CCI

CCI
115


__ADS_3

Dengan mata tertuju ke jalan di depan, Reza menyalakan mesin dan kami masuk ke dalam kegelapan yang membeku. Aku bersyukur ini hanya perjalan singkat, sekalipun rasanya seperti tiga puluh menit terpanjang dalam hidupku. Apakah dia tidak ingin membahas sesuatu denganku? Dan kalau memang ada yang perlu dibahas, mengapa dia tidak menggunakan kesempatan ini untuk mengatakannya? Tanpa ada tanda-tanda percakapan akan dimulai, aku meringkuk ke pintu penumpang lalu menatap ke arah jalan-jalan yang kami lewati. Aku dapat merasakan akibat kurang tidur dan sejuta pemikiran dalam benakku -- telah menyedot habis tenagaku.


"Aku mengantuk," kataku. "Kalau aku ketiduran, nanti tolong bangunkan aku. Aku ingin mandi sebelum istirahat, ya?"


Reza mengangguk, sehingga selama tiga puluh menit berikutnya aku pura-pura tertidur, dan Reza sama sekali tidak membangunkanku ketika kami sampai. Ah, andaipun dia membangunkan aku, aku akan tetap pura-pura tidur dan dia mesti menggendongku sampai ke kamar.


Setibanya di kamar, dengan sangat hati-hati Reza menurunkanku ke tempat tidur. Dia juga menyiapkan air hangat untuk aku mandi. Tetapi ia sempat turun dulu untuk memasukkan barang-barang belanjaan ke dalam rumah dan memasukkan mobil ke garasi. Setelah dia naik lagi ke kamar, barulah dia membangunkan aku yang sebenarnya hanya pura-pura tidur.


"Kok aku di kamar?"


"Kamu ketiduran."


"Aku kan sudah bilang bangunkan aku."


"Ini. Aku membangunkan kamu sekarang."


"Maksudku tadi, kamu tidak perlu repot-repot menggendongku ke kamar."


"Tidak usah marah-marah. Ayo bangun, kita mandi."


"Aku mau mandi sendiri."


"Jangan bantah aku. Oke?"


"Iya... oke. Asal jangan mengajakku bercinta. Aku capek."


Reza nyengir lebar dan tatapan matanya langsung berubah nakal. Dia tidak mengindahkan kata-kataku. Aku baru saja menikmati air panas yang menghangatkan tubuhku, dia mulai menggosok-gosokkan kakinya ke kakiku di dalam bathtub.


"Yooo... Mas. Memangnya kamu tidak capek? Lihat juga tubuhku, sudah merah-merah semua," protesku.


Dengan cengiran lebarnya Reza lengsung menarikku. "Sebentar saja," katanya.


Sumpah, ya. Kelakuannya membuatku terkulai. Aku tidak sanggup berbuat apa-apa lagi selain menjatuhkan diri -- tertelungkup -- di atas kasur dengan tubuh dan rambut terbungkus handuk.


"Aku pijit, ya." Reza berkata sambil melepaskan handuk yang melilit tubuku. Di tangannya ada sebotol kecil massage oil yang akan dioleskannya ke tubuhku.


Aku berterima kasih dan mempersilakannya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya padaku. Meski aku tahu, selain untuk menyenangkan aku, Reza sengaja melakukan itu untuk mengintrogasiku. Silakan saja. Aku akan menjawabmu dengan jujur.


"Kamu tadi pergi ke mana saja?" tanyanya.


"Ke kantor Rizki, setelah itu langsung ke mall," jawabku dengan sedatar mungkin ala orang ngantuk plus kehabisan tenaga.


"Ke kantor Rizki? Untuk apa?"


"Silaturahmi."


"Hanya itu?"


"Tidak juga. Aku sengaja ke sana untuk diskusi, sekalian minta kontaknya. Hanya untuk jaga-jaga, mungkin suatu saat aku butuh bantuannya."


"Bantuan? Bantuan apa?"


"Bantuan dalam masalah hukum, Mas."


Reza menghentikan gerak tangannya. "Kamu..."


