
Aku tidak melihat Reza pagi itu. Dia tidak ada di rumah waktu aku bangun dan membuka mata. Mbok Tin yang sempat melihatnya mengatakan bahwa dia sedang lari pagi. Tetapi, sampai bumi di belahan kota Bogor sudah terang benderang, Reza tak kunjung kembali. Dan dia tidak membawa ponselnya, sebab itu aku merasa cemas.
Aku sempat menelepon Erik, katanya Reza tidak datang ke resto. Pikiranku jadi berkecamuk, berusaha mengira-ngira ke mana Reza pergi. Lalu kusadari, seandainya aku benar-benar sudah mengenali Reza, dia hanya mungkin berada di satu tempat itu -- tempat yang akan dia datangi untuk mengumandangkan kesedihan. Aku yakin dia mendatangi makam ibunya.
Kupakai sepatuku, aku segera bergegas menuju tempat pemakaman. Aku berlari melewati gerbang pemakaman dengan kesetenan, seperti perempuan sinting. Aku baru berhenti untuk mengambil napas sewaktu aku melihat Reza. Dia sedang duduk di samping makam ibunya, dengan rambut tergerai ditiup angin dan kedua matanya yang muram terpaku memandangi gundukan tanah yang belum mengering.
Sewaktu aku sudah cukup dekat untuk menyentuhnya, kudengar dia sedang melantunkan doa untuk mendiang ibunya. Berulang-ulang tanpa henti. Kupanggil namanya dengan pelan dan dia pun menoleh. Aku melihat mata sendu bersimbah air mata, bagaikan air suci yang tumpah dari awan-awan menetes dan meresap ke perut bumi. Dan aku menemukan kegalauan seorang pria yang telah kehilangan sebagian dirinya, sebagian hidupnya, sebagai akibatnya dia merasa seolah-olah sepotong jiwanya juga hilang.
Aku berlutut, kuraih dia ke dalam pelukanku. Dia berhenti berdoa dan tidak mengatakan apa-apa, hanya menangis sedih di pundakku, jemariku basah oleh luapan kesedihannya. Akhirnya, setelah dia merasa lebih tenang, kami pun pulang. Sambil melangkah, dia menggenggam tanganku begitu erat sampai buku-buku jariku serasa akan retak; namun tidak kukatakan padanya bahwa jemariku serasa akan patah, sebab, demi Tuhan, dia butuh sesuatu sebagai tempatnya berpegang.
Sesampainya di rumah, aku meninggalkan Reza di teras depan, dia sedang membuka sepatunya sewaktu aku masuk ke dalam untuk menyiapkan air hangat dan menggantungkan handuk di belakang pintu kamar mandi. Ketika aku hendak ke luar untuk menyuruhnya mandi, ada Salsya di sana.
"Maaf ya, aku baru bisa menjenguk kamu sekarang. Kemarin-kemarin aku tidak enak badan," ujar Salsya.
Reza mengangguk. "Tidak apa-apa," katanya.
Melihat sepasang mantan kekasih itu berduaan membuat aku cemburu dan berharap langit-langit di atas kepala Salsya runtuh menimpanya dan meremukkannya seperti penjahat di film-film kartun. Aku berharap perempuan-perempuan yang tidak punya harga diri seperti Salsya dan siapa pun yang pernah berusaha merebut milikku -- segera saja dienyahkan dari muka bumi. Aku benci orang-orang seperti mereka.
Sepersekian detik kemudian, kulihat Salsya menyentuh pundak Reza dan berusaha menghiburnya. Aku yang mengintip dan menguping di balik pintu bak cacing kepanasan melihat pemandangan menjengkelkan itu. Harusnya Reza segera menyingkirkan tangan itu dari pundaknya. Ah, andai saja saat itu suasana hatinya bukan dalam keadaan berduka, sudah pasti kupelintir tangan Salsya sampai dia tidak akan mau lagi bertemu denganku.
"Aku mengerti perasaan kamu, Za. Aku pernah mengalami hal yang sama seperti yang kamu alami sekarang. Aku juga sebatang kara. Tapi kamu jangan khawatir. Kamu tidak sendirian, ada aku. Aku akan selalu ada untuk kamu."
Fix! Salsya membuatku hilang kesabaran. Aku jengkel! Aku ingin keluar dan mendepaknya dari hadapan Reza.
"Aku tidak apa-apa," kata Reza, membuatku mengurungkan niatku. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Dan maaf, aku harus memperingatkanmu tentang kejadian di rumah sakit kemarin. Jangan pernah diulangi. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman antara aku dan Nara."
"Oh, itu... aku minta maaf. Aku hanya-"
__ADS_1
Ini saatnya. "Permisi," kataku memotong ucapan Salsya dan menghentikannya membahas sesuatu yang tidak bermutu, sebuah alibi yang tak ada gunanya. Dia nampak terkejut melihatku ada di sana. "Maaf mengganggu, tapi Mas Reza harus mandi, terus makan, minum obat, dan istirahat. Mungkin kamu bisa datang lagi lain hari."
