CCI

CCI
92


__ADS_3

Hari hampir menjelang siang saat Alfi datang keesokan harinya. Dia membawa dua anak perempuannya, Bella dan Claudya. Kurasa, karena aku sudah tahu semuanya, jadilah mereka bersikap terbuka dan membuka semuanya di hadapanku. Kedua gadis kecil itu sangat cantik, mereka akrab dengan Tirta dan Mayra. Aku bisa melihat bahwa Mayra menyayangi Bella dan Claudya seperti anak kandungnya sendiri. Bukan pura-pura dan bukan dibuat-buat. Aku bisa menilainya walaupun itu pertama kali aku melihat kebersamaan mereka.


Hari itu Reza berencana mengajakku ke panti asuhan, sebab sejumlah sepeda untuk anak-anak panti sudah tersedia dan siap diantarkan. Aku sangat senang hal itu sebentar lagi akan terealisasi. Aku tidak sabar untuk melihat senyuman bahagia di wajah anak-anak panti. Terutama Khiara. Aku merindukan gadis kecilku itu.


Sewaktu kami hendak pergi, aku ingin menemui Mayra dulu untuk berpamitan. Aku pun mencarinya ke kamar. Dan sialnya, aku melihat sepasang suami istri itu sedang memadu kasih dengan pintu kamar terbuka. Memang sih mereka baru akan memulai proses ritualnya alias baru proses "pemanasan" tapi darahku langsung berdesir sekaligus kaget, terlebih saat itu Alfi sedang melucuti pakaian sambil mencumbui istrinya. Melihat itu aku pun langsung ngacir -- melesat kembali ke halaman belakang.


"Kenapa?" Reza keheranan.


"Aku... aku anu. Tadi... aku, itu..."


"Kenapa?"


Aku mengipas-ngipaskan tanganku seperti orang kepanasan. Engap. Karena aku tidak bisa menjawab, Reza pun penasaran dan hendak mengecek ke depan.


"Jangan," kataku langsung mencegahnya.

__ADS_1


"Ada apa? May kenapa? Ribut dengan Alfi?"


Aku menggeleng kuat-kuat. "Bukan. Maksudku tidak. Bukan itu." Aku diam sejenak dengan menelan ludah. "Itu... mereka... mereka lagi di kamar. Aku tidak sengaja lihat. Sumpah. Soalnya mereka tidak menutup pintu."


Sontak Reza tertawa sampai ngakak, sebab dia mengerti maksudku. "Mungkin mereka baru mau mulai, jadi pintunya belum ditutup. Keep calm, ok?" katanya, dengan kedua tangan memegangi bahuku.


Aku mengangguk dengan bibir mengerucut. Sambil mengelapi keringatku, Reza berusaha menahan tawanya.


Sesaat kemudian terdengar suara mesin mobil masuk ke pekarangan. Aku dan Reza hendak melihat siapa yang datang. Tapi kami belum sempat melihat, suara Kayla sudah menggelegar meneriaki nama Reza sambil menggedor-gedor pintu. Mungkin dia tidak terima karena Reza tidak memberitahu Salsya kalau dia sudah keluar dari rumah sakit. Mungkin.


Kami baru hendak bersembunyi di kamar mandi, tapi tidak jadi. Ide gila langsung mencuat dari otak Reza. Dia langsung menarikku dan menerobos masuk ke kamar Alfi dan Mayra yang tertutup tapi tidak terkunci, kuncinya rusak dan belum sempat diperbaiki. Mayra langsung berteriak kaget, untung mereka di dalam selimut. Kami pun bersembunyi di dalam lemari.


Beberapa saat kemudian -- saat aku dan Reza sudah bersembunyi di dalam lemari -- giliran Kayla yang menerobos masuk ke kamar itu. Tapi Mayra dan Alfi tidak kaget, sebab kata Mayra dia sudah mendengar suara Kayla. Tapi dia pikir Reza akan menemuinya dan bicara baik-baik, bukannya menghindar dan malah bersembunyi di kamarnya.


