
Satu hal yang kuingat pagi ini saat aku membuka mata; hari ini tanggal 14 Februari, tanggal yang sama seperti tahun lalu saat lelaki asingku -- memintaku dan menjadikanku sebagai wanita pilihannya. Dan hari ini kusadari ternyata waktu berjalan begitu cepat. Saat ini, di kamar ini, dia masih bersamaku. Lelakiku. Suami yang selalu ada di saat aku membuka mata, dan yang selalu memelukku dengan hangat di sepanjang malam-malamku.
Hal lain yang kusadari dari diriku saat ini -- sejak Reza hadir dan menjadi teman hidupku -- aku menjadi sosok yang lebih sering bersyukur, jauh berbeda dengan aku yang dulu, yang seringkali mengeluh. Sekarang, aku mensyukuri hampir setiap hal, bahkan saat ini; saat aku membuka mataku dan melihatnya ada di sampingku.
"I love you. Selamat hari kasih sayang," katanya.
Ups! Dia menyadari aku baru saja menciumnya. Kendati matanya masih terpejam, tapi senyuman hangat terukir indah di wajahnya.
"Cuma begitu? Tidak ada hadiah untukku?"
Ummmmm...
Serangan hard kiss darinya membuatku kaget. Dia sedang doyan-doyannya melakukan hal manis dengan gaya yang kasar, contohnya seperti ini ciuman bibir dengan lum*tan ekstra.
"Tunggulah sampai malam. Ini masih pagi. Oke?"
Hah? Apa itu maksudnya? Apa "sesuatu" yang ia maksud yang harus kutunggu nanti malam?
Tik tik tik...
Waktu berdetik...
Aku bukan orang yang sesabar itu...
Tapi aku juga tidak terlalu memikirkan apa hadiah yang ia maksudkan.
Dan akhirnya, pagi itu, saat Reza fokus dengan aktifitas olahraganya -- aku sengaja menghampirinya, dan juga -- sengaja mengenakan dress berkancing depan. Tepat di saat dia sedang push up hanya dengan kaus tanpa lengan -- yang pas membalut tubuhnya -- aku pun bertelungkup di atas tubuhnya yang seksi dan berkeringat. Tentu saja tindakanku itu langsung menuai protes.
"Turun, Sayang. Nanti jatuh."
Aku menggeleng. "Kecuali kalau kita bertukar posisi, aku yang di bawah, kamu di atas. Bagaimana?"
Benar. Tidak ada gunanya berdebat dengan ibu hamil. Dia mengalah dan membiarkan aku berbaring di bawah tubuhnya, Reza melanjutkan push up-nya, bahkan tanpa kuminta dia mengerti dan memberikan aku ciuman; satu ciuman di bibir untuk satu hitungan push up.
"Aku ingin memberi kamu hadiah," kataku.
"Apa?"
"Sesuatu di balik pakaianku."
"Masih pagi. Nanti saja, ya. Aku olahraga dulu. Nanti aku jadi malas olahraganya kalau di stop."
"Aku maunya sekarang..."
"Sabar. Aku olahraga dulu sebentar."
"Jahat!" kataku manja. "Apa sekarang -- karena hubungan kita sudah setahun -- kamu sudah bisa menolakku? Kamu sudah bosan denganku, ya? Bosan dengan tubuh yang sama? Iya?"
Reaksi pertamanya adalah berhenti push up tanpa bergeser sedikit pun dari atas tubuhku. Dan butuh beberapa saat sebelum dia menjawab. "Tidak ada yang berubah," katanya. Dengan setengah hati dia mencumbuiku dan mulai membuka kancing-kancingku. Dan...
"Hadiah untukmu."
Selembar foto hasil USG terbaruku yang sengaja kutempelkan di perutku. Reza pun mengambilnya dan langsung merebahkan diri di sampingku. Aku pun meringsut lebih rapat dan memeluknya. "Satu bayi laki-laki dan satu bayi perempuan, untuk Papa Reza."
Senyuman bahagia langsung merekah di bibirnya, diiringi matanya yang mulai berkaca. "Terima kasih, ya Sayang. Ini sempurna."
Hmm...
"Tidak. Ini tidak sempurna. Aku tidak suka ketidak-antusiasanmu tadi."
Aku merengut, dan segera duduk, kemudian berdiri -- pergi meninggalkannya sendiri di seberang sana.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, saat aku menyibukkan diri di dapur, Reza menghampiriku dan memelukku. Kubiarkan dia tanpa reaksi apa pun. Tapi akhirnya aku mendesis juga saat dia menyelinapkan tangannya dan mer*mas dadaku.
Tahan, Nara. Biarkan dia berusaha keras membujukmu. "Sori. Aku sedang tidak kepingin." Aku pun pergi ke halaman belakang, santai di ayunanku dengan sebotol teh melati dingin dan sebatang cokelat.
Reza menyusulku kurang dari lima menit kemudian. Dia berlutut di depanku, menjulurkan tangan dengan sebuah cincin berlian ke depan wajahku, dan ini pertama kali dia memberikan berlian untukku. Kendati aku sama sekali tidak mengerti sedikit pun tentang berlian, tapi yang kutahu itu benda berharga dan harganya mahal. Aku suka.
