CCI

CCI
30


__ADS_3

Reza sedang menyusun barang-barang ke dalam mobil ketika aku keluar dari villa. Dia berdiri di belakang mobil dengan rambut yang sudah terikat rapi, hanya memakai celana jeans panjang dan T-shirt hitam yang senada dengan jeans-nya. Aku suka mengamat-amati dia tanpa sepengetahuannya, walaupun aku mendapat kesan dia selalu tahu sewaktu aku memandanginya. Seperti pagi itu, dia menoleh ke belakang dan mendapatiku yang sedang berdiri persis di depan pintu.


"Pagi, Sayang," sapanya sembari mendekat, memeluk, lalu mengecup pipiku.


"Pagi," sahutku.


Tanpa ragu aku bergelayutan memeluk pinggangnya. Ia pun tak sungkan mengelus-elus rambutku, seolah tak ada siapa pun di sekitar kami.


"Ehm, dua sejoli ini pagi-pagi sudah menebar kemesraan. Senang deh melihat kalian, jadi pengen pacaran lagi," ujar Mayra, yang hanya kami respons dengan cengiran.


Semua orang sudah siap berangkat pada jam enam pagi. Kami membagi rombongan menjadi tiga kelompok. Di mobil pertama, sebagai pemandu wisata dan penunjuk rute, ada Alfi dan dua teman sejawatnya, Reza dan Ari, beserta pasangan masing-masing, juga Tirta. Reza dan aku duduk di depan. Alfi, Mayra, dan Tirta duduk di kursi tengah. Sedangkan di kursi paling belakang ada Ari dan Zia. Waktu itu, aku tidak bisa melihat Zia dari depan, dia sedang mual, dan rebahan di pangkuan suaminya. Di mobil kedua ada Hengky dan Dimas dengan keluarga masing-masing. Hengky dan Dimas duduk di kursi depan, sedangkan istri dan anak-anak mereka tiduran di kasur mobil. Dan di mobil ketiga, ada Ihsan, Aarin, Zaim, Zain dan Empat R bersaudara. Mobil kami beriring-iringan selayaknya sedang konvoi di jalanan.


...♡♡♡...


"Wow, keren," kataku sambil terperangah. Aku yang biasanya tidak suka ke tempat-tempat bersejarah, bangunan-bangunan kuno, atau tempat-tempat yang dikeramatkan, sangat berbanding terbalik ketika aku melihat destinasi-destinasi yang berada di sisi paling timur Pulau Dewata ini, yang menyimpan segudang potensi alam yang tiada duanya. Aku benar-benar takjub.


Tirta Gangga, tempat pertama yang kami datangi. Taman berkonsep istana air yang menjadi suguhan utama tempat itu. Banyak view yang keren dan instagramable, sungguh luar biasa kece, seperti air mancur yang cantik dan kolam yang instagenik untuk dijadikan latar berfoto. Aku sangat antusias melakukan sesi foto prewedding kami, meskipun aku cemas pada diriku sendiri, sebab aku masih saja nervous jika beradu pandang ataupun berhadap-hadapan dengan Reza yang berekspresi serius di hadapanku.


"Pakai ini," kata Mayra. Dia menyodorkan setelan dress panjang tanpa lengan, berwarna biru muda dan kemeja lengan panjang dengan warna senada. Reza dan aku menurut saja apa yang disuruh oleh tim photographer itu.


Sesaat setelah kami berganti pakaian, Zizi menekankan kepadaku dan Reza untuk ikut instruksinya. "Ingat ya," katanya. "Abaikan semua orang-orang yang ada di sini, dan abaikan kalau di sini ada kamera. Anggap di sini tidak ada mata yang melihat dan tidak ada lensa kamera yang menyoroti apa yang kalian lakukan. Pandangan kalian jangan ke arah kamera. Oke?" katanya, ucapannya terdengar sangat tegas.


Untuk di awal sesi pemotretan, Zia mengarahkan kami dengan pose yang gampang ditiru. Dia menunjukkan foto prewedding ala Chef Arnold dan Tiffany. Jadilah di tengah-tengah kolam air yang banyak ikan itu kami berpose saling berpelukan dan memejamkan mata, dengan latar belakang air mancur dan dengan warna pakaian yang senada, kami mampu menirukan pose sang Chef dengan epik. Lalu foto kedua, dengan pose duduk, Reza bertelanjang dada ala Randy Pangalila, dan aku rapat di belakangnya, ikan-ikan yang diberi makan itu berkerubung mendekati kami. Itu pertama kali aku melihat seorang Reza Dinata bertelanjang dada. Aku sempat terperangah melihatnya, hanya sesaat, beberapa detik, tapi hampir membuatku jatuh masuk ke kolam, hampir saja aku berenang bersama ikan-ikan itu. Tapi meski tidak terjatuh, tetap saja aku malu karena Reza menyadari keterpukauanku saat itu.