Aku membalik tubuhku dan memintanya menarikku -- membantuku untuk duduk. "Aku tidak ingin membahas ini," kataku sambil menatap kepadanya. "Aku tahu, meski tanpa bertanya, kamu pasti tahu apa maksud aku menemuinya. Dan selanjutnya, tergantung jawaban kamu besok pagi. Aku akan menagih jawaban kamu. Oke? Dan omong-omong, terima kasih atas pijitannya. Aku mau tidur. Aku ngantuk. Kamu juga tidur. Emm?"


Reza hanya mengangguk dengan sedih. Sebenarnya aku tidak tega. Tapi mau bagaimana, aku harus memperjuangkan masa depanku.

__ADS_1


"Jujur, Mas. Aku takut kehilangan masa-masa kebahagiaan kita. Tapi aku lebih takut bila hidup berbagi pria yang kucintai -- dengan perempuan lain. Tapi setidaknya malam ini kita masih punya waktu. Kita masih bersama. Peluk aku semalaman, ya?"


Raut wajah frustasi langsung terpampang di wajahnya. "Sayang, bukannya kita--"


"Ssst...," kusuruh dia diam. "Kita bahas besok. Aku tidak ingin melewatkan momen kita malam ini. Oke? Sekarang, tidurlah dan peluk aku. Aku mohon?"


...♡♡♡...


Aku terbangun saat suara azan subuh berkumandang dari aplikasi di ponsel Reza. Dan Reza tidak ada di sisiku saat aku membuka mata. Kusibakkan selimut yang menutupi tubuhku dan aku turun dari tempat tidur. Sambil melilitkan kembali handuk ke tubuhku, kucoba memanggilnya dan suaraku bersambut. Reza ada di beranda pribadi kami. Dan ketika aku membuka pintu, yang kudapati adalah sosok lelaki yang tertangkap basah menghapus air mata.


Ini belum selesai. Aku akan mengajarkanmu dan hatimu itu untuk menghargai kehadiranku -- seutuhnya. Aku berdeham. "Mas, subuh."


Reza mengangguk dan langsung berwudu, sementara aku cepat-cepat mengenakan baju lalu menyusulnya. "Tunggu aku. Aku ingin kita berjamaah."


Permintaan salat berjamaah yang menyakitkan. Seperti permintaanku supaya dia memelukku sepanjang malam yang membuat dia malah tidak bisa tidur. Apa yang kukatakan semua terkesan seperti permintaan terakhir. Hei, bukan berarti aku ingin segera mati. Kuharap kau tidak berpikir seperti itu.


Selesai salat, aku sengaja sungkem kepadanya. "Aku minta maaf, atas segala kesalahanku selama aku menjadi istrimu. Aku minta maaf atas segala kekuranganku -- kekuranganku sebagai istri dan kekuranganku dalam melayani kamu. Juga... segala keburukan tingkah laku dan sikapku selama ini. Kamu mau memaafkan aku?"


Sebuah senyuman lega mengembang dari wajahnya. Dia salah paham, dia berpikir kalau saat itu aku meminta maaf untuk mengikat hubungan kami menjadi lebih kuat. "Iya," katanya. "Aku memaafkan kamu." Reza menangkup wajahku dan mencium keningku. Lalu kami berpelukan agak lama.


"Kamu mau sarapan apa? Biar kumasakkan."


"Nasi goreng spesial ala kamu," jawabnya.


"Baiklah. Siap laksanakan."


Aku bergegas ke dapur meninggalkan Reza dengan wajahnya yang ceria. Dan aku punya cukup waktu untuk membuatkan sarapan yang ia request itu.


Ketika kami sarapan, Reza makan dengan lahap. Kami makan sepiring berdua dan dia menyuapiku, katanya wajib -- aku hanya boleh makan dari suapannya. Kami sangat menikmati momen sarapan bersama itu, kendati kami berdua belum mandi. "Kamu melayaniku dengan sangat baik, sama sekali tidak ada celahnya."


"Jangan memujiku. Itu bisa membuatku terbang." Aku pun tersenyum kepadanya.


