
Minggu pagi. Rencana kepulangan sepupu-sepupuku berganti jadwal. Mereka akan pulang malam hari dengan penerbangan jam sembilan malam. Dari pagi hingga sore hari akan kami habiskan dengan menyusuri pantai-pantai yang lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan Bali Selatan.
Pagi itu, Reza mengetuk pintu kamarku saat aku sedang menyusun barang-barangku ke dalam koper. Kusuruh ia langsung masuk, dan dia pun langsung menghampiriku, duduk di lantai, persis di sampingku yang duduk di sisi tempat tidur. Dia melingkarkan satu tangannya ke pinggangku, dan satu tangannya menggosok-gosokkan ibu jarinya ke pahaku yang berbalut rok berbahan jeans, rok selutut yang cukup longgar.
"Pasti ada sesuatu yang ingin kamu katakan," tebakku.
"Yap," sahutnya.
"Apa? Katakan saja."
"Mau melakukan sesuatu untukku?"
"Tentu, jika aku bisa. Katakan."
"Emm... kamu tahu kan kalau kita punya empat belas foto indoor?"
"Aku tahu, dan menurutku itu bermakna empat belas Februari. Apa tebakanku benar?"
"Yap. Kamu memang gadisku yang pintar."
"Lalu?"
"Kita punya dua puluh foto outdoor dalam versi lokal."
Aku mengernyitkan dahi, sebab aku tidak tahu apa makna di balik angka dua puluh itu. Belum sempat aku bertanya, Reza langsung menjelaskan bahwa itu bermakna dua puluh Maret. Hari pertama kali dia tahu namaku dan tahu siapa aku, saat Zia dan Ari berniat menjodohkan kami berdua.
"Waw. Kamu punya ingatan yang luar biasa." Aku memujinya. "Lalu, tanggal spesial apa lagi?"
"Ulang tahunmu, dua puluh tujuh Juli. Masih kurang sekitar tujuh foto untuk itu. Dan..."
"Dan? Apa?" Kudekatkan wajahku ke wajahnya.
"Dan..." Dia menguncikan bibirnya ke bibirku, lalu melepaskannya setelah beberapa detik. "Kissing style untuk empat belas Agustus. Mau melakukannya untukku?"
"Emm... well, apa yang kudapat sebagai imbalannya?"
"Everything for you. I'm promise."
"Ok. Deal, asal kamu minta izin dulu ke Bunda. Hmm?"
"Sudah kulakukan. Bunda mengizinkan, Ihsan juga mengizinkan. Hanya menunggu persetujuanmu. Say yes, please?"
Sengaja aku tidak langsung menjawabnya, hanya kuberikan senyuman kecil, sampai Reza mengernyitkan dahinya.
"Yes, I will do it," kataku.
"Thanks. Love you." Lalu satu ciuman kilat mendarat di pipiku, disusul dengan cengiran lebar yang khas dari wajah tampannya.
Lima menit, katakanlah sekitar itu. Aku dan Reza keluar dari kamar, dan langsung menemui Aarin dan Zizi di halaman belakang. Kutanyakan pada Aarin pose-pose ciuman ala Bollywood itu. Aarin pun menunjukkan gambar-gambar yang sudah ia download.
"Ayo, kita mulai," kata Aarin sambil berdiri dari duduknya.
"Nampaknya semua orang sudah terkontaminasi virus edan," gumamku. Meski nervous, kucoba untuk serileks mungkin.
Aarin hanya tertawa, lalu menyuruh kami langsung menirukan ciuman ala poster ketujuh dari film Ki & Ka, di meja makan dekat kolam. Setelah itu, untuk pose kedua, ciuman ala cover Nuvvele Nuvvele video song di salah satu dahan pohon yang rendah. Mau bagaimana? Tidak ada tiang, dahan pun jadi, begitulah kira-kira faktanya. Lalu Pose ketiga, ciuman ala cover Mera Pyar Tera Pyar video song, salah satu lagu soundtrack dalam film Jalebi, berdasarkan ide Aarin yang mengganti latar pintu gerbong Kereta Api dengan latar pintu villa. Pose keempat, masih dengan poster dalam film Jalebi, dengan latar jendela Kereta Api diganti dengan jendela villa. Dan pose kelima, di kolam renang, yang mengharuskan Reza membasahkan pakaiannya, pose ciuman dalam poster Niku Naku Nadumana video song.