Kemudian untuk foto ketiga, di atas tangga, setelah kami berganti pakaian, kami diminta menirukan pose ala Franda dan Samuel Zylgwyn, Reza melingkarkan tangan kirinya di leherku, aku menggenggamnya dengan mengangkat kedua tanganku, kami saling bertatapan dan tersenyum, persis pose selebriti yang kami tiru itu. Lalu foto keempat, di taman yang kedua sisinya diapit kolam air, taman di dekat jembatan, kami berpose seolah sedang berciuman ala Jennifer dan Irfan Bachdim, tanganku di leher Reza, sedangkan tangan Reza di pinggulku, pakaian yang kami kenakan juga meniru mereka. Bayangkan saja, betapa manis dan romantisnya kami dalam foto-foto itu, meski sebenarnya aku deg-degan setengah mati, beruntung aku bisa menutupinya dengan senyuman.


Destinasi kedua yang kami kunjungi adalah Pura Lempuyang Luhur. Diperlukan perjuangan yang besar untuk mencapai puncak destinasi satu ini, karena pengunjung harus menaiki lebih dari seribu tujuh ratus anak tangga. Sebelum naik ke atas, kami menyempatkan untuk berfoto di depan ketiga tangga pura. Foto dengan pose ala Samuel dan Franda, lagi. Bak Samuel, Reza menaruh tangannya di pinggulku, dan aku meniru gaya Franda, tanganku menyentuh wajah Reza, aku mendongakkan kepala menatapnya, mata kami beradu pandang seraya tersenyum manis. Yeah, pose itu juga cocok dengan latar belakang tangga yang menjulang tinggi, tidak harus di tengah padang ilalang. Selanjutnya di atas sana, kami berfoto dengan latar belakang gerbang pura, hanya saja agak jauh dari gerbang pura, sebab Zizi ingin mengambil foto dengan pose dan ekspresi, bukan hanya tentang latar belakangnya. Berhubung di sana pengunjung diwajibkan memakai kain, jadilah Zia meminta kami berpose ala Marcel Chandrawinata dan Deasy Priscilla. Seperti halnya Deasy yang bersandar di dada bidang Marcel dan keduanya diselimuti kain, seperti itulah Reza dan aku berpose, romantis dan sangat intim.


Selanjutnya, perjalanan kami menuju Kompleks Taman Sukasada Ujung, taman dengan sejumlah bangunan sejarah kerajaan Karangasem yang merupakan kombinasi dari arsitektur Bali - Eropa - Cina. Kawasan taman ini terdapat tiga buah kolam ikan berukuran cukup besar, bangunan bersejarah, pot bunga serta patung-patung. Bentuk bangunannya sangat megah, kokoh serta khas, tampilan dalam bentuk perpaduan arsitektur lokal dan luar. Sangat keren mengabadikan foto di sana dengan pakaian berwarna mencolok seperti merah, kuning, atau biru.


Saat memasuki area Taman Ujung, mata kita akan langsung disambut dengan kolam ikan yang luas, namun perhatian kita juga akan dicuri dengan bangunan berpilar tanpa atap yang letaknya paling tinggi. Untuk mencapai bangunan itu, harus menaiki kurang lebih seratus anak tangga. Tim photographer mengajak kami langsung naik kesana untuk sesi foto selanjutnya. Kurasa kakiku akan luar biasa pegal setelah pulang dari sana. Kami pun menaiki seratus anak tangga itu. Dari atas sana, keunikan arsitektur dan pesona taman, serta keistimewaan pemandangan yang ditawarkan oleh tempat wisata Taman Ujung Karangasem akan terlihat dan memukau mata.


Berlatar belakang bangunan berpilar tanpa atap, foto prewedding kami makin sempurna dengan layered gown warna merah yang senada dengan setelan jas Reza. Kami berdua bak pangeran dan putri yang berpose seromantis Samuel dan Franda, kami berhadapan, tangan Reza di pinggangku, begitu pun tanganku kuletakkan di pinggang Reza. Lalu dia menyentuhkan hidungnya di pipiku. "Mungkin kita adalah reinkarnasi dari pangeran dan putri yang terlahir kembali," bisiknya. Aku tertawa mendengar ucapannya yang gombal tapi garing. Saat itulah Zizi menangkap potret kami dengan angle yang begitu sempurna.


