CCI

CCI
15


__ADS_3

》Kalau kamu sudah bangun, kita sarapan di pantry.


Hanya itu isi pesannya. Pesan singkat yang ditulis Reza via whatsapp yang kubaca saat aku baru terbangun dari tidur. Aku pun bergegas mandi, berganti pakaian, dan sedikit berhias. Kupakai yellow dress yang dibelikan karyawan resto, dress dengan model halter neck, bagian bawahnya melebar dan panjangnya di bawah lutut. Saat itu jam enam lewat sepuluh menit, kuambil ponselku dan langsung menelepon Reza. "Bisa tidak sarapannya di kamar saja?" tanyaku.


"Oke. Nanti aku suruh orang antar ke kamar. Sudah dulu, ya. Aku lagi ada urusan sedikit. Sebentar lagi aku ke sana," katanya, ia pun menutup sambungan telepon.


Karyawan resto mengantarkan makanan sekitar lima belas menit kemudian. Seorang perempuan muda, tertulis Mayriska di name tag-nya. Menurutku usianya mungkin masih di bawah dua puluh tahun. Dia sangat manis, ada lesung pipi di wajahnya. Melihat sosok gadis itu aku seperti melihat diriku sendiri lima tahun silam, saat aku diam-diam berusaha mencari uang dengan caraku sendiri, tanpa sepengetahuan ibuku.


"Silakan, Mbak," katanya. Dia mempersilakan aku menyantap sarapan yang telah terhidang. Dua porsi nasi kuning hangat lengkap dengan lauk pauknya, juga seteko kecil teh panas dengan dua gelas berukuran kecil -- terhidang di atas meja.


"Ya, terima kasih," kataku. "Oh ya, Mas Reza-nya di mana?"


"Mas di sini." Si pemilik nama tiba-tiba muncul dari pintu masuk.


"Terima kasih, Mbak."


"Ya, Pak. Permisi." Mayriska pun keluar dari ruangan kami.


Pagi itu Reza belum mandi, masih dengan kaus yang sama yang dipakainya tidur semalam. Masih tetap luar biasa tampan dan berkarisma meskipun ia belum mandi. Semakin kusadari, aku benar-benar melihatnya sebagai dirinya sendiri, ketertarikanku benar-benar pada sosok Reza Dinata, bukan lagi dalam bayang-bayang Reza Rahadian, baik Reza Rahadian sang aktor idolaku ataupun Reza Rahadian yang ada dalam khayalanku.


"Kenapa kamu nyari Mas?" tanyanya sembari mendekat padaku. Dia berdiri tepat di depanku, membuatku harus mendongakkan kepala untuk melihat wajahnya.


"Apa sih kamu?" Aku berusaha menahan senyum.


"Kamu sendiri tadi yang menyebutku Mas Reza. Dan aku suka."


Dia menyalungkan kedua tangannya ke belakang leherku. Perlakuan manisnya itu membuat tubuhku langsung bergetar. Rasa-rasanya seluruh elemen tubuhku bergejolak tak karuan. Aku mungkin akan sesak napas karena nervous kalau saja ponselku tidak berbunyi, telepon dari ibuku.


"Sori, ada telepon. Bisa diturunkan dulu tangannya, Mas Reza?"


Dia menggeleng. "Angkat saja," katanya. Aku pun menjawab telepon itu dan mengisyaratkan supaya ia diam, jangan mengeluarkan suara.


"Kamu sedang apa, Sayang?" tanya ibuku.


"Baru mau sarapan, Bund. Bunda sudah sarapan?"


Detik itu Reza yang jahil mulai iseng, dia merapatkan dirinya padaku, seolah dia paham betul kalau aku tidak akan bersuara, supaya ibuku tidak tahu kalau aku sedang bersama seorang lelaki saat menjawab teleponnya. Aku melangkah mundur sampai mentok ke dinding, tapi dia malah semakin merasa senang. Tatapan matanya yang tajam seakan mengandung magnet yang mengunci erat mataku, lalu dengan sengaja ia menyentuhkan jari-jarinya ke belakang telingaku. Lagi-lagi jantungku serasa melorot sampai ke perut, degupannya pun tak lagi biasa. Dadaku sesak dipenuhi debaran-debaran aneh. Oh Tuhan, bantu aku mengendalikan diri.


"Kamu kenapa?" tanya ibuku.


"Oh, ee... itu, anu, Bund. Nara tidak apa-apa."


Aku gugup, sementara Reza malah cengengesan di depanku. Betapa dia sangat senang atas kesuksesannya menjahiliku. Dasar!


Aku dan ibuku berbicara di telepon hampir lima menit. Obrolan seperti biasanya, pesan seorang ibu kepada anak perempuannya, harus pandai jaga diri dan selalu menjaga kesehatan. Ia menutup telepon itu setelah aku mengiyakan semua wejangannya.


