
Bram membukakan pintu mobilnya, mempersilahkan Aisyah masuk.
"Terimakasih..." Aisyah duduk di kursi jok depan, wajahnya yang manis itu menatap lurus ke depan.
Saat mobil itu menuju jalan raya, beberapa jenak mereka berdua saling diam.
"Maaf, jadi merepotkan." Suara Aisyah yang lembut itu memecah sunyi.
"Tidak apa-apa. Hari ini saya juga tidak ada kesibukan apapun." Jawab Bram.
Sekilas dia melirik pada Aisyah, perempuan ini ketika dilihat dari dekat benar-benar belia. Bram hampir yakin dia masih berumur belasan tahun. Paling banter di awal dua puluhan.
"Hari ini abah ulang tahun." Ucapnya lagi.
"Owh..." Bram menyahut, pura-pura tidak tahu.
"Pak Bram..."
"Jangan panggil saya pak, rasanya aku menjadi sangat tua." Bram terkekeh garing seakan berusaha mencairkan suasana.
"Aku harus memanggil apa?" Aisyah menoleh dengan wajah bersemburat, terlihat dia begitu sungkan.
"Panggil saja, aku Bram saja, atau mungkin mas Bram?" Tawar Bram, sesaat dia tercekat dengan ucapannya sendiri. Dia jafi teringat pada Diah, selama ini mantan istrinya itu memanggilnya dengan mas Bram.
Aisyah menundukkan wajahnya yang malu-malu segan itu, dia selama ini tak pernah memanggil orang dengan panggilan mas.
"Atau aku begitu tua sehingga tidak cocok di panggil dengan mas atau kakak, ya?" Bram berusaha melunakkan suasana. Dia ingat, tahun ini dia sudah berusia tigapuluh satu tahun.
"Bukan...bukan begitu..." Aisyah menyahut buru-buru.
"Hanya saja, saya memang jarang bertemu dengan banyak orang, maksudnya saling berbicara seperti ini. Abah melarangku terlalu dekat dengan laki-laki. Takutnya menjadi fitnah." Aisyah menunduk.
Bram mengerutkan keningnya sedikit heran mendengar pernyataan perempuan yang telah menjanda dalam usia yang begitu muda ini dan sekarang dia berstatus single parent, mengurus anak laki-laki, yang dalam beberapa tahun lagi akan menjadi remaja.
__ADS_1
Itu tentunya bukan hal yang mudah, apalagi tanpa figur seorang ayah.
Sekali lagi, ingatan Bram melayang pada Diah, yang kini juga sedang menjadi seorang single parent setelah bercerai dengannya. Dia menelan ludahnya dengan getir. Sesakit-sakitnya Diah tapi mungkin dia lebih beruntung, sekarang mantan istrinya itu bekerja dengan Sarah, yang setahu Bram dalam ketegasannya, perempuan itu baik hati dan bijak. Berbanding terbalik dengan Sally, adiknya yang manja itu, meskipun Bram bertahun-tahun terjerat dalam kemaksiatan bersama Sally.
Selain itu, Bram merasa Diah akan bertemu laki-laki yang sungguh-sungguh mencintainya.
Beberapa minggu yang lalu, dia bahkan berbicara dengan Doddy, eksekutif muda yang tampan itu, pewaris tunggal perusahaan keluarga Ferdian.
Bram tak bisa bohong dengan gejolak cemburu yang melanda hatinya, mendengar pengakuan Doddy bahwa laki-laki itu telah mencintai mantan istrinya itu sejak lama.
Dia tak tahu apakah dia egois atau perasaannya yang begitu bodoh, sehingga merasa begitu sakit mendengar ada seseorang yang begitu meratukan istrinya.
Tapi di sudut hatinya yang lain dia merasa lega, ada seseorang yang tak akan menyia-nyiakan istrinya itu.
Setidaknya setelah kesakitan yang di berikannya pada Diah, terlihat Doddy begitu tulus pada mantan istrinya itu.
"Mas Bram, bisakah saya minta tolong?"
Bram beberapa detik terdiam, mendengar Aisyah memanggilnya dengan mas, dia merinding sendiri, hanya Diah seorang di dunia ini yang pernah memanggilnya dengan panggilan Mas.
"Oh, tentu saja." Bram menyahut dengan setengah gelagapan.
"Kita berbelok kiri di perempatan depan, aku akan singgah sebentar di suatu tempat."
"Suatu tempat?"
"Ya."
Bram tak melanjutkan pertanyaannya meski dia sedikit penasaran, kenapa mereka harus singgah di suatu tempat sebelum mengantar Aisyah berbelanja.
Bram menganggukkan kepalanya dan mengikuti arah yang di tunjuk Aisyah.
Beberapa saat mereka berdua kembali di landa hening, Aisyah memeluk tasnya dan sebuah rantang makanan dari plastik.
__ADS_1
Mungkin dia akan singgah di rumah seorang teman atau mungkin memang ada kepentingan sebentar sebelum benar-benar menuju pasar.
Tak sampai delapan menit, mereka berhenti di depan sebuah Rumah besar dengan pagar yang cukup tinggi, di dalamnya tak terlihat seperti apa rumah itu.
Dan yang membuat Bram sedikit bingung, rumah sakit itu bertulis
"PANTI REHABILITAS MENTAL RUH SIHIYA"
"Kita singgah di sini?" Tanya Bram dengan ragu.
"Ya."
Bram tak lagi bertanya, saat dengan tergesa Aisyah keluar dari mobil.
"Mas Bram boleh menunggu di sini, saya tak akan lama." Aisyah menoleh pada Bram sejenak sebelum dia benar-benar keluar.
"Oh, kalau dik Aisyah menyuruh aku menunggu, aku akan menunggu. Kalaupun aku di suruh menemani masukpun aku juga tak keberatan." Sahut Bram sambil tersenyum simpul, melihat wajah Aisyah yang sesaat meragu.
"Di dalam mungkin bukan pemandangan yang nyaman, tetapi saya memang harus ke sana."
"Tentu saja, jangan sungkan. Aku tidak akan kemana-mana. Silahkan masuk ke sana, siapa tahu dik Aisyah sedang di tunggu. Jangan cemaskan aku." Bram urung mematikan mesin mobil.
Aisya menatap Bram dalam, dan menghela nafasnya.
"Aku menemui salah satu pasien di dalam sana. Aku mengantarkan makanan kesukaannya, lontong sayur dan orak arik tempe." Suara Aisyah terdengar sedikit berat.
"Dan pasien itu mungkin memang sedang sangat menungguku, dia...dia ibuku." Aisyah berkata dalam nada getir, sebuah pengakuan yang menyayat hatinya sendiri, yang jarang dia ungkapkan pada orang lain.
Bram terkesima, dia tak mengeluarkan sepatah katapun, sampai Aisyah keluar dan menutup pintu mobilnya, membunyikan bel pagar tinggi itu, dan beberapa waktu kemudian dia hilang di baliknya.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
__ADS_1
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...