CCI

CCI
139


__ADS_3

Menurutku aku hanya tertidur karena efek obat yang kuminum, tapi begitu aku membuka mata, hari sudah pagi dan aku malah berada di rumah sakit. "Kenapa aku ada di sini?" Aku berusaha mengingat hal-hal yang terjadi sebelum mataku terpejam. "Rasanya aku hanya tertidur. Kenapa kamu membawaku ke rumah sakit?"


Reza yang baru keluar dari kamar mandi langsung duduk di sampingku yang tengah terbaring. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian," sahutnya sambil mengelus kepalaku.


"Bullshit." Aku mendengus.


"Aku ingin kamu sehat dan hidup dengan normal. Aku tidak mau kamu ketergantungan obat-obatan."


Ketergantungan? Obat-obatan? Konotasi ucapan Reza seolah aku ini seorang penyalahguna zat narkotika. Aku hanya mengonsumsi obat tidur supaya bisa tidur! Aku geram dan melengos. "Aku bisa tanpa obat-obatan asal kamu tidak membuat pikiranku terganggu."


"Iya, aku usahakan tidak lagi. Sekarang kamu mandi dulu, ya. Biar sehat, segar. Ya Sayang ya?"


Sumpah. Muak sekali aku melihat sikap Reza yang seperti itu dalam keadaan seperti ini. "Kamu sadar tidak sih? Kamu yang membuatku seperti ini. Aku kesal. Frustasi. Stres. Pusing aku melihat kelakuan kamu."


"Sabar... kasihan si Dede kalau mamanya emosi terus. Kita bisa bicara baik-baik, ya?"


Aku meringis dan merasa butuh melampiaskan rasa kesal yang semakin membuncah. "Sini tangan kamu," pintaku.


"Untuk apa?" Dia bertanya sambil menjulurkan tangannya kepadaku.


Tanpa menyahut, kupegang tangannya dan kucubit-cubit dengan kesal. Reza kesakitan, itu terlihat jelas dari seringaian di wajahnya, tapi dia menahan sakit itu untukku. "Sakit, kan?" tanyaku. "Tapi sakit hatiku lebih dari ini."


"Iya, aku tahu. Itu karena kesalahanku. Cubit saja terus sampai kamu puas."


"Tidak mau. Buang-buang tenaga. Yang ada aku capek."


"Terus? Kamu maunya bagaimana?"

__ADS_1


Kuputar bola matakuĀ  sambil berpikir. Tanpa perlu berlama-lama, rasa kesal memicu ide untuk mencabut bulu kakinya. "Aku mau cabut bulu kaki kamu."


"Sakit dong..."


"Lebih sakit hatiku..."


"Iya, oke." Reza pun duduk selonjoran di depanku, di atas bed. Dan kucabut bulu kakinya beberapa helai sampai matanya memerah efek menahan sakit.


Tanpa sadar, air mataku menetes sebab adanya kolaborasi antara rasa sedih dan rasa kesal yang tertahan di hati. "Kamu tahu, sifat baik kamu memang patut diacungi jempol. Dan aku seringkali yakin dan percaya kalau kamu memang sudah tidak mencintai dia. Tapi kenapa kamu suka sekali bermain-main di belakangku? Apa susahnya jujur? Terbuka? Bicara padaku apa pun yang kamu rasakan. Aku sampai kehabisan kata-kata untuk.... Bagaimana sih Mas caranya bicara dengan kamu supaya kamu mengerti maksudku? Aku sudah kehabisan kata-kata. Kenapa kamu suka sekali melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Salsya -- di belakangku? Kenapa? Aku merasa kamu tidak menghargaiku sebagai seorang istri. Untuk kesekian kalinya kamu membuatku kecewa."


Reza menatapku dengan sendu, dahinya mengerut. "Aku mengerti. Aku tidak akan seperti itu lagi. Aku... akan bicara apa pun dan juga terbuka pada kamu. Seperti yang kamu mau. Ya? Aku tidak akan main belakang lagi."


"Jambu. Janjimu busuk. Ketika aku percaya, kamu akan ingkar lagi. Meminta maaf lagi. Menjanjikan hal baru lagi. Begitu terus. Aku muak. Kalau saja janji-janji kamu yang masuk ke hatiku itu bisa kumuntahkan, sudah kumuntahkan semuanya sampai tuntas."


Dia menganggukkan kepala. "Aku paham. Aku tidak akan berjanji apa-apa lagi. Cukup kamu lihat dan kamu buktikan. Contohnya, aku mulai dari sekarang, ya. Aku izin menelepon Erik, untuk... seperti yang kamu bilang semalam. Boleh?"


