CCI

CCI
121


__ADS_3

"Jadi, Salsya sudah melahirkan?" tanyaku, tanpa aba-aba.


Reza terkejut dan mulai mengerti maksud dan tujuan makan malam itu. "Kamu sedang hamil. Aku tidak mau apa pun tentang Salsya mengganggu pikiranmu.


"Hei, pertanyaanku simpel. Jawab saja iya atau tidak, sudah atau belum. Berikan jawaban singkat."


"Tidak tahu."


"Sudah atau belum?"


"Aku tidak tahu."


"Sudah atau belum?"


"Aku sudah bilang aku tidak tahu."


"Bohong! Kalau kamu tidak mau jujur, aku akan pergi. Dan, jangan harap kamu bisa melihat anakku."


"Apa-apaan sih kamu?"


"Baik." Aku berdiri.


Takut aku akan benar-benar pergi, ia pun mengalah dan menjawabku dengan jujur. "Salsya sudah melahirkan," katanya.


"Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Aku..."


"Kamu menemuinya?"


Reza mengangguk.


"Bagus. Lalu, kamu mengazani anaknya?"


Dia mengangguk lagi. "Tidak salah, kan? Aku melakukan perbuatan baik."


"Iya, tidak salah. Itu perbuatan baik. Menghasilkan pahala dan akan membuatmu masuk surga. Sementara aku akan jadi bahan bakar di neraka karena aku tidak ikhlas suamiku melakukan itu."


Bukan karena kamu mengazaninya, tapi caramu yang melakukan itu diam-diam di belakangku. Aku ikhlas kamu mengazani bayi mana pun, bahkan seribu bayi sekalipun. Tapi jangan berlaku tidak jujur padaku.


"Mengertilah. Aku mohon. Itu perbuatan yang baik."

__ADS_1


Aku menggeleng. "Kupikir anakku akan menjadi anak pertama yang akan diazani ayahnya."


"Sayang, jangan membesar-besarkan masalah. Oke?"


Aku mengangguk. "Yeah. Hanya masalah kecil. Benar-benar masalah kecil, untuk apa dibesar-besarkan? Kamu benar, tidak ada gunanya." Aku tersenyum selebar mungkin di depannya.


"Ayo, makan lagi." Ia menyodorkan sepotong udang di depan mulutku.


Aku baru hendak membuka mulutku, tapi tidak jadi. "Aku mau makan yang lain."


"Apa?"


"Aku ngidam nasi goreng kaki lima."


Reza tertegun sesaat. "Baiklah. Kita cari nasi goreng kaki lima."


"Aku mau yang di Bogor."


Mengerti sepenuhnya. Reza mengerang. "Tolong, hentikan."


"Kenapa?" Aku berdiri. "Kamu bisa menuruti ngidamnya Salsya, bahkan kamu menyuapinya. Kenapa kamu tidak bisa melakukannya untukku?"


"Sayang, tolong. Jangan mempermalukan diri kita di depan orang banyak. Duduk, ya? Tenangkan dirimu."


Aku menggeleng dan mulai meledak dalam tangis. Tapi aku tidak berkeras ketika Reza menggiringku untuk duduk. "Kamu membohongiku terlalu banyak, Mas. Kamu keluar rumah tengah malam saat aku tidur. Ketika kamu kembali ke kamar dan kutanya kamu dari mana, kamu bilang kamu dari dapur karena lapar. tapi ternyata kamu menemui pelacurmu itu untuk menuruti ngidamnya dan kamu menyuapinya."


"Oke. Tapi aku punya alasan. Salsya waktu itu di rumah sakit. Dia dehidrasi karena tidak mau makan dan tidak mau minum. Aku hanya berusaha menolongnya dan membujuknya makan. Dia mau nasi goreng kaki lima, jadi aku membelikan nasi goreng itu untuknya."


Kutelan ludah getir. "Lalu, dia memintamu untuk menyuapinya dan kamu menurut?"


"Aku terpaksa." Raut wajah menyesal jelas tergambar di sana. Tapi itu tidak lantas membuatku luluh.


