CCI

CCI
23


__ADS_3

Kami tiba di rumah Ihsan sebelum jam makan siang. Seperti halnya ibunya Reza, ibuku juga sangat antusias begitu aku mengabari kalau Reza dan ibunya akan berkunjung hari itu. Maka saat Reza dan ibunya menyampaikan maksud kedatangan mereka untuk melamarku, tentu saja ibuku langsung menerima lamaran itu dengan sukacita. Ibaratnya apa yang disampaikan itu hanya formalitas, hanya seperti kata sambutan yang disampaikan seseorang dalam sebuah acara. Karena pada dasarnya, semua orang yang hadir sudah tahu maksud dan tujuan pertemuan dua keluarga itu, dan sudah tahu apa jawaban tuan rumah.


Sesuai rencana, kami akan makan siang bersama hari itu. Sesuatu yang luar biasa bagiku, karena kedua keluarga yang sebelumnya satu sama lain adalah orang asing, tapi bisa menyatu dengan begitu cepat pada pertemuan pertama. Ibuku dan ibunya Reza, yang sekarang kami sebut kedua ibu kami -- sudah sangat akrab, seperti dua saudari yang sudah lama tidak bertemu. Mungkin karena latar belakang pengalaman masa lalu mereka yang hampir sama, begitulah pemikiranku.


Sambil menyantap potongan cumi kesukaannya, ibuku bertanya kapan rencana pernikahan kami. Padahal yang sebenarnya aku dan Reza bahkan belum membahas sampai ke sana.


"Minggu depan? Atau dua minggu lagi? Bagaimana?" sela calon ibu mertuaku itu -- menunjukkan ketidaksabarannya untuk menikahkan anak lelakinya."


"Kecepatan, Bu. Menurut Reza awal April saja. Kurang dari dua bulan. Tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lama."


Aku menangkap maksud ucapannya, dia tidak ingin aku merasa bingung kalau waktu pernikahan itu terlalu cepat.


"Sejak kapan kamu jadi so sweet begitu?" goda ibunya.


"So sweet apanya?"


"Itu, kamu mau menikah di awal April. Pernikahan sebagai kado ulang tahun untuk Ibu, kan?"


Reza menanggapi ucapan ibunya dengan senyuman.


"Bagaimana, Sayang? Setuju menikahnya awal April?" tanya ibuku.


"Nara ikut saja bagaimana maunya Mas Reza. Kalau Mas Reza mau pernikahannya di awal April. Nara setuju," jawabku.


"Tuh, Mas. Mas Reza beruntung punya calon istri yang belum jadi istri saja sudah menurut apa kata calon suami. Apalagi kalau nanti sudah jadi istri, iya kan?"


Si pemilik tubuh atletis yang suka sekali menggoda saudari perempuannya, langsung bereaksi begitu ada celah.  Semua orang tertawa mendengar ucapan Ihsan yang menggodaku.


"Aduh!" Ihsan berteriak kaget saat aku menginjak kakinya di kolong meja.


"Harap maklum ya, Bu," kata ibuku. "Mereka berdua kalau bertemu ya seperti itu."


Reza dan ibunya sama sekali tidak merasa terganggu. Mereka malah tertawa melihat kelakuan adik lelakiku itu. Seketika aku merasa pipiku memerah, dan Ihsan malah menjadikannya bahan hiburan. "Ada yang malu-malu tuh... pipinya sampai merah..."


...♡♡♡...


Bukan sebuah kebetulan ketika ayahku datang ke rumah Ihsan saat acara lamaran itu. Dia datang setelah kami semua selesai makan siang. Tentu itu berkat pemikiran ibuku. Dia tahu betul aku tidak akan menikmati makan siangku jika orang itu datang lebih awal, bahkan Reza juga pasti tidak akan sempat menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya jika orang itu datang bersamaan dengan kami. Aku tahu ibuku sengaja mengundangnya atau tidak bisa menolak saat laki-laki itu meminta izin untuk ikut hadir, supaya sekalian memperkenalkan Reza dan ibunya, supaya aku dan Reza tidak perlu repot-repot pergi ke Palembang untuk menemuinya. Ibuku juga pasti tahu aku akan sangat keberatan bahkan akan menolak gagasan itu yang menurutku sangat konyol. Walaupun begitu -- aku paham, mau dipandang dari sudut mana pun, karena dia aku terlahir di dunia ini, itu satu-satunya alasan keberadaannya di acara lamaranku.


