CCI

CCI
97


__ADS_3

Cekrekkk...


Suara dan cahaya flash dari kamera ponsel Reza membangunkan aku pagi ini -- pagi pertamaku dengan status baru; istrinya -- Nyonya Inara Dinata. Aku menanggalkan nama belakangku dengan senang hati -- tanpa penyesalan sedikit pun. Sejak tahu keberengsekan ayahku, aku membenci nama Satria ada di belakang namaku. Aku senang karena menyandang status dan namaku yang baru.


"Selamat pagi, istriku." Reza menyapaku lalu mengecup bibirku sekilas. Dia menyebut itu sebagai morning kiss, dan seulas senyum ceria penuh cinta terbit dari wajahnya yang tampan.


"Pagi... suamiku." Ecieee... yang sudah bersuami. Aku langsung tergelak dalam tawa, seolah apa yang baru saja kuucapkan itu hal yang lucu. Rasanya aku masih belum percaya -- aku dan Reza sudah sampai ke titik ini -- titik di mana aku dan dia sudah terikat dalam hubungan pernikahan yang sah. "Lidahku masih kaku menyebut kamu suamiku."


Dia tersenyum. "Nanti juga akan terbiasa," katanya.


"Kamu memotretku, ya?"


"Kita. Berdua," sahutnya. "Wajah pertama yang kulihat saat aku membuka mata. Wajahmu di hari pertama sebagai istriku. Yang baru bangun tidur dan belum mandi"


Aku menjulurkan lidah. "Sok romantis," kataku sedikit mengejeknya. Untungnya dia tidak menggubris. "Kamu sudah mandi?" tanyaku lagi sambil menyentuh rambutnya yang sudah terikat rapi.


"Sudah dari subuh, keramas." katanya. Dia mengerlingkan matanya dengan nakal.


"Maaf ya," ujarku. Tanpa menanggapi kenakalannya.


"Tidak apa-apa. Toh, kamu juga belum salat. Tidak apa-apa bangun siang."


Aku tersenyum. Lalu berdiri dengan menyelubungkan selimut ke tubuhku -- hendak menuju kamar mandi. Saat itu Reza masih berbaring di tempat tidur. Dia memerhatikanku sambil cengengesan. Pasti dia merasa yang kulakukan itu lucu atau konyol. Mau bagaimana, aku masih merasa canggung di depan Reza jika hanya memakai dalaman. "Jangan malu-malu padaku sekarang," katanya.


Aku berbalik dan tersenyum padanya. "Aku tidak malu kok." Kemudian aku melirik selimut yang kubalutkan ke tubuhku erat-erat. "Baiklah, mungkin aku memang malu. Sedikit. Aku butuh waktu untuk membiasakan diri."


Aku keluar dari kamar beberapa puluh menit setelah itu. Aku sudah selesai mandi, berpakaian, dan berdandan. Reza sedang duduk bersama dengan ibuku dan Ihsan di meja makan, menikmati sarapan dan teh panasnya. Aduh... Harusnya aku yang menyiapkan itu, bukan Bunda. Jujur aku sangat malu karena bangun siang.


Kupeluk ibuku dan kucium pipinya. "Terima kasih, ya. Bunda mau repot-repot melakukan ini. Harusnya ini tugas Nara." Kukatakan itu sambil merangkul ibuku. Untungnya semua orang juga belum keluar dari kamar masing-masing, jadi aku tidak perlu menahan malu pada mereka semua.


"Tidak apa-apa. Bunda mengerti kok. Namanya juga pengantin baru. Capek, kan?" Ibuku tersenyum -- senyum yang penuh arti. Dia pasti mengira aku dan Reza sudah melewati malam pertama. Sebab, aku tidak menceritakan soal penusukan dan operasi yang dialami Reza kepadanya, pun kepada yang lain.


Aku dan Reza hanya saling melirik. Kutatap mata Reza dengan harapan dia mengerti; jangan sampai keceplosan. Aku tidak ingin ibuku khawatir dan berpikir macam-macam tentang musibah yang menimpa Reza itu.


Reza menganggukkan kepala. Aku lega dia mengerti dan tidak mengatakan apa-apa pada ibuku.


"Kalian mengobrol apa tadi?" tanyaku -- mengalihkan topik pembicaraan.


"Membahas rencana kita untuk tinggal di sini, untuk sementara. Bunda setuju, dan Bunda juga akan menetap di sini, bersama kita. Ya kan Bund?"


