CCI

CCI
131


__ADS_3

Gara-gara malam itu aku jadi kurang istirahat dan itu membuatku jatuh sakit. Aku mulai merasa tidak enak badan sejak aku bangun tidur. Tetapi aku memaksakan diri untuk beraktifitas, bahkan pada saat Alfi dan Mayra hendak berpamitan, aku memaksakan diri mengantar mereka sampai ke depan rumah, meski Reza melarangku. Aku tidak ingin mereka menganggapku pura-pura sakit untuk menghindar, walaupun aku tahu mereka tidak mungkin punya pemikiran seperti itu. Dan sebenarnya Reza memaksaku untuk ke rumah sakit, tapi aku menolak. Aku ingin istirahat di rumah saja kataku. Dia pun mengiyakan.


"Mas, tolong ambilkan airbed di gudang, ya. Tolong sekalian dipompa. Aku mau tiduran di dekat kolam."


"Di kamar, ya Sayang ya..."


"Aku pingin di sini."


"Hmm..."


"Aku bisa bosan kalau di kamar terus."


"Iya, oke."


"Terima kasih Mas-nya Nara. Minta bantal dan selimut juga, ya?" Kupasang tampang semanis mungkin di wajahku yang hari ini pucat.


"Amboi... manisnya Kesayangan Mas Reza."


Ouwww.... Dia membuatku malu. "Dasar gombal!"


"Siapa yang gombal? Kenyataannya memang manis. Senyum kamu membuatku semangat."


"Semangat?"


"Hu'um, semangat memompa."


"Ada-ada saja kamu, Mas."


"Serius. Saking semangatnya, setelah ini aku malah mau memompa kamu juga."


Aku tergelak. "Ada apa sih dengan kamu? Pagi ini kok jadi konslet begitu?"


Dia tidak menyahut, dan terus memompa sambil senyum-senyum tidak jelas. Sementara aku -- karena merasa tidak enak sebab tidak melakukan apa pun, jadilah aku berinisiatif sendiri untuk menggeser dan merapatkan dua meja lesehan kami yang panjang itu ke sisi dinding. Tapi, belum sempat aku mendorongnya, Reza langsung melarangku melakukan itu. "Jangan pecicilan," katanya. "Tunggu, duduk, diam di sana. Jangan melakukan apa pun."


"Iya, oke." Aku menurut dan langsung duduk. "Aku minta maaf, Mas. Aku pulang ke sini harusnya untuk mengurusi kamu. Tapi malah kamu yang mengurusiku."


"Kamu tahu salah kamu di mana? Kamu membantahku," ujarnya. "Aku bilang tidur dulu sebelum barbekyuan. Tapi apa? Kamu ngeyel." Dia menyerocos sambil terus memompa tanpa melihat ke arahku.


Merasa sedikit sebal karena dikomentari, otomatis kupasang muka sedih di depannya. "Aku minta maaf. Aku lagi sakit lo. Kamu malah marah-marah."


"Lah? Kok malah menangis? Siapa yang marah?" Dia selesai memompa dan langsung menghampiriku. "Oke. Aku minta maaf. Aku tidak marah. Jangan menangis lagi." Dia mengusap air mataku lalu menggendongku ke airbed.

__ADS_1


Pura-pura tidak terpengaruh, aku langsung meringkuk dan menyelubungi tubuhku dengan selimut. "Sayang, aku cuma bermaksud menegur kamu, bukan memahari kamu. Aku minta maaf, ya?"


"Kamu kan tahu aku sedang sensitif. Kamu malah menyinggungku."


Dia mendesah keras, tapi suaranya langsung melembut. "Oke. Jangan dibahas lagi. Mas yang salah. Mas minta maaf, ya? Mas mohon, Sayang?"


"Minta maaf juga pada anak kamu."


Aku langsung nyengir. Meski terlihat konyol, Reza bersedia menuruti mauku. Tanpa protes dia langsung mengelus dan mencium perutku. "Papa minta maaf ya, Nak. Papa bukannya memarahi Mama. Papa cuma mau menegur Mama karena Mamanya nakal. Maaf, ya? Apa? Papa harus cium bibir Mama dulu baru kalian mau memaafkan Papa? Oh. Oke. Oke. Siap laksanakan. Papa cium Mama sekarang."


Aku ngakak. "Modus!"


"Anak-anak yang minta, Ma."


Ya ampun.... Entah ini namanya berhasil menjahilinya atau malah senjata makan tuan? "Cium kening saja. Aku sedang sakit, nanti menular ke kamu."


"Aku mau cium bibir. Sini," katanya sambil nyengir super lebar.