Setelah sarapan, aku langsung membersihkan meja, lalu mencuci peralatan masak dan peralatan makan yang kotor. Saat itu Reza berdiri di tepi kolam, aku tidak tahu dia sedang memikirkan apa. Cepat-cepat kuselesaikan pekerjaanku dan segera menghampirinya, lalu mendorongnya ke kolam hingga ia benar-benar tercebur. Begitu ia muncul dari dalam air, sambil tertawa -- aku melemparkan ob*t kuat ke arahnya dan dia menyambut maksudku dengan girang. Sebab, selama ini aku belum pernah sekali pun mengajaknya duluan, baik terang-terangan ataupun dengan memberikan isyarat seperti ini. Intinya aku tidak pernah mengutarakan meminta hak nafkah batin kepadanya, karena dia memberikannya rutin -- untuk kami -- tanpa aku harus meminta, dan aku juga sama sekali tidak pernah menolak meski seringkali aku harus melayaninya dua kali sehari.


"Dengan senang hati," sahutnya sambil tergelak dan penuh semangat. Binar-binar bahagia tergambar jelas dari wajahnya sampai-sampai aku merinding.


Kuatkah aku melukainya setelah ini?


Dengan gesit ia menepi dan menghampiriku yang sudah setengah berbaring di lantai ruang makan, di pinggir kolam itu. Ekspresi senangnya membuat dia kelihatan cute sekali.


Sudah setengah jam berlalu ketika kami selesai bercinta. Kendati kelelahan, senyuman Reza tak kunjung redup dari wajahnya yang berseri.


"Trims. Aku menyukainya," kataku. "Aku suka setiap jejak cinta yang kamu tinggalkan di tubuhku."


Dia tersenyum. "Aku suka saat kamu berinisiatif mengajakku bercinta."


Ah, kata-katanya dan tatapan matanya membuatku malu. Pipiku pun bersemu merah dalam senyuman. "Aku ingin mandi," kataku kemudian. "Omong-omong, setelah ini tolong bantu aku menyusun semua belanjaan semalam, ya. Aku mencintaimu." Kupaksakan diri untuk bangun dan langsung ke kamar mandi setelah satu ciuman kilat kukecupkan di pipinya.


Satu jam kemudian, aku sudah selesai dengan segala urusan mempercantik diri, begitu juga dengan Reza, dia langsung membantuku menyimpan dan menyusun belanjaan itu ke laci-laci dapur.


"Bagaimana? Cukup kan untuk beberapa bulan ke depan?"


Reza mengangguk. "Lebih dari cukup."


"Bagus. Sudah selesai." Waktunya terapis lanjutan untuk hatimu. "Aku butuh istirahat sebentar, mau menemaniku?" Kuangkat dan kusodorkan segelas besar jus mangga segar untuknya.


Selanjutnya kuambil ponselku dan kunyalakan pengeras suara yang membuat suara Yuni Shara dalam lagu Tuhan Jagakan Dia -- miliknya Motif Band -- menggema di rumah kami, lalu kuajak Reza santai di kursi malas di seberang kolam.


Lagu pertama itu adalah lagu bertema cinta yang sengaja kupilih supaya Reza tetap terlena dengan manisnya cinta kami pagi ini. Tetapi dia mulai merasa risih begitu lagu-lagu berikutnya sukses mencubit hatinya. Diawali dengan lagu Cobalah Untuk Setia yang mengalunkan suara merdu Krisdayanti, tapi ia tidak mencetuskan komentar apa pun.

__ADS_1


Pada lagu ketiga -- Serpihan Hati - Utopia -- Reza mulai melirikku. "Kenapa? Mau camilan?" tanyaku, pura-pura bodoh dan menyodorkan toples cokelat kacang di tanganku."


Reza menggeleng. Dia berpindah duduk ke sisiku dan merebahkan kepalaku di bahunya. "Terasa ada yang aneh," cetusnya. "Lagumu berbeda."