Tempat wisata di Karangasem ini memiliki tiga kolam besar yang terdapat dalam satu tempat, hanya letak kolam dipisah-pisah. Satu kolam berada di bagian selatan dan dua kolam berada di bagian utara, menurut informasi kedalamannya mencapai satu setengah meter. Di tengah kolam bagian selatan, terdapat sebuah bangunan tanpa dinding bernama Bale Bengong yang berada di tengah kolam. Sedangkan kolam yang berada di utara, luasnya lebih besar daripada kolam yang berada di selatan. Di tengah-tengah kolam di bagian utara terdapat jembatan yang digunakan untuk melintasi kolam, bentuknya sangat megah dengan bahan beton dan terdapat ornamen berupa deretan enam gapura lambang kerajaan Karangasem di setiap jarak tiga meter. Di situlah kami mengambil foto berikutnya, foto ala Jedar dan Richard Kyle. Aku diminta duduk di atas penyangga sisi jembatan, dengan memakai two piece dress warna kuning, bagian atasnya memiliki potongan off shoulder dan bagian bawahnya berupa rok slit yang memiliki belahan sampai ke paha. Sedangkan Reza diminta mencondongkan tubuhnya persis di depanku sambil bertelanjang dada.

__ADS_1


"Mas, kamu tidak marah kan aku berpakaian seperti ini?" tanyaku.


"Ssst." Dia mengisyaratkan aku untuk diam dan menurut saja. "Tidak masalah. Asal tidak untuk sehari-hari," katanya.


"Jangan ngobrol dong," protes Zizi. "Fokus. Tangan kiri Nara di leher Reza, tangan kanan di atas kepala. Dan... senyum..."


Cekrekkk... pose ala Jedar dan Richard Kyle pun berhasil kami tirukan.


...♡♡♡...


Pantai Perasi, pantai yang dikenal dengan nama Virgin Beach menjadi tempat tujuan kami selanjutnya. Hanya butuh waktu kurang lebih dua puluh menit berkendara untuk sampai ke lokasi pantai perawan yang masih sangat alami ini. Meskipun lokasinya memasuki jalan perkampungan, melewati pemukiman dan persawahan dengan kondisi jalan bergeronjal dan tidak rata, tapi itu tidak jadi masalah, demi kepuasaan semua orang yang begitu penasaran dengan pesona pantai perawan ini. Kondisi pantai yang masih alami tergambarkan jelas dengan gradasi warna biru kehijauan yang seakan bisa menyihir mata, meskipun sangat gerah karena kami tiba di sana sekitar jam dua belas siang, tapi itu tidak masalah, toh kami berniat mengunjungi semua tempat yang sudah kami rencanakan.


Kami istirahat sekaligus makan siang, juga  menikmati kelapa muda sambil bersantai di warung yang ada di dekat pantai. Di sana disediakan kursi-kursi panjang dengan payung sebagai pelindung dari sengatan sinar matahari. Dengan keantusiasan tim photographer, Zaza bahkan merapikan mekapku lebih dulu sebelum dia menyantap makan siangnya, dan aku harus makan siang sambil dirias.


Pose pertama sesi prewedding kami di Virgin Beach adalah pose ala Marcel Chandrawinata dan Deasy Priscilla. Di kursi panjang itu Reza merebahkan dirinya ala Marcel, dengan menopang kepalanya dengan tangan kiri yang dikepal. Sementara aku duduk dengan mencondongkan badan serta kepala di atas Reza. Hidung kami bersentuhan, dengan mata saling bertatapan dan tertawa bahagia -- persis Marcel dan Deasy dalam foto prewedding mereka. Benar-benar momen yang sangat manis meski dengan pakaian kasual.


Dalam pose kedua, kami meniru pose ala Olivia Jensen dan Arief Purnama. Reza berguling di atas pasir pantai yang putih, dan aku berpose ala Olivia Jensen, pose yang mudah dipraktikkan, tapi detail posenya sulit dijelaskan dengan rangkaian kata. Dengan kostum warna biru tua itu kami nampak serasi berguling di atas hamparan pasir putih yang terbentang luas.


