CCI

CCI
83


__ADS_3

Reza memandangiku dengan tatapan sendu sewaktu aku berbaring di sofa. Waktu itu masih sangat pagi, aku baru saja hendak melanjutkan tidurku.


"Kenapa? Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyaku. Aku pun berdiri, membawa selimutku dan berbaring di sisinya -- di atas bed rumah sakit.


Kendati menggeleng lemah, Reza tetap menjawab pertanyaanku. "Tentang hari ini," katanya. "Seharusnya hari ini menjadi hari yang paling bahagia untuk kita." Dia meraih tanganku dan menelusurkan jarinya di garis-garis telapak tanganku. "Tapi takdir--"


"Ssst... tidak ada gunanya menyesali semua yang sudah terjadi. Kita ambil hikmahnya, kejadian ini justru membuat cinta kita semakin mengakar kuat, kan? Dan lihat, kamu bahkan sengaja memanfaatkan keadaan ini untuk bermanja-manja padaku."


Bibir Reza menyunggingkan senyuman malu, dia memalingkan muka, dan aku berani bersumpah aku melihatnya tersipu-sipu. Cute sekali dia kalau tiba-tiba tersipu begitu.


Sesaat kemudian ia menciumi tanganku -- lebih tepatnya menciuminya sambil menghirup aroma vanilla yang khas dari kulitku. Oh yeah, perlu digaris bawahi yang kumaksud bukanlah kecupan tangan yang payah ala aktor yang kaulihat di film-film, adegan-adegan yang biasa dipertontonkan saat aktor dan aktrisnya baru pertama kali berkenalan, atau di saat mereka melakoni adegan dinner romantis di sebuah restoran mewah, atau pun adegan sesaat setelah pernyataan cinta. Bukan yang seperti itu. Baiklah, kuanggap kaupaham maksudku. Dan kuakui aku suka sekali saat Reza melakukan itu, bahkan meski hanya sekadar berlama-lama menempelkan tanganku di wajahnya, itu seakan menyiratkan betapa ia membutuhkan aku di sisinya, dan itu juga seolah salah satu caranya bersyukur atas kehadiranku sebagai teman hidupnya. Mungkin aku terlalu berlebihan dalam mendiskripsikan, tapi begitulah Reza -- perlakuannya terhadapku adalah wujud dari perasaannya yang begitu dalam. Walaupun aku pernah menudingnya memperlakukan aku semena-semena seperti budak, jelas aku tidak serius waktu itu.


"Terima kasih, ya. Kamu sudah bersedia mengurusi dan menemani aku. Kamu bersedia kurepotkan. Entah, apa jadinya aku tanpa kamu."


Aku mengangguk. Dalam sepersekian detik itu aku jadi teringat sesuatu -- tentang amanah ibunya. "Aku jadi teringat saat Ibu memintaku untuk mengurus dan menemani kamu. Waktu itu kamu bilang kamu bisa mengurusi diri kamu sendiri, kata kamu -- kamu tidak perlu merepotkan aku. Tapi sekarang kamu manja sekali." Kucubit hidungnya dengan gemas. "Aku senang bisa mengurusi kamu, Mas. Aku sama sekali tidak merasa direpotkan."


"Thanks, kamu teman hidup terbaik. Kamu tidak bosan kan menemani aku di sini?" tanyanya.


Aku menggeleng. "Tidak. Aku tidak bosan sama sekali. Asal ada kamu dan bersama kamu, di mana pun akan selalu menyenangkan."


Aku tahu dia pasti ingat aku pernah mengucapkan kalimat itu beberapa hari lalu, sewaktu kami bersiap-siap berangkat ke Cianjur. Aku senang pagi-pagi begini sudah melihat senyuman di wajahnya, walaupun sebenarnya aku masih sangat mengantuk.


"Aku mau tidur lagi ya," kataku. Aku pun menarik selimut. Dengan bersandar di dadanya, kupejamkan kembali mataku, kulanjutkan tidurku di dalam pelukannya yang hangat.


...♡♡♡...


Sekitar jam sembilan pagi, Alfi dan Mayra datang dengan membawa roti tawar dan selai srikaya kesukaan Reza sebagai buah tangan.


"Ini, kubawakan kesukaanmu," kata Mayra pada Reza, persis setelah ia bercipika-cipiki denganku.


Reza pun berterima kasih dan langsung memintaku menyiapkan roti untuknya.


"Bagaimana rasanya terkurung di sini selama tiga hari?" tanya Mayra.

__ADS_1


"Menyenangkan." Reza dan aku menjawab kompak. Sekompak Mayra dan Alfi yang tiba-tiba langsung menyeringai. Mereka menatap aneh pada kami berdua, seolah kami adalah pasangan teraneh di abad modern ini.


"Apanya yang menyenangkan?" tanya Mayra lagi.


Aku dan Reza saling melirik, dan saling melempar senyuman. "Menyenangkan karena ada dia." Reza menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dariku.


Ya ampun... sudah dua bulan lebih aku bersama Reza, hampir setiap hari malah, tapi rasanya tetap saja -- hal istimewa sekecil apa pun yang dilakukan oleh Reza selalu membuatku berdebar. Aku berusaha meredam jantungku yang bergejolak dan berusaha menahan senyumku yang tak henti-hentinya mengembang.