"Nikmati saja," kataku. Kutaruh ponselku ke meja di sampingku -- jauh dari jangkauannya, kemudian aku langsung merebahkan kepala di dadanya dan kupeluk ia dengan erat. "Aku mencintaimu. Dan saat ini aku sedang tidak ingin membahas apa pun, biarkan nada-nada itu mewakili perasaanku, oke?"


Seperti keinginanku, waktu terus bergulir dalam alunan nada-nada perih yang kian menusuk hatinya. Dia berusaha mencari makna yang tersirat dalam ketidakberdayaan.


Kehilangan - Firman


Demi Cinta - Kerispatih


Bersama Bintang - Drive


Melepasmu - Drive


Tak Bisa Memiliki - Samsons


Kisah Tak Sempurna - Samsons


Maafkan Aku - Enda


Terakhir; Perpisahan Termanis - Lovarian


Satu jam berlalu. Ponselku sudah kembali hening. Kutegakkan bahu dan menatapnya dengan serius. "Apa kamu bahagia bersamaku?"


Dia tersenyum kosong. "Sangat bahagia. Tidak pernah lebih baik dari ini. Kamu?"


"Aku juga. Selama ini hidupku tidak pernah sebahagia ini, seperti saat aku bersamamu. Jadi, bisa kutanyakan keputusanmu sekarang? Maksudku, apa keputusanmu?"


"Sayang..."


"Kamu mau kan memutuskan hubungan dengan Salsya?"


"Say--"


"Mas. Kumohon, kita perbaiki rumah tangga kita, ya? Jauhi dia, demi aku."


"Kita sudah pernah membahas ini. Kita sudah sepakat."


Aku menggeleng dengan pandangan kosong. "Kesepakatan kita hanya sebatas kamu berjanji pada Salsya. Tidak lebih. Tidak sampai kamu berduaan dan bermesraan dengannya."


"Ya Tuhan. Sayang, aku sudah menjelaskan semuanya padamu. Kamu tidak percaya padaku?"


"Aku percaya pada apa yang kulihat. Salsya nyaris tel*nj*ng dan sudah menempel padamu. Aku tidak tahu, tidak tahu apa yang sudah terjadi sebelum aku datang."


Reza menatapku dengan nanar. "Aku tidak melakukan apa-apa padanya."


"Dia melakukannya. Dia mencumbuimu dan aku melihat itu."


Hening.


"Kutanya untuk terakhir kali--"


Reza memegangi kedua lenganku dengan kuat -- hingga kalimatku terputus. "Jangan bahas ini lagi."


Marah. Aku masuk ke dalam rumah, mengambil koper di gudang dan mengepak beberapa helai pakaian di kamar. Sementara Reza kalang kabut menggedor-gedor pintu kamar yang terkunci dari dalam. Saat aku membuka pintu dan hendak keluar, Reza berhasil mencekalku dan membawaku kembali -- masuk ke dalam kamar. Dan seperti biasa, dia menggunakan adegan ranjang untuk menahanku. Dia melucuti pakaianku dengan kasar meski aku sama sekali tidak melawan. Dia membuat bajuku robek dan kancing-kancingku terlepas, lalu melayangkannya ke seberang tempat tidur.


"Jangan pernah pergi dariku." Dia berteriak sambil menyibakkan rokku, lalu menarik pakaian dalamku. "Kamu milikku," katanya. "Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Tidak akan pernah." Kakiku direnggangkan dan ia masuk dengan kasar seolah aku melawan padanya.

__ADS_1


Agak ngeri juga sebenarnya melihat dia beringas seperti itu. Tapi aku harus membuat dia menyesal karena menyakitiku terlalu dalam. "Terserah. Dengan atau tanpa izinmu aku tetap akan pergi."


Kugarukkan kuku-kuku jemariku di punggungnya dan berharap supaya dia marah lalu menamparku, tetapi dia tidak melakukannya. Sebagai gantinya dia malah mengernyit, lalu menelikung kedua lenganku ke tempat tidur. Beberapa menit berlalu, ia pun selesai dan kelelahan. Seperti itu juga aku -- yang sama lelahnya.


__ADS_2