
Reza mengutarakan permintaan maaf kepadaku atas situasi yang tidak kondusif akhir-akhir ini. Katanya hal-hal yang menimpanya akhir-akhir ini membuatnya jadi tidak peka -- atau kurang lebih seperti itu -- sehingga dia sampai tidak memerhatikan hal-hal yang mungkin membuatku merasa diabaikan.
"Basa-basi kamu terlalu panjang, bertele-tele. Langsung saja, kamu mau bilang apa?" kataku. Bubur yang tadinya sudah memenuhi sendok -- kutaruh kembali ke piring. Kuhentikan sebentar menyuapinya makan.
Reza menyunggingkan senyum kecut, pada dasarnya kami cukup memahami satu sama lain, Reza dengan kalimat-kalimatnya yang penuh basa-basi versus aku yang blakblakan -- straight to the point.
"Aku minta maaf karena aku egois, aku menentukan sendiri apa-apa tentang pernikahan kita, tidak bertanya dulu apa kamu suka, apa kamu mau. Harusnya aku mendiskusikannya dulu dengan kamu, kamu maunya bagaimana. Ya kan?"
Aku mengangguk. "Memang," kataku. "Harusnya begitu, harusnya kamu tanya bagaimana mauku. Aku kan yang paling terpenting dalam pernikahan ini? Tapi aku yang paling tidak digubris, yang paling diabaikan. Tahu-tahu harus mengikuti kemauan kalian, menggelar pernikahan di Palembang. Di Palembang mana ada pantai."
Reza menatapku dengan raut wajah penuh penyesalan. Mungkin dia tidak berpikir kalau aku akan membahasnya sampai ke pantai. "Maafkan aku," katanya sambil menggenggam satu tanganku kuat-kuat.
Sebisa mungkin kutahan senyum yang ingin mengembang. Puas sekali rasanya membuat Reza merasa bersalah begitu. Siapa suruh mengabaikan perasaanku?
"Kamu marah?" tanyanya.
Kutaruh piring di atas bed dan kulepaskan satu tanganku yang ia genggam, lalu kupegangi kedua pipinya dan menariknya lebih dekat padaku. Aku pun mencium keningnya dengan penuh perasaan. "Hanya kecewa, sedikit," kataku pelan. "Tapi tidak apa-apa. Kamu kan manusia biasa. Tidak semua hal bisa kamu lakukan. Contohnya, kamu tidak bisa berkuda, tapi kamu bisa main kuda-kudaan."
Sontak Reza tertawa dan langsung merasakan sakit pada luka bekas operasinya. "Kamu jangan melucu. Perutku masih sakit kalau tertawa."
Aku ikut tertawa lalu menyuruk ke pelukannya. "Aku sayang kamu, Mas. Tidak apa-apa impianku menikah di tepi pantai tidak terwujud. Yang penting sah dan aku menikahnya dengan kamu, bukan dengan orang lain."
Reza yang sedari tadi membalas pelukanku dan mengelus-elusku, langsung mengecup kepalaku. Dia mengucapkan terima kasih atas pengertianku padanya.
"Apa ada lagi yang mau kamu bahas?"
Masih ada katanya. Dia mau membahas mahar pernikahan. Di rencana pernikahan sebelumnya, yang mestinya digelar di Jakarta, berapa jumlah gram emas dan berapa jumlah rupiahnya tidak akan menjadi sorotan, cukup menyebutkan emas kawin sekian gram. Kami tidak berniat menyebutkan nominal uangnya. Tapi beda halnya kalau di kampungku, berapa besar gram dan berapa rupiahnya pasti menjadi sorotan utama orang sekampung.
"Ihsan bilang begitu," katanya.
Aku pun membenarkan, memang seperti itu kalau di Palembang. "Jadi, apa kesepakatan kamu dan Ihsan? Kamu bukan bermaksud berdiskusi denganku, kan?"
"Maaf, Sayang.... Aku menyesal. Harusnya aku mendiskusikan dulu ini dengan kamu. Maaf, maaf, maaf."