Foto ketiga, kami meniru gaya timeless ala Fendy Chow dan Stella Cornelia. Dengan latar belakang kombinasi pantai pasir putih, air laut yang jernih nampak berwarna biru, dan deburan ombak Virgin Beach, Reza bertelanjang dada dengan bawahan celana pendek ala pantai, menggendongku yang memakai Button front midi dress, outfit berupa dress putih dengan deretan kacing besar berwarna gelap. Meski kancing-kancing itu tidak terlalu nampak dengan pose seperti itu, tapi panjang dress-nya cocok untuk memperlihatkan kakiku saat Reza menggendongku. Ditambah dengan hidung kami yang bersentuhan, dan tanganku di leher Reza, foto itu nampak begitu manis.


...♡♡♡...


"Memangnya kenapa?" tanya Zaza.


"Harus trekking lagi dari parkiran sampai ke pantai, tidak jauh sih, tapi lumayan," jawabnya.


Ekspresi sebagian orang yang belum searching di google -- langsung ngeri membayangkan nasib kaki mereka nanti malam.


"Kepalang tanggung, ya. Nanti malam kita panggil jasa pijit," ujar Alfi, dia tersenyum dan langsung masuk ke mobil.


Dalam waktu lebih dari empat puluh menit, kami pun sampai ke pantai Bias Tugel. Pesona alam pantai Bias Tugel juga hadir dengan pesisir pantainya yang berpasir putih, gelombang ombaknya kecil, gugusan batu karang hitam di ujung pantai sebelah selatan dan utara seolah membingkai pantai ini agar tampil lebih cantik dan menarik, dan itulah daya tarik utamanya. Kami semua rela menambah derita kaki kami demi surga terpencil itu, demi berfoto di atas batu karang itu. Mayra pun dengan semangat empat lima mengeluarkan koleksi-koleksi sabrina dress dari butiknya untuk kami pakai dalam sesi foto prewedding kami di sana. Dari yang minidress, maxy dress, sampai yang belahan rok-nya sepaha, dari polos sampai yang berbunga, dari yang putih sampai berwarna warni. Sedangkan posisi Art Director diambil alih oleh Aarin. Lagi-lagi Ihsan menahan tawanya.


"Kenapa sih, Bang Jago? Ada apa?" tanyaku.


"Aku berani taruhan, pasti kalian diminta berpose ala artis Bollywood," jawab Ihsan.

__ADS_1


Benar saja, di atas hamparan pasir putih itu kami memulai sesi foto pertama di Pantai Bias Tugel. Kami duduk berdua, menirukan pose Hrithik Roshan dan Katrina Kaif dalam film Bang Bang. Reza duduk dengan memainkan gitar, sementara aku duduk tertawa kecil di belakangnya dengan menyandarkan kepala di pundaknya yang kekar. Dan foto pertama itu berhasil kami tiru.


Pose kedua, masih dengan pose ala Hrithik Roshan dan Katrina Kaif dalam film Bang Bang. Kami berdiri di atas batu karang, tangan Reza di pinggulku, dan tanganku di bahunya. Sisi kanan kepalaku bersentuhan dengan keningnya, dan kami memejamkan mata.


Dalam pose ketiga, masih dengan pose ala Hrithik Roshan dan di tempat yang sama, tapi dengan Kangana Ranaut dalam film Krrish 3. Kami berdiri saling membelakangi sambil mendongakkan kepala dengan mata terpejam.


Pose keempat, masih di atas batu karang. Foto dengan pose ala Shahrukh Khan dan Kajol Devgan dalam cover film Dilwale, tapi dalam kostum ala pantai. Kami saling berhadapan. Aku mendongakkan kepala dengan mata terpejam, sedangkan Reza tetap dengan mata terbuka. Saat hidung kami bersentuhan, aku mulai merasa resah. Aku takut dia akan benar-benar menciumku saat itu, karena sejauh yang kukenal, dia adalah orang yang lumayan jahil. Untung saja, hal itu hanya ada di pikiranku.


"Sini," panggil Zia yang sudah mendapatkan inspirasi baru. "Tiru pose ala Sibad dan Krisjiana," katanya seraya menunjukkan gambar di ponselnya.


Aku menggeleng. "Bunda bisa marah kalau posenya begitu," kataku.


"Kamu kan pakai ini, Ra. Bukannya telanjang. Mau, ya?" kata Zaza menimpali, seraya menunjuk tank top crop kemben tanpa tali yang kupakai, supaya aku tidak repot bolak balik ke toilet untuk berganti pakaian.