"Berikan aku maaf. Please?" pintanya.
Tentu saja. Aku mengangguk dengan cengiran lebar. "Kumaafkan. Sini, berikan koleksi terbaruku."
Yap. Tentu saja bukan untuk kupakai. Hanya untuk disimpan dan koleksi hak milik sendiri. Bahkan Reza pun tidak berhak menyebut itu milik bersama. Apa pun yang pernah ia berikan padaku menjadi hak-ku sepenuhnya.
"Pasangkan di jariku, ya Mas. Please?"
Reza pun memasangkannya di jariku, dan pas. "Sebenarnya aku ingin memberikan itu nanti malam. Tapi aku tidak ingin melihatmu cemberut seharian. Jadi ya sudahlah. Omong-omong, aku membelikanmu sepasang dengan kalungnya."
"O ya? Mana?"
Dia mengedikkan bahu dan langsung berdiri. "Perlu usaha ekstra untuk mendapatkannya." Matanya mengerling dan ia langsung pergi.
Kode. Aku tahu itu. Dengan segera -- aku menyusulnya.
Ke kamar mandi.
"Mas, mana cincinnya?"
Eh? Dia langsung menarikku ke dalam pelukannya dan menyandarkan tubuhku ke dinding.
"Kamu menginginkannya?"
"Tentu."
"Yakin?"
"Ayo."
Tunggu dulu. "Maksudnya?"
"Katakan ya atau tidak?"
"Ya. Jadi, di mana?"
"Di sini."
Ouw! Dia menekanku. "Jangan bercanda, Mas. Kalungku... mana?"
"Di sini," katanya seraya menekanku lagi. "Buka saja dulu."
Hmm...
Buka...
Tidak.
Buka...
Tidak.
Buka sajalah, siapa tahu benaran ada situ, kan?
Dan...
__ADS_1
Memang ada.
Ada hasrat.
"I want you, now," katanya.
Euwww... baiklah. Kubuka pakaianku dan menjatuhkannya ke lantai. Lalu...
Aku menggeleng dan mendorong tubuhnya sejauh lengan. "Aku memang milikmu. Tapi untuk kali ini... berikan dulu kalung itu, baru kuberikan tubuhku. Hmm?"
"Tidak masalah," katanya.
Seperti sebuah magic, kalung itu sudah berada dalam genggaman tangannya. "Sini, mendekatlah padaku."
Tentu saja, aku bahkan nyaris melompat ke tubuhnya. Dia membawaku ke depan cermin. Sambil berdiri di belakangku, dia melepaskan kalung lamaku dan memakaian kalung baru -- hanya untuk mencobainya.
"Suka?" tanyanya. Matanya menatap tajam pada pantulan cermin di depan kami.
"Mmm-hmm... sangat suka."
"Senang?"
"Lebih dari itu."
"Ya," katanya. "Senyumanmu mengatakan segalanya."
Tentu saja, senyum melambangkan kebahagiaan, bukan? "Terima kasih. Kamu membuatku merasa sangat berharga."
"Aku baru mau bercanda -- mau tanya apa kamu tidak merasa sebaliknya karena bisa dibujuk dengan berlian?"
Aku menggeleng dengan tawa tanpa suara. "Maksud kamu apa aku tidak merasa murahan? Hmm? Ini berlian asli, kan?"
"Asli dong. Masa iya kaleng-kaleng."
"So, mahal, kan?"
"Berhubung aku bukan anak konglomerat, bagiku itu mahal."
"Nah, itu. Berarti aku mahal."
Aku tertawa, dan tawaku bersambut. Reza ikut cekikikan di belakangku.
"Lagipula, kamu suamiku. Kumurah-murahkan pun... bagi kamu aku tetap yang paling berharga. Ya kan?"
"Well, kalau dibilang matre?"
"Ma-tre, itu berlaku jika aku hanya mencintai dan menginginkan harta kamu. Kenyataannya? Apa kamu merasa aku seperti itu?"
Dia menggeleng, lalu mencium pundakku. "Cintamu sempurna."
Serrr... merinding. Darahku rasanya berdesir saat melihat perlakuan Reza yang begitu manis. Cermin itu seperti kamera on yang merekam dan memperlihatkan kemesraan kami secara live.
"Jadi... sekarang?"
Aku mengangguk dan baru hendak memutar tubuhku menghadapnya, tapi dia menahanku. "Mas, kamu..."
Ummm...
Ya ampun... melihat Reza menghisap leherku di cermin membuat pipiku seperti daun pucuk merah yang baru bertunas. Rasa malu bercampur senang mengaduk-aduk perasaanku. Jantungku berdebar liar. Aku seperti melihat adegan sepasang kekasih dalam film khusus 18 tahun ke atas yang diperankan oleh suamiku, Reza -- dan diriku sendiri.
"Mas, pindah, yuk? Aku malu."
__ADS_1
Euwww...
Bukannya mengiyakan, dia justru menatapku di cermin. "Aku hanya ingin membantumu merealisasikan semua fantasi liarmu yang pernah kamu tulis. Kamu tahu, kamu menemukan lelaki yang tepat. Aku bersedia menggila bersamamu. So, mari kita lakukan. Ini -- hadiah valentine yang manis untukmu."