"Baiklah. Katakan, mau membahas apa?"


"Kenapa kamu tega sekali padaku?"


"Sayang..."


"Baiklah, aku bisa mengerti. Aku hanyalah orang asing yang sekarang berstatus sebagai istri. Jadi, kenapa kamu bisa tega pada anak-anakmu?"


"Aku tidak bermaksud menyakiti kalian. Sebab itu aku melakukan-- sori, maksudku sebab itu aku tidak memberitahumu kalau aku mengkhawatirkan... dia."


"Pada akhirnya aku tahu sendiri dan itu jauh lebih menyakitkan."

__ADS_1


"Iya... aku tahu. Jangan dibahas terus, ya? Aku khawatir, pikiran kamu nanti..."


"Akhir Desember, sewaktu aku baru pulang ke rumah, kamu bersumpah kalau kamu tidak akan memedulikan Salsya lagi. Kamu ingat sumpah itu?"


Reza mengangguk, dia mengiyakan tanpa suara.


"Kamu ingat dengan ucapanmu 'biar kamu mati kalau kamu ingkar'? Ingat?"


"Aku..." Dia ragu hendak menjawab apa. Pada akhirnya, "Aku khilaf," katanya.


"Tidak, kamu bukan khilaf. Kamu lupa kalau kamu bersumpah seperti itu."


Dia mengangguk lagi. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah. "Aku..."


"Iya kan? Kamu lupa, kan? Itu artinya kamu tidak bersumpah dengan hati. Kamu hanya asal ucap." Aku mendesah keras. "Seorang Reza Dinata. Mas... Mas.... Kamu anggap aku perempuan seperti apa? Kamu banyak memberikan janji manis, kamu sering kali bersumpah, apalagi atas nama Tuhan. Kamu tahu, kamu itu seperti laki-laki tidak beriman."


"Aku menyesal," katanya di tengah jedah kalimat-kalimatku.


"Lihat aku. Aku masih muda. Walaupun aku tidak secantik Salsya yang seperti cewek korea, apalagi secantik bidadari seperti Zahra. Kulitku tidak putih, kelakuanku barbar, banyak kekurangan. Tapi di luar sana ada yang mencintaiku jauh lebih besar daripada cintamu. Aku kalaupun menjadi janda, aku bisa menikah lagi. Tetapi anak-anak kamu, bagaimana? Kamu mau mereka sepertimu yang dibesarkan oleh ayah sambung? Mau kamu Mas? Atau sebenarnya kamu memang asal sumpah? Kamu tidak percaya kalau sumpah akan menghasilkan karma kalau dilanggar? Tidak beriman kamu, Mas."


Aku bisa menyerocos begitu panjang sebab Reza tidak menyela perkataanku. Dia hanya tertunduk dengan wajah penuh penyesalan. Tapi saat aku berhenti bicara, dia hanya bisa mengucapkan kata maaf. Aku geleng-geleng kepala karenanya. "Maaf? Apa maafku bisa merubah segalanya? Kamu pikir, Tuhan akan mengatakan pada malaikat supaya tidak jadi mencabut nyawamu karena istrimu sudah memberikan maaf? Begitu? Heh! Taubat, Mas. Minta maaf pada Tuhan. Siapa tahu dia akan berbelas kasih pada anak-anakku supaya anak-anakku tidak menjadi yatim."


Aku turun dari bed dan hendak ke kamar mandi, tapi aku berhenti sejenak di belakangnya. "Sepertinya kamu perlu membuat surat wasiat atau surat warisan. Siapa tahu kan, mungkin Tuhan sudah tidak sudi mengampunimu. Bisa jadi sebentar lagi kamu mati. Dan, yeah, kamu tinggal bilang mau dimakamkan di mana, di dekat ibumu atau di dekat ayahmu? Aku akan datang dengan mawar merah seperti yang selama ini kamu berikan untukku. Tidak perlu khawatir, anak-anakku akan menjadi anak yang saleh. Mereka akan mendoakanmu, meminta supaya Tuhan mengampuni dosa-dosamu. Dan, sama seperti kamu terhadap almarhum ayahmu dulu, aku juga akan memaafkanmu setelah kamu mati."


Aku berlalu, meninggalkannya sendiri dengan ratapan. "Kamu tidak perlu sedih, kamu kan tidak percaya karma itu ada. Lagipula kamu masih muda, kan? Hiduplah dengan sesuka hatimu. Hiduplah seperti bujangan yang tidak perlu menjaga perasaan anak dan istri. Jangan pedulikan aku."


Selesai. Aku pun menutup pintu kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2