CCI

CCI
120


__ADS_3

Tetapi kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat. November datang membawa angin badai kencang yang mencambuk dan memporak-porandakan rumah tanggaku. Dan ini bermula saat aku secara tidak sengaja menemukan ponsel Reza. Maksudku -- satu ponsel yang ia rahasiakan dariku.


Waktu itu aku kepingin mengganti seprai abu-abu gelap yang biasa kami pakai dengan seprei warna biru dengan motif bunga warna pink yang baru kubeli. Aku tidak sengaja menemukan satu ponsel yang sama persis dengan yang Reza pakai, secara kasat mata tidak ada perbedaan sedikit pun antara ponsel itu dengan ponsel miliknya yang ia pakai sehari-hari. Padahal, ponsel Reza ada di tangannya. Aku melihat dia keluar dari kamar membawa ponsel dalam genggamannya.


Lalu, untuk apa merahasiakan satu ponsel lain di belakangku?


Kucoba untuk mengotak-atik ponsel yang kutemukan. Tidak bisa. Aku tidak tahu password untuk membukanya. Di saat yang bersamaan, Reza kembali ke kamar dengan tangan kosong. Dari ekspresinya, dia agak terkejut melihat ponsel yang ada di tanganku itu.


"Ini ponsel kamu kok kamu selipkan di situ?"


"Tidak apa-apa," sahutnya -- mencoba sesantai mungkin. Dia menghampiriku dan mengambil ponsel itu dari tanganku.


"Kamu ganti password, ya?"


"Oh, iya."


"Kenapa?"


"Apanya?"


"Kenapa ganti password?"


"Kenapa? Tidak apa-apa. Waktu itu ponselku nge-hang, terus aku servis. Jadi kuganti password baru."


"Apa?"


"Apanya?"


"Password baru kamu, apa?"


"Kepo."


"Aku tidak boleh tahu? Apa aku tidak berhak?"


"Bukan. Berhak kok."


"Jadi?"


"Sebentar. Biar kuganti dengan password lama."


Kamu bohong. Kamu kira aku bodoh?


"Ini," katanya. Dia menyodorkan ponsel itu kepadaku.


Heh! Dia mengira kalau dia bisa bermain-main denganku.

__ADS_1


"Mas."


"Emm?"


"Ada yang kamu tutupi dariku, ya?"


"Apa? Tidak ada."


"Lihat ini." Kutunjukkan ponselku, aku sedang melakukan panggilan telepon ke nomornya. "Telepon ini terhubung. Tapi ponsel ini tidak berdering."


Reza salah tingkah. "Aku sudah beli ponsel baru waktu ponsel ini di servis," alibinya. "Ponselku sepertinya ketinggalan di bawah. Sebentar." Dia langsung keluar dari kamar.


Aku menggeleng. Ini tidak wajar. Seandainya dia jujur, dia tidak akan memberikan jawaban berbelit-belit. Harusnya dia langsung mengatakan apa adanya tanpa aku harus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menjebaknya. Dan sayangnya, dia cukup pintar, tidak ada jejak sedikit pun di ponsel rahasia itu. Bahkan semua sosial media dalam keadaan log out plus dengan password yang baru. Semua password akunnya sudah ia ganti.


Sabarlah, Nara. Jangan ribut-ribut di depan Bunda. Kau pasti akan tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres. Kau bukan perempuan bodoh yang akan mati ketika kenyataan pahit meruntuhkan duniamu.


Begitulah. Hingga pada hari-hari berikutnya aku berusaha menganggapnya kejadian aneh saja dan hampir berhasil meyakinkan diri hingga kali berikutnya aku menemukan bukti kebohongan Reza yang lainnya. Sebuah screenshot kiriman dari Aarin membuatku beku seketika. Aku langsung mencari-cari akun facebook Salsya dan mendapati banyak postingan yang membuatku tercengang.


Jakarta, 12 November.


Selamat Hari Ayah.


Anak kita merindukanmu.


Love you, Ayah RD.


Kuhela napas panjang. Berani sekali dia mengingkari janjinya kepadaku.


Masih menahan sabar, ku-scroll wall facebook-nya ke bawah untuk melihat postingan lainnya. Dan ada banyak. Tapi hanya tiga hal yang ingin kuamukkan pada Reza. Tiga hal yang membuat darahku menggelegak.