"Jaga sikap," bisik ibuku. "Jangan mempermalukan dirimu sendiri di depan Reza dan ibunya, oke?" ibuku berkata seraya meremas lembut pundakku lalu mengecup kepalaku.


Ayahku datang dengan penampilan necis selayaknya pengacara kondang dengan setelan jas kebanggaannya. Aku selalu muak melihatnya memakai jas, itu mengingatkanku pada luka ibuku, karena dulu Yanti pernah menghadiahkan jas pernikahan untuk ayahku, tapi pada akhirnya, Yanti menjadi penyebab keretakan pertama dalam rumah tangga orang tuaku. Begitulah ayahku, seperti kucing yang diberi ikan asin, pantang ada perempuan yang mendekati, dia begitu mudah tergoda. Sayangnya sifat itu baru terlihat setelah pernikahan ayah dan ibuku, tepatnya setelah ibuku melahirkan, dengan kata lain setelah ibuku tidak lagi semenarik sewaktu ia masih gadis. Tapi menurutku, jika ayahku sosok suami yang baik, tidak peduli bagaimana keadaan istrinya, dia akan selalu berusaha menjaga kesetiaannya. Entahlah, karena aku perempuan, aku tidak tahu bagaimana jalan pikiran kaum adam yang sebenarnya.


Ayahku juga memakai dasi panjang, rasanya aku ingin sekali menarik dasi itu dengan kencang sampai dia kesakitan karena tercekik, sampai matanya melotot dan lidahnya terjulur ke luar. Aku ingin melihatnya merasakan sakit, meski sakitnya tidak akan pernah sebanding dengan sakit hati yang kupendam selama bertahun-tahun. Sayangnya aku harus pandai-pandai menjaga sikap di depan calon ibu mertuaku. Belum lagi cara Reza menahanku. Karena dia duduk di sampingku, dia bisa menggenggam tanganku di bawah meja. Sesekali ia meremas lembut jari-jariku untuk memastikan supaya aku tetap tenang. Juga dengan pandangan matanya yang menyampaikan pesan, "Jaga sikapmu, Sayang. Tahan emosi, dan jangan marah. Kamu harus bisa mengendalikan dirimu sendiri, karena aku tidak bisa meredam emosimu dengan memeluk dan menciummu di depan orang banyak." Kalimat itu ia tulis di whatsapp saat pertama kali kami melihat ayahku yang payah itu datang bersama seorang lelaki muda yang tempo hari kulihat bersamanya di Surabaya.

__ADS_1


Ayahku memperkenalkan laki-laki itu sebagai putra angkatnya. Namanya Rizki, seseorang dengan profesi yang sama dengan profesi ayahku, pengacara. Dia juga berpenampilan yang sama persis dengan ayahku, tapi aku tidak berniat menarik dasinya, seperti keinginanku menarik dasi ayahku. Reza juga sering berpenampilan dengan jas dan dasi panjang, tapi hanya ketika ada urusan penting seperti meeting, dan aku suka melihatnya. Selebihnya dia berpenampilan santai selayaknya lelaki biasa, hanya memakai kemeja atau kaus dengan harga yang standar.


Lelaki bernama Rizki itu cukup tampan, terlebih dengan potongan rambutnya yang rapi. Dia nampak jelas sebagai orang berpendidikan, dia juga ramah, hanya saja aku tidak menyukainya karena dia kerabat ayahku.


"Itu laki-laki yang tadinya akan dijodohkan denganmu," Ihsan berbisik padaku.


Aku yang terlanjur membeku tidak bisa meresponsnya. Rasa-rasanya aku seperti duduk di atas kompor. Panas! Detik pun terasa melambat. Aku tahu, kemungkinan besar aku akan meledak.


"Saya selaku ayahnya Inara, menerima niat baik Ibu dan Nak Reza. Sungguh suatu kehormatan bagi saya sebagai wali nikahnya, bisa menikahkan putri saya dengan orang yang mencintainya. Saya berharap, Nak Reza dan Inara bisa meluangkan waktu untuk ke Palembang, berkenalan dengan keluarga besar kami," ujarnya.


Mendengar perkataannya yang menyebutkan dirinya sebagai wali nikah untukku, membuatku tidak tahan, apalagi dia memintaku untuk menemui keluarga besarnya. Aku tidak sudi. Aku tidak peduli apa yang dikatakan Reza padaku, dan tidak peduli bagaimana pandangan calon ibu mertuaku terhadapku. Bahkan aku mengabaikan perasaan ibuku. Aku melepaskan genggaman tangan Reza, dan dengan lantang aku menyampaikan penolakanku.