Ibuku mengangguk dan mengatakan iya. Aku senang -- benar-benar senang.


"Omong-omong, di sekitar sini ada yang jualan sarapan pagi, tidak?" tanya Reza.


"Ada," ibuku menyahut. "Memangnya kamu mau beli apa?"

__ADS_1


"Mau beli makanan, Bund."


"Ya iya lah... masa kamu mau beli batu koral." Kami semua tergelak.


"Reza tidak tahu namanya, Bund. Makanan itu warnanya putih, terbuat dari beras, digulung-gulung, disiram kuah gurih ditabur bawang goreng."


"Bugra!" kata Ihsan dengan semangat.


Seketika ruang dapur dipenuhi gema tawa kami -- aku dan ibuku. "Bugro kelles...," kataku. "Jangan mentang-mentang kamu sudah lama tinggal di Jakarta, semua huruf O kamu ganti dengan huruf A. Dasar..."


Ihsan tersipu karena kekeliruannya. Tapi karena dia juga sangat menyukai bugro, dia pun mengajak Reza untuk berburu kuliner pagi, dan hal itu hampir terjadi setiap hari sampai Ihsan dan orang-orang lainnya pulang ke rumah dan tujuannya masing-masing. Yeah, Ihsan harus bekerja dan kembali ke Jakarta. Ibuku sebenarnya tidak tega membiarkan dia tinggal sendiri, tapi ibuku juga mengkhawatirkan aku, ia takut aku belum terbiasa dengan kehidupan baruku, terlebih karena kami berada di kampung -- bukan tidak mungkin hal-hal yang bersangkutan dengan ayahku bisa merusak suasana.


Tapi lupakan tentang itu, karena aku sedang tidak ingin menceritakan tentang ayahku di bab ini. Oke? Mari kita lanjutkan.


Pagi itu, aku bahkan belum sempat melihat apa saja yang dibeli oleh Reza dan Ihsan, sekelompok cewek-cewek edan sudah menculikku dari ruang makan dan malah membawaku ke hadapan tumpukan hadiah yang tersusun di atas meja. Memang tidak banyak, tapi kuakui -- hadiah-hadiah itu sangat menarik perhatian, karena aku tahu isinya pastilah barang-barang yang nyeleneh yang bisa kutebak. Yang membuatku penasaran adalah surat-surat menjijikkan yang terselip di dalamnya -- surat dari si pemberi kado. Yeah, meskipun lapar, aku menuruti dulu kemauan mereka. Kami membuka kado berdasarkan urutan alfabet nama pemberi kado, dan isi surat itu wajib dibacakan di depan semua orang. Momen seperti ini baru diterapkan sewaktu pernikahan Zia. Sekarang giliranku.


Hadiah pertama, kado dari Aarin -- sebuah flashdisk.


Aku belum berpengalaman, tapi aku percaya bahwa lagu-lagu Hindi ini akan membuat suasana bercinta kalian lebih mesra dan lebih menyenangkan. Jangan lupa, sesuaikan gerakan kalian dengan irama lagu, dijamin pasti lebih " AHH "


"Ya ampun, anak ini benar-benar ketularan edan." Aku menepuk jidat di antara lelucon yang mereka lontarkan.


Kado kedua itu dari Alfi, kotak kecil yang bila diguncang-guncang tidak mengeluarkan suara. Nampak seperti kotak jam tangan, tapi mana mungkin isinya jam tangan. Kusuruh Reza yang membuka dan membaca isi suratnya. Dengan cepat Reza berhasil membuka kotak itu. Dia nyengir ketika melihat isinya. "Aku tahu ini untuk apa," katanya. Lalu dia membacakan isi surat Alfi.


Benda ini multifungsi.


Pertama, kau bisa menggunakannya ketika istrimu hendak kabur. Yap, borgol saja kaki dan tangannya supaya dia tidak bisa meninggalkanmu.


Dan fungsi keduanya adalah...


Kau bisa memikirkannya sendiri sobat.


Kalian bisa main polisi-polisian, borgol ini sangat cocok dengan "pistol" milikmu.


"Coba tunjukkan mana pistolmu," celetuk Alfi di antara gema tawa yang memenuhi ruangan.


Dasar edan!


Hadiah ketiga, hadiah yang sangat tidak penting dari Ari. Sekantong BULU. Mungkin dia mencabutnya dari sebatang kemoceng.


