
Tubuhku sudah terlilit kain dan bergelantungan ketika lagu Once Upon A Dream di putar dari ponselku dan menggema dengan keras dari speaker yang entah sejak kapan ada di sana, atau memang itu speaker khusus untuk lantai roof top. Saat itu aku merasa sedikit gugup, mungkin karena itu pertama kalinya aku menari di depan dan untuk seseorang, meski orang itu adalah suamiku sendiri. Apalagi aku sudah berbulan-bulan tidak berlatih. Tapi seperti kata Reza, cukup lakukan yang terbaik.
Ketika lagu pertama berakhir, aku pun melepaskan diri dari kain hammock yang melilit tubuhku dan turun perlahan -- berpindah ke tiang pole dance dan mulai berliuk-liuk seiring irama lagu Someone Like You miliknya Adele. Setelah itu barulah giliran lagu Senorita, sebuah lagu yang pas untuk chair dance yang gerakan-gerakan dance-nya cukup energik. Dan setelah itu harusnya selesai, tapi ternyata...
"Apa?" tanyaku, ketika Reza memutar ulang lagu Senorita dari ponselku.
Reza mengulurkan tangan ke arahku dengan sedikit senyum manis mengembang menghiasi wajahnya. "Berdansa denganku," katanya. "Aku ingin melihatmu lebih lincah dan lebih menggila."
Ulala... cara Reza mengatakan itu seolah dia adalah seorang partner dansa yang sangat hebat. Memang sih, tapi tidak sepenuhnya benar. Reza itu tipe cowok yang manly dan cool; dia seorang lelaki yang seratus persen gagah dan maco. Jangankan berlenggak-lenggok dan meliuk-liukkan tubuhnya, dia bahkan tidak bisa bergoyang sama sekali, bukan seperti penari India, dancer kpop Korea, ataupun selembut dan segemulai penari salsa, apalagi sesensual penari bachata. Tidak sama sekali.
Tetapi dia memiliki tangan dan lengan yang kuat, dan dia bisa menyeimbangi gerakan-gerakanku. Misalnya di saat aku hendak melakukan gerakan memutar tubuh, dia bisa bantu memutarku dan aku bisa menyeimbangkan tubuhku dengan memegang tangannya. Juga ketika lengannya melingkari pinggangku, aku bisa melakukan gerakan seperti kayang. Dan kendati pinggulnya tidak bergoyang, tapi dia bisa menyelaraskan langkahnya dengan langkah kakiku, ke kanan, ke kiri, maju, mundur, oke oke saja. Dan yang paling kusukai adalah kemampuannya mengangkat tubuhku dan memutarku dalam gendongannya, hingga kami bisa berputar-putar dengan gerakan yang sempurna.
Dalam dansa kali ini dia tetap cool seperti biasanya. Sementara aku bak ulat nangka yang meliuk-liuk menempel padanya. Tapi ini adalah hari ulang tahunnya dan dansa ini adalah hadiah yang ia minta dariku. Aku tidak bisa menolak.
"Aku sudah lama tidak latihan. Kuharap itu tadi tidak mengecewakan," kataku, sesaat setelah kami selesai berdansa dan aku masih berada dalam pelukannya.
"Tentu," katanya. "Kamu yang terbaik."
"Gombal!"
"Serius. Kamu selalu menjadi yang terbaik."
"Thanks, pujiannya. Tapi, omong-omong, kamu tahu ini dari mana? Padahal sepupu-sepupuku tidak ada yang tahu."
"Aku tahu dari Bunda," sahutnya.
Aku menggeleng karena tidak percaya. "Mana mungkin. Maksudku bagaimana bisa? Tidak mungkin Bunda menceritakannya kalau kamu tidak bertanya."
Sebelum menjawab pertanyaanku, Reza sempat menyunggingkan senyuman konyol. Setelah itu barulah dia menjelaskan kepadaku bagaimana dia tahu soal bakat yang kusembunyikan itu.
"Kamu ingat kejadian di hari lamaran kita, setelah kamu marah-marah pada ayahmu lalu kamu bersembunyi di kamar?"
"Mmm-hmm... lalu?"
"Itu pertama kali aku masuk ke kamarmu dan melihat ada kain yang menjuntai dari langit-langit kamarmu itu. Jujur, waktu itu aku sangat takut. Aku mengira kamu ingin bunuh diri. Dan setelah aku membahasnya dengan Bunda, Bunda malah menertawaiku, katanya aku berpikir terlalu jauh."
"Maaf, ya? Bunda tidak tahu kalau kamu punya trauma. Aku juga belum tahu waktu itu."
__ADS_1
"Iya. Tidak usah dibahas. Waktu itu kita memang belum terlalu saling mengenal."