"Permisi. Saya mau bicara, tolong semuanya diam, jangan ada yang berbicara, apalagi memotong perkataan saya. Oke?"


Hening. Raut cemas pun langsung menaungi wajah setiap orang. Rada ngeri, tapi aku tetap nekat. "Ehm, sebelumnya saya mohon maaf, tapi saya tidak berkenan Anda menjadi wali nikah untuk saya. Anda tidak berhak untuk itu. Terlebih saya punya saudara laki-laki yang sudah cukup umur, Ihsan. Dia bisa dan memenuhi syarat untuk menjadi wali nikah bagi saya. Saya tidak ingin kewajiban Ihsan digantikan oleh orang asing. Bisa dimengerti?"


"Maafkan Ayah, Nak," ucapnya dengan lirih.


"Jangan sebut diri Anda sebagai ayah saya, saya tidak suka."


"Ayah minta maaf. Apa yang bisa ayah -- apa yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku di masa lalu? Akan kulakukan apa pun itu agar kamu bisa memaafkan semua kesalahanku."


Aku tidak menjawab. Hanya menatap lelaki itu dengan tatapan marah dan penuh kebencian.


"Diam!" bentakku seraya berdiri.


Saat itu hanya ibuku dan Reza yang mencoba meleraiku. Sedangkan ibunya, Ihsan, dan Rizki, mereka hanya diam membeku menyaksikan kehebohan hari itu. Menyaksikan aku dengan emosi yang meluap-luap. Aku benar-benar hilang kontrol. Tapi aku tidak mengakui bahwa aku sedang khilaf. Berlaku kasar dan bermusuhan dengan ayahku, bukanlah sebuah kekhilafan. Saat itu ibuku menangis, entah apa yang ia rasakan. Mungkin dia merasa gagal mendidikku menjadi anak yang baik.


"Sudah, Sayang. Jangan seperti ini," ibuku memohon.


Lelaki itu ikut berdiri. "Biarkan saja," katanya. "Biarkan dia melampiaskan kemarahannya. Katakanlah, apa yang kamu inginkan?"


"Apa yang saya inginkan? Anda ingin tahu? Hmm? Saya ingin masa kecil saya bahagia bersama Anda. Saya ingin tumbuh besar dalam pelukan dan genggaman tangan Anda. Saya ingin Inara kecil -- Inara kecil, bermain dan bercanda bersama Anda. Saya ingin Anda mengajari saya bersepeda, mengajari saya mengerjakan PR, menemani saya tidur, dan banyak hal lain yang biasa dilakukan anak-anak bersama ayahnya. Saya ingin tumbuh besar dengan uang hasil keringat Anda, saya ingin Anda menafkahi saya waktu saya kecil. Bisa? Tidak, kan? Jangan Anda tanya apa yang saya inginkan dari Anda saat ini. Saya yang sekarang tidak perlu apa pun dari Anda. Sama sekali tidak. Saya juga tidak perlu berkenalan dengan mereka yang Anda sebut sebagai keluarga besar. Siapa? Kakek? Nenek? Saudari-saudari Anda? Juga mereka yang Anda sebut sebagai saudara dan sepupu-sepupu saya? Saya tidak butuh mengenal mereka. Bahkan saya sangat membenci mereka semua. Saya iri, saya iri mereka bisa tumbuh besar dengan uang yang Anda hasilkan, saya benci karena mereka semua mengambil hak saya. Terlebih pada anak Anda dengan Yanti. Anak hasil perselingkuhan, anak pelacur. Saya tidak sudi bersaudara dengan dia. Dan ya, manusia seperti Anda dan bu*ung kebanggaan Anda itu, bu*ung Anda memang lebih cocok memasuki selangk*ngan wanita pelacur seperti Yanti, juga selangk*ngannya Rhea. Bekas-bekas sarang tak bertuan yang bebas dimasuki bu*ung jantan, hanya untuk memuaskan nafsu bir*hi. Kalian itu bina*ang! Bina*ang! Saya sangat malu darah Anda mengalir dalam tubuh saya. Saya malu punya ayah hidung belang. Memalukan! Jijik! Dasar lelaki berengsek!"


Kemudian aku berbalik, aku baru hendak melangkah pergi, tapi masih ada yang ingin kusampaikan.


