
Di setiap perjalananku, aku memilih tinggal di tempat kost yang bisa disewa bulanan dengan tarif yang relatif murah, karena aku tidak pernah menetap di satu tempat lebih dari satu bulan. Dalam pengembaraan kali ini aku berada di kota Surabaya, Jawa Timur. Aku memutuskan untuk kost di daerah Kenjeran, tempat kost terbaik di sepanjang masa pengembaraanku. Selain harganya terjangkau, pemiliknya membebaskan anak kost menerima tamu, baik dari segi gender ataupun jam bertamu, asal sopan dan tidak mengganggu kamar tetangga. Selain itu fasilitasnya sangat memadai, dengan kamar ukuran tiga kali tiga meter, dilengkapi kasur busa, lemari, kipas angin, air, juga listrik. Yang paling nyaman lingkungannya asri, aman, tidak banjir, dan jam bebas, kau bisa pulang sesukamu, tanpa takut pagar sudah terkunci sebelum kaupulang.
Kenjeran adalah daerah yang lokasinya strategis, dekat jembatan Suramadu dan jembatan Suroboyo, Kaza Plaza atau Pasar Kerampung, Galaxy Mall, pusat perbelanjaan East Coast Center, kampus ternama, dan dekat dengan beberapa rumah sakit di Surabaya. Juga ada Suroboyo Carnival Park dan Pantai Kenjeran yang lokasinya bisa dijangkau dalam beberapa menit dengan kendaraan, tempat yang sangat instagramable untuk kaum muda-mudi yang mengecap diri mereka sebagai kaum milenial kekinian.
Aku tidak akan pergi ke mana-mana pada hari pertama saat berada di kota baru. Aku butuh istirahat, dan mulai berkelana pada sore hari di hari kedua. Itu semacam resfreshing otak bagiku setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk menulis, beristirahat saat malam mulai larut, lalu bangun pagi, melakukan aktivitas bersih-bersih, dan kembali menulis hingga matahari mulai mengurangi intensitas cahayanya. Begitulah siklus hidupku sehari-hari.
Senja itu aku menunggu sunset di pesisir pantai. Duduk menyendiri di atas hamparan pasir yang membentang luas, hanya berteman dengan telepon genggamku yang melantunkan lirik merdu lagu Kesepian milik Dygta dan kudengar melalui earphone, sambil mengunggah sebuah video baru yang baru kurekam. Sebuah video yang berisi pesan tersirat "I am here" dengan tag location -- untuk siapa saja yang sekiranya peduli padaku. Tentunya selain ibuku, karena ibuku akan cerewet jika sehari saja aku tidak memberikan kabar kepadanya.
Sekitar setengah jam kemudian, ada seseorang yang tiba-tiba duduk di sampingku. Aku pun melepas sebelah earphone yang ada di telingaku.
"Hai," sapanya sembari tersenyum. Senyum yang sudah terekam dengan baik di otakku.
"Reza?" kataku heran. "Kamu kok di sini?"
"Sengaja, mau menemui kamu," jawabnya santai. "Aku tahu dari instagram kamu kalau kamu ada di sini."
Aku mengernyitkan dahi mendengar jawabannya. Sejak kapan dia follow akun instagramku? Kok aku tidak menyadarinya.
"Aku ada pekerjaan di sini. Kebetulan aku lihat postingan di instagram kamu kalau kamu ada di sini. Beruntung kamu belum pergi, jadinya aku bisa bertemu kamu."
"Yap, masih menunggu sunset."
__ADS_1
"Aku boleh di sini?" tanyanya. Pertanyaan yang sama seperti pertemuan sebelumnya.
"Boleh."
"Sori, boleh ikut dengar musiknya?"
Sebagai teman, aku pun memberikannya izin untuk mendengarkan lagu dari earphone-ku. Saat itu lagu dengan judul Ya Sudahlah milik Bondan Prakoso feat Fade2Black baru diputar. Beberapa detik setelah itu, aku memerhatikan wajahnya, dia seperti sedang memikirkan sesuatu dalam diamnya.
"Kamu lagi memikirkan sesuatu?" tanyaku. Tapi dia malah menempelkan jari telunjuknya di bibirku, mengisyaratkan aku untuk diam. Lagi-lagi ada getaran saat tangannya menyentuhku. Aku pun menurutinya, membiarkan dia mendengarkan lagu itu sambil memikirkan sesuatu yang ada dalam pikirannya, sampai lagu berikutnya berakhir, lagu dengan judul Tuhan Beri Aku Cinta milik Ayushita Nugraha.