Untunglah Kayla menggedor-gedor dulu, sehingga aku dan Reza sempat bersembunyi. Kalau mereka lebih lancang dan langsung membuka pintu, maka aku dan Reza sudah pasti langsung dilabrak oleh Kayla. Meski sebenarnya aku bisa menghadapinya dan bisa menjadi tameng untuk Reza. Tapi kali ini aku menghormati keputusan Reza untuk menghindar. Toh, kami baru berbaikan. Aku tidak mau situasi kami kembali memanas hanya karena dua perempuan yang ternyata sama barbar-nya denganku.

__ADS_1


"Woi! Yang sopan!" Mayra berteriak pada Kayla.


Aku dan Reza tidak bisa melihat huru-hara yang terjadi di kamar itu. Tapi aku bisa menceritakan ini berdasarkan cerita Mayra. Katanya Kayla dengan ekspresi super kaget langsung keluar begitu melihat dia dan Alfi "tertumpuk" di tempat tidur. Pada saat Mayra menceritakan itu -- aku langsung menanyakan bagaimana ekspresi Salsya.


"Salsya tidak ikut masuk," kata Mayra. "Jangan heran. Salsya itu perempuan pintar -- dalam tanda kutip. Dia tahu kapan dia harus kalem dan kapan dia harus sigap dan agresif. Dan... dari dulu dia selalu bersikap hati-hati di depan Reza. Bukan tipe wanita blak-blakan dan kasar. Berbeda sekali kan denganmu?" Mayra tertawa cekikikan. Tapi bukan dengan kesan mengejek, menghina, apalagi membandingkan aku dengan Salsya. Aku sama sekali tidak tersinggung.


Bagaimana kelanjutannya? Mayra tak hentinya terkikik saat menceritakan kejadian itu. Saat Kayla sudah berada di luar kamar, dia langsung bertanya di mana Reza. "Mana kami tahu, Dodol!" Mayra menyahut begitu -- dengan pura-pura emosi.


"Yank, aku tidak tahan," kata Alfi -- bermaksud mengusir secara halus. Di saat itulah Alfi langsung kembali masuk dan Mayra kembali melayang dengan desahan yang dibuat-buat, membuat Kayla dan Salsya langsung melangkahkan kaki keluar dari rumah itu. Sementara aku dan Reza hampir membeku di dalam lemari. Suara-suara yang ditimbulkan oleh sepasang suami istri itu -- termasuk desahan-desahan Mayra -- membuat Reza dan aku panas dingin. Terlebih lemari itu cukup sempit untuk berdua. Entah kenapa, entah bagaimana, tahu-tahu Reza menggenggam tanganku. Tangannya berkeringat. Dia menatap lekat padaku tanpa kedip. Tapi raut wajahnya menyiratkan rasa gugup. Aku takut sekali dia terbawa suasana dan terbawa perasaan dan ujung-ujungnya bisa saja aku jadi terhipnotis sentuhannya. Dan hebatnya -- Alfi cukup tangguh -- dia cukup lama dalam menyenangkan istrinya saat itu. Membuatku yang sedari tadi panas dingin merasa engap membayangkan kenikmatan yang dirasakan Mayra. Dan rupa-rupanya Reza pun meresapi hal itu, dia semakin menegang dalam setiap detiknya. Bahkan saat Alfi mencapai klimaksnya, genggaman Reza sontak menguat dengan tiba-tiba -- sesaat -- hampir bersamaan saat Alfi mengerang. Aku yang menyadari reaksi Reza langsung tersentak dan refleks menatapnya. Dan itu lucu sekali, mendadak dia malu dan langsung melepaskan tanganku. Dengan sigap dia mengelap keringat di wajahnya. Mati-matian kutahan senyum yang hendak mengembang di wajahku.


"Ayoloh... ada yang mupeng...," Mayra menggoda Reza sesaat setelah pintu lemari itu terbuka. Sepasang suami istri itu langsung ngakak melihat kami, terlebih melihat ekspresi Reza yang nervous berat. "Kamu diapain, Ra?" tanya Mayra dengan cengengesan.


Bibirku mengerucut lagi. Mayra yang sudah berpakaian berdiri dan langsung menyelamatkan aku dari ketegangan itu. Dia menarikku dan mengajakku ke dapur untuk menyiapkan makan siang.


"Mungkin AC di kamar kita rusak, Mas...," Mayra berkata dengan agak berteriak sambil terus berjalan. Dia tidak bisa menahan tawanya.

__ADS_1


__ADS_2