
Pesawat yang kami tumpangi mendarat sempurna di Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta jam delapan lewat sepuluh menit. Penerbangan pagi tak membuat mataku terpejam satu menit pun, padahal semalam jelas-jelas aku kurang tidur. Sementara Reza rebah di bahuku dengan mata terpejam begitu damai.
Ada satu kejadian yang kubenci dalam perjalanan hari ini. Ketika kami mampir di minimarket untuk membeli minum, entah kebetulan atau sudah takdirnya, dari sekian banyak minimarket di Jakarta, kenapa aku bisa bertemu ayahku dan Yanti beserta anak-anaknya, dan seorang anak kecil di gendongan ayahku, cucu dari anak tirinya. Reza dan aku tidak menyadari keberadaan mereka jika saja si laki-laki asing itu tidak menyapa kami ketika kami baru hendak masuk ke minimarket.
Saat aku menoleh dan menyadari keberadaan mereka di sana, seketika itu juga rasa benci dan amarah langsung bertahta di hatiku. Tapi demi janjiku pada Reza, demi hubungan kami, juga demi tidak mempermalukannya di depan umum, aku memilih menghindar.
"Aku... aku permisi ke toilet, Mas," kataku saat ayahku baru melangkahkan kaki menghampiri kami. Secepatnya aku melesat masuk ke minimarket dan langsung menuju toilet. Sengaja aku berlama-lama di dalam sana, berharap ketika aku keluar -- orang-orang yang kubenci itu sudah pergi jauh dari sana.
Untung saja toilet minimarket pada umumnya selalu bersih, jadi aku tidak terganggu saat mengatur napas untuk meredam emosiku, meski tidak bisa redam seutuhnya.
Saat aku keluar dari toilet, Reza sudah berdiri di meja kasir. Sialnya, rombongan orang-orang yang merusak mood-ku itu masih saja ada di depan minimarket, membuat usahaku meredam emosi di dalam toilet menjadi sia-sia belaka. Senyum sumringah ayahku di tengah-tengah keluarganya adalah salah satu hal yang sangat kubenci di dunia ini. Bukan karena perbandingan ibuku tidak sebahagia itu atau bagaimana. Tapi karena kebahagiaan mereka itu mereka rasakan di atas penderitaanku, di atas perih luka-lukaku.
Reza langsung menghampiriku begitu dia melihatku dan meninggalkan belanjaannya yang masih dihitung oleh sang kasir. Ia meraih tanganku dan memintaku melemaskan jari-jari tanganku yang kukepal. Sebagai gantinya -- dia menelusupkan jemarinya ke ruas jariku. Aku tidak punya pilihan, aku tidak ingin bersikeras di hadapan Reza. Aku jadi menyesal telah mengucapkan janji konyolku lewat surat itu.
"Aku tidak akan melepaskan tanganmu dan tidak akan membiarkan kamu melakukan hal-hal bodoh," katanya.
Untungnya Reza langsung menyadari reaksiku atas ucapannya itu. "Sori, maksudku hal yang tidak ada gunanya. Aku tidak--"
"Tidak apa-apa, Mas. Lupakan saja."
"Kita temui ayah kamu dulu, ya?"
"Tidak mau," tolakku.
"Aku tidak enak--"
"Aku. Tidak. Mau," potongku. Kutolak ia sekali lagi dengan tegas. "Aku ingin pergi dari sini."
"Sayang..."
"Jangan paksa aku. Kita pergi baik-baik atau aku pergi sendiri?"
__ADS_1
"Please...," ucapnya memohon.
"Mas!" pekikku dengan suara sedikit keras. "Terserah kalau kamu mau ke sana. Lepaskan tanganku. Biarkan aku pergi."
Dia mengalah. "Oke, oke. Tenang, ya. Tenang. Kita akan pergi dari sini." Dia mengatakan itu sambil merangkul dan mengelus-elus bahuku. Aku pun lega karena lagi-lagi dia mau mengerti dan mau mengalah.
Setelah itu ia menggandengku ke kasir, dia tidak mau melepaskan tanganku meski sedetik, mungkin dia takut aku melakukan hal bodoh seperti ucapannya atau takut aku kabur dari sana. Kami pun langsung menuju mobil setelah Reza membayar dan mengambil sekantung besar belanjaannya. Kemudian dia membukakan pintu, memastikan aku duduk di dalam mobil dan berpesan agar aku tidak pergi ke mana-mana. Lalu ia menghampiri orang-orang itu dengan menyimpan belanjaannya lebih dulu ke kursi belakang.
