CCI

CCI
138


__ADS_3

Hari-hari berikutnya berjalan dengan cepat dan semuanya hampir terasa normal. Hanya saja, Salsya beberapa kali datang ke rumah kami setelah video permintaan maaf Reza padaku beredar, dan bahkan diunggah oleh Reza sendiri. Seakan tidak percaya rumah kami tak berpenghuni, Salsya selalu menekan bel selama beberapa belas menit sampai dia sendiri jengah dan memilih pulang. Dia juga pernah menunggu di depan rumah hingga beberapa jam, bahkan dia pernah bertahan hingga sore demi bisa bertemu dengan Reza. Kau tahu, itu membuatku sangat cemas. Aku takut Reza tidak kuat menahan perasaan ibanya pada Salsya hingga dia mungkin akan membukakan pintu dan menemui perempuan itu, terlebih saat Aulian Attara Dinata, anaknya Salsya -- menangis sampai suaranya melengking terdengar hingga ke lantai atas, mungkin karena ia terlalu lama berada di luar dan itu membuatnya merasa tidak nyaman. Tapi untung saja apa yang kukhawatirkan itu tidak terjadi. Sebab, Reza memilih memborgol tangannya dengan tanganku hingga dia bisa menahan diri dan tetap di sisiku. Dan pernah juga di lain hari, saat Salsya datang sendirian dan menunggu di luar pintu, aku pernah sengaja menarik Reza ke kamar dan mengajaknya bercinta. Agak gila, ya? Atau terlalu kejam? Terserah. Aku ingin menjaga suamiku dan keluarga kecilku supaya tetap utuh. Kalau tidak, aku tidak akan menjilat ludahku sendiri, rumah tangga kami pasti akan benar-benar berakhir di pengadilan. Aku tidak ingin itu terjadi, juga tidak ingin menurunkan gengsi dengan memaafkannya lagi. Dia akan besar kepala dan akan menginjak-injak harga diriku kalau aku memaafkannya lagi dan lagi. Tidak akan. Jangan harap.


Tetapi, mau tidak mau, kedatangan Salsya yang nampak kurus dan frustasi -- membuat hati Reza terenyuh. Dia jadi sering melamun dan hilang selera berhari-berhari. Yap, dia tidak melihatnya secara langsung, itu terjadi sewaktu dia diam-diam mengecek cctv, lalu pada suatu malam -- dia diam-diam keluar dari kamar dan menelepon Kayla. Dia meminta Kayla untuk membujuk Salsya supaya menjaga kesehatan, supaya bayinya pun bisa memperoleh ASI yang cukup.


"Aku tidak bisa menemuinya, Kay. Nara sudah dua kali masuk rumah sakit. Aku tidak bisa mempertaruhkan nyawa anak-anakku. Kalau Nara sampai tahu, itu pasti akan membuatnya stres."


Aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh Kayla di seberang sana. Aku tidak dapat mendengar suaranya dalam sambungan telepon itu. Tapi aku bisa menebaknya dari jawaban Reza yang bisa kudengar dengan jelas. Dia tidak tahu kalau aku terbangun dan diam-diam menguping sewaktu dia menelepon Kayla.


"Aku tahu, tapi aku tidak akan mengorbankan darah dagingku karena keegoisan dan kegilaan Salsya. Tidak akan."


"Apa namanya kalau bukan egois dan gila? Dia sampai tega menyiksa dirinya sendiri, sampai anaknya sendiri jadi kekurangan ASI."


"Tolong, Kay. Tolong kamu mengerti. Menyembuhkan frustasi Salsya itu berarti sama saja aku membuat Nara yang frustasi. Aku tidak mau mengorbankan anak dan istriku. Atau begini, bilang saja kalau sebenarnya aku peduli padanya, dan sebagai balasannya dia harus bisa mengurus dirinya sendiri dan anaknya dengan baik. Bilang, kalau dia memang mencintaiku, dia harus melakukannya untukku. Dia harus sehat, juga demi anaknya."


Demi anaknya. Yeah, demi anaknya. Aku tahu itu demi malaikat kecil yang suci itu. Kucoba meredam emosi-emosiku secara kilat. Baiklah, sabarlah sedikit, Inara. Yang penting sekarang -- hentikan Kayla. Dia sedang berusaha memengaruhi suamimu.