Untuk merans*ng, tulisnya.


Obat kuat. Kau bisa tanya padaku bagaimana khasiatnya. Atau Nara bisa tanya pada Zizi bagaimana nikmatnya bercinta setiap kali aku memakai obat ini spesial untuknya.


"Berengsek!" celetuk Zizi yang langsung memukul lengan Dimas.

__ADS_1


Oh ternyata, pendiam bukan berarti lugu. Kami semua ngakak melihat pasangan suami istri itu bercanda yang menurutku sedikit keterlaluan.


Berikutnya, Reza mendapatkan sekotak besar kon*om, pemberian Hengky. Dan itu gila. Sebanyak itu?


Kau akan membutuhkan ini di saat-saat tertentu. Tenang saja, expired-nya masih lama.


Hadiah berikutnya untuk kami berdua. Lampu tidur dari Ihsan.


Aku kan masih lugu. Jadi aku hanya bisa memberikan lampu tidur ini untuk kalian. Cahaya remang-remangnya akan membuat kalian...


Ah, pikiranku tidak kotor. Cahaya remang-remang itu akan membuat kami tidur nyenyak. Hayoloh... bagaimana dengan pikiranmu? Jangan-jangan...


Ah, lupakan. Selanjutnya aku membuka kado dari Zaza, dia memberiku tujuh set lingerie.


Lingerie \= adalah bahasa isyarat seorang istri kepada suami. Dengan memakai lingerie, Reza pasti mengerti kalau kamu sedang "kepingin." Seperti Mas Hengky, dia langsung nyosor setiap kali aku memakai lingerie. Ya kan Mas? Haha!


Kocak. Hengky langsung melempari istrinya itu dengan kertas pembungkus kado yang diremukkan.


Massage oil, aku mendapatkannya dari Zizi.


Tips bercinta ala barter. Kalau kamu sedang capek, tapi suamimu "memaksa." Suruh dia jadi tukang pijat dulu. Pijat yes \= ngangkang yes. Iya kan Mas Dimas? Hah!


Di antara gelak tawa orang-orang itu, jujur aku salut pada Dimas. Sebab, itu berarti dia bukan tipe suami yang mau enak sendiri. Justru itu namanya pengertian. Bagaimana denganmu nanti, Mas?


Reza mengerti tatapanku, dia melingkarkan jempol dan telunjuknya sebagai tanda oke, mudah-mudahan dia akan pengertian seperti itu. Iya atau tidak, aku akan mengetesnya suatu hari nanti.


Selanjutnya dari Zia. Dia memberiku kain penutup mata.


Bukan sesuatu yang penting, tapi ini berguna kalau nanti kamu mengalami badmood efek mabuk hamil sepertiku. Enek lihat cengiran suami yang minta main terus. Tutup matamu, buka sel*ngkanganmu, dan biarkan saja dia menggoyangmu. Peace...


Hmm... hmm... hmm... Ari menyembunyikan wajahnya dari semua orang. Zia... kau keterlaluan sis... Hmm...


Hadiah terakhirku dari Mayra, sengaja kubuka paling akhir karena itu kado paling besar, dibungkus kreatif menyerupai kantong belanja gemuk dengan kertas kado bercorak kupu-kupu warna-warni. Aku membukanya pelan-pelan, tidak mau merusak bungkusnya yang bagus. Dalam dua menit aku berhasil mengeluarkan hadiah dari Mayra; sebuah bantal untuk bercinta warna cokelat muda. Permukaannya sangat halus, nyaman untuk ditindih.


Aku tidak tahu harus menulis apa. Aku cuma bisa bilang; mau dari depan atau dari belakang, sama-sama NIKMAT.


Mayra nyengir. Aku menelan ludah.


Tapi di antara semua hadiah gila itu, pemberian dari Reza lah yang paling kusukai. Dia memberiku sebuah amplop berisi uang, "Nafkah lahir pertama untuk Istriku, Ny. Inara Dinata." tulisnya di atas amplop itu.


Ah... senangnya, senangnya, senangnya. "Minta uang yang lain...," kataku. "Yang ini mau kusimpan untuk kenang-kenangan..."


"Haddeh! Istriku sinting," Reza menepuk jidat.


What? Aku? Sinting? Kamu mengataiku sinting?

__ADS_1


__ADS_2