"Oh ya, saya tidak keberatan Anda hadir di hari pernikahan saya. Walau bagaimanapun juga darah Anda yang kotor itu juga mengalir di dalam tubuh saya, dan saya ingin -- sedikit -- menghargai itu. Tapi hanya Anda sendiri, tidak untuk Yanti, Rhea, atau siapa pun wanita yang sekarang bersama Anda. Juga tidak untuk anak-anak Anda yang terlahir dari perempuan-perempuan murahan itu. Saya permisi."


Aku meninggalkan ruangan itu lalu pergi ke kamar dengan terseok-seok. Kakiku terasa lunglai. Rasa takut mulai bermunculan di otakku. Selamat Inara, kamu akan menyandang status perawan tua selamanya. Tidak akan ada laki-laki yang mau menikahimu. Sama sekali tidak ada.


...♡♡♡...


Di kamar, aku duduk menangis di atas lantai beralaskan karpet hitam dengan bulu-bulunya yang lembut, menekuk kedua kaki dan bersandar di sisi tempat tidur, membelakangi pintu kamar yang sudah kukunci dari dalam. Aku menggigil menahan marah. Lelaki sialan! Setan. Berengsek. Keparat. Umpatanku berlomba keluar. Aku kesal. Kudongakkan wajah sambil menggigit bibir dan menarik napas panjang, menahan agar air mata tak tumpah. Meski nyatanya sia-sia. Bulir bening itu menerobos keluar. Akhirnya wajahku basah oleh air mata. Aku tidak tahu berapa lama aku dalam keadaan seperti itu. Aku bergeming ketika ibuku masuk ke kamar dengan kunci cadangan. Melihatku seperti itu, ia langsung memelukku, membuat tangisku semakin pecah -- membelah ruangan. Kubiarkan perih yang membelenggu hati luruh bersama derai air mata.

__ADS_1


"Bunda marah pada Nara?" tanyaku padanya dengan suara yang serak. Kerongkonganku sakit. Mataku panas, perih, seperih hatiku yang rasanya hancur menjadi serpihan. Aku sudah kehilangan, harapanku pupus.


Ia menggeleng. "Bunda tidak marah. Bunda justru minta maaf karena Bunda mengizinkan ayahmu untuk datang ke sini. Bunda yang salah. Terlebih Bunda sengaja tidak mengatakannya lebih dulu ke kamu. Bunda minta maaf, ya?"


"Bukan salah Bunda. Nara tidak marah pada Bunda. Nara bahkan mengerti semuanya. Nara tahu kenapa dan apa alasan Bunda melakukan ini. Tapi Nara juga tidak bisa menahan diri, Nara tidak pernah bisa siap melihat laki-laki itu. Nara benci padanya."


Ibuku mengatakan kalau dia mengerti dengan sikapku dan tidak menyalahkan aku sama sekali. Bagaimanapun juga, aku adalah anak yang ia besarkan dengan tangannya sendiri. Bagaimana mungkin dia akan marah padaku karena akulah korban yang sebenarnya, korban dari keegoisan ayahku, korban dari kejalangan wanita-wanita selingkuhan ayahku.


"Bund, Mas Reza dan Ibu bilang apa? Mereka membatalkan lamaran, ya?"


Ibuku hanya mengatakan dia tidak tahu, karena ibunya Reza belum mengatakan apa pun katanya. Aku semakin menangis sejadi-jadinya di pelukan ibuku. Tapi aku tidak ingin menyalahkan Reza, apalagi menyalahkan ibunya. Akulah yang bersalah karena terlalu emosional, dan menyalahkan ayahku karena seharusnya dia tidak perlu datang. Sebagaimana dulu dia sudah meninggalkan aku, seharusnya dia tidak usah kembali, bahkan sampai salah satu dari kami mati pun tidak apa.


"Nara tidak apa-apa. Nara baik-baik saja. Tapi Nara boleh pergi, ya? Nara mau mengembara lagi, itu yang cocok untuk Nara. Nara tidak mau punya harapan apa-apa lagi. Nara akan melupakan Mas Reza. Melupakan kalau Nara pernah menjadi calon istrinya. Nara... Nara akan melupakan... melupakan... kalau Nara mencintai Mas Reza. Nara akan melupakan semua tentang dia. Nara tidak apa-apa. Nara tahu Nara bisa melewati semuanya. Nara akan selalu kuat seperti yang selalu Bunda inginkan. Tapi Nara harus pergi."


Ibuku menggeleng lagi. Air matanya sama derasnya denganku. "Jangan, Bunda tidak mengizinkan," katanya menahanku. Dia memintaku untuk menenangkan diri. Dan memintaku untuk bicara dulu dengan Reza.


