
Kusambar ponselku dari saku Reza dengan kecepatan setan. Sewaktu aku berhasil dan hendak membuka pintu, Reza menarik lenganku.
"Lepas! Aku mau pergi!" Aku berkata dengan sengit.
Reza bertanya aku mau ke mana, tetapi aku pura-pura tidak mendengarnya. "Tolong jangan pergi, Sayang. Tolong. Aku butuh kamu di sisiku." Dia memohon seperti anak laki-laki imut yang sedang merengek-rengek, seolah aku ini ibunya yang hendak kabur dan meninggalkan dia sendirian.
"Apa pedulimu?" kataku. "Kamu tidak peduli kan bagaimana perasaanku? Kamu hanya peduli pada Salsya. Kamu bahkan menyakitiku berkali-kali. Berengsek!" Aku menyentak tangannya dan membuatnya kesakitan. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak bermaksud menyakitinya, apalagi memperparah lukanya. Demi Tuhan, aku tidak sengaja.
Dengan ego kuabaikan Reza yang meringis kesakitan. Aku terus saja berlari meninggalkannya. Di sisi lain aku juga marah karena Reza tidak mengikutiku. Aku ingin dia berlari mengejarku, meraih lengan bajuku, lalu merangkul dan mendekapku. Aku ingin dia meminta maaf dan berjanji tidak akan memedulikan Salsya lagi. Akan kubiarkan Reza menarikku dan dia tidak akan membiarkan aku pergi. Aku ingin...
Stop! Please... berhentilah berharap, Nara. Reza sudah terlalu sering menyakitimu. Memelihara perasaan ini sama seperti menunggui bom yang bersiap-siap meledak, dalam gerak lambat. Tinggal menunggu waktu sebelum pecahan-pecahan bom itu mulai mengoyak-ngoyak diriku menjadi serpihan-serpihan kecil.
Aku terus berlari dan kurasa aku sudah cukup jauh. Sewaktu aku berhenti untuk mengatur napas, ponselku berdering -- panggilan telepon dari Reza.
Kutekan tombol reject. Jangan harap aku mau menjawab teleponnya.
Beberapa detik kemudian, ada pesan whatsapp masuk ke ponselku -- voice note dari Reza. "Tolong aku," katanya dengan suara seperti sedang kesakitan. Meski aku tidak bisa melihat ekspresinya, tapi aku tahu dia sedang kesakitan.
Apa yang terjadi padanya? Jangan-jangan... atau dia hanya mengerjaiku? Tapi...
__ADS_1
Kuputuskan menelepon balik, tapi tidak ada jawaban. Aku jadi cemas, aku khawatir. Aku harus melihat dan memastikan sendiri bagaimana keadaannya. Kulepaskan wedges-ku supaya bisa berlari lebih cepat. Sesampainya aku di sana -- di tempat aku meninggalkannya -- dia tidak ada, di dalam mobil pun tidak ada. Kucoba menghubungi ponselnya, dan -- samar-samar kudengar nada dering ponsel itu -- tidak jauh dari tempat aku berdiri.
"Mas...," aku berteriak histeris melihatnya tergeletak dan bersimbah darah, di sebuah bangunan kosong, tidak jauh dari lokasi minimarket. Ada luka tusukan di pinggangnya. Di saat yang bersamaan ambulans pun datang. Reza sempat menghubungi ambulans itu sebelum dia menelepon dan mengirimkan voice note kepadaku.
...♡♡♡...
"Kalau aku selamat, kamu mau kan menikah denganku?" Dia bertanya saat kami dalam perjalanan menuju rumah sakit. "Aku ingin hidup sekali lagi untuk bisa bersamamu."
Aku tidak suka pemilihan katanya, seolah dia akan mati dulu dan akhirnya kembali hidup, entah mati suri atau mati yang bagaimana -- aku tidak mengerti. Tetapi aku tidak mau berdebat, itu bukan waktu yang tepat untuk mengoreksi mana pemilihan kata yang lebih tepat.