Setelah beberapa menit, Reza kembali membuka pintu mobil di sebelahku dan langsung mencondongkan tubuhnya -- rapat ke tubuhku.
"Kamu mau apa?" sergahku.
Dia tidak menjawab malah langsung merebahkan sandaran kursiku secara perlahan sampai ke posisi maksimal. "Cuma mau merebahkan sandaran kursi supaya kamu rileks," tuturnya. "Kamu berharap aku melakukan itu, ya?"
"Sialan," kataku sambil tersenyum. "Tentu saja tidak."
"Masa?"
"Tuh kan iya." Dia cengengesan.
Aku mendelik. "Tidak!" Kucubit kedua pipinya. "Kamu sengaja ya lama-lama di atasku begini? Cepat berdiri, tutup pintu, dan masuk ke mobil. Antar aku pulang," kataku.
Tanpa menyahut, dia nyelonong sesuai intruksi. Dan selang beberapa detik kemudian dia sudah masuk dan duduk di kursi kemudi, dia menyalakan mesin mobil dan menyalakan radio. Langsung saja terdengar celotehan penyiar radio begitu radio dinyalakan. Tidak lama kemudian terdengar suara merdu Nikka Costa dalam lagu First Love. Kebetulan aku suka lagu itu dan hafal liriknya -- hanya sebatas hafal liriknya sedikit dan bisa menyanyikannya ketika lagu itu di putar. Aku pun ikut bersenandung, juga sebagai cara menyingkirkan pikiran-pikiran lain tentang apa yang baru saja terjadi.
Reza membiarkan saja aku seperti itu sampai lagu itu selesai, sampai si penyiar radio kembali berceloteh. Barulah Reza bertepuk tangan dan berkomentar, "Katanya cuma suka lagu pop Indonesia."
Aku tersenyum. "Ada beberapa lagu bahasa Inggris yang aku suka, tapi tidak bisa kalau menyanyikannya sendiri. Cuma bisa mengiring kalau lagu itu diputar."
Reza manggut-manggut. "Tapi tadi kamu sepertinya benar-benar menghayati."
"Iyalah," kataku. "Kan lagu itu tentang cinta pertama, ngena di sini." Aku menunjuk dadaku.
__ADS_1
"Di dada?" godanya. Dia tersenyum nakal.
"Di hati, Mas. Dasar mesum."
Eh? Aku duduk tegak begitu menyadari Reza mengemudikan mobil bukan ke arah rumah Ihsan. "Kita mau ke mana?" tanyaku.
"Ke Bandung." Dia menjawabku dengan santai, tidak merasa bersalah sedikit pun karena membawaku pergi tanpa bertanya dan tanpa izinku.
"Wah, wah... ini penculikan namanya, Mas."
"Kamu kan suka kuculik."
"Ye... percaya diri sekali kamu." Kucubit pinggangnya sampai dia kesakitan dan merasa geli.
"Lepas, Sayang. Bahaya, aku lagi nyetir."
"Bilang ampun dulu."
"Iya... ampun, Sayang... ampun."
Kulepaskan cubitanku dan kupasrahkan dia mau membawaku ke mana pun yang ia mau.
"Kalau sudah takdirnya kamu bertemu mereka, tetap saja akan bertemu. Seperti tadi kan, malah ketemu di Jakarta, padahal kamu takut bertemu mereka di Bandung."
Aku hanya mengangguk kecil, lalu kembali merebahkan diri. Reza meraih tanganku, menelusupkan jarinya ke ruas jari-jariku dan menciuminya dengan dalam. "Tidur, gih. Perjalanan kita cukup jauh," katanya.
Aku tersenyum. Senyum untuknya dan senyum karenanya. "Terima kasih, Mas. Aku sangat bahagia karena kamu mencintaiku setulus dan sedalam ini."
Dia pun tersenyum dan mengiyakan dengan sekali anggukan. "Everything for you."
Hari ini, untuk pertama kalinya seseorang menyelamatkanku dari keberutalan sikapku terhadap orang-orang yang telah merusak kehidupanku di masa lalu. Mungkin tidak ada kata yang mampu mengungkapkan -- betapa bahagianya aku saat ini, saat bersamanya yang mencintaiku tanpa peduli pada semua masa laluku.
__ADS_1