"Sudah?"

__ADS_1


"Sudah," kataku. Aku kembali menengadah ke atas melihat wajahnya. Saat itu Reza memandangiku lama, membuatku kembali merasa nervous. "Kamu itu benar-benar jahil."


"Kenapa? Nervous?"


Aku tidak menjawab. Mana mungkin aku mengakuinya, meski sebenarnya siapa pun yang melihatku saat itu pasti tahu kalau aku sedang nervous berat.


"Cantik," pujinya.


"Hu'um, seperti itu." Aku menunjuk ke nasi kuning yang ada di atas meja. Aku merasa jengkel karena Reza sampai terkekeh.


"Ayo, sarapan," ajaknya seraya berbalik.


Kami pun duduk di sofa dan sarapan bersama.


"Aku serius lo, aku suka kalau kamu memanggilku Mas."


Aku menahan senyum. "Oke, Mas Reza," kataku.


"Dan aku akan memanggil kamu Sayang, boleh?"


"Mmm... ya... boleh." Sebenarnya aku sangat suka dia memanggilku Sayang.


Kami menghabiskan sarapan sambil mengobrol ringan. Reza menanyakan bagaimana tidurku semalam. "Nyenyak dan nyaman," kataku. Aku pun menanyakan besok dia akan pulang jam berapa. Dia mengatakan jam sembilan pagi dia sudah harus stay di bandara.


"Jadi kapan kamu akan pulang dan mengajakku bertemu keluargamu?"


"Mmm... aku harus cerita dulu ke Bunda, dan tanya dulu kapan baiknya kita ke sana. Nanti kukabari." Aku menjawab ragu-ragu, sementara Reza hanya mengatakan oke.


"Kesepakatan," jawabku. "Siapa pun dalam keluargaku kalau mereka mau berbicara denganku, mereka harus menggunakan bahasa Indonesia."


"Kenapa harus?"


Aku mengedikkan bahu. "Sulit untuk dijelaskan. Intinya aku ingin kehidupan baruku membuat masa laluku menjadi samar-samar, sampai aku tidak teringat dari mana asalku dan bagaimana masa laluku. Dan... yeah, aku tahu aku seperti menipu diriku sendiri, karena pada kenyataannya masa laluku tidak akan pernah bisa terlupakan."


Reza hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berkomentar sedikit pun. Dia menunjukkan sikap bahwa dia mau memahamiku.


...♡♡♡...


Reza menghabiskan hari terakhirnya di Surabaya bersamaku. Dia mengajakku menempuh jarak lebih dari delapan kilometer selama dua puluh lima menit menuju Food Junction Grand Pakuwon Surabaya, yang merupakan pusat wisata kuliner di kota itu, lokasi asik untuk berbincang bersama, menikmati kuliner, wahana-wahana permainan, dan pastinya punya spot-spot cantik untuk mengabadikan momen bersama.


Lokasi bangku yang ada di taman tepi danau menjadi lokasi favoritku. Di spot itu kami mengambil gambar dengan latar belakang danau buatan serta bianglala. Saat malam, seluruh lampu hias akan mewarnai setiap sudutnya. Sedangkan untuk wahana permainan, aku menyukai trampolin.


"Kita mau main apa lagi?" tanyanya. "Naik sepeda air, mau?"


Belum sempat aku menjawab, Reza menarikku sampai ke tepi danau, kemudian menggendongku. Aku sempat berteriak kaget dan menyuruhnya menurunkan aku dari gendongannya. Tapi dia tetap keukeuh menggendongku dan baru menurunkan aku di atas sepeda air. Dia sedikit pun tidak merasa malu dilihat banyak orang di sekitar kami.


"Aku dulu pernah main sepeda air, waktu masih kecil. Tapi aku sudah lupa bagaimana rasanya. Aku cuma tahu lewat foto. Menyesal sih rasanya setelah bisa merasakan suatu perasaan, tapi aku malah hidup dalam rasa hambar."

__ADS_1


Reza menggeleng, lalu meraih tanganku. "Sudah," katanya. "Tidak ada gunanya mengingat hal-hal buruk di masa lalu. Kita masih punya banyak waktu untuk meraih kebahagiaan kita. Asal kamu selalu memberikan aku kesempatan, oke?"


Aku mengangguk. Kurasakan detak jantungku berdegup hebat ketika aku menatap matanya. Aku tahu ini terlalu cepat, tapi aku menyadari bahwa aku juga telah jatuh cinta. Hatiku mengakui; I am falling in love with you, Mas Reza Dinata.