"Pemotretan kilat di sepanjang karirku." Zizi berkomentar setelah lima style ciuman itu selesai di-realisasikan. "Andai klien-klienku seperti kalian, luwes, sekali cekrek langsung bungkus."
"Mungkin kalau photographer-nya orang lain, aku juga tidak akan seluwes itu. Mungkin, ya. Kurasa seperti itu," tanggapku atas komentar Zizi.
"Mungkin juga. Oke lah, sisanya kita lanjutkan nanti di pantai." Zizi pun berlalu.
__ADS_1
...♡♡♡...
Agenda pertama di hari terakhir kebersamaan kami di Bali, kami mengeksplor wilayah Nusa Dua. Ceritanya, demi foto prewedding kami, dan mumpung masih pagi dan dengan semangat yang tinggi, Alfi mengajak kami berwisata ke Pantai Gunung Payung. Karena untuk mencapai pantai ini, kami harus menuruni ratusan anak tangga dalam waktu dua puluh menit bagi mereka yang lincah. Sementara aku dan Reza tetap santai seperti biasa.
Nama pantai ini diambil dari nama pura yang berada di dekatnya, Pura Dhang Kahyanga Gunung Payung. Pantai dengan pasir putih dan air lautnya yang biru itu adalah hal yang biasa, tapi pantai yang dilengkapi tebing-tebing tinggi yang bisa dikatakan mengisolasi tempat ini sehingga letaknya tersembunyi, seolah memberikan ruang lebih leluasa bagi insan yang ingin menyepi, yang mendambakan kedamaian, jauh dari hiruk pikuk kota namun ditemani oleh alam cantik dan masih alami, itu yang membuatnya istemewa. Dan yang lebih menarik, pantai ini juga dihiasi cerukan-cerukan di kaki bukit yang terbentuk secara alami seperti membentuk gua-gua kecil. Berada di Pantai ini adalah hal yang sangat menyenangkan bagi kami, katakanlah kami ini adalah kumpulan orang gila yang senang sekali mencari tempat di mana tempat itu seolah hanya milik kami. Kami datang saat hari masih cukup pagi, saat kawasan pantai itu benar-benar masih sepi.
Kami melanjutkan sesi foto prewedding kami dengan sebelas pose ciuman ala poster film Bollywood.
Pertama, pose yang paling mudah, ciuman ala poster film Fever.
Kedua, ketiga, dan keempat, pose dari poster film Befikre. Sebenarnya ada enam poster berciuman untuk film ini, mungkin juga lebih. Tapi hanya tiga poster yang kami tiru, sebab dua poster lainnya berlatar belakang keramaian, dan satu poster lagi wajah bintangnya tertutup topi. Karena alasan itu Aarin tidak memilihnya.
Kemudian pose kelima, pose poster kedua dari film Kites.
Dan pose keenam yang kami lakoni adalah pose poster ketujuh dari film Malang.
Selanjutnya, pose ketujuh, adalah pose ala poster film Dirty Hari. Pose yang membuatku cenat-cenut, maunya sedikit lebih lama dengan pose seperti itu. Uhhh... pingin aku berteriak, minta dinikahkan dengan Reza saat itu juga. Keadaan itu membuatku terkekeh dalam hati. Apalagi dengan pose kedelapan, pose ala cover video song Badnaamiyan, salah satu soundtrack dari film Hate Story IV. Yang kami lakukan bukan hanya bersentuhan bibir seperti dua belas pose sebelumnya. Tapi benar-benar berciuman. Ceritanya, Zizi sudah mengatakan oke, yang artinya dia sudah men-cekrek pose itu. Tapi Reza yang posisinya menindihku, dengan sengaja tidak mau berdiri. Dia malah mengulum bibirku, memanfaatkan kesempatan karena Ihsan dan kumpulan lelaki lainnya sedang duduk-duduk santai, agak jauh dari kami. Dia baru berhenti menikmati bibirku saat Mayra menjewernya. "Nakal," katanya. "Kalau mau ciuman jangan di depan umum." Seperti itulah mereka, seperti kakak adik yang saling menyayangi.