Sejenak kemudian, Zizi memasang tampang imut untuk membujukku. "Tenang, aku sudah minta izin kok semalam ke Bunda. Bunda mengizinkan apa pun konsepnya, apa pun posenya dan apa pun style fashion-nya, sumpah. Kata Bunda, asal tidak kelewat batas, tidak kelewat seksi, dan tidak kelewat vulgar. Cuma begini doang. Lagian kalian bukan seleb, tidak akan viral. Aku yang tanggung jawab. Kumohon, demi karirku," katanya.


Reza menarik tanganku, menggandengku masuk ke air, menandakan bahwa dia menyetujui ide gila sepupu-sepupuku itu. Aku melangkahkan kaki sambil menahan tawa karena merasa geli membayangkan aku dan dia berendam di dalam air dengan pose begitu mesra, pose ala Krisjiana yang memeluk dan mencium pundak Sibad di dalam kolam air. Bayangkan saja.


Aarin, teman dekat Ihsan, juga ikut menggila seperti sepupu-sepupuku. Dengan antusias dan semangat empat lima, dia searching pose-pose ala artis Bollywood dan meminta kami untuk mempraktikkannya.


Jadi di dalam air yang jernih itu, Reza dan aku berpose ala Hrithik Roshan dan Katrina Kaif dalam film Bang Bang lagi -- untuk pose berikutnya di Pantai Bias Tugel. Aku dengan tank top crop kemben tanpa tali itu berpose tegak dengan lutut, tanganku merangkul kepala Reza yang bersandar di dadaku, sementara tangan Reza memeluk tubuhku.


Dalam pose terakhir di Bias Tugel, Aarin meminta kami menirukan pose mesra ala Shahrukh Khan dan Kareena Kapoor dalam cover Raat Ka Nasha Official Audio Song - Asoka. Foto yang waw meskipun aku tidak seseksi Kareena Kapoor dan Reza tidak sekekar dan tidak seseksi Shahrukh Khan.


"Makin ke sini kok ide kalian makin gila?" tanyaku.


Semua tim photographer itu cekikikan, mengekpresikan rasa kepuasan mereka karena mendapat model foto gratisan yang menurut saja apa pun yang mereka pinta.


...♡♡♡...


Jam setengah empat sore, kami bergegas ke Pantai Blue Lagoon, destinasi terakhir yang kami kunjungi hari itu. Lokasinya dekat, kurang dari sepuluh menit kami sudah sampai ke lokasi parkir Pantai Blue Lagoon yang cantik, dan sekitar lima menit untuk sampai ke bibir pantai dengan berjalan kaki. Sebab, tidak seperti pantai lainnya, pantai ini tersembunyi di bawah tebing karang, sehingga untuk mendapatkannya, pengunjung harus menuruni anak tangga. Meski begitu, lelah akan terbayar dengan keindahan objek wisata ini yang begitu memesona. Pantai dengan warna biru bergradasi dan pasir putih yang indah, ditambah bukit karang dan pepohonan hijau yang melingkarinya. Sejauh mata memandang, terlihat jajaran perbukitan yang turut melengkapi indahnya pemandangan. Deburan ombaknya yang tenang terdengar seperti alunan musik yang mengiringi suasana pantai. Angin sepoi-sepoi turut menemani dan membelai kulit dengan lembut. Di tepi pantai, terdapat batuan yang berjajar rapi di antara pasir putih, menjadi spot yang tepat untuk duduk dan menyaksikan keindahan pantai berbalut ketenangan ini, juga untuk foto prewedding kami tentunya.


Darahku langsung berdesir saat Aarin menunjukkan pose-pose yang harus kami tiru. Hanya empat foto, tapi luar biasa membuat jantungku melompat ke luar. Bagaimana tidak, kami harus menirukan dua pose utama ala Deepika Padukone dan Ranveer Singh dalam film Ram-leela, juga dua pose Sharadda Kapoor dan Sidharth Malhotra dalam film Ekk-Villian. Pose yang bisa kulraktikkan tapi tak bisa kujelaskan.


"Rileks. Aku tahu kamu suka dengan pose-pose itu, ataupun pose-pose tadi, meskipun kamu selalu nervous. Lagipula, rambut kamu cocok untuk berpose seperti itu," ucap Reza yang tersenyum sumringah, lagi-lagi membuat gempa lokal di sekujur tubuhku. "Ayo."

__ADS_1


__ADS_2