CCI

CCI
75


__ADS_3

》Kehadiranmu di sisiku membuatku benar-benar ketergantungan. Sendiri tanpa kamu itu rasanya aneh. Andai saja kamu ada di sini, lukaku pasti tidak akan seperih ini, karena kamu adalah penawar dari segala rasa sakitku dan penawar di setiap kesedihanku. Andai kamu merasakan, aku sangat merindukanmu.


Kurasa Reza sengaja menulis kata-kata bodoh itu via whatsapp untuk menarik perhatianku. Tetapi aku tidak bisa mencegah diriku -- aku tetap peduli terhadapnya. Bagaimana kalau dia membiarkan dirinya sakit demi mendapatkan perhatianku? Bagaimana kalau keras kepalanya melebihiku?


《Bodoh! Minum obat pereda nyerimu.


》Baiklah, akan kuminum. Terima kasih atas perhatianmu. Setidaknya aku tetap merasakan kamu selalu ada untukku.


《Jangan GR! Aku peduli sebab aku yang menyebabkan luka itu. Jangan bertingkah seolah aku ini masih kekasihmu.


》Aku tidak akan berdebat denganmu. Aku tahu, kamu juga tahu, dan kita sama-sama tahu, tentang apa yang ada di hati kita. Ikatan itu tidak akan pernah terputus meski kita terpisah ribuan mil jauhnya. I love You, Inara Dinata.


Oh Tuhan, kenapa semua ini begitu rumit? Kalau bersamanya adalah hal yang sulit, kenapa menjauhinya malah lebih sulit? Kenapa perasaan ini begitu menyiksaku?


Aku tahu Reza benar tentang ikatan itu, ikatan di antara kami -- ikatan yang tidak akan pernah terputus -- atau sebenarnya hanya belum terputus, meski kenyataannya hati ini sudah hancur. Tapi...


Hei, dia cocok sekali dengan Salsya, suka sekali menyakiti diri sendiri untuk mendapatkan perhatian. Sialan! Kenapa aku harus peduli?


Kutaruh ponselku. Aku keluar dari kamar, aku butuh udara segar. Dan sialnya, kota ini sekarang serasa terbuat dari racun, udaranya mengandung timbal, asap knalpot dan racun-racun yang dapat membunuh jantungku.


Aku pergi ke beranda depan, ada Ihsan yang sedang duduk sendiri di sana. Dia sedang asyik dengan ponselnya.


"Hei, kenapa? Kok manyun?" tanya Ihsan begitu menyadari keberadaanku yang sedang berdiri di dekat pintu. Kepalang aku sudah berdiri di sana, aku pun menghampirinya. "Mas Reza tadi mengunggah video di instagram, hashtag-nya untukmu seseorang yang kurindukan -- Karena Ku Sayang Kamu. Well, ini lagu Dygta dalam versi Reza Dinata. Mau dengar?"


Aku menggeleng, pura-pura tidak peduli pada video itu. "Kenapa sih Mas Reza masih saja bersikap manis seolah tidak terjadi apa-apa? Barusan dia juga whatsapp, dia bilang lukanya perih. Terpaksa aku menanggapinya. Gara-gara aku dia terluka. Wajar kan aku peduli? Aku masih cinta."


Ihsan tersenyum kecil. Dia menangkap maksud di balik kalimatku yang bertele-tele itu. "Kamu pikir Mas Reza menolong Salsya karena dia masih mencintai Salsya?" tebak Ihsan, tepat dan tanpa basa basi.


"Bisa saja, kan?"


Dia mengangguk. "Yeah, bisa jadi. Siapa yang tahu," katanya. "Tapi menurutku bukan karena masih cinta. Bukan aku membelanya lo ya... cuma menjelaskan dari sudut pandangku. Misalnya aku di posisi Mas Reza, kalau kamu yang mengancamku untuk bunuh diri, aku akan peduli, sebab aku mencintaimu sebagai saudariku. Atau kalau Aarin yang mengancamku, aku akan peduli sebab aku mencintainya, dia pacarku. Sedangkan kalau orang lain melakukan itu, aku juga akan tetap peduli, peduli sebagai sesama manusia. Karena apa? karena tidak semua orang bisa bersikap acuh terhadap orang-orang di sekitarnya, seperti kamu."


Aku mendengus. "Lalu, apa sikapku salah?"


"Entahlah," kata Ihsan seraya mengangkat bahu. "Tanyakan itu pada hatimu. Tapi yang pasti, tidak ada yang menyalahkanmu, Mas Reza juga tidak. Setiap orang punya karakternya masing-masing." Ihsan diam sejenak, kemudian berdiri. "Aku mau ke bawah, lapar. Mau ikut?"

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala. "Aku sudah kenyang," kataku.


...♡♡♡...