Terakhir, pose ala Emraan Hasmi dan Udita Goswami dalam film Aksar. Di mana aku harus berendam di dalam air seperti pose-nya Udita Goswami. Hanya menyisakan dada dan kepala yang menengadah ke atas -- di permukaan air. Dan posisi Reza... posisi yang tak bisa kujelaskan dengan rangkaian kata. Intinya dia di atasku, dan aku di bawahnya. Hanya dengan jarak kurang dari sekilan.
Euwww... cukup menyita waktu. Tapi sangat menyenangkan untuk mengoleksi foto-foto dengan nilai seni seperti itu. Tentu saja, akan menjadi hiasan dinding yang menawan jika kau mencetak dan membingkainya, lalu menempelkannya ke dinding rumahmu. Mau mencobanya?
...♡♡♡...
Hanya beberapa menit dari Pantai Gunung Payung, kami beralih ke Pantai Pandawa. Kami tidak bermaksud berlama-lama di sini, hanya untuk menginjakkan kaki, menikmati keindahan sekeliling pantai, dan mengabadikan momen dalam potret-potret kenangan manis. Sebab, meski pantai ini menawarkan panorama alam yang indah, pantai ini adalah kawasan ramai, seperti pantai-pantai Bali pada umumnya. Kami hanya berantrean untuk berfoto di ayunan yang instagramable itu. Setelah semua orang selesai, kami langsung beranjak pergi. Aku dan Reza pun hanya mengambil satu foto dengan pose ciuman mesra Aditya Roy Kapur di pipi kanan Shraddha Kapoor, saat Aditya memeluknya dari belakang dalam film Ok Jaanu.
Begitu pun di Water Blow Nusa Dua, kami hanya mampir sebentar, berswa foto dan basah-basahan. Bagai sayur kurang garam rasanya kalau tidak mampir dan menyaksikan sendiri fenomena semburan air di Water Blow Nusa Dua. Suatu tempat yang ketika kita baru sampai, suara ombak semakin membesar, dan beberapa saat kemudian, ombak itu menjadi tinggi dan semakin tinggi, lalu terpecah setelah menabrak karang. Boom, ombak itu seperti melompat tinggi menyembur ke atas. Kurang afdol jika tidak ikut basah-basahan di bawah semburan airnya. Tentu saja harus dilengkapi setidaknya satu foto manis pada detik-detik yang sama dengan semburan air.
Aarin mengarahkan kami dengan pose ala film Ok Jaanu lagi. Kali ini, aku yang memeluk Reza dari belakang, satu tanganku menempel di dahinya. Pose yang bisa kau cek sendiri di internet dengan kata kunci Ok Jaanu. Dengan pose itu dan pose sebelumnya, aku tidak perlu berganti pakaian, sebab posisi badanku tertutup di belakang Reza. Untuk hal ini aku harus berterima kasih pada Aarin, juga pada Ihsan yang sudah mengajaknya liburan bersama kami. Kehadirannya sangat berguna sekali.
Selanjutnya, Pantai Geger Nusa Dua menjadi agenda kunjungan kami. Alasan kami menginjakkan kaki di sini tentu saja karena pantai ini masih cukup sepi dan indah seperti pantai lainnya yang berpasir putih dengan air lautnya yang biru. Juga karena karakteristik ombak pantai Geger Nusa Dua bali ini memiliki arus yang cukup tenang, dengan kontur garis pantai yang landai, sehingga aman dijadikan tempat berenang anak-anak. Selain berenang, Alfi, Hengky, dan Dimas mengajak anak mereka naik unta. Omong-omong, ternyata aku termasuk gadis yang benar-benar udik, karena sebelumnya aku tidak pernah tahu kalau di Bali ada untanya. Kukira unta hanya ada di Arab. Sungguh, itu membuatku takjub.
Selanjutnya, waktunya berfoto. Masih dengan pose ala Aditya Roy Kapur dan Shraddha Kapoor dalm film Ok Jaanu. Saat Shraddha berbaring dan menaruh kepalanya di pangkuan Aditya, lalu Aditya mencondongkan badan, sehingga wajah dan bibir mereka bersisa jarak sekian senti. Kami mengaplikasikannya dengan kombinasi latar pasir putih dan birunya air laut. Cekrek, selesai. Waktunya menikmati jam santai sebelum jam makan siang tiba.