Reza melepas earphone dari telinganya setelah mendengar dua lagu itu selesai diputar. Dia menoleh kepadaku dan menatapku cukup lama. Aku menaikkan kedua alisku, dan dia mengerti maksudku yang seolah bertanya ada apa atau kenapa?
"Well, apa yang sudah kamu pahami?"
"Kamu lagi galau? Baru putus cinta?"
Idiiih... aku jadi tertawa, menggelengkan kepala dan berkata tidak.
Dari pertanyaannya aku yakin sepenuhnya kalau sepupu-sepupuku hanya menceritakan hal-hal positif tentang aku. "Pahami lagi sampai kamu benar-benar paham, itu pun kalau kamu mau." Aku langsung berdiri, niatku ingin pergi dari sana sebelum Reza membuatku nervous lagi seperti pertemuan kami sebelumnya. Tapi dengan cepat dia meraih tanganku, membuatku berbalik, lalu dia berdiri tanpa melepas genggamannya dari tanganku. Lagi-lagi darahku mulai berdesir. Aneh.
"Kita foto dulu, berdua, belum tentu kan kita ke sini lagi?" katanya sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
__ADS_1
Kata-katanya itu membuatku serasa terhipnotis, aku bahkan tidak mengatakan apa pun. Dengan santai dia mengangkat kamera sejajar bahunya. Mulanya aku menghadap ke kamera, tapi dia memanggil namaku, membuatku refleks memutar badan dan mendongakkan kepala melihat wajahnya. Saat kusadari, dia begitu dekat denganku, wajahnya persis hanya beberapa senti dari wajahku, hampir bersentuhan, dan tanpa permisi dia melepas jepit rambutku, membuat rambutku yang panjang itu tergerai. Aku merasa waktu seakan berhenti sesaat, dan aku kembali tersadar saat suara dari kamera ponselnya terdengar -- menepis keterpakuanku. Aku pun refleks melangkah mundur.
"Kamu mau melihat hasilnya? Nih," katanya sambil menyodorkan ponselnya ke hadapanku.
"Bagus," kataku, sambil terus berjalan.
"Bagaimana rasanya foto bareng Reza Rahadian?" Reza Dinata bertanya iseng.
Aku mengangkat bahu. "Biasa saja," kataku. "Aku bukan seorang fans fanatik, Za. Aku tidak butuh foto bareng Reza Rahadian, kecuali kalau dia pacarku, pasti bakal beda ceritanya. Aku juga bukan fans yang tahu semua tentang seorang Reza Rahadian. Aku cuma kagum pada talentanya, aktingnya, dan yah, tentu karena dia tampan," jelasku.
"Sebatas itu?" tanyanya lagi.
Aku mengangguk. "Iya. Intinya aku suka setiap kali Reza Rahadian berperan sebagai pemeran utama yang tampan, keren, dan gentle. Saking sukanya dan saking seringnya nonton filmnya Reza Rahadian, aku malah pernah mimpi jadi pacarnya. Aneh sih sampai terbawa mimpi, padahal aku bukan fans fanatik-nya. Mungkin itu efek dari dunia khayalanku, sebab Reza Rahadian itu selalu menjadi inspirasi tokoh utama pria dalam setiap tulisanku," celotehku panjang.
"Kalau begitu aku juga bisa dong jadi inspirasi tokoh utama tulisan kamu?"
Aku menghentikan langkahku, lalu kuperhatikan lelaki di sampingku itu dengan seksama, dari ujung kaki sampai ujung kepala, beserta ujung rambutnya yang agak gondrong itu. "Kalau dari tampang sih bisa, kamu sama tampannya dengan Reza Rahadian, dua belas - dua belas. Tapi... kamu harus jadi seseorang yang istimewa dan mengagumkan di mataku, baru bisa jadi sosok yang menginspirasiku."
"Mmm... begitu?" Reza mengangguk-anggukkan kepala.
Aku pun membalas anggukannya. "Tapi ya sudahlah, lupakan. Untuk apa jadi inspirasi tulisanku? Stay here. Tetap jadi temanku, itu sudah lebih dari cukup. Aku senang mengenal kamu dan aku senang berteman dengan kamu. Cukup Reza Rahadian yang ada dalam dunia khayalanku. Sedangkan kamu, Reza Dinata, tempat kamu di sini, di dunia nyata. Tetap jadi temanku, teman baikku, ya?"
__ADS_1