
Besok adalah hari di mana Bram merencanakan untuk mempertemukan orangtuanya dengan ayah Bram. Pertemuan itu akan berlangsung di Cafe & Resto yang baru di buka Bram beberapa bulan terakhir.
Cafe & Resto itu tak besar tetapi tepat di sebelahnya, Bram telah membeli sebuah rumah minimalis bertingkat dua. Bangunan itu tidak seberapa luas, hanya ada satu ruang tamu, ruang santai dan dapur kecil, di lantai bawah sementara di atasnya ada dua buah kamar tidur dengan masing-masing balkon, sebuah ruang binatu dan kamar pakaian.
Rumah itu jauh lebih kecil dari rumah yang pernah ditempatinya dengan Diah ataupun rumah milik orangtuanya. Tetapi Bram merasa puas karena rumah itu hasil dari jerih payahnya sendiri tanpa menadahkan tangannya pada orangtua. Hasil kerja kerasnya satu setengah tahun mengembangkang toko bakery dan dua cafe baru.
Rumah itulah yang akan dipersembahkan sebagai rumah masa depannya dengan Aisyah.
"Sungguh aku tak lagi ingin semua kesenangan dunia kecuali bersamamu sekarang, Aisyah."
Sebucin itu Bram pada Aisyah, karena segala sesuatu tentang diri Aisyah membuatnya sekarang sangat menginginkan gadis cantik nan sederhana itu.
Aisyah berdiri di depan gedung Panti, dimana selama kurang lebih sepuluh tahun ibunya terkurung di sana, selama itulah sebenarnya penderitaan Aisyah telah berlangsung.
Beberapa malam ini Aisyah telah merenungkannya, dia akhirnya menyerah. Dia akan mengatakan sejujurnya pada orangtua Bram besok, tentang keadaan ibunya. Suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Andaipun besok, orangtua Bram menarik restunya di depan ayahnya sekalipun, dia berjanji tak akan menangis. Tak ada yang harus di sembunyikannya. Bahkan jika garis asal usulnya menjadi bahan pertimbangan dia harus melepaskan semua mimpinya.
"Bukan karena aku tak ingin untuk tetap bersamamu, mas Bram. Tapi jika keluargamu tak bisa menerima keadaan keluargaku maka aku akan mundur. Sejelek apapun orangtuaku, aku tak bisa membiarkan orangtuaku menjadi bahan celaan di kemudian hari oleh siapapun." Ucap Aisyah pada Bram.
Sebenarnya Bram hanya meminta Aisyah tidak usah berbicara apapun di pertemuan besok, dan biarlah Bram saja yang memberi keterangan soal ketidak hadiran ibunya. Bram meminta setidaknya setelah mereka berdua menikah saja, biarkan cerita soal ibunya itu di diamkan dulu.
Setelah hampir lima belas menit dia hanya terpaku sambil memeluk rantang di tangannya, dia membuatkan masakan kesukaan ibunya, urap sayur dan pepes ikan mas.
Hari ini dia ingin makan bersama ibunya, menyuapinya dan bercerita tentang hidupnya yang tak pernah memberi pilihan untuk bahagia.
Petugas membukakan pagar, dia tersenyum cerah menyambut Aisyah.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan ibuku?" Tanya Aisyah.
"Bu Atifa semakin baik saja, meskipun tak pernah mau di ajak bicara. Dia sekarang mengurus dirinya dengan baik." Ucap Petugas dengan pakaian warna abu-abu rokok itu.
Aisyah menganggukkan kepalanya sambil tersenyum,
"Aku akan membicarakan dengan perawat yang mengawasinya soal bagaimana kemungkinan jika aku merawat ibu di rumah saja." Aisyah berucap setengah bergumam.
Petugas yang sudah sangat mengenal Aisyah itu hanya mengerutkan keningnya, dia hendak menyahut tapi Aisyah membungkukkan badannya dan berlalu dari hadapannya tanpa memberi kesempatan dirinya menanggapi. Setelah melaporkan kedatangannya pada bagian lobby kecil di samping pintu teras itu, Aisyah masuk.