Tapi satu hal yang paling kusukai adalah saat melakukan koprol bersama Reza. Entah apa bahasanya di daerahmu, di daerah kami namanya koprol. Itu mengingatkanku salah satu hal yang kusukai di masa kecilku, permainan anak kampung seperti kami. Dan itu lebih menyenangkan daripada sibuk dengan alat-alat canggih di era modern seperti saat ini. Kurasa, sebagian besar anak kampung pasti bisa melakukannya dengan gerakan indah dan sempurna.
"Mau berdansa denganku? Aku ingin melihatmu menari dengan indah. Untukku."
Dans? Di depan banyak orang?
...♡♡♡...
Kami makan siang di The Pirates Bay. Sebuah tempat yang menjadi salah satu destinasi objek wisata di Bali dengan tema Bajak Laut. Setelah makan siang, sebagian dari kami melanjutkan sesi foto-foto, kulihat Raline dan Raheel menuju permainan Flyingfox, begitu pun yang punya anak, melanjutkan mengajak anak-anak mereka bermain ala bajak laut.
"Kenapa? Papa Reza sudah berangan-angan punya anak, ya?" godaku.
"Yeah, aku menantikannya. Anak-anak yang senantiasa menyambutku pulang atau yang kuajak bermain pasir pantai di saat mereka masih kecil. Dan dua tim voli pantai yang menemaniku saat sore, saat mereka sudah beranjak remaja nanti. Dan aku bisa duduk manis di kursi penonton."
"Dua tim?" tanyaku, agak tercengang.
"Kenapa? Aku akan membantumu mengurusnya, kalau perlu pakai jasa babysitter."
"Itu artinya aku harus empat kali hamil?"
"Ya dong. Kamu kan bukan kucing yang sekali isi langsung banyak."
Reza tergelak, matanya sampai menyipit saking senangnya. Entah senang karena berangan-angan punya banyak anak atau karena dengan leluconnya yang mengatakan bahwa aku bukanlah kucing.
"Kamu hanya perlu hamil. Aku yang akan berusaha untuk itu," ujarnya sambil tertawa.
"Oh, jadi maksud kamu, aku hanya perlu menikmati proses saat kamu melakukannya? Hmm? Dasar!"
__ADS_1
"Kan aku lelaki. Itu sudah tugasku. Kamu tinggal menikmati, lalu tekdung."
Aku ngakak. "Apa itu tekdung?"
Reza tidak menjawab. Dia hanya menahan tawanya. Matanya sampai memerah dan sedikit berair. "Aku senang melihat kamu tertawa lepas," katanya.
"Hei, ayo," panggil Zizi, dia mengacaukan momen kami. Rasa-rasanya aku tidak melihat kapan dia melintasi kami. Setahuku dia masih menemani anaknya bermain bajak laut.
Dengan latar belakang kapal-kapal, Aarin menyuruh kami berpose ala Aishwarya Rai dan Ranbir Kapoor dalam salah satu foto pemotretan mereka dengan majalah Filmfare India. Pose saat Aishwarya Rai setengah rebahan dan bersandar di dada Ranbir. Sedangkan Ranbir merangkul dan mencium keningnya. Kira-kira seperti itulah.
"Satu foto saja, ya. Aku mau main lagi sama anakku," ujar Zizi, setelah mengambil satu foto itu.
Aku melongo, tapi tidak tahu harus berkomentar apa. Serba salah. Seolah tidak bersyukur kalau aku mengeluh, jadi ya sudahlah. Lagipula aku senang melihat ketiga keluarga kecil itu bermain bersama.
...♡♡♡...
Selanjutnya, kami menghabiskan waktu cukup lama di Tanjung Benoa. Mulanya kami menyelesaikan sesi foto prewedding kami. Sisa tiga foto lagi.
Pertama, pose dalam salah satu poster film Aishiqui 2. Pose hampir berciuman, dengan gitar di tangan Aditya.