"Mas?"


"Sayang?" Dia terkejut melihatku yang sudah berdiri tepat di bekakangnya, dan mendengar semua percakapannya dengan Kayla. "Sori, aku... aku harus menutup teleponnya sekarang."


Seperti sedang ketahuan menelepon selingkuhan, Reza langsung terdiam seribu bahasa dengan wajah pucat pasi. "Aku..."


"Setiap pilihan itu ada konsekuensinya masing-masing. Jika kamu memilih dia, kamu akan menyakitiku, juga dirimu sendiri, bahkan juga menyakiti anak-anak kita. Tapi kamu tidak bisa memilih keduanya, aku dan anak-anakku tetap akan merasakan sakit. Sakit karena diduakan. Begitu pula jika kamu memilihku tapi tetap memikirkan dia, itu juga sama saja. Sama-sama menyakitkan."


Reza mengangguk. "Aku tahu," katanya. Lalu dia menyodorkan ponselnya yang menampilkan foto Aulian dengan kondisi menyedihkan. Anak itu jauh lebih kurus dari yang pernah kulihat waktu itu. "Aku..."


"Minta Erik dan karyawan perempuan untuk membelikan kebutuhan bayi itu. Beri dia susu formula kalau ibunya tidak bisa menghasilkan ASI dengan baik. Kamu juga boleh menitipkan uang untuk mereka. Tapi, jika Salsya tidak memanfaatkan semua itu dengan baik, kamu tidak perlu merasa bersalah."


Seperti langsung terpengaruh, dengan segera Reza membuka ponselnya untuk menghubungi Erik. Tapi seketika dia tersadar dan takut aku malah salah mengartikan sikapnya, dia tidak jadi melakukan itu. "Besok saja aku hubungi Erik. Sekarang... emm..."


"Fokus pada rumah tangga kita. Jangan meninggalkan istrimu di tengah malam hanya untuk memikirkan perempuan lain." Aku langsung berbalik untuk pergi, tapi kusempatkan berhenti sejenak. "Aku bukan bermaksud mengancam, tapi ini kesempatan terakhirmu."


Aku pun pergi dengan sedikit rasa kecewa di hati. Dan karena kesal aku turun ke dapur dan membuka laci dengan kasar untuk mengambil obat tidur. Aku butuh obat itu untuk menenangkan diriku sendiri. Aku khawatir jika aku tetap terjaga pikiranku akan lebih kacau dan memicu pertengkaran dengan suamiku, dan bisa saja hal yang lebih buruk juga akan terjadi.


"Itu obat apa?" tanya Reza yang bergegas turun dari tangga setelah mendengar gerabak-gerubuk di lantai bawah.


Suaranya yang tiba-tiba memecah keheningan membuatku terkejut. Botol obat itu pun terlepas dari tanganku hingga butiran-butiran pil di dalamnya berceceran ke lantai. Dengan sigap, kuambil lagi botol itu dari lantai dan hendak mengeluarkan isinya yang tersisa. Begitu pun dengan Reza yang tak kalah sigap, dia berhasil merebut pil-pil itu dari tanganku.


"Apa?" tanyaku dengan nada tinggi. "Itu hanya obat tidur. Kamu kira aku mau mencelakai diriku sendiri? Kamu kira aku akan mengorbankan anak-anakku hanya karena kelakuanmu? Hmm? Sudahlah, lupakan. Itu hanya obat tidur dan aku membutuhkannya. Berikan padaku."


Reza menggeleng. "Tidak. Kita kembali ke kamar. Kamu bisa tidur tanpa ini."


"Jangan membuatku marah, please? Ya? Tolong, hanya satu butir."


Tanpa menyahut, Reza langsung membaca keterangan informasi kandungan obat, kegunaan dan efek sampingnya yang tertera pada botol itu. "Ada resep dokternya?"

__ADS_1


Sama, tanpa menyahut -- kuambil resep dokter yang kusimpan di laci, di dekat aku menyimpan botol pil itu. Setelah membaca dan menaruh konsentrasi penuh pada "penelitiannya" -- Reza mengeluarkan satu butir pil dan memberikannya padaku.


"Sejak kapan?"


