
Tirta dan dua anak perempuan Alfi tidak mau makan nasi siang itu. Mereka merengek minta dibelikan pizza. Tentu saja Alfi menuruti kemauan anak-anaknya. Daripada mereka tidak makan sama sekali, katanya. Dan gilanya, ketiga anak kecil itu sama-sama doyan mayones. Mereka menambahkan ekstra mayones di pizza itu. Melihatnya saja aku sampai ngeri.
"Buka mulut dong, Tante." Si kecil Tirta hendak menyuapiku -- setelah menyuapi semua orang satu persatu. Awalnya aku menolak dan menutup mulutku.
"Tante Nara tidak suka mayo, Sayang." Mayra menjelaskan. Tetapi tidak berpengaruh, aku tidak tahu kenapa Tirta ngeyel mau menyuapiku, mungkin karena hanya aku sendiri yang belum menurut dan mengikuti kemauannya.
"Tidak akan kelar kalau tidak dituruti," celetuk Alfi.
Akhirnya aku terpaksa membuka mulutku dan menggigit sepotong pizza itu. "Sudah, ya? Tante ke toilet dulu, boleh?"
Dengan tergesah-gesah aku masuk ke kamar mandi di kamar depan. Aku takut orang-orang akan jijik mendengar suara muntahanku jika aku ke kamar mandi di sana, di dekat dapur. Untungnya aku tidak banyak makan pagi itu, sehingga aku hanya muntah sedikit.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Reza dari balik pintu kamar mandi. Dia menyusulku.
Aku tidak langsung menyahut. Kubersihkan mulutku dan langsung membuka pintu -- keluar dari kamar mandi. "Aku baik-baik saja," kataku. "Tidak usah khawatir."
Reza langsung meraih tasku dari atas meja dan mengeluarkan minyak kayu putih dari dalamnya.
"Tidak usah, Mas. Aku tidak mual," kataku.
"Shuttt... menurut padaku." Reza berkata sambil memapahku ke tempat tidur dan menyuruhku duduk, seolah aku sedang pusing keliyengan, padahal tidak sama sekali.
Aku menggeleng. Kukatakan padanya kalau aku baik-baik saja. "Kamu jangan berlebihan."
"Shuttt...," sekali lagi Reza menyuruhku diam, kali ini dia menempelkan jari telunjuknya di bibirku.
Sewaktu Reza meneteskan minyak kayu putih ke telapak tanggannya, aku langsung mencegahnya. "Biar aku saja, ya?" kataku. Kupegangi telapak tangannya yang berlumur minyak kayu putih. Tetapi Reza juga langsung mencegahku dengan menggeleng dan menyingkirkan tanganku dengan lembut.
"Biar aku," katanya. Saat itu bibirnya menyunggingkan senyum, dan sorot matanya menghipnotisku, membuatku tidak sadar saat tangannya menelusup ke balik bajuku. Aku merinding, tengkukku meremang, dan ada getaran hebat di dalam tubuhku. Debaran-debaran aneh itu mulai menguasaiku lagi. Sesaat kemudian aku refleks memejamkan mata karena Reza tiba-tiba meremas lembut belakang tubuhku. Dan di saat itulah aku merasakan bibirku dilum*tnya dengan penuh perasaan.
Oh, Mas... ini yang kutakutkan. Kenikmatan yang kusukai tapi harus kutolak. "Maaf," kataku. Kudorong dia dengan lembut. "Jangan. Please?"
Reza menatapku dalam diam beberapa detik. "Sebentar saja. Boleh, ya? Please? Ya?"
__ADS_1
Aku menggeleng.
"Semalam?"
"Semalam kamu menciumku dengan gemas, ciuman sayang," kataku. "Bukan ciuman seperti ini."
Reza menundukkan kepalanya sesaat, lalu kembali memohon. "Please... just a few minutes."
Aku tetap menggelengkan kepala, tetapi Reza langsung merebahkanku dan langsung menindihku. "Aku kangen." Dia berkata di telingaku. Deru napasnya serasa membuat bulu-buluku menegak.
"Woi... ingat bekas operasimu," tegur Mayra yang entah sejak kapan berdiri di pintu. "Ya paling tidak tutup pintunya."
Reza tidak bergerak. "Apa sih, May? Gengges!" Entah darimana Reza tahu kata itu.
Mayra mengangkat bahu dan menutupkan pintu -- untuk Reza. Suasana pun kembali hening. Reza kembali menatapku dengan jemari yang bermain-main di wajahku.
"Aku tidak suka," kataku. Kucoba mendorongnya, tapi tidak dengan sekuat tenaga.
"Aku tahu kamu tidak akan menyakitiku," katanya. Dia menyadari kalau aku menahan diri untuk tidak bersikap kasar padanya.
