CCI

CCI
13


__ADS_3

Dinata Resto berada tepat di depan tempat aku berdiri. Jaraknya hanya sekitar dua kilo meter dari Ciputra Waterpark Surabaya. Sebelumnya aku mengira bangunan ini akan sama persis dengan resto yang ada di Bogor. Ternyata sangat jauh berbeda, terutama bangunannya yang terdiri dari tiga lantai. Tembok-temboknya dicat warna-warni seperti tembok-tembok rumah yang kulihat di kampung Bulak, dan ada banyak tulisan-tulisan yang menghiasi dinding berwarna itu. Di tengah ruangan ada banyak sofa-sofa empuk dengan kain pelapis yang beraneka warna. Sedangkan di sisi kanan dan kiri ada meja dan kursi yang dipasang menggantung-menempel ke dinding. Juga ada panggung minimalis untuk live music sebagai hiburan bagi pengunjung resto.


Ketika kami masuk, semua karyawan yang berpapasan dengan kami menyapa Reza selaku bos mereka. Dan Reza memperkenalkan aku sebagai calon istrinya. Yeah, calon istrinya. Hal itu membuatku semakin menyadari bahwa ketertarikanku padanya mulai mewujud sebagai perasaan, bagian tertentu tubuhku mulai meleleh. Aku berharap aku bisa cepat-cepat duduk sebelum ada yang mulai menetes-netes.


Malam itu Reza mengajakku duduk di meja tengah. Aku yakin dia tidak lupa kalau aku lebih suka duduk di meja yang berada di sudut ruangan. Tapi waktu itu aku sama sekali tidak protes. Beberapa detik kemudian dia memanggil pelayan untuk memesan makanan, dan memesan menu aneka seafood untuk kami berdua.


Seperti halnya dinding dan sofa yang berwarna warni, seragam pelayannya pun mengusung konsep warna warni. Bukan satu seragam dengan banyak warna, tapi satu model seragam yang warnanya berbeda-beda, ada yang merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu, singkatnya mejikuhibiniu -- mereka seperti pelangi bila dijejerkan. Aku terkikik dalam hati. Gara-gara Reza, aku serasa melihat pelangi di mana-mana, padahal masih ada warna lain, masih ada seragam hitam, cokelat, abu-abu, dan warna lainnya. Selain model dan bahannya, hanya celemek warna hitam bertuliskan Dinata Resto yang menjadi satu-satunya kesamaan dalam konsep seragam itu.


"Mau perform?"


"Kamu saja," kataku, sontak aku menggeleng.


"Oke. Kamu mau request lagu apa?"


"Terserah. Tapi aku penikmat lagu pop Indonesia."


Reza berdiri, lalu naik ke panggung. Aku menunggunya dengan antusias dan dengan kamera ponsel yang sudah on di tanganku. Aku penasaran lagu apa yang akan dia nyanyikan.


Dari nada pertamanya, aku tahu dia akan menyanyikan lagu Dari Hati milik Club Eighties. Aku tersentuh, entah GR atau apa, tapi aku merasa dia menyanyikan lagu itu khusus untukku -- dengan penuh perasaan.


Andai engkau tahu


Bila menjadi aku, sejuta rasa di hati


Lama telah kupendam


Tapi akan kucoba mengatakan


Kuingin kau menjadi milikku


Entah bagaimana caranya


Lihatlah mataku, untuk memintamu


Kuingin jalani bersamamu


Coba dengan sepenuh hati


Kuingin jujur, apa adanya


Dari hati


Kini engkau tahu


Aku menginginkanmu


Tapi tak kan kupaksakan

__ADS_1


Dan kupastikan


Kau belahan hati, bila milikku


Kuingin kau menjadi milikku


Entah bagaimana caranya


Lihatlah mataku, untuk memintamu


Kuingin jalani bersamamu


Coba dengan sepenuh hati


Kuingin jujur, apa adanya


Menarilah bersamaku


Dengan bintang-bintang


Sambutlah diriku untuk memelukmu


Kuingin kau menjadi milikku


Entah bagaimana caranya


Lihatlah mataku, untuk memintamu


Coba dengan sepenuh hati


Kuingin jujur, apa adanya


Dari hati, dari hati, dari hati, dari hati


Suara tepuk tangan pengunjung resto memenuhi ruangan setelah lagu itu berakhir. Reza kembali ke meja dengan senyuman kemenangan, seolah dia adalah penyanyi ternama yang mendapatkan piala penghargaan sebagai penyanyi terbaik tahun ini. Di saat yang bersamaan, hidangan yang tadi ia dipesan telah terhidang di meja kami. Dia mempersilakan aku makan sebelum kami mulai mengobrol.