Saat makan malam, satu-satunya menu yang kupilih berdasarkan keinginanku sendiri yaitu Bebek Pak Janggut, untuk minumannya chocholate ice dan milkshake, sedangkan untuk camilan, apa pun yang dibeli oleh Reza, pasti akan kucicipi.


"Kamu mau menyukai apa pun yang kusukai. Apa salahnya kalau aku juga belajar menyukai apa pun yang kamu sukai," ujarku.


Tetapi aku menyesal karena telah mengucapkan kalimat bodoh itu ketika aku tahu kalau dia sangat menyukai mayones, dan dia memintaku untuk mencobanya.


"Demi kamu," kataku.


Kumasukkan benda yang menurut lidahku rasanya super aneh itu ke mulutku, aku mencoba menelannya, tapi hasil akhirnya adalah aku muntah-muntah, dan tidak hanya mayones itu yang keluar, tapi juga bebek yang sebelumnya masuk ke perutku, juga ikut keluar. Aku cemberut.


"Sori. Kalau tahu kamu sampai muntah, aku tidak akan minta kamu mencobanya. Kita beli bebek lagi, ya?"


"Terserah."


"Oke. Kalau begitu dibungkus saja."


"Terserah."


"Aku beli dulu. Kamu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana."


"Ter... tidak jadi. Aku mau pulang," kataku.


Di sepanjang jalan, aku terus mendiamkannya, bahkan sampai kami masuk ke dalam mes. Di dalam sana sudah tersedia paper bag yang aku tahu isinya pasti pakaian ganti untukku. Kuambil dan kubawa masuk ke kamar mandi. Setelah mandi aku langsung naik ke tempat tidur. Aku tidak tahu Reza ada di mana saat itu.


Jam di ponsel menunjukkan pukul setengah sembilan malam, Reza membuka pintu kamar, dia sudah berganti pakaian: celana panjang tentara dan T-shirt warna abu-abu polos. Dia tampak kelimis, sudah mandi dan sudah bercukur.


"Kamu masih ngambek?" tanyanya sembari mendekat. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan mengulangi hal seperti ini lagi. Kamu tidak perlu lagi mencoba apa pun yang aku suka, dan kamu juga tidak perlu lagi memaksakan diri untuk mencoba sesuatu yang tidak kamu sukai. Tolong, aku tidak mau melihat kamu seperti ini. Kamu mau kan memaafkan aku?"


Aku terkesan karena dia bisa begitu tulus padaku. Tetapi aku tidak mau mengucapkan kata-kata untuk memujinya. Kutarik dia ke dalam pelukanku dan kusembunyikan wajahku di lehernya. Beberapa menit berlalu dan dia melepaskan diri dariku, sambil memandangiku dengan kepala dimiringkan. Sebabnya karena aku menangis. Aku tidak bisa menahannya waktu itu; Reza merabai tetes-tetes air mata di lehernya. Sialan, aku menyumpah-nyumpahi diriku sendiri. Dalam sekejap rupa-rupanya aku sudah berubah menjadi makhluk cengeng dan melankolis yang gampang mengeluarkan air mata.


Sambil terseduh-seduh aku menjauhkan diri dari Reza dan membungkus tubuh serta kepalaku dengan selimut. Meringkuk membelakanginya.


"Hei...," katanya. "Sayang, ayolah, ada apa? Kamu kenapa?"


Itu pertama kalinya -- secara resmi -- dia memanggilku Sayang. Aku suka dia mengucapkannya, kedengarannya seperti sonata piano di telingaku.


"Tidak apa-apa. Aku cuma takut aku tidak bisa menjalani hubungan kita karena rasa takutku. Seperti aku tidak bisa mengalahkan rasa tidak sukaku pada mayones."


Reza tertawa terkekeh-terkekeh, lalu menyelinap masuk ke dalam selimutku.


"Apa yang lucu?" tanyaku gemas.


"Kamu. Kamu yang lucu. Semula aku tidak yakin apakah kamu benar-benar suka padaku. Tapi sekarang aku tahu."

__ADS_1


Ingin kukatakan padanya bahwa aku tidak pernah bertindak seperti itu. Aku bukan cewek segampang itu. Tetapi sepertinya daya tarik Reza sudah menjadi pisau yang menembus langsung tameng pertahananku. Aku merasa kerapuhanku menetes-netes dan menggenang di seluruh tempat tidur, digantikan oleh suntikan harapan baru yang segar darinya.


Reza memutarku sehingga aku menghadap ke arahnya. "Aku sayang kamu." Ditangkupnya wajahku di kedua tangannya, dan diciuminya keningku dengan penuh perasaan. Dengan bibir dan jarinya dia mengusir pergi semua ketakutanku saat itu. "Biarkan aku memelukmu sampai kamu tertidur."


__ADS_2