CCI

CCI
96


__ADS_3

Aku tidak tahu tepat atau tidak jika malam ini kusebut sebagai malam pengantin. Aku dan Reza biasa bersama dalam satu ruangan, bahkan Reza seringkali menemaniku sampai aku tertidur. Tapi malam ini tetap saja rasanya indah sekali, meski aku tahu bahwa kami belum bisa melewati malam sebagai pasangan pengantin seutuhnya. Tapi... tetap saja -- indah -- Ini malam pertamaku sebagai istrinya. Terlebih kamar pengantin kami dihiasi dengan sedemikian rupa, dengan setangkai mawar dan kelopak-kelopaknya yang disusun membentuk simbol hati menghiasi tempat tidur. Sebuah simbol yang melambangkan cinta. Cinta sepasang suami istri baru yang harusnya melangsungkan malam pertama. Yeah, seharusnya.


Begitu pintu tertutup, Reza menarikku ke dalam pelukannya. Dia menciumku, keras dan lama. Aku meleleh dalam pelukannya. Denyut jantungku melambat, tapi detakannya menjadi lebih cepat dan berdebar dengan lebih keras.


"Bahagia?" tanyanya. Dia tersenyum, senyum yang hanya ditujukan padaku. Aku merasakan panasnya tatapan Reza membakar dan menembus diriku.


Aku mengangguk. "Tentu. Aku bahagia karena impianku tercapai, aku menjadi istrimu, memiliki kamu, dan akan menghabiskan sisa hidupku bersama kamu."


Reza menatapku dengan penuh cinta, lalu membelai bibirku dengan bibirnya yang seksi. "Aku mencintaimu, Nara." Ia menciumku lagi, kali ini lebih lama dan lebih dalam. Lalu menatapku lagi, panas dan mendamba, dipenuhi cinta dan gairah.


"Seberapa besar?" tanyaku.


"Lebih dari apa pun yang ada di dunia ini. Aku akan berusaha membahagiakanmu seumur hidupku," ujarnya bersungguh-sungguh, sambil mengusapkan ujung jarinya ke bibirku. "Terima kasih karena kamu mau membuka hatimu untukku. Entah aku pernah mengatakan ini atau tidak, tapi biar kukatakan saat ini, bahwa aku bukan, dan tidak akan pernah, menjadi bajingan yang sengaja menyakiti hatimu, seperti pendapatmu tentang ayahmu. Kamu harus ingat itu baik-baik. Aku mencintaimu, sangat sangat mencintaimu."


"Terima kasih, sudah mencintaiku sebesar itu. Dan terima kasih karena kamu sudah berjuang keras untuk bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita. Aku juga mencintaimu, lebih dari apa pun yang ada di dunia ini." Aku tersenyum. "Kecuali ibuku. Aku mencintaimu tidak sebesar aku mencintainya."


Reza tersenyum lebar mendengarnya -- dengan sedikit cekikikan. "Yeah. Urwell, Babe. Dan omong-omong soal keras. Mau kutunjukkan apa yang keras?" tanya Reza dengan kilatan nakal di matanya.


"Hah! Aku yakin aku bisa menebaknya."


"O ya?"


"Yeah. Aku penulis novel roman, tahu!"


Reza tergelak mendengarnya. Lalu memeluk tubuhku lagi erat-erat, aku merasakan panas gairahnya.


"Kamu mau menatapku sepanjang malam?"


"Yeah, aku memang bermaksud menatapmu, sepanjang malam," kata Reza, suaranya berupa geraman rendah. "Seluruh dirimu. Keseluruhan... yang ada padamu."


Reza mengulurkan tangan, menyentuh pundakku dan menurunkan lengan bajuku. Jantungku berdegup keras - cepat ketika ujung jarinya membelai kulitku. "Boleh, kan?"


Ah, kenapa sih dia harus bertanya seperti itu? Dia membuatku malu. Keseluruhan wajahku terasa merona. "Aku milikmu. Kamu berhak atas diriku. Tapi kamu ingat kan kalau?"


Reza mengangguk. "Aku ingat," katanya. "Aku hanya ingin melihatmu. Melihat keindahanmu. Melihat apa yang sudah menjadi milikku, yang sudah menjadi hakku."

__ADS_1


TOK TOK TOK!


“Sepertinya ada orang.”


“Abaikan saja," bisiknya.


TOK TOK TOK!


“Dicek dulu, Mas.”


Dengan berat hati, Reza berjalan ke arah pintu. Sementara aku menaikkan kembali lengan bajuku yang sempat turun dari tempatnya. Di depan pintu berdiri seorang pria dengan senyum di bibirnya dan sepiring kecil roti tawar selai srikaya di tangannya. Itu Alfi, dia sengaja menjahili Reza.