"So, bagaimana? Silakan berkomentar," katanya. Lalu dia berbisik dengan sedikit mencondongkan tubuh lebih dekat padaku. "Aku tidak akan mengatakan kalau kamu sok tahu dan berlagak seperti juri dalam kontes menyanyi."


Sontak aku tertawa sampai ngakak mendengarnya, sama sekali tawa yang tidak anggun. Yeah, sedikit memalukan sampai beberapa pasang mata memerhatikan kami. Ucapannya itu mengingatkanku pada pesta tiga minggu yang lalu.


"Well, perform kamu luar biasa, lagu Dari Hati yang benar-benar dari hati," tuturku.


"Dan itu gambaran suasana dalam hatiku." Dia langsung menyambung kalimatku.


"Aku tahu." Aku mengganggukkan kepala. "Tapi ada satu lirik yang tidak pas."


"Apa?"

__ADS_1


"Telah lama kupendam." Aku menyebutkan lirik yang kumaksud. "Kurang pas sih dalam hubungan kita, kita kan baru dekat beberapa hari."


"Mmm... aku sudah lama tahu tentang siapa kamu," katanya mencoba menjelaskan.


Aku terkejut sekaligus sedikit girang. "O ya? Sejak kapan?"


"Cukup lama. Sejak Ari pacaran dengan Zia. Ceritanya waktu itu Ari minta ke Zia, supaya memperkenalkan sepupunya ke aku, ya Zia bilang coba dikenalkan pada kamu. Langsung saja Ari mengambil ponselku, buka instagramku, terus dia follow akun kamu. Dari situ aku jadi sering melihat kamu di ig."


"Ouwww, pantas saja aku tidak tahu sejak kapan kamu follow akunku. Terus kenapa kamu tidak mencoba kenalan dari lama?"


Dia tertawa. "Memangnya kalau aku mengajak kamu kenalan lewat instagram kamu akan menanggapi aku?"


Aku menggeleng. Tentu saja tidak akan. Malahan -- mungkin langsung kublokir.


"Zia juga bilang kalau sulit untuk akrab dengan kamu. Makanya aku tidak pernah mencoba say hai ke kamu di ig. Pas sekalinya kucoba mengobrol dengan kamu di resepsi itu... kamu malah cuek, jutek, dan... judes. Nasib, nasib. Untung pas ketemu di Bogor akunya ditanggapi."


Bibirku langsung mengerucut dikatai seperti itu. "Itu kan karena situasinya berbeda, Bambang..."


Reza nyengir dengan sangat lebar. "Yap," katanya. "Dan itu juga karena aku setampan Reza Rahadian."


Hah! Kami langsung tergelak dalam tawa, rasanya geli mengingat awal-awal pertemuan itu.


Kuganti topik obrolan saat Reza mengupas udang untukku. Sikap romantisnya membuatku penasaran tentang kisah cintanya di masa lalu.


"Aku orang ke berapa yang kamu perlakukan dengan istimewa seperti ini?"


"Pertama."


"Bohong!"


"Serius."


"Dengan mantan kamu?"


"Tidak pernah," katanya. "Dia bukan nona pengembara seperti kamu yang punya kebebasan. Dia koki andalan Ibu. Setiap hari dia di dapur, sibuk dengan masakannya. Meskipun kami punya waktu berdua paling saat menemani dia belanja, nonton, kondangan, dan semacamnya. Beda seratus delapan puluh derajat dengan kamu yang bersahabat dengan alam."


Penjelasannya membuatku lagi-lagi merasa ciut. Aku membayangkan mertua yang pandai memasak, bertemu dengan aku yang sama sekali tidak punya keahlian dalam memasak, dia pasti akan menolakku.


"Za, mungkin ibu kamu tidak akan menyukaiku. Aku tidak bisa masak sama sekali. Kamu juga pasti tidak mau kan punya istri yang tidak bisa memasakkan makanan untuk kamu?"


Reza mengambil tisu dan membersihkan tangannya. Lalu meraih tanganku dan menggenggam tanganku dengan kuat. "Itu bukan masalah. Kamu tidak harus bisa memasak untuk disukai oleh ibuku. Aku juga tidak akan pernah menuntut kamu memasak makanan untukku. Kita bisa cari asisten rumah tangga yang bisa masak enak. Kalau perlu setiap hari ada karyawan yang mengantar makanan dari resto. Tidak masalah. Yang penting kamu bisa menjadi istri yang baik untukku, menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita, dan menjadi menantu yang baik untuk ibuku. Itu sudah cukup."


"Kamu yakin?"


Dia menatapku, lalu mengangguk. "Aku yakin."


Aku baru hendak membuka mulut mengatakan "tapi" -- tetapi dia dengan cepat mengatakan jangan terlalu banyak berpikir, kemudian menyuruhku menikmati makan malamku dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2