Kuanggukkan kepala, di saat itulah aku menyadari betapa aku benar-benar takut kehilangan dia. Seolah pertengkaran dan perpisahan kami yang beberapa kali itu hanya sebuah kata "break" yang akan ada kelanjutannya -- bahwa kami pasti akan berbaikan dan akan bersama lagi. Berbeda dengan sekarang, aku takut kematian akan benar-benar merenggutnya dariku.
Dia tersenyum samar. "Mas sayang kamu, Nara."
Kata-kata itu -- meski sangat sederhana, tetapi bagiku itu memiliki makna yang sangat dalam ketika Reza mengucapkannya, kalimat yang berasal dari dalam hatinya -- bahwa dia benar-benar sayang padaku. Dia hanya mengucapkan kalimat itu dalam situasi tertentu, supaya makna terdalamnya langsung tersampai ke hatiku.
Aku menangis sesenggukan. Kalimat-kalimat yang diucapkan Reza justru semakin membuatku takut -- takut setengah mati. Pada akhirnya aku melakukan sesuatu yang pasti akan dilakukan oleh setiap orang yang sudah putus asa. Aku mulai berdoa.
Aku meminta kepada yang Mahakuasa di atas sana untuk menyelamatkannya -- aku memohon -- tolong jangan ambil Reza dariku. Tolong jangan sekejam itu kepadaku. Aku berjanji akan menjadi seorang hamba yang lebih taat kepada-Mu, aku akan mengasihi anak-anak yatim dan semua anak panti yang diamanahkan kepadaku dengan penuh keikhlasan, aku juga berjanji aku akan menjadi orang yang lebih baik dan lebih berguna untuk orang-orang di sekitarku -- menjadi "perantara-Mu."
__ADS_1
Aku berharap Tuhan akan iba kepadaku, berharap Dia mengasihaniku -- gadis malang yang seumur hidupnya selalu merasa kehilangan. Aku tidak mau sampai kehilangan untuk kedua kali, kehilangan yang mampu mengoyak-ngoyak diriku menjadi serpihan-serpihan kecil, seperti bom itu.
Dan entahlah, barangkali yang kulakukan ini adalah semacam tawar menawar kepada Tuhan: aku berjanji akan menepati semua janji itu dan berjanji tidak akan membiarkan imanku kembali menipis seandainya satu permintaanku itu dikabulkan.
Setibanya di rumah sakit, Reza langsung dibawa ke ruang UGD. Tidak lama kemudian, seorang perawat yang entah siapa namanya datang menghampiriku dan memintaku untuk mengurus administrasi rumah sakit.
Tapi aku tidak ingin beranjak sedikit pun dan tidak ingin meninggalkan Reza dalam keadaan seperti itu, walaupun sedetik.
Menelepon Alfi, itu satu-satunya yang terpikir olehku.
Beberapa menit setelah itu, Alfi datang bersama Mayra yang langsung merangkulku lalu menyeka wajahku. "Semuanya akan baik-baik saja," katanya.
"Reza akan baik-baik saja. Dia tangguh," timpal Alfi.
Sementara Alfi mengurusi administrasi, Mayra menanyakan kronologi penusukan itu kepadaku. Aku tidak tahu apa-apa kataku. Aku masih termangu-mangu menatap pintu ruang UGD, menggeleng-gelengkan kepala dan ketakutan atas kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Aku tidak sanggup. Aku hanya bisa bergantung pada harapan -- yeah, HARAPAN. Aku menginginkan sesuatu yang sepenuhnya berada di luar kendaliku dan hanya mampu mengandalkan Tuhan.
Setelah rentang waktu yang terasa berjam-jam -- padahal sebenarnya hanya sekian belas menit -- seorang perawat keluar dari ruang UGD, secara refleks aku langsung bangkit dari kursi dan menghalangi jalannya. Perawat itu mengatakan bahwa pasien dalam keadaan kritis dan membutuhkan transfusi darah golongan B positif. Aku sempat down mendengar kata kritis, tapi aku langsung tersadar, aku memiliki golongan darah yang sama dengan Reza.
"Ambil darah saya, Suster."
__ADS_1
Bahkan aku rela bila lebih dari sekantung darah, seberapa banyak pun yang Reza butuhkan -- aku rela -- asalkan ia selamat dan kembali kepadaku.