"Apanya?"


"Kamu mengonsumsi obat-obatan seperti ini?"


"Sejak kamu ketahuan bohong dan menamparku. Aku butuh obat untuk membantuku tidur, dan mengenyahkan semua pikiranku tentang keberengsekan kamu."


Dia langsung menunduk dengan wajah bersalah dan penuh penyesalan. "Maaf?" katanya.


Aku menggeleng. "Aku tidak mau dengar. Aku sudah muak."


Aku baru saja hendak pergi saat tangan Reza menahan lenganku. Tetapi dia diam saja, seakan tidak tahu mesti mengatakan apa setelah permintaan maafnya kutolak mentah-mentah.


"Kita bisa mengobrol sambil duduk," kataku. Tapi Reza tetap diam saja, bahkan sewaktu dia mengikutiku dan kami duduk berhadapan di atas sofabed di ruang makan lesehan kami. Tidak tahan dengan keheningan yang terasa bermenit-menit, aku pun buka suara. "Kamu seperti sebuah koin yang punya dua sisi berlainan. Kadang kamu memperlihatkan sosok suami dan ayah yang sempurna, tapi di lain waktu kamu seperti ini. Bermain-main di belakangku."


Dia menaikkan matanya ke awang-awang. Sementara aku tidak yakin sepenuhnya menginginkan pembicaraan ini di perpanjang.


"Aku hanya merasa bersalah. Aku kasihan padanya, pada anaknya. Aku..."


"O ya? Merasa bersalah? Atau... merasa masih cinta?"


Dia menghela napas panjang lalu mengusap wajah. "Aku yakin -- aku hanya mencintaimu dan tidak lagi mencintai Salsya. Aku yakin sepenuhnya tentang itu."


Reza menatapku dengan raut aneh yang tak bisa kumengerti, apa dia kesal, marah atau apa. Yang pasti itu membuatku ngeri. Aku refleks mundur sedikit dan merapatkan tangan untuk melindungi perutku. Dan itu membuatnya terkejut, dia menyadari ketakutanku.


Sepersekian detik kemudian, sekonyong-konyong Reza malah turun dari sofa. Dia melingkarkan lengannya yang gelisah pada tubuhku, lalu membenamkan wajahnya di pahaku sambil menangis. "Jangan takut. Aku tidak akan kasar lagi. Tidak akan."


Aku tertegun melihat reaksinya, sekaligus merasa bersalah karena mengira dia akan bersikap kasar lagi padaku. Dengan jemari kikuk karena bingung harus bersikap "bagaimana" -- kusentuh kepalanya dan menggerakkan jemariku -- sedikit. Sejujurnya aku bermaksud membelainya tapi aku tidak mampu. "Aku..."


Aku tidak bisa mengatakan apa-apa. Kata-kata lenyap dan terlucut dari pita suaraku. Mungkin karena tidak mendapatkan respons seperti yang ia inginkan, Reza mengangkat kepalanya lalu menatapku. "Kamu takut?"


"Aku..."


"Borgol tanganku," katanya seraya mengangkat kedua tangan. Dia menyodorkan pergelangan tangannya ke depan wajahku dengan kedua tangan mengepal.


Aku menggeleng dengan mata berkaca. "Jangan seperti ini..."


"Tidak apa-apa, supaya kamu nyaman, kamu tenang. Aku tidak mau kamu ketakutan."


"Tapi... aku..."


"Kamu tunggu di sini, biar kuambilkan borgolnya."

__ADS_1


Reza baru hendak berdiri dan hedak ke kamar, tapi aku langsung mencegahnya. "Tidak usah," kataku. Dia kembali berjongkok lutut di hadapanku, mendongak menatapku sambil menggenggam erat tanganku. Air matanya berurai, membuatku tidak sanggup melihatnya. "Aku hanya cemas, anak-anakku... maksudku... emm..."


"Ssst, tidak usah takut." Dia menangkup wajahku dan mengusap air mataku sehingga rasa takutku mulai sirna. Kemudian aku memintanya kembali duduk di sampingku, bahkan dia melakukannya dengan lebih baik. Dia langsung memeluk dan menyandarkan aku ke dadanya.


