CCI

CCI
143


__ADS_3

Seperti biasanya, sebelum tidur kami menikmati waktu dengan bersantai di sofa. Tapi bukannya bisa rileks -- kakiku justru terasa kebas dan semakin terasa pegal.


"Aku ke kamar duluan, ya Mas."


Tertegun. Dia agak melongo sesaat. "Kamu ngantuk? Baringan di sini dulu, Sayang. Bobo di pangkuanku, yuk?" katanya sambil menepuk pahanya. "Nanti kugendong ke kamar."


Ah, aku sangat mau kalau saja kakiku tidak pegal. "Aku mau ke kamar," rengekku. "Kamu nonton saja dulu, tidak apa-apa."


"Benaran?"


Aku mengangguk. "Iya," sahutku. "Kamu tidurnya jangan terlalu larut."


Dia balas mengangguk. "Habis acara ini nanti aku langsung ke kamar."


"Oke. Aku naik, ya."


Sesampainya di kamar, kubuka laci dan kuambil minyak urut, lalu mengoleskannya ke kaki, pinggang, dan punggungku. Sambil mengurut betisku aku memikirkan apa jawabanku seandainya nanti Reza bertanya aku kenapa, karena dia pasti bisa mencium aroma minyak urut itu nantinya kalau dia masuk ke kamar. Kenapa sampai kecapean? Memangnya habis ngapain saja kamu? Apa dong alasannya? Aku tidak mau berbohong.


Lo? Tidak apa-apa. Dia sebelumnya sering kan membohongimu? Balas saja...


Haddeh... setan... jangan bujuk-bujuk aku! Hiks!


Akhirnya aku memilih untuk memejamkan mata demi menghindari pertanyaan-pertanyaan Reza. Lihat saja besok -- seandainya ia masih bertanya, mungkin besok aku bisa jujur.


Tetapi kenyataan berkata lain, aku sama sekali tidak bisa tidur. Kebas dan pegal berkolaborasi menghasilkan sakit dan nyeri di sekujur tubuhku, belum lagi rasa khawatir takut hal itu memengaruhi kandunganku. Seandainya saat itu siang hari -- aku bisa pergi ke tempat spa. Berhubung saat itu sudah larut malam dan aku tidak mau mengganggu Reza dengan kegelisahanku plus aroma jenis minyak-minyakan yang menyengat, aku keluar dari kamar dan duduk di sofabed, merasakan sendiri nyeri yang kuderita akibat ulah dan kebodohanku sendiri. Dan seandainya aku berada di dekat ibuku -- badanku tidak akan sesakit ini, aku tidak akan segan meminta tolong padanya untuk memijatku, sebab dia tidak akan membiarkan aku menanggungnya sendiri.


Malam itu aku meringkuk sendirian sambil menangis dan merenung; begini yang dirasakan ibuku dulu sewaktu hamil. Dan andainya aku tidak pernah bertanya pada ibuku bagaimana sikap ayahku sewaktu ia hamil, aku pasti berani dan tidak segan meminta Reza untuk memijatku.


Sejenak kemudian, karena haus dan tenggorokan yang terasa tercekat -- aku terseok-seok turun ke bawah menuju dapur untuk minum, setelahnya aku berdiam diri dan duduk di sofabed ruang makan -- merintih sendirian.


"Kamu kenapa?"


Kebiasaan! Suara Reza yang muncul tiba-tiba di tengah malam membuatku kaget. Buru-buru kuseka air mata yang sebenarnya percuma, sebab Reza sudah terlanjur melihatnya. Dia duduk berjongkok lutut di sampingku.


"Sayang, kenapa menangis? Apa aku ada salah?" tanyanya, matanya menatapku dengan cemas.


Aku menggeleng dan mengusap air mata yang kembali jatuh.

__ADS_1


"Lalu? Cerita, ya?"


Apa yang harus kukatakan?


"Ini... bau minyak?"


Aku mengangguk lalu mengeluarkan minyak urut itu dari saku piyamaku.


"Badannya sakit? Hmm? Ayo, sini biar aku pijat," katanya. Dia langsung duduk di depanku dan menaruh kakiku di pangkuannya, dan langsung memijat kakiku.


Ya ampun... ini jauh di luar ekspektasiku. Dia malah bicara lembut sekali, bahkan menawarkan diri untuk memijatku. "Kamu tidak keberatan?"


Keningnya mengerut. "Kenapa kamu bertanya seperti itu? Malah seharusnya kamu bilang, beri tahu aku, minta aku untuk memijat kamu."


"Aku takut, Mas."


"Takut? Kenapa?"


"Aku takut merepotkan kamu, takut kamu keberatan, -- atau mau tapi terpaksa."


Aku menggeleng.


"Cerita, apa yang kamu pikirkan? Apa yang membebankan pikiranmu sekarang?"


Aku menggeleng lagi. Mulutku terasa berat, bahkan rasanya sulit hanya sekedar menganga.


"Kamu dulu pernah berjanji kalau kamu akan menjadi pribadi yang terbuka padaku."


Terbuka. Kata itu membuatku terpikir untuk mengalihkan pembicaraan. "Aku terbuka kok, malah sudah sangat terbuka. Bahkan sering, ya kan?"


"Yeee... malah bercanda." Euwww... dia mencubit pipiku. "Serius, ceritakan padaku." Kendati mulutnya bercuap-cuap mengintrogasiku, tangannya tetap telaten memijat.