Aisyah melewati lorong itu, berpapasan dengan beberapa orang perawat dan pasien lainnya, hari masih cukup pagi snti itu terasa hidup dengan teriakan, obrolan dan ocehan yang terdengar dari balik beberapa kamar.
Pintu kamar ruang ibunya tak berkunci, dia hanya mendorongnya dari luar, karena pintu itu tampak setengah terbuka.
Di dalamnya dia melihat seorang perawat sedang membereskan ransum makanan sang ibu, sementara ibunya duduk dengan rapi menghadap meja kecilnya.
Setelah berbasa basi sebentar dengan Aisyah, perawat itu meninggalkan Aisyah dengan ibunya.
"Ibu, hari ini ibu terlihat cerah." Aisyah meletakkan rantang di tangannya dan menurunkan tas dari bahunya. Dia meraih tangan ibunya dan menciuminya.
Ibunya tak seperti biasa, matanya tak lepas dari Aisyah sedari Aisyah masuk hingga kemudian mengambil sebuah kursi plastik dari sudut ruangan dan duduk di seberang meja kecil tempat ibunya usai makan, seperti dua orang teman yang ingin berbicara.
"Ibu, apa kabarmu hari ini?" tanya Aisyah seperti biasa, pertanyaan monoton yang selalu di lontarkannya meski dia tahu ibunya tak akan menjawab seperti harapannya.
Atifa tak menyahut apapun, tapi matanya terlihat berembun, bibirnya terbuka meski tak bersuara.
"Ibu..." Aisyah meraih jemari ibunya yang tergeletak di atas meja, terkepal aneh begitu rupa.
__ADS_1
"Isah memasak urap dan pepes hari ini, tetapi ibu sudah makan. Biar saja makanan ini untuk ibu makan siang nanti. Hari ini Isah akan menemani ibu seharian. Tito sudah ku titipkan dengan mbak Retno sampai sore. Hari ini Isah hanya ingin bersama ibu." Aisyah mengoceh sambil tersenyum, membelai punggung tangan ibunya.
Sesaat suasana menjadi hening, hanya nafas mereka berdua saling bersahutan. Aisyah hari ini tak berani menatap mata kosong ibunya itu, dia menunduk, menyembunyikan kesedihannya.
"Tahukah ibu?" Bisiknya dengan suara parau,
"Aku jatuh cinta pada mas Bram." Ucapnya dengan getir, dia tak perduli ibunya mengerti atau tidak dengan apa yang di bicarakannya. Dia hanya ingin menumpahkan perasaannya, berbicara tentang kerisauannya dan kesedihannya seperti biasa di depan ibunya, jika hatinya sedang bersedih atau gelisah.
Atifa terlihat sedikit menegang, matanya menatap lekat pada Aisyah.
"Isah tahu tak mudah untuk Isah bisa bersanding dengan mas Bram, dia adalah orang yang cukup berada dan dari keluarga yang sempurna." Ucap Aisyah serupa keluh.
"Isah sangat sadar diri, mungkin Aisyah terlalu terbuai mimpi. Tetapi, mas Bram begitu meyakinkan. Aisyah hanya mempunyai satu harapan yang mungkin terlalu tinggi, ibu dapat mendampingiku saat aku mendengarkan mas Bram mengucap ijab qobul. Memegang tanganku dan..." Air mata Aisyah menitik di atas lengannya. Punggungnya bergetar, menahan isaknya. Ini hanya curahan hatinya, sebelum mungkin mimpinya akan menguap besok ketika orangtua Bram tahu, ibunya adalah orang dengan gangguan jiwa.
Atifa tiba-tiba menarik jemarinya dari dalam genggaman Aisyah.
"Dan...ibu akan melakukannya, Isah..." Suara itu terdengar gemetar terucap dari bibir Atifa.
(Maafkanlah othor ini, kematin absen menulis😅😅😅 kesibukan dunia real life sungguh luar biasa🤭🤭 Terimakasih buat doa para readers sehingga othor selalu di sehatkan🙏)
Bagaimanakah kelanjutan cerita ini? Apakah Aisyah bisa mewujudkan mimpinya? Yuk tunggu lanjutannya, mudah-mudahan hari ini bisa UP lagi ya 😅
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
...Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis...
__ADS_1