Dia tersenyum tulus, seolah tidak apa-apa, tidak masalah apa pun alasanku tertarik padanya, apa pun pendapatku tentangnya, juga bagaimana perasaanku terhadapnya. Seolah cintanya saja sudah cukup untuk hubungan kami.
"Mas, waktu kamu ke Solo, aku sempat berpikir, mungkin sebaiknya kita berpikir ulang tentang pernikahan. Aku malu pada kamu karena sikapku kemarin yang keterlaluan."
Reza baru akan buka suara, tapi dengan sigap aku melarangnya.
"Kamu dengarkan aku dulu," kataku. "Kamu lihat sendiri kan bagaimana kasarnya aku, kasarnya ucapanku? Bisa saja suatu saat aku bertingkah lebih dari itu. Aku tidak mau kamu menyesal karena memilihku sebagai istri. Mungkin kamu harus berpikir ulang. Berpikir masak-masak tentang semuanya. Atau mungkin kita lupakan dulu tentang pernikahan."
Dia menatapku dengan sebal. "Jangan minta yang aneh-aneh," sahutnya.
"Maksudku begini, kamu kenali dulu aku selama satu bulan ke depan, setelah satu bulan, kamu ambil keputusan, apa kamu akan tetap menikahiku, atau kamu pilih mundur."
Mendesah. Tentu saja dia keberatan dengan usulku. Tapi itulah Reza, dia tidak mau bersikeras beradu argumen denganku. "Baiklah, kalau kamu maunya seperti itu, satu bulan lagi kamu boleh tanya keputusanku. Aku pastikan aku masih dengan keputusan yang sama. Tapi aku tidak akan melupakan tentang pernikahan. Aku akan tetap merencanakan semuanya awal Maret, dan tetap menyiapkan pernikahan sesuai rencana, tanggal empat April. Dan tidak ada yang boleh berubah, kita tetap bersama dan tetap semesra biasanya. Oke?"
"Oke." Aku mengangguk. "Tapi kamu jangan bilang ke Ibu tentang ini. Aku sudah terlanjur janji pada Ibu kalau aku akan tetap menikah dengan kamu apa pun yang terjadi."
Reza hanya merespons aku dengan senyuman. Kemudian dia meminjam ponselku. Dia mencatatkan hal-hal yang dianggapnya penting di S Planner ponselku. Di tanggal 23 Maret, dia menuliskan kata Ask Me. Di tanggal 1 April, dia menuliskan kata Ultah Ibu. Lalu di tanggal 4 April dia menuliskan kata Wedding Day dan menulis nama baru untukku, Ny. Inara Dinata.
"Omong-omong tentang pernikahan, kamu yakin mau pernikahan yang sederhana? Cuma mau mengundang keluarga besar kamu?"
Aku menjawab aku yakin, karena aku tidak punya teman akrab. Hanya teman-teman sekolah sampai teman kuliah, tapi hanya sebatas itu, tidak berlanjut setelah aku tamat kuliah. Dan karena dia membahas tentang pernikahan, aku jadi ingat pesan ibuku untuk berdiskusi dengannya tentang wedding organizer untuk pernikahan kami.
"Mas, aku tidak tahu kamu sudah punya rencana atau belum mengenai WO yang akan mengurus pernikahan kita. Tapi mudah-mudahan kamu belum punya rencana dan mudah-mudahan kamu setuju kalau aku mintanya kita menggunakan jasa WO keluargaku," kataku dengan pelan dan ragu-ragu.
Reza menatapku dengan sorot mata heran, tapi kemudian dia tersenyum. "Apa pun untukmu," katanya. "Tidak masalah. Aku tidak keberatan, nanti aku bicara pada sepupu-sepupu kamu. Tapi kalau boleh tahu kenapa? Aku melihat kekhawatiran dari cara kamu mengatakannya barusan."
__ADS_1
Aku pun menjelaskan kepadanya tentang alasan-alasanku, tentang masa lalu keluargaku yang pernah mengalami keretakan hanya karena perbedaan pendapat dan cara pandang terhadap suatu masalah.
"Oke, aku akan menjelaskan panjang lebar. Kamu dengarkan aku baik-baik. Hmm... hubungan Bunda dengan dua saudarinya memang baik, begitu pun hubungan kami antar sepupu, juga baik. Tapi tidak dengan antar ipar, antara suaminya Ummi dengan suaminya Tante Mami. Mereka bahkan tidak pernah bertemu, meskipun di saat lebaran, ataupun saat ada acara keluarga. Hanya karena perbedaan cara pandang, bagaimana cara saling menghargai, bagaimana cara bertenggang rasa antara satu sama lain. Aku tidak mau menceritakan tentang detailnya. Ini kisah yang tidak ingin kuceritakan, kisah yang tidak bisa kami nilai siapa yang benar, siapa yang salah. Dari sisi benar, semuanya benar, dari sisi salah, semuanya juga salah. Pada intinya, keluarga besarku tidak ingin kisah itu sampai terulang. Tidak ingin ada perpecahan lagi. Hanya orang yang tidak pernah merasakan kehilangan anggota keluarga yang tidak berpikir matang-matang atas keputusannya. Sementara kami yang pernah merasakan kehilangan, akan berusaha mati-matian menjaga keutuhan keluarga, agar tidak merasakan kehilangan lagi. Dan bagaimana sikap kamu sebagai calon anggota keluarga yang baru -- adalah penentu -- apakah semuanya akan baik-baik saja atau malah sebaliknya. Satu hal yang perlu kamu ingat baik-baik, aku tidak ingin kamu menempatkan aku di antara dua pilihan, antara kebahagiaanku bersama kamu, atau keutuhan keluargaku. Aku tidak mau berada di posisi Tante Mami sekian tahun yang lalu, juga tidak mau menempatkan Bunda pada posisi nenekku seperti waktu itu. Kamu juga sebaiknya jangan tanya lagi apa yang terjadi, tidak akan kuceritakan. Kamu sudah mengiyakan untuk memakai WO dari keluargaku, itu sudah melegakan dan menghilangkan kekhawatiranku. Karena kita harus memegang teguh prinsip; keluarga adalah yang utama. Kamu bingung? Jangan dipikirkan, mending kita mampir ke resto. Terus kita ambil barang-barang kita. Sekalian bawa makanan ke villa. Boleh?"