"Ceritakan, kenapa waktu itu kamu sakit?"


"Itu..."


"Aku tidak ingin mendengar kebohongan."


"Hari itu hujan deras, aku masih di Bogor." Reza diam.


"Lanjutkan!"

__ADS_1


"Salsya datang dalam keadaan basah kuyup. Dia berdiri di luar pagar, aku tidak tahu kenapa -- dia pingsan. Aku keluar untuk menolongnya dan membawanya masuk ke rumah. Saat itu kondisiku memang sedang tidak fit, karena itu aku jatuh sakit. Tapi sumpah, tidak terjadi apa-apa. Di rumah ada Mbok Tin yang mengurusnya. Sumpah."


Kuhela napas panjang, menekan kuat-kuat gelombang emosi yang meluap. "Bagaimana sewaktu dia lahiran? Kamu menggunakan alasan ke resto untuk mengelabuhiku? Supaya aku tidak curiga?"


"Maaf."


"Dia sudah lama di Jakarta? Memang berencana lahiran di sini? Supaya kamu bisa menemaninya? Atau... ini memang idemu? Kamu yang merencanakannya?"


Reza mengangguk. "Maaf."


Prank!


Aku berdiri dan sengaja menghempaskan sebuah gelas kaca ke lantai. "Berengsek! Bajingan! Lelaki Sampah!" Aku berteriak dan menghardiknya di depan semua orang. "Oh, atau jangan-jangan bayi itu memang anak kamu? Hasil perselingkuhan kamu dengan Salsya? Hah? Jawab aku! Kamu pernah membawa wanita jalang itu ke ranjang, kan? Kamu pernah tidur dengan pelacur itu? Iya?"


Plak!


Sebuah tamparan keras menyambar pipiku. Aku jatuh, terjerembab ke lantai dan efeknya mencederai perutku. Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk bangkit tapi tidak bisa. Kupegangi perutku dan aku menangis kesakitan. Di saat yang bersamaan Reza meraihku, menggendongku dan membawaku ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan ia tak henti-hentinya meminta maaf dan menuturkan semua penyesalannya.


Andai aku tidak kesakitan, ingin sekali rasanya mengutuki dirinya yang sudah berani melakukan kekerasan padaku. Tapi rasa sakit plus takut membuatku tidak bisa memikirkan hal-hal lainnya. Tidak ada yang kulakukan selain menahan sakit, menguatkan diriku sendiri, dan berdoa untuk keselamatan janinku. Aku ketakutan, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada calon anakku.


...♡♡♡...


Beruntung. Tuhan masih percaya padaku. Hasil pemeriksaan dokter menyatakan bahwa kandunganku baik-baik saja. Dan meskipun prahara rumah tanggaku dan kebohongan Reza sangat menyakitkan, tapi keyakinanku tidak goyah. TUHAN MEMANG BAIK.


Setelah keadaanku stabil dan rasa sakitku sudah reda, aku ditempatkan ke ruang perawatan. Aku berusaha untuk tegar, tapi tetap saja, ketika Reza menemuiku dan meminta maaf, aku tidak bisa menahan diri. Aku pun menangis lagi.


"Keyakinanku selama ini ternyata salah. Ternyata kamu sama ringan tangannya dengan ayahmu. Kamu menjadikan aku sasaran. Kamu membuatku merasakan sakit yang sama dengan sakit yang dulu dirasakan oleh ibumu saat ayahmu memukulinya. Sumpah. Aku tidak akan memaafkan kamu untuk hal ini."


Reza terisak. "Aku menyesal," ujarnya.


"Tidak ada gunanya. Aku mau kamu keluar dari sini. Aku tidak ingin melihat kamu."


"Sayang, tolong. Maafkan aku."


"Pergi..."


"Aku mohon..."


"Kamu atau aku yang pergi?"


Reza tidak beranjak juga tidak menyahut. Hanya terus menatapku dengan lekat, hingga aku memaksakan diri untuk bangkit, barulah dia menyerah. Dia menurut dan langsung keluar.

__ADS_1


__ADS_2