Aku tidak menyadari kalau Reza sudah berdiri lama di pintu kamarku, mendengar semua ucapanku. Dia menghampiriku saat ibuku meninggalkan kami berdua. Sementara aku masih dalam keadaan yang sama, duduk di lantai sambil menangis. Aku berusaha menyembunyikan wajahku dari Reza. Aku tidak ingin dia melihatku lagi-lagi dalam keadaan menangis, dan untung saja aku tidak pernah berhias tebal, sehingga wajahku tidak akan belepotan mekap saat air mata membasahi wajahku.


Reza yang sudah berada di hadapanku, duduk dengan menekuk kedua lututnya, lalu meraihku ke dalam pelukannya. Dia memelukku sangat erat. Aku merasakan sedikit sakit pada tubuhku. Dia tidak mengatakan apa-apa dalam waktu cukup lama. Dia hanya memelukku, menyandarkan kepalaku di lekuk lehernya, antara bahu dan kepalanya. Sementara jari-jarinya mengelus punggungku. Dia menenangkan aku dengan caranya, walau tanpa kata-kata, kehadirannya sama seperti Bunda, menenangkan.


Saat aku sudah tenang, aku sudah tidak menangis lagi, dia mulai bicara, "Kita akan tetap menikah. Apa yang tadi kamu lakukan, dan apa yang tadi kamu katakan, sama sekali tidak merubah apa pun. Aku masih di sini, akan selalu di sini, selalu bersama kamu, menemani kamu dan menyayangi kamu. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi. Tempat kamu di sini, di sisiku," ujarnya.


Kemudian dia duduk di sampingku, bersandar di sisi tempat tidur, dan tangannya merangkul pundakku. Membuatku bisa menyandarkan kepalaku di bahunya.


"Minum dulu, Sayang," katanya seraya membukakan tutup greentea dingin dari lemari es.


Usai meneguk hampir setengah botol greentea yang ia sorongkan -- kurasakan rasa dingin menjalar, memadamkan sisa-sisa bara api dari dalam jiwaku. Kelegaan merasuk perlahan. "Terima kasih, Mas," tuturku tersendat sambil meletakkan kembali botol greentea di lantai.


Reza tersenyum tipis. "Sama-sama," katanya. "Sekarang kamu dengarkan aku, kalaupun kamu mau pergi, mau mengembara, mau berkelana, berpetualang, piknik, haiking, kemping, berkemah juga boleh. Apa pun itu, aku akan selalu menemani kamu ke mana pun kamu ingin pergi," sambungnya, dia mengucapkannya dengan pelan, kata per kata, sehingga membuatku jadi tertawa.


"Harus ya disebutkan satu persatu jenis-jenis bepergiannya?"


"Tidak juga, tapi kamu suka, kan? Itu, buktinya kamu tertawa."


Aku mengangguk, lalu menatap matanya. "Ibu... bagaimana? Pasti kecewa?"


"Jangan dipikirkan. Ibu pasti bisa mengerti keadaan kamu. Yang penting itu kamu, usahakan jangan lagi seperti ini, bagaimanapun juga dia ayahmu. Aku rasa dia menyimpan sebuah penyesalan di dalam hatinya. Dan... mungkin hubungan kalian masih bisa diperbaiki, asal kamu mau memberikannya kesempatan."


Aku menggeleng lemah. "Dua puluh dua tahun, itu waktu yang sangat lama. Dan sekarang kamu mengatakan tentang kesempatan?" kataku dengan ekspresi dan nada datar.


"Paling tidak kamu harus mencoba. Kalaupun tidak sekarang, mungkin nanti."


Reza pun berdiri, lalu menaruh tangannya di pundakku. Dia menarikku bangkit dan meraihku lagi ke dalam pelukannya. Cukup lama. Saat dia melepaskan pelukannya, dia langsung menangkup wajahku dengan kedua tangannya. "Inara, ketika hidup memberimu seribu alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa kamu punya sejuta alasan untuk tersenyum, dan jadikan aku salah satunya."

__ADS_1


Terakhir, dia mencium bibirku dengan begitu lembut, lalu mengatakan bahwa dia mencintaiku. Bak terapis, sentuhannya, ciumannya, genggaman tangannya, pelukannya, ucapannya, bahkan bersandar di bahunya, semuanya memberikan sejuta kenyamanan dan ketenangan bagiku. Dia seperti ganja yang membuatku kecanduan pada setiap hal tentangnya.


__ADS_2