Untuk urusan diskusi kamu memang selalu menyebalkan. "Jadi berapa? Jangan bertele-tele."
"Sesuai keinginanmu supaya kelak tidak memberatkan Ihsan. Dua puluh tujuh juta," katanya. "Dan untuk emasnya kutambahkan satu cincin polos yang akan kusematkan di jari kamu dan satunya gelang kaki, jadinya tujuh suku."
Senyumku langsung mengembang, selain pengertian -- lelakiku yang tampan itu masih sempat-sempatnya memikirkan hal semanis itu, tanpa kuminta dia berniat memberikan mahar sesuai tanggal kelahiranku. "Thanks, aku beruntung memiliki kekasih semanis kamu." Kupuji dia dan kupeluk ia lebih erat.
Reza pun mengangguk dengan senyuman kecil yang manis. "Omong-omong, aku belum kenyang," katanya.
__ADS_1
"Biar aku yang suapi."
Aku dan Reza sontak menoleh ke pintu. Salsya berdiri di sana. Mungkin sudah sedari tadi dia menunggu kesempatan untuk masuk supaya tidak terkesan terlalu mengganggu. Meski sebenarnya tetap saja sangat mengganggu. Sangat. Dasar!
"Jangan bersikap manis," kataku setengah berbisik sambil melotot pada Reza.
Salsya yang tanpa menunggu persetujuan langsung masuk dan menghampiri kami. "Boleh kan aku menyuapi kamu?"
"Tidak perlu," sahutku. "Biar aku saja."
Salsya tidak menjawab, dia hanya mengangguk lemah lalu menggeser kursi. Dia duduk di sana, di samping Reza. "Bagaimana keadaanmu?"
Aku yang duduk di depan Reza, di atas bed -- merunduk tapi sambil melotot ke depan dengan sorot mata mengancam. Reza sempat melirikku sebelum menjawab pertanyaan Salsya. Aku tahu dia merasa canggung berada di antara kami, di antara aku dan Salsya -- dua wanita gila yang sama-sama mencintainya.
"Aku sudah lebih baik," katanya.
"Aku sudah dari tadi ke sini. Tapi Alfi melarangku masuk. Kenapa kamu tidak memberi tahuku kalau kamu masuk rumah sakit?"
Reza tidak menjawab. Sedetik. Dua detik. Tiga detik. Berdetik-detik.
"Untungnya Kayla melihat Alfi di sini. Jadi dia bisa tahu kalau kamu dirawat di sini."
Oh, untung saja aku tidak memperdebatkan soal itu dengan Reza. Untung aku tidak menyalahkan Reza, tidak berpikir kalau Reza yang memberitahukan keberadaannya pada Salsya.
Tetot! Tidak ada yang menyahut.
"Oh, sori. Maksudku, aku... ikut sedih atas... pernikahan... kalian yang gagal."
Tik tik tik tik... haruskah kulempar dia dengan piring porselen ini?
Bubur yang sedari tadi kuaduk-aduk sekarang jadi terlihat menjijikkan. Tapi tetap kusuapkan pada Reza, terserah dia jijik atau tidak. "Mas, aaa... makan lagi," kataku. Kuberikan dia senyuman manis. "Thanks, Sya, sudah ikut prihatin. Ya... walaupun aku tidak tahu kamu sungguhan tulus atau pura-pura prihatin. Siapa yang tahu -- mungkin kamu malah senang."
"Hei...," kata Reza dengan agak melotot padaku. Suaranya pelan, tapi menyakitkan. Edisi menyebalkan ronde satu.
"Ra, aku tidak--"
"Stop. Aku tidak butuh pembelaan diri atau penjelasan macam apa pun darimu."
Kulanjutkan menyuapi Reza dengan suapan satu sendok penuh, sebab aku rada kesal padanya. Di saat itulah Salsya bertanya -- pertanyaan yang menyebabkan Reza sampai tersedak. "Za, boleh malam ini aku menjaga kamu di sini?"