Bogor, 23 Agustus


Ngidamku keturutan.


Nasi goreng kaki lima.


Nasi gorengnya memang biasa, tapi suapan dari tanganmu menjadikannya spesial daripada nasi goreng bintang lima.


Bogor, 11 Oktober


Maafkan aku...


Gara-gara aku kamu jadi demam.


Jakarta, 05 November

__ADS_1


Selamat datang ke dunia, Dinata kecil.


Dan untukmu, terima kasih, sudah menjadi seorang ayah yang baik.


Duniaku runtuh. Dalam sekejap dunia ini terasa sudah kiamat.


Karena tidak ingin ibuku tahu kekacauan dalam rumah tanggaku, kuajak Reza untuk makan malam di luar, dengan alasan aku bosan berada di rumah terus, plus kepingin makan malam di luar, Reza pun menuruti permintaanku dan kami pergi ke resto.


Selama hidangan pembuka, kami mengobrolkan tentang segala macam dan hal-hal remeh: tentang nama calon anak kembar kami. Reza ingin nama yang sederhana saja untuk anak kembar kami, seperti; Angga-Anggi, Laura-Naura, atau Aldo-Aldi. Kemudian kami membahas tentang kemungkinan-kemungkinan fisiknya akan lebih mirip sang ayah atau mirip ibunya. Lalu hobinya, dia akan menyukai hal-hal yang menantang dan menguji adrenalin seperti hobi Reza atau sesuatu yang bersifat seni dan keindahan seperti hobiku.


"Omong-omong, dari sekian banyak keinginanku yang sudah kamu wujudkan, ada dua hal yang tidak pernah kutuliskan dalam notes-ku. Tanya kenapa."


"Kenapa?" tanya Reza santai sambil mengaduk-aduk minumannya.


"Karena aku berusaha menguburnya dalam-dalam. Hal yang dulu kusadari bahwa itu adalah hal yang sulit untuk kuraih."


"Apa itu? Boleh aku tahu?"


"Pertama, ice skating. Aku dulu sangat kepingin bisa ice skating, maksudku ice skating dance. Tapi, karena hal itu tidak memungkinkan, aku mengubur impian itu dalam-dalam."


"Kenapa begitu?"


"Karena di Palembang dulu tidak ada tempat untuk belajar ice skating. Baru sekarang adanya. Di usia dua puluhan, aku sudah tidak senyerekel dulu, maksudku tidak pecicilan seperti dulu. Aku sudah tidak berani belajar sesuatu yang kira-kira menghasilkan cidera."


"Oke. Aku paham. Lalu, yang kedua?"


"Piano. Harganya yang mahal tidak mampu kubeli. Dan andaipun aku punya uang setelah menjadi penulis, sayang sekali kalau aku harus menghabiskan tabunganku hanya untuk sebuah piano."


Reza menjulurkan tangannya di atas meja dan menggenggam tanganku. "Aku akan membelikannya untukmu."


"Sungguh?" Kutunjukkan ekspresi super girang kepadanya.


"Iya."


"Terima kasih. Kamu memang tipe suami idaman semua wanita. Kurasa itu akan sangat berguna. Aku akan menghabiskan waktu luangku selama masa kehamilan ini. Mudah-mudahan itu akan efektif untuk mengusir stres."


Reza yang mulanya tersenyum karena pujian, tiba-tiba menatapku sambil menyeringai. "Stres?"


Aku terkekeh sambil mengangkat gelas minumanku. "Hampir semua ibu hamil akan mengalami stres. Kurasa aku juga akan mengalaminya."


Reza mengangguk sambil meneruskam makan. "Ada aku. Aku akan selalu menemani kamu melalui semuanya."


"Aku orang ke berapa yang kamu perlakukan dengan istimewa seperti ini?"


Pertanyaanku membuatnya tersedak. "Apa sih kamu?"

__ADS_1


"Tidak. Ini, hidangan utama ini membuatku teringat masa lalu. Aku hanya ingin bernostalgia seperti dinner pertama kita. Kamu mau kan mengupaskan udang ini untukku?"


Mata kelam Reza langsung beralih ke hidangan di depan kami. Dan senyuman dinginnya menandakan perasaannya mulai terusik.


__ADS_2