Cukup lama aku berusaha mengendalikan pikiranku sebelum mencetuskan omongan yang masuk akal, atau mungkin tidak sama sekali.


"Mas?"


"Emm?"


"Hubungan kita mulai tidak sehat. Entahlah, atau justru memang tidak sehat dari dulu, dari awal. Sebaiknya--"


Reza melepaskan pelukan dan memegangiku setengah lengan jauhnya. "Jangan bicara sembarangan. Sekalipun itu benar, kita bisa memperbaiki semuanya, iya kan?"


Aku menghela napas dalam-dalam, dadaku terasa sesak dan pusing kepalaku mulai terasa. Obat tidur itu mulai bereaksi. "Jelas tidak sehat, Mas. Aku, kamu, kita -- seakan hanya memaksakan keadaan."


"Tidak begitu."


"Mas..."


"Sayang..."


"Kamu bersamaku bukan untuk menyiksaku, kan?" Kugenggam erat tangannya dalam genggamanku.


"Tidak," sahutnya cepat dan menggeleng kuat.


"Aku ingin kamu bahagia. Tapi kenyataannya keberadaanku di sisimu justru membuat kamu tersiksa."


"Aku bahagia."


"Tidak sepenuhnya. Kamu tersiksa karena tidak bisa bersama Salsya."


"Tolong, tolong, tolong, tolong. Kamu... kamu jangan salah mengerti. Jangan salah paham."


"Oke. Tapi jelas, aku yang tersiksa. Aku tersiksa melihat kamu yang murung, yang merasa bersalah, melamun, bahkan kamu tidak bisa tidur karena memikirkan perempuan itu. Ini tidak baik. Tidak baik untuk semua pihak." Aku mulai gelisah. Ekspresi wajah dan gerak tanganku mulai tidak tenang. "Aku, kamu, dan anak-anak kita menjadi korban dari semua ini. Kenapa kita memaksakan untuk bersama sementara kamu masih memikirkan perempuan itu? Ini tidak bagus untukku dan perkembangan janinku."


Reza mendengarkan aku -- hanya untuk tidak menyela ucapanku. Sementara itu, sakit kepalaku semakin menjadi dan kepalaku terasa berdentam-dentam. "Jangan berpikir yang berat-berat. Itu yang justru tidak baik untuk anak kita," ujarnya. Terkadang dia tahu dan sangat paham, tapi di lain waktu dia mulai kembali menjadi Reza-nya Salsya.


"Astaga.... Selalu seperti ini. Bisa tidak kamu memberikan solusi yang terbaik untuk semua pihak? Atau harus aku?" kataku sambil mencengkerami rambut. "Oh, atau begini. Kamu tidak bisa kan melepaskan Salsya? Dan, kamu... kamu juga tidak bisa berhenti memikirkan dia. Jadi...," aku frustasi dan mulai timbul keinginan untuk menyerah. "Kamu nikahi saja dia, dan kamu bisa merawat anaknya. Biar aku yang mundur. Hmm? Kamu menikah dan kita bercerai. Atau, kita bercerai lalu kamu menikah dengan dia. Terserah, yang mana duluan. Itu terbaik," kataku dengan gusar.


Reza sedari tadi tidak bisa menyahut, tapi kepalanya menggeleng-geleng penuh penolakan, dengan suara tercekat dan air mata terurai.


"Kamu jangan khawatir, kalau kita berpisah baik-baik -- aku tidak akan melarang kamu menemui anak-anakmu. Bebas, kapan pun, seberapa lama pun. Aku pasti mengizinkan."


Sekarang giliran Reza yang mencengkeram rambutnya. "Jangan bicara lagi," katanya. Dia menarikku kembali ke dalam pelukannya. Kurasakan lengannya melingkar erat dan bibirnya mencium keningku."

__ADS_1


"Aku lelah. Aku ingin menyerah. Aku tidak sanggup melihat kamu selalu mengingat dia, kamu selalu memikirkan dia, Mas. Kita jadi sering bertengkar dan itu membuatku takut. Aku takut kamu kasar dan menciderai kandunganku. Aku... aku ingin berpisah. Pernikahan ini menyiksaku." Suaraku semakin melemah, aku seperti orang yang sedang mengigau. Sesaat kemudian aku mulai tidak sadarkan diri.


__ADS_2