"Sialan, lu!" Reza mengambil piring itu dari tangan Alfi dan langsung menutup pintu.


TOK TOK TOK!


"Siapa lagi sih?" Reza meringis, dan aku malah tertawa melihatnya.


Kali ini Ari yang datang dengan segelas wedang jahe untuk Reza. Reza yang senewen tidak berkomentar apa-apa pada Ari yang ngakak melihat wajah kusutnya.


"Semoga," sahutku.


TOK TOK TOK!


"Ya, Tuhan...," geramnya. "Siapa?"


"Mau jajan bakso, tidak?" Zia, itu suara Zia.


"Atau mau nasi goreng?" Aarin menimpali.


"Tolong ya... jangan ganggu." Reza membalas.


Dan hening beberapa saat sampai terdengan suara ketukan lagi. "Buka, Nak. Ini Bunda."


Mendengar suara ibuku yang berdiri di luar sana, Reza pun melepaskan pelukannya dan segera membuka pintu. Dan taraaa... ada segerombolan cewek-cewek cengengesan berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Ini," kata ibuku. Dia membawakan losion anti nyamuk untuk kami. Maklum namanya juga suasana kampung, di kota saja banyak nyamuknya, apalagi di kampung yang masih banyak kebun dan rawa-rawanya. "Bunda harap kamu bisa tidur dengan nyenyak dan cepat beradaptasi di sini."


"Terima kasih, Bund."


Ibuku mengangguk dan menyuruh cewek-cewek itu kembali ke kamar masing-masing. "Ingat luka operasimu," Mayra berbisik sebelum meninggalkan kami."


Huh! Akhirnya pintu kembali tertutup.


Tetapi Reza tetap berdiri di sana, diam tanpa kata-kata. Matanya fokus menatapku -- seperti biasanya -- tatapan yang membuatku nervous. Begitu menyadari reaksiku, barulah ia mendekat dan menghujani kecupan di sepanjang lekuk leherku. Yeah, pada awalnya ia menciumku dengan lembut, lama-kelamaan ciumannya memanas, lidahnya menggelitik di telinga.


Terjebak dalam gairah yang semakin menggebu-gebu, aku sampai tidak menyadari Reza berhasil melucuti baju tidurku. Dia membelai tubuhku hingga aku gemetar di dalam pelukannya.


"Mas?"


Tangan Reza yang saat itu sudah menyentuh dalamanku langsung berhenti. "Ada apa?"


"Aku masih menstruasi, masih memakai pembalut. Aku malu jika kamu melihatnya. Jangan, ya?"


Ya ampun... aku membuatnya kecewa. Dia mengangguk dan langsung pergi ke kamar mandi. Sesaat kemudian terdengar gemericik pancuran air dan itu semakin membuatku semakin merasa bersalah.


"Mas, boleh aku masuk?" tanyaku, setelah mengetuk pintu.


Reza memutar keran shower bath hingga mati lalu membuka pintu. "Ada apa?" tanyanya. Dia sudah melepas pakaiannya dan hanya terbungkus handuk.


Untuk sesaat aku ragu hendak masuk atau tidak. Tapi demi dia, kuberanikan diri masuk, berdiri rapat di depannya. "Aku ingin menyenangkanmu sedikit, boleh?"


Reza mengernyitkan bahu, seolah bingung dengan apa yang kumaksud. Sementara mataku menatap kedalam dua matanya, dengan perlahan tanganku melepaskan handuk yang melingkari pinggangnya. Aku senang dia sudah melepas pakaian dalamnya jadi aku tidak perlu repot-repot melepaskan itu darinya.


"Aku bukan orang yang berpengalaman melakukan ini. Kuharap aku tidak mengecewakanmu." Sambil mendorongnya dengan lembut hingga bersandar ke dinding, aku membisikkan kalimat itu ke telinganya.


Sewaktu aku hendak turun, Reza meraihku dan memegangi bahuku. "Tidak usah," katanya. Aku tidak mau merepotkanmu.


"Diamlah. Biarkan aku melakukan tugasku. Oke?"


Reza mengangguk, membiarkan aku turun -- dan melakukannya. Dia mengerang ketika aku merasakan dia di dalam mulutku. Rasanya asin, aku butuh waktu sesaat untuk membiasakan diri dengan benda asing itu. Tapi menyadari Reza menyukainya, aku tidak keberatan melakukannya seberapa kali yang ia mau.

__ADS_1


__ADS_2