Seandainya kau ada di sini denganku


Mungkin ku tak sendiri


Bayanganmu yang selalu menemaniku


Hiasi malam sepiku


Kuingin bersama dirimu


Ku tak akan pernah berpaling darimu


Walau kini kau jauh dariku


Kan s'lalu kunanti


Hati ini selalu memanggil namamu


Dengarlah melatiku


Kuberjanji hanyalah untukmu cintaku


Tak kan pernah ada yang lain


Adakah rindu di hatimu


Seperti rindu yang kurasa


Sanggupkah ku terus terlena


Tanpamu di sisiku

__ADS_1


Ku kan selalu menantimu


Lagu itu untukku, aku tahu itu. Aku bahkan bisa merasakan kehadiran Reza hanya dengan mendengar lagu itu sambil memejamkan mata. Sebab, Reza menyanyikannya dengan penuh perasaan. Perasaannya. Seperti aku, Reza pun percaya bahwa musik adalah bahasa kosmis yang berbicara langsung pada jiwa kita, meringankan kepedihan dan mengingatkan bahwa kita tidak sendirian.


"Lagi dengar suara Reza, ya?" tanya ibuku saat aku membuka mata. Dia sudah berdiri di depanku sedari tadi. Alhasil aku cuma bisa nyengir dan tersipu malu, sebab aku ketahuan mendengarkan suara Reza sampai tidak tahu dan tidak mendengar saat ibuku mengetuk pintu kamarku.


Aku mengangguk. "Nara kangen," akuku.


"It's ok. Dengar saja kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik," katanya seraya menghampiriku. Kemudian ia membungkuk dan menciumku. "Semoga itu bisa membuatmu tertidur. Bunda tidak mau kalau kamu sampai sakit."


Kugelengkan kepala. "Tidak akan," kataku. Aku menunjukkan earphone dan menyelipkannya ke telinga. "Suaranya akan membuat Nara tertidur."


...♡♡♡...


Begitu terbangun keesokan paginya, aku menyadari dua hal. Pertama, benar kata Reza, semuanya terasa aneh. Biasanya dia selalu menciumku sebelum aku tidur, atau pernah saat kami berjauhan, dia selalu meneleponku dan menungguiku sampai aku benar-benar tertidur. Sekarang aku merasa kehilangan dan tidurku tidak nyenyak, aku sering sekali terbangun sepanjang malam. Dan kedua, pagiku tak lagi indah. Aku sudah terbiasa menyiapkan sarapan untuknya, dan sekarang aku bahkan tidak bisa melihat wajahnya.


Tetapi begitu aku mengecek ponselku sebelum aku keluar dari kamar, notifikasi whatsapp dari Reza sudah menghiasi layar ponselku.


》Selamat pagi gadisku yang cantik. Jaga dirimu dan jaga selalu hatimu.


《Hei! Kamu yang seharusnya menjaga hati. Berengsek!


》Wkwkwkwk Kamuuu... kekasih barbarku yang selalu kurindukan. Lusa kita baikan, ya. Kamu marahnya jangan lama-lama, jangan lebih dari tiga hari. Aku kesepian plus tidak kuat menahan rindu.


Sinting! Pantas saja dia sangat tergila-gila padaku. Ada yang tidak beres dengan otaknya. Seandainya tidak ada Salsya, kupikir Reza memang lelaki yang tepat untukku. Sepasang orang gila yang saling melengkapi.


Besoknya lagi, Reza kembali mengirim pesan via whatsapp dan masih berlagak bahwa semuanya baik-baik saja.


》Pagi ini aku masih belum bisa push up. Kuharap setelah ini kamu tidak lagi melukai bahuku, atau kamu tidak bisa lagi merasakan otot kekar ini memeluk erat tubuhmu. Dan yeah, ini bahuku -- tempatmu bersandar, bukan sejenis daging yang bebas kamu tusuk sebelum kamu jadikan sate.


Entah kenapa aku jadi tertawa dan langsung berfantasi liar. Aku jadi membayangkan kemesraan seperti kemarin, saat lengan-lengan kokoh itu melingkar di pinggangku, lalu aroma tubuhnya yang berkeringat, yang mampu membiusku dengan sensasi memabukkan, juga detak jantung dan deru napasnya yang mampu membuat hatiku berdebar tak karuan.


Ah, sudahlah. Aku tidak boleh menghabiskan waktu dengan fantasi-fantasi konyol tentang Reza. Tapi sejujurnya, pesan-pesan yang dikirimkan Reza membuatku merasa lebih baik. Aku tidak lagi mencemaskannya, tidak lagi memikirkan apakah lukanya masih sakit, apakah dia cukup makan, atau apakah dia cukup istirahat. Selain itu aku menyadari memang itu tujuannya, dia tidak ingin aku mencemaskan keadaannya, sekaligus dia ingin aku selalu mengingatnya dan terus berkomunikasi dengannya.


Sori, kali ini aku tidak akan membalas whatsapp darimu.

__ADS_1


__ADS_2