Kedua, pose dalam poster ketujuh dari film RDX Love.
Ketiga, pose dalam poster utama film Namumkin Tere Bin Jeena.
Keren. Yang kusesali, harusnya pose-pose seperti ini yang kami terapkan saat mengambil foto di Nusa Penida tempo hari. Tapi apa mau dikata, waktu tak bisa diputar kembali.
Setelah selesai foto prewedding itu, kami semua menyeberang ke Pulau Penyu. Tujuan utamanya untuk mengedukasi anak-anak, memperkenalkan mereka dengan hewan-hewan di sana, terutama penyu. Semua orang nampak tertarik untuk menyentuhnya.
Aku? Aku tidak. Aku tidak punya ketertarikan untuk menyentuh hewan. Aku hanya suka melihat segerombolan hewan-hewan kecil, misalnya segerombolan ikan, segerombolan kupu-kupu, burung-burung, atau apa pun yang menawarkan keindahan dengan kebersamaan mereka. Hei, bukan segerombolan semut, kelelawar, atau yang semacam itu. Yang kumaksud adalah yang mengandung seni keindahan saat mereka bersama. Kau mengerti, kan? Mungkin aku akan suka jika penyu-penyu ini berenang bersama-sama di kedalaman laut.
Setelah kembali ke pantai, Reza mengajakku terbang dengan Tandem Parasailing. Berbeda dengan parasailing di Sanur hari itu, di Tanjung Benoa, kami bisa terbang berdua. Aku senang sekali. Di atas sana, Reza meneriakkan namaku, meneriakkan kata I Love You padaku. Gokil memang, caranya mencintaiku dengan penuh kegilaan -- benar-benar mewarnai duniaku. Aku menyukai semua kegilaannya. Karena seperti itulah sejatinya seorang wanita, ia menginginkan seseorang mencintainya melebihi apa pun.
......♡♡♡......
Akhirnya, pada jam delapan malam kami semua berpisah di parkiran bandara. Hanya menyisakan aku, Reza, Alfi, dan Mayra, juga Tirta yang tertidur di mobil. Alfi dan Mayra akan membawa pulang mobilnya masing-masing. Begitu pun aku dan Reza sudah masuk ke mobil -- bersiap untuk pulang.
"Mas?"
"Emm?"
"Bisa tidak kita pulangnya ke villa? Please? Ya?"
"Oke," katanya. Dia tidak bertanya kenapa walaupun aku tahu dia agak heran.
"Tapi jangan bilang ke Mas Alfi kalau ini kemauanku, ya? Aku malu."
Kali ini ia tersenyum, caranya menatapku seolah dalam pikirannya aku ini seperti kucing yang malu-malu tapi mau. "Baiklah," sahutnya sambil mengusap kepalaku. Lalu dia keluar dari mobil menemui Alfi.
"Taraaa...," dia menguntaikan kunci villa di ujung jarinya, sekembalinya dia ke mobil. "Lalu, kamu mau apa lagi?"
"Emm... boleh aku menghabiskan uang kamu agak banyak?" tanyaku, sedikit ragu dan sedikit malu. Sedikit...
"Boleh. Mau beli apa?"
"Bean bag, hammock, led projector mini, speaker portable mini, plus pelampung," kuberikan dia senyuman manis, sebut saja itu sebagai bujukan maut ala Inara.
Reza mengangguk-anggukkan kepala. "Kamu mau kita lebih lama di sini?"
Kubalas anggukannyya dengan menganggukkan kepalaku kuat-kuat, semangat empat lima mencuat tinggi di atas kepalaku. Aku kegirangan.
"Oke. Kita cari barang-barangnya sekarang."
__ADS_1
Sumpah, aku senang bukan kepalang. Ini liburan yang kuharapkan. Hanya berdua dengan Reza. "Trims... Masku. Nara sayang Mas Reza," ucapku semanja mungkin.
Kami langsung meluncur ke pusat perbelanjaan, dan kami bisa menemukan semua barang yang kami cari, berikut camilan dan makanan instan pengganjal perut kalau tiba-tiba merasa lapar di tengah malam, tidak lupa juga berbagai jenis minuman botol untuk simpanan beberapa hari kedepan.