"Yah. Tapi... bukan karena itu kan kamu menikahiku? Bukan karena kasihan, kan?"
Reza menggeleng dengan kening mengerut, tapi bukan karena bingung. "Aku menikahimu karena sayang, karena aku mencintaimu. Jangan bertanya seperti ini lagi." Dia berkata dengan menangkup wajahku dengan kedua tangannya, sudah cukup lama momen seperti ini tidak kurasakan, sebab kami sudah cukup lama tidak mengobrol seserius ini.
"Ya, tidak akan."
"Kenapa kamu tidak pernah cerita tentang ini padaku?"
"Kenapa. Mungkin, karena ini bukanlah sesuatu yang kubanggakan. Awalnya aku hanya belajar sendiri, lama-lama aku bisa dan mulai menari setiap kali melampiaskan, dan berusaha meredam amarahku. Di satu sisi aku seringkali merasa bodoh -- bodoh karena melakukan banyak hal dengan emosi, bukan dengan cinta. Setiap kali aku marah pada ayahku, marah pada diriku sendiri, bahkan aku marah pada dunia. Mungkin juga dulu aku seringkali marah pada Tuhan. Aku..."
"Hei, jangan menangis. Aku tidak suka melihatmu meneteskan air mata. Sudah, ya."
"Oke. Kalau begitu, obrolan ini kita anggap selesai. Emm?"
"Yap, selesai. Tapi..."
Euwww... konyol. Reza meraih tanganku dan menghisap jariku dengan kuat. Lebih tepatnya dia mengenyut jariku, bahasa isyarat yang langsung kumengerti apa yang sebenarnya ia inginkan.
Aku mengangguk.
"Mau melakukannya untukku? Aku mau itu."
Aku mengangguk lagi. Walaupun sebenarnya aku sedang tidak kepingin, sebab aku sudah kelelahan, rasa-rasanya energiku sudah terserap habis. Tapi kupikir Reza layak mendapatkan hadiah ekstra di hari ulang tahunnya, apalagi dia kepingin itu. Jadi ya sudahlah.
...♡♡♡...
Keesokan paginya aku kembali menyusuri sudut-sudut rumah kami. Rasanya seperti mimpi melihat rumah ini bukan lagi sekadar sketsa cakar ayam, kendati sebenarnya bangunannya jauh lebih besar dari yang selama ini kubayangkan. Terlebih Reza pandai sekali menutupinya dariku. Dia menjelaskan padaku bahwa sebelumnya rumah itu hanya rumah satu lantai yang direnovasi habis-habisan, dia membelinya dari temannya, Bagus. Kuakui, detailnya jauh lebih sempurna dari yang selama ini kuimpikan. Dan yang lebih menyenangkan, ada bagian-bagian tertentu yang sangat kusukai.
Pertama, aku menyukai area ruang makan dan area kolam yang hanya disekat dengan dinding kaca -- sekaligus pintu -- dengan terali besi, apabila tirai gordennya dibuka, maka mata akan langsung terasa sejuk memandangi jernihnya air kolam. Terlebih pintu itu bisa dibuka hanya dengan menggesernya ke kanan. Aku bisa menikmati makananku sambil mencelupkan kaki ke dalam air. Meski ruang makan itu hanya berupa meja lesehan, sesuai keinginan Reza.
Kedua, aku menyukai lantai dan dinding pada lantai dua dan beranda rumah kami yang menggunakan keramik motif kayu warna cokelat mengilap, sehingga rumah kami terkesan seperti rumah kayu. Bagiku itu terasa sangat nyaman. Pun dinding dan lantai pada lantai satu dan lantai tiga, plus roof top yang menggunakan keramik motif pasir bening mengilap, aku juga sangat menyukainya, terlihat seperti pasir dalam genangan air. Tepatnya seperti pantai yang tenang. Kecuali dinding kolam dan dasar kolam renang, warna keramiknya biru langit. Sedangkan dinding luar rumah dari bawah ke atas -- semua menggunakan keramik motif batu alam.
Ketiga, keseluruhan langit-langit dihiasi dengan wallpaper 3d. Khusus untuk kamar dihiasi dengan wallpaper 3d panorama langit malam bulan sabit, sedangkan langit-langit ruangan lainnya dihiasi dengan wallpaper pemandangan langit siang hari, ada dedauanan yang membuat kami seolah sedang berada di bawah pepohonan, dengan awan-awan putih dan langit warna biru cerah.