"Dia mengurusku dengan baik, dengan penuh cinta," katanya.


"Dasar gombal." Mayra melemparinya dengan bantal. Untung saja infus di tangan Reza sudah dicopot, Reza bisa menangkap bantal itu dengan mudah.


"Serius, May. Makan saja harus disuapi."


Aku mendelik. "Kamu yang manja, selalu minta disuapi," kataku.


"Dia aslinya memang manja, Ra." Alfi berkata sembari menjangkau remot televisi dari atas meja. "Kalau sakit, manjanya semakin menjadi."


"Resek!" sahut Reza. Ia melemparkan botol air mineral yang hampir kosong ke arah Alfi.


Kuambil sebotol air mineral yang baru dan membawakannya bersamaan dengan roti srikaya untuk Reza.


"Well, kamu tidak lupa kan cara makan sendiri? Aku harus segera membawa Nara pergi," kata Mayra.


Aku yang tidak tahu apa-apa merasa kaget dan langsung menoleh ke arahnya. "Mau ke mana?" tanyaku.


"Salon and spa, tidak jauh kok, di dekat sini ada," Mayra menyahutiku dengan santai.


"Tapi, Mas. Aku--"


"Akan kujawab semua pertanyaanmu nanti. Sekarang pergi dan bersenang-senanglah."


Jelas Reza mengerti maksudku, sebab aku menoleh ke arah Alfi -- aku ingin tahu yang sebenar-benarnya perihal penusukan itu. Tapi aku selalu tidak berdaya jika Reza sudah mencetuskan -- katakanlah perintahnya -- kecuali di saat aku marah, itu tidak akan berlaku, aku tidak akan semudah itu menurut padanya.

__ADS_1


"Baiklah, ayo." Mayra menghampiri Alfi dan menciumi tangan suaminya itu, mereka berpelukan, dan tak lupa kecupan manis pun mendarat di kening Mayra.


Di saat itulah Reza memanggilku dan menjulurkan tangannya, cengirannya yang lebar dan matanya yang indah langsung menyipit menghiasi wajahnya yang tampan. Dia ingin aku melakukan hal yang sama.


"Tukang contek." Sedikit komentar dari Alfi yang sama sekali tidak dihiraukan sedikit pun oleh Reza.


Sekali lagi, aku begitu penurut di saat hatiku sedang bahagia. Kuciumi tangannya selayaknya seorang istri menciumi tangan suaminya. Dan Reza mencium keningku, persis yang dilakukan Alfi kepada istrinya. Tak ayal, Alfi dan Mayra menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan tingkah konyol sahabatnya itu.


Sesaat kemudian, sewaktu aku dan Mayra hendak keluar dari ruang rawat itu, Reza memanggilku. "Jangan pergi lama-lama," katanya. Aneh ya, dia sendiri yang menyuruhku pergi, dia juga yang memintaku jangan pergi lama-lama.


Kukatakan iya kepadanya. Aku membalikkan badan dan hendak melangkah lagi, tetapi Reza memanggilku lagi. "Kalau kalian ke salon, jangan potong rambut, jangan diwarnai. Aku ingin rambutmu tetap seperti itu. Oke?"


Aku tersenyum. Yang dilakukan Reza itu terkesan konyol dan terkesan caper. Cari perhatian. "Iya, Mas...," kataku.


"Sayang," panggilnya ketiga kali.


"Apa lagi?"


"I love you." Reza bermanis-manisan mengucapkan kata cintanya kepadaku.


"Garing!" cetus Mayra dengan agak jengkel.


Aku tidak menyahut. Aku hanya senyum dengan sangat sumringah, melambangkan kebahagiaan yang terpancar dari dalam -- jauh di dasar hatiku. "Aku pergi, ya?" kataku.


Aku dan Mayra sudah membuka pintu sewaktu Alfi memanggil Mayra.


"Kenapa?" tanya Mayra sesaat setelah ia membalik badan.


Kukira Alfi akan mengatakan sesuatu yang umum, misalnya menitip atau minta dibelikan sesuatu, atau sekadar mengatakan hati-hati. Tetapi yang ia ucapkan justru di luar ekspetasiku. "I love you," katanya, seperti yang dilakukan Reza.


Spontan Mayra berbalik menghampiri suaminya. Mereka berciuman bibir di depan kami. Huh! Aku sampai menelan ludah melihat adegan ciuman nyata di depanku. Sebab aku tidak pernah melihat adegan seperti itu secara live.


"Kita lanjut lagi nanti di rumah." Mayra berbisik, tapi bisikan yang jelas bisa di dengar semua orang. Ia berputar melihat ke arahku yang bengong, mematung di depan pintu. "Aku bisa menunggu kalau kalian ingin mencontek adegan tadi," katanya. Dia mengerlingkan matanya padaku.

__ADS_1


Aku menoleh ke Reza yang sedang mengatupkan bibir, dia menahan tawa melihatku yang norak ini. "Tidak," kataku. "Terima kasih atas tawarannya. Sebaiknya kita pergi sekarang."


Sialan! Mereka membuat hasrat yang mati-matian kutahan -- langsung muncul ke permukaan.


__ADS_2