Reza menggeleng. "Please... hanya ciuman. Dan kalau boleh, sedikit..."
"Mas!" kataku dengan sedikit membentak. Kudorong ia dengan sekuat tenaga. Tetapi Reza justru menahanku lebih kuat. Aku tidak bisa bergerak.
"Sori. Tapi aku tidak tahan. Aku pingin dan harus dapat. Terserah kamu suka atau tidak."
Yap. Reza langsung menempel ke leherku dan menghisapku dengan ganas. Uhh! Kendati sebenarnya nikmat dan darahku berdesir karena hisapan itu, tapi aku tidak suka. "Aku membencimu," kataku dengan menolehkan wajah. Mataku mulai berkaca.
Reza seakan tidak peduli dan terus menghisap. Setelah agak lama barulah dia berhenti. "Sori," katanya, kata sori tanpa penyesalan. Parahnya dia melempar senyuman puas. Seketika dia seperti setan dimataku.
Aku tidak menggubris kata sori itu. Dalam sesaat aku langsung membenci Reza. Telaga bening pun mengalir dari sudut-sudut mataku. "Kamu jahat, Mas. Ini sama artinya kamu melecehkan aku."
"Terserah apa pendapatmu. Tapi Aku sama sekali tidak bermaksud melecehkan kamu. Aku hanya kepingin. Dan jangan berpura-pura kalau kamu tidak menginginkannya."
__ADS_1
Jelas Reza membuatku bingung karena selama ini dia selalu bisa menahan diri. "Kenapa? Hmm? Karena melihat Alfi dan Mayra tadi kamu jadi begini?"
Dia menganggukkan kepala. "Yeah. Aku benar-benar menginginkan itu sekarang. Boleh, kan?"
"Jangan bermimpi. Lepaskan aku atau aku akan teriak."
"Jangan naif. Aku tahu kamu juga mau," katanya. Ia pun menyelipkan tangannya ke balik bajuku -- berusaha melepas pengait bra-ku.
"Brengsek! Kamu jahat! Kamu merenggut habis rasa hormatku padamu."
Aku mulai bicara lebih keras, tetapi Reza langsung memelas. "Pelankan suaramu. Kamu tahu kan aku sedang sakit? Bagaimana kalau orang-orang datang ke sini dan menghakimiku? Please ya? Lagipula sebentar lagi kita akan menikah, keseluruhan kamu akan menjadi hakku."
"Tidak akan. Pernikahan kita batal! Jangan harap aku mau dinikahi lelaki brengsek sepertimu."
"Oh? Serius?" Reza menatapku dengan cengirannya yang lebar. "Bagaimana kalau aku hanya bercanda? Just a prank, Baby." Dia pun berdiri sambil cengengesan dan mengambil kamera yang tersembunyi.
Ya Tuhan... aku langsung menelungkup dan menutupi wajahku.
"Maaf ya... jangan nangis lagi. Aku cuma mau tahu reaksi kamu. Cuma ngetes kamu. Sini, lihat ke kamera."
Aku bangun dan mencebik. "Awas kamu. Akan kubalas nanti."
"Ya, ya, ya. Silakan, tapi sekarang senyum dulu ke kamera," katanya.
"Ogah!"
"I am sorry, Baby. Peace...," katanya. Ia pun menutup kamera, lalu duduk di dekatku.
"Kamu memanfaatkan anak kecil. Itu tidak baik, tahu!"
"Jangan berlebihan, Sayang. Aku cuma membujuk Tirta supaya dia mau memaksa kamu makan pizza itu."
"Kenapa kamu ingin mengetesku? Itu kan berbahaya. Kalau aku mau, bagaimana?"
__ADS_1
Reza tertawa. "Sori," katanya. Lalu ia menjelaskan dan mengatakan kalau dia tahu tentang janjiku -- janjiku pada Tuhan, untuk menjadi orang yang lebih baik dan tidak akan membiarkan imanku kembali menipis. Dia mengakui bahwa dia diam-diam membaca buku harianku -- buku catatan hari-hari bersejarah dalam hidupku. "Terima kasih, ya? Mungkin kalau orang lain tahu -- mereka akan menilai kamu lebay dan berlebihan. Tapi bagiku itu berarti, karena kamu rela mengorbankan diri kamu, kamu rela menukar kebebasanmu untukku. Sekali lagi terima kasih -- terima kasih banyak."
Aku mengangguk. Aku melakukan itu karena aku mencintai kamu. Saat itu aku benar-benar takut kehilangan kamu. "Ucapan terima kasih diterima. Tapi aku belum memaafkan kamu. Prank kamu keterlaluan!