Keempat, di setiap kamar ada ruangan kecil yang berfungsi sebagai ruang ganti dan sekaligus tempat menaruh pakaian. Pakaian yang sudah dicuci dan disetrika tinggal ditaruh dan digantung saja di situ. Di dalam setiap kamar tidak ada lemari-lemari besar, hanya ada lemari berupa laci-laci untuk menyimpan pakaian dalam dan barang-barang kecil lainnya.
__ADS_1
Kelima, aku menyukai kamar mandi kami yang cukup luas, dilengkapi dengan bathtub buatan -- besar dan elegan. Ada shower yang airnya langsung memancar ke dalam bathtub. Dan ada meja rias juga di dalamnya. Sedangkan toiletnya disekat dengan kaca. Kamar mandi lainnya pun sama, hanya saja ukurannya lebih kecil daripada kamar mandi di kamar utama.
Keenam, aku menyukai detail kolam renang kami yang memiliki kedalaman berbeda, mulai dari selutut, sepinggang, satu meter, satu setengah meter, sampai dua meter. Dan karena menggunakan keramik warna biru, airnya jadi terlihat bening kebiruan. Ditambah lagi pantulan warna langit, kolam cantik itu jadi terlihat semakin cantik. Juga satu set meja makan dengan dua kursi yang sangat cocok untuk acara dinner romantis, plus deretan kursi malas yang berjejer di area seberang kolam, menambahkan kesan mewah kolam itu.
Dan bagian yang paling kusukai adalah roof top di lantai empat, sebab di sana ada stage untuk aku mengekspresikan kegilaanku. Sampai-sampai pagi itu kucoba lagi menari di sana. Aku bangun pagi-pagi sebelum matahari terbit. Menari, menari, dan menari. Entah berapa lama aku menghabiskan waktu di sana. Aku seperti menemukan lagi sepotong jiwaku yang pernah hilang. Kalau saja Reza tidak muncul, mungkin aku akan lupa waktu. Huh! Ingat Inara, kau sudah menjadi seorang istri.
"Aku kira kamu tadi tidur lagi setelah subuh."
"Maunya tidur lagi. Tapi kamunya tidak ada. Dingin kalau tidur sendirian."
Aku tertawa. Risiko punya suami sableng, ya begitu. "Omong-omong, sekali lagi, terima kasih untuk rumah ini. Aku sangat menyukainya."
"Yap," sahutnya sambil memelukku dari belakang. "Bagaimana dengan perabotannya?"
"Aku suka. Semua perabotannya nampak sederhana. Rumah besar dan bergaya modern, bukan berarti perabotannya mesti barang-barang dengan harga selangit, kan? Aku senang kamu sangat mengerti keinginanku."
Dia tersenyum lalu mencium pipiku. "Aku tahu itu dari Bunda," katanya. "Bunda yang bilang kalau kamu tidak suka buang-buang uang untuk perabotan mahal. Apalagi hanya untuk benda-benda semacam hiasan."
"Pantas saja. Bunda juga bilang kalau aku lebih suka sofabed dan meja-meja berlaci ketimbang lemari besar yang membuat rumah terkesan penuh dan sempit? Iya?"
"Yap," sahutnya sambil nyengir.
Aku mendengus. "Sudah kuduga. Masa iya kamu bisa memahami semuanya begitu saja tanpa menerima informasi sedikit pun dari orang lain."
"Aku kan bukan malaikat yang bisa tahu segalanya tanpa bertanya."
"Dan untungnya kamu bertanya pada orang yang tepat. Terima kasih. Aku sayang kamu. Temani aku ke halaman belakang, yuk? Aku mau lihat apa saja yang kamu tanam di belakang."
Dan waw! Ternyata ada banyak tanaman yang ditanam Reza, seperti jeruk kunci, jeruk purut, jeruk nipis, mangga, dan bibit-bibit lainnya yang tidak memerlukan perawatan ekstra. Bibit-bibit itu berasal dari kampung. Awalnya kukira Reza akan menanam bibit-bibit itu di Bogor. Ternyata oh ternyata, dia sangat pandai merahasiakan sesuatu dariku.
Dan selain tanaman, di halaman belakang juga dilengkapi kolam untuk anak-anak. Juga kolam-kolam ikan yang cukup dangkal. Dia melengkapi desainnya dengan batu-batu pijakan, seperti batu pijakan kolam ikan di Tirta Gangga. Tetapi yang Reza pelihara bukanlah ikan hias, melainkan ikan air tawar yang sewaktu-waktu akan ia tangkap dan dijadikan lauk. Nah loh, dia tidak bisa move on dari kebiasaannya di kampung.
"Halaman depan masih kosong," katanya. "Itu khusus untukmu, untuk taman bungamu."
"Kenapa tidak langsung ditanami?"
Takut salah. Itu alasannya, dan itu karena jawabanku waktu itu.
__ADS_1