Sialnya saat Reza tersedak aku tidak bisa sigap mengambilkan minum. Pertama, karena tanganku memegang piring. Kedua, aku harus turun dulu dari bed, sebab posisiku untuk meraih botol air dari atas meja terhalang oleh Salsya. Jadilah Salsya yang bisa sigap meraih botol air minum di dekatnya itu. Adegan menyebalkan edisi ronde kedua pun terjadi, Reza langsung meminum air itu -- minum dari tangannya Salsya.
__ADS_1
"Thanks, Sya," katanya. Barulah dia menolehku dan menyadari kalau aku melotot padanya.
"Jadi, bagaimana? Boleh, ya?"
Reza kebingungan harus menjawab apa, sebab kalau dia tidak bingung dia bisa langsung mengiyakan atau menolak. Kenapa harus bingung sih? Tinggal tolak saja, kan?
"Bagaimana? Boleh atau tidak, Ra?"
Ra? Kamu menyebutku "Ra?"
Sialan! Dia bahkan tidak memanggilku "Sayang" di depan Salsya. Keterlaluan, dalam berapa menit dia menyakitiku sampai tiga kali.
"Terserah!" kataku. Kutaruh piring itu dan kuambil tasku dari atas sofa. "Aku pergi!"
"Kamu mau ke mana?" tanya Reza dengan agak berteriak.
"Pergi sebentar. Takutnya ada yang mati muda kalau aku tetap di sini. Kamu tidak mau itu terjadi, kan?"
Sebenarnya aku tahu, Reza ingin aku menjawab tidak pada Salsya. Dia ingin aku menolak Salsya untuknya. Tapi aku sudah terlanjur kesal pada Reza. Bisa-bisanya dia menyebutku tanpa kata Sayang di depan Salsya, sedangkan selama ini di depan siapa pun -- selain di depan ibu kami -- dia selalu memanggilku Sayang. Dia menyebalkan. Dalam sekejap dia membuatku merasa bahwa aku sama sekali tidak istimewa baginya.
Aku baru saja membuka pintu dan hendak keluar. Tapi aku berhenti sebentar di situ. Aku berbalik dan menatap tajam kepadanya. "Mas, luka di bahumu belum sembuh, jangan sampai setelah ini hatimu ikut terluka. Dan tolong, pastikan ruangan ini sudah steril saat aku kembali. Jangan sampai aku harus membuang sendiri sampah itu ke tempatnya. Kamu paham, kan?"
Reza hanya mengangguk. Sementara Salsya membeku di sampingnya. Dan aku, aku tidak langsung pergi dari sana, aku masih berdiri di depan pintu.
"Kamu kok bisa sih jatuh cinta pada perempuan sekasar dia?"
Ya Tuhan... ingin sekali aku kembali masuk dan merobek-robek mulut perempuan jalang itu. Tahan Nara... tahan...
"Sebenarnya dia orangnya baik. Hatinya baik. Walaupun terkadang bicaranya kasar, kadang-kadang sikapnya aneh, kelakuannya kadang-kadang barbar, kadang-kadang dia nyeleneh, malah kadang dia jahil. Tapi dia itu istimewa, Sya."
Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Reza sewaktu mengucapkan kata-kata itu. Tapi kubayangkan dia tersenyum. Ada ketulusan di setiap penuturan kata-katanya.
"Istimewa, bagaimana?" tanya Salsya.
"Dia memiliki cinta yang luar biasa untukku, cinta pertamanya. Dia belum pernah mencintai laki-laki lain, apalagi pacaran. Belum pernah disentuh orang lain. Aku -- yang pertama dan satu-satunya. Dia juga memiliki kesetiaan yang luar biasa. Dia pernah dijodohkan ayahnya, tapi dia bisa menolak, dia bisa mempertahankan aku. Dan keluarganya bisa menerima aku apa adanya, tidak dengan syarat ini itu. Mereka cuma mengharapkan kesetiaanku. Tapi aku malah mengkhianatinya, aku malah berjanji akan menikahi perempuan lain."
"Za, kamu..."
"Nara bisa mengerti keadaanku."
What? Mengerti? Aku itu terpaksa, Bambang...
__ADS_1
Arrrgh... kesal!