Aku berdeham. "Sebenarnya aku pernah bertanya pada Bunda bagaimana sikap ayahku ketika Bunda hamil. Ya Bunda tidak pernah berbohong atau menutup-nutupi apa pun yang ingin kuketahui, mungkin tidak ingin aku ngambek seperti dulu, jadi Bunda selalu menjawab apa adanya."


Hening sesaat. "Lalu?" tanya Reza tak sabar.


"Ayah selalu berdalih tidak bisa memijit. Kalaupun mau ya terpaksa. Itu pun hanya sebentar. Malah seringkali tangannya mijat, tapi mata dan pikirannya fokus ke handphone. Jadi ya percuma, boro-boro enak, pijitannya tidak terasa atau malah bikin sakit karena di situ-situ saja. Selalu begitu. Bunda selalu .enanggung sendiri masa-masa sulitnya saat hamil."

__ADS_1


Reza mendesah. "Karena itu kamu berpikir aku juga akan bersikap seperti itu?"


Aku mengedikkan bahu. "Bukan begitu juga, Mas. Aku... aku merasa kamu tidak akan seperti itu. Tapi... aku tetap takut."


Dia menghentikan sejenak tangannya, lalu menatapku. "Antisipasi? Begitu? Daripada kejadiannya seperti orang tua kamu jadi kamu pikir lebih baik kamu tahan sendiri? Iya?"


Aku mengangguk. "Aku..."


"Aku bukan ayahmu. Aku, bukan seperti laki-laki lain di luar sana yang hanya mau enaknya saja," ujarnya. Lalu dia menggenggam tanganku. "Aku bukan lelaki yang hanya mau disiapkan dan dilayani semua kebutuhanku. Bukan lelaki yang hanya minta diladeni ketika aku butuh kehangatan tubuhmu dan meminta anak dari kamu -- tapi tidak mau berbagi semua baban yang kamu tanggung. Aku bukan lelaki seperti itu."


Reza berceloteh panjang, dan aku suka sekali mendengarkan dia menuturkan kata-kata yang mendengungkanku hingga ke hati. Aku sengaja diam, menyimak kata demi kata yang keluar -- bukan sekadar dari mulutnya, tetapi dari hatinya.


"Sayang, aku bukan lelaki yang hanya manis di saat kita pacaran. Aku tidak akan berubah, tetap Reza yang sama. Kamu ingat sewaktu kita di Cianjur, waktu aku memijat kamu sehabis kamu muntah-muntah? Waktu itu aku tulus melakukannya untuk kamu, bukan untuk memanfaatkan keadaan supaya bisa menyentuh kamu. Tidak sama sekali. Dan sekarang, ini -- ini tetap Reza yang sama. Mas-nya Nara yang bersedia berbagi suka duka bersama Nara. Bukan berarti aku sudah menikahi kamu dan kamu sudah menjadi istriku -- lantas aku menjadi tidak peduli dengan kesehatan kamu. Tidak seperti itu, Sayang."


Uuuh... aku nangis. Tidak semua lelaki bisa menuturkan isi hati sebaik dia.


"Dengar," katanya seraya menangkup wajahku. "Jangan seperti ini lagi. Kamu harus mengatakan apa pun yang kamu mau, apa pun yang kamu butuhkan, aku akan penuhi dan menuruti semuanya. Dan kamu juga harus mengatakan apa pun yang kamu rasakan, termasuk semua beban yang kamu simpan. Jangan menutupi apa pun dariku. Oke? Janji, Sayang?"


Aku mengangguk sesenggukan. Seandainya tidak pernah ada huru-hara tentang Salsya, betapa sempurnanya keluarga kecilku ini. Betapa sempurnanya suamiku ini. "Aku janji. Maafkan aku, ya?"


"Kamu tidak sepenuhnya bersalah, kamu hanya tidak terbuka padaku, hanya itu. Selebihnya salahku, aku tidak cukup peka dan kurang perhatian. Harusnya aku bertanya atau bahkan berinisiatif sendiri, kan? Maaf, ya?"


Seandainya bisa, Mas. Aku juga ingin jujur kalau aku sudah mengikuti kamu tadi pagi. "Maafkan sikap kekanakanku, ya Mas?"


"Jangan bicara begitu. Aku ngerti kok, Sayang. Ini itu... apa ya... bisa dibilang sudah konsekuensi untukku karena aku sudah tahu bagaimana karakter kamu dari awal. Jadi aku harus mengerti kamu sepenuhnya. Aku tidak mempersalahkannya. Yang terpenting kedepannya nanti kamu harus selalu terbuka padaku. Ya?"


Aku mengangguk lagi. Pasti, tapi nanti.


"Bagus. Mana lagi yang sakit?"


"Semuanya," kataku -- sedikit malu.


"Ya, sudah. Kalau begitu kita ke kamar biar kamunya bisa sambil tiduran."


Tanpa kuminta Reza langsung menggendongku dan menurunkanku ke tempat tidur dengan sangat hati-hati. Lalu ia menyuruhku telungkup dan menaruh guling di sisi tubuhku supaya perutku tidak tertekan.


Aku berharap ini sepenuhnya seperti yang kupercayai. Tidak ada kepura-puraan apalagi keterpaksaan.

__ADS_1


__ADS_2