CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 49. PERGI TAK SEMPAT PAMIT


__ADS_3

Dan sang ibu, hanya menatap kosong keluar jendela tetapi matanya terlihat berkaca-kaca. Entah dia mengerti apa yang di sampaikan Aisyah ataukah dia sedang larut dalam kesedihannya sendiri di dalam dunia yang menjebak alam sadarnya.


Beberapa saat Aisyah menangis di pangkuan ibunya seperti seorang anak kecil. Dia melepaskan semua rasa sakit dan kehilangannya di kaki perempuan yang melahirkannya itu.


Setelah kemudian dia menghapus air matanya dan bangun, menuntun ibunya menuju kamar mandi. Dia memandikan sang ibu seperti bayi, dan mengenakan pakaian bersih dengan penuh kasih sayang. Atifa hari ini terlihat lebih tenang, dia ajan selalu begitu jika Aisyah yang mengurusnya.


Sebenar Aisyah beberapa kali mempertimbangkan ingin merawat sendiri ibunya di rumah. Tetapi, ibunya ini kadang mengamuk dan berteriak tidak jelas, takutnya ibunya kambuh pada saat Aisyah tak ada di rumah atau pak Syarif tidak berada di tempat, sehingga Pak Syarif tetap memutuskan Atifa di rawat di panti saja. Mereka lah yang berkunjung secara berkala ke panti.


"Ibu, hari ini Aisyah membuat bubur ayam untuk ibu."


Setelah Aisyah membuat ibunya duduk dengan tenang dalam pakaian rapi dan bersih, dia mengeluarkan sebuah rantang dari dalam tas kresek yang di bawanya.


Atifa duduk seperti seorang anak yang penurut, dia memegang lengan Aisyah saat Aisyah mulai menyuapinya.


"Ibu, saat Aisyah kecil, ini adalah menu kesukaan Aisyah saat sahur yang paling sering di masak ibu untuk Aisyah, ibu menyuapi Aisyah seperti ini sambil bercerita jika ayah akan pulang di hari raya membawakan aku baju baru dan kue yang banyak." Ucap Aisyah sambil tersenyum.


"Ibu tak pernah mengajari aku membuatnya, tetapi aku selalu bangun dan berdiri melihat ibu membuatnya. Bukan karena aku ingin belajar membuat bubur tetapi aku senang melihat senyum ibu ketika sedang membuat bubur itu. Ibu begitu bersemangat, karena ayah akan segera pulang dari tempatnya bekerja." Aisyah terus mengoceh sambil menyuapi ibunya. Sementara, sang ibu terus makan dengan lahapnya.

__ADS_1


"Tetapi, rasa bubur yang di buat Isah tak pernah sama dengan rasa bubur yang di buat ibu. Sayangnya, ibu tak sempat mengajari Aisyah cara membuatnya supaya rasanya seenak buatan ibu. Aisyah sangat rindu dengan rasa bubur yang di buat oleh ibu sehingga Aisyah selalu berdoa ibu segera sehat lagi, segera bisa tersenyum lagi, supaya bisa mengajari Aisyah membuatnya dengan benar..." Aisyah menyeka sudut bibir ibunya yang celemotan.


Tiba-tiba Atifa menutup mulutnya dan menatap lurus pada Aisyah. Matanya berkaca-kaca dan memegang dagu Aisyah dengan gemetar.


"Isah..." Panggilnya lirih. Airmatanya keluar begitu saja.



"Ibu?" Aisyah menyahut dengan gemetar.


"Ibu? Ibu ingin pulang?" Aisyah terpana, dia tak berkedip menatap mata yang berair itu. Rasanya, Aisyah sedang melihat ibunya yang baru bangun dari tidurnya. Kepala ibunya tak bergeming, matanya tiba-tiba berkedip-kedip, seakan menghalau airmatanya sendiri.


"Ibu ingin pulang, nanti ayahmu marah kalau dia datang, ibu tidak di rumah." Suara itu merengek seperti anak kecil.


"Isah...tolong panggil Isah, dia tidak boleh bermain setelah mengaji. Ayahnya akan mencarinya..."


Aisyah menghela nafasnya, ibunya kembali ke dalam dunia halusinasinya, dia hanya berharap terlalu besar jika ibunya segera sembuh kembali.

__ADS_1


"Kaka Syarif!!! Kak Syarif!!!" Tiba-tiba ibunya berdiri. Dia berlari ke arah jendela.


"Kak Syarif!! Kemana kak Syarif? Kak Syarif bilang dia akan membawakan aku buah mangga dari pasar. Kak Syarif!!!"


Airmata Aisyah tak bisa di tahannya, melihat ibunya yang berteriak-teriak memanggil abah. Aisyah tahu, jika ibunya sedang rindu dengan abah dia akan berteriak-teriak seperti itu. Ekspresi itu selalu di lakukan ya untuk mencari abah selama ini. Dan dia akan tenang saat melihat abah tiba dan memeluknya.


"Abah tak lagi bisa menjenguk ibu seperti biasa lagi. Abah...abah tak bisa memeluk ibu lagi. Abah sudah pergi, sebelum sempat pamit kepada ibu." Tangan Aisyah gemetar memegang rantang di tangannya, air matanya mengalir tak tertahan lewat pipinya.


"Kak Syarif yang paling ibu sayangi, tak pernah bisa datang lagi. Karena itu, cepatlah sembuh ibu, supaya Isah bisa membawa ibu berkunjung ke rumah abah yang baru..." Ucap Aisyah sambil tersedu.


Hari ini, Aisyah banyak menangis, dia menumpahkan semua rasa sedih dan kehilangannya di depan ibunya yang bahkan hampir tak menyadari kehadiran dirinya itu.


(Akhirnya double UP ya😅🙏 Terimakasih sudah menunggu🤗)


...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2