Belum selesai celotehanku, dengan lancang perempuan itu menempelkan tangannya ke dahi Reza lalu ke lehernya. "Kamu sakit?" tanyanya -- sok perhatian.
Kontan saja, aku yang sudah berdiri di antara mereka langsung menarik tangan Salsya, menjauhkannya dari Reza. "Kamu mandi gih, aku sudah siapkan air hangat untuk kamu. Handuk kamu sudah kutaruh di kamar mandi."
"Oke." Reza pun menurut dan langsung masuk.
"Ehm, sori, bukannya mengusir, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertamu," kataku.
Tapi Salsya tidak menggubrisku. Dia tetap berdiri di sana -- menatap ke arah pintu, tatapannya kosong. Aku tidak tahu dan tidak mengerti kenapa atau ada apa dengannya. "Halo... kau mendengarku?" Aku seperti bicara dengan patung. "Terserah kalau kamu mau berdiri di situ. Aku mau masuk."
"Aku masih mencintai Reza," ucapnya -- membuatku tertegun. Aku yang baru saja hendak melangkah masuk -- langsung berhenti melangkah. "Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami."
Aku berbalik memutar badan dan mendapati Salsya sedang duduk berlutut dan bersimbah air mata.
"Aku tahu, Reza melihat Aruna dalam dirimu, sebab itu dia-"
"Kumohon, tolong biarkan cinta kami bersemi kembali," katanya mengiba.
Aku berjalan melewati Salsya, kemudian berdiri di ujung teras membelakanginya. Kutarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. "Salsya," kataku lembut. Kucoba untuk menahan amarahku. "Aku tahu cintamu pada Reza begitu besar, sampai kamu rela mengorbankan rumah tanggamu. Tapi kasihan Reza kalau harus kembali bersama kamu, kamu wanita yang tidak bisa setia pada pasangan. Sori, kalau kata-kataku terdengar menyakitkan, tapi jujur, kamu tidak layak untuk lelaki sebaik dia."
Tangis Salsya semakin pecah. Dia terisak dan menenggelamkan wajahnya ke telapak tangan. Mendadak aku merasa iba, aku berniat mendekatinya dan ingin membantunya berdiri, tapi tidak jadi. Aku tidak ingin dia memanfaatkan rasa ibaku.
Di saat yang bersamaan ada dua satpam komplek yang mengintip ke dalam pagar. Sebelum mereka bertanya-tanya, aku langsung meminta tolong agar mereka membawa Salsya ke luar. Kuucapkan terima kasih dan aku langsung masuk. Whatever...
Aku tersentak saat Reza menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Kurasakan lengannya yang kokoh telah melingkar erat di pinggangku dan membuatku terhenyak.
__ADS_1
"Terima kasih, aku senang kamu tidak terpengaruh ucapan Salsya."
"Kamu menguping?" tanyaku pada Reza yang ternyata dari tadi berdiri di balik pintu.
"Aku cuma mau mengawasi kamu, takut kamu melakukan sesuatu di luar kendali."
"O... kamu masih peduli toh pada Salsya."
"Bukan," katanya sambil merapikan rambut-rambut halus di belakang telingaku. "Aku tidak mau kamu melakukan hal-hal yang..."
"Kriminal?" tebakku.
"Iya, aku tidak mau kamu melakukan tindakan kriminal."
Aku mendekatkan wajahku padanya dan kukatakan; "Bagus dong. Jadi aku punya kesempatan melihat seberapa peduli si ayah yang payah itu terhadapku, ya kan?"
Reza langsung melototiku dengan wajah masam. "Aku hanya bercanda, Mas...," kataku sambil mencubit kedua pipinya.
"Tidak lucu!"
Aku nyaris ngakak. "Whatever...," kataku, lalu berdeham. "Mas," kupanggil dia dengan lembut sebelum aku sengaja mengendus aroma tubuhnya yang masam dan mengomentarinya agar dia lekas-lekas mandi. "Kamu bau, mandi gih." Aku pura-pura meringis.
Reza pun ikut mengendus ketiaknya, lalu ia juga meringis. Tapi beberapa detik kemudian wajahnya langsung berubah drastis. Dia langsung nyengir lebar, matanya menyipit, dan menyiratkan kejahilan.
"Malah senyum. Mandi sana," kataku.
Tetapi...
__ADS_1
"Mas...," pekikku. Dia menarik kepalaku dan membenamkanku di ketiaknya, lalu terkekeh-kekeh. Semakin aku berontak, dia semakin kesenangan. Meskipun aku mencebik, tapi hatiku senang. Akhirnya aku mendengar lagi tawa renyah itu, tawa yang sudah beberapa hari ini hilang entah ke mana. Tawa yang membuatku begitu merindu.
Oh Tuhan, dia sudah mulai tertawa. Apakah itu artinya?