Dan, bukan Reza namanya kalau dia tidak bisa memanfaatkan keadaan. Dia mengulum bibirku dua menit full. Kurasa. Tapi tetap saja aku merasa itu kurang.


"Lagi, Mas," kataku cengar cengir.


"Lo, katanya sedang sakit. Kok malah mau lagi?"


"Kamu lagi sakit. Nanti kebablasan."


"Aku empat puluh hari lebih jauh dari kamu. Kangenku luar biasa," kataku.


Dia tergelak dengan benar-benar spontan, seolah kalimat yang kulontarkan itu adalah lelucon yang sangat lucu. Bahkan tatapan matanya langsung berubah nakal. "Jadi?"


"Jadi...."


"Apa?"


"Sentuh aku."


Hening. Dia menatapku lama sekali, begitu lekat seperti adegan cowok-cowok di dalam film. "Kamu tahu, aku tidak akan pernah bisa menolakmu."


"Yah, aku tahu. Tapi... jangan menatapku seperti itu. Kamu membuatku gerogi."


Dia tersenyum. Senyum yang lebih cerah dibanding matahari yang menembus melalui kaca jendela kami yang bening.

__ADS_1


"Sayang, boleh aku tanya sesuatu?"


"Tentu. Katakan."


"Kamu masih mencintaiku, kan?"


Ya ampun.... Dia suka sekali menanyakan pertanyaan itu. "Kenapa kamu menanyakan itu? Di saat seperti ini?"


"Kenapa? Kita bisa melakukan semuanya dengan perlahan. Justru ini terasa lebih baik. Lebih hangat."


Tapi kamu membuatku nervous...


"So, katakan dengan jujur. Kamu masih mencintaiku?"


Aku menatapnya. "Masih. Akan selalu. Terus. Dan selamanya. Sejak tahun lalu, detik ini... esok... lusa, dan seterusnya. Sampai aku mati. Aku akan mencintai kamu tanpa henti. Selama darahku masih mengalir dan selama jantungku masih berdetak. Cintaku tidak akan pernah habis. Tidak akan pernah mati."


"Terima kasih, Bintang Terindah."


Ouwww.... Aku sampai menghela napas panjang karena perasaan bahagia yang meletup-letup memenuhi rongga dada. "Jadi, kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Karena aku ingin kamu bahagia," katanya. Dia menghentikan dirinya sejenak. "Aku tahu, aku pernah mengatakan kalau aku tidak akan pernah melepaskanmu. Mungkin itu terdengar egois, tapi itu jelas karena aku sangat mencintaimu. Tapi, aku lebih tidak ingin melihatmu tersiksa. Kalau kamu berada di sisiku hanya karena rasa kasihan, kamu tidak akan pernah bahagia."


Aku mengangguk. "Aku bahagia, Mas. Keberadaanku di sini, semua yang kulakukan bersama kamu, dan semua yang kulakukan untukmu, semua itu berlandaskan cinta. Bukan sekadar karena kewajibanku sebagai istri."


"Aku tahu, aku merasakannya. Aku hanya ingin mendengar itu langsung darimu." Saat ia hendak kembali menggerakkan tubuh -- dia menangkap tatapanku lalu mengedip. Gestur itu membuat perutku bergejolak dan suhu di dalam ruangan sekonyong-konyong menjadi begitu panas. Pipiku memerah.


Hanya soal waktu. Aku tahu semua sisa-sisa perih yang berdansa di dalam benakku ini cepat atau lambat pasti akan terlupakan.


"Oh. Ummmmm..."


Dia selalu tahu cara membuat rasa nikmatku mencapai puncak ubun-ubun, meski harus meninggalkan jejak-jejak merah di tengkuk leherku. "Aku ingin hanya aku yang memilikimu. Cintamu dan tubuhmu, tidak boleh dimiliki lelaki lain."


"Bukankah harusnya aku yang mengatakan hal itu?"


"Ada seseorang yang menginginkanmu."


"Kamu bicara tentang Aris?"


Dia mengangguk. "Yap. Dia menemuiku setelah menemuimu di rumah sakit. Dia memintaku supaya melepaskanmu baik-baik."


"Mas, hanya satu yang perlu kamu ingat. Selama kamu setia, aku hanya akan menyandang status sebagai Nyonya Dinata, dan aku hanya akan dimiliki oleh kamu."

__ADS_1


Dia menciumku. "Oke. Tidak ada keraguan. Dan kurasa obrolan kita sudah selesai. Jadi, boleh kuselesaikan sekarang?"


"Ya. Tapi tetaplah di sini, peluk aku sepanjang hari."


__ADS_2