CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 41. APAKAH KAMU BAHAGIA?


__ADS_3

Bram menggigit bibirnya, saat mengantar Bella ke apartemen Diah, setelah 12 hari Diah berangkat ke tanah suci.


Dan yang membuat hatinya berdegup kencang, yang menyambut di lobby adalah Doddy dan Diah.


"Mama..."


Bella menghambur ke pelukan Diah, sepertinya sangat rindu dengan mamanya. Kemudian menciumi punggung tangan Diah dan Doddy dengan takzim.


Bram menyalami Diah dan Doddy, wajah Diah sedikit salah tingkah sementara Doddy terlihat tenang dengan senyum ramah.


"Hai, Bella. Apa kabarmu?" Doddy memeluk Bella, yang entah mengapa membuat Bram merasa darahnya berdesir cemburu melihat bagaimana puterinya begitu dekat pada laki-laki lain selain dirinya, kecemburuan seorang ayah yang pertama kali di rasakannya.


"Kabar Baik, om eh..."


"Sekarang kamu tidak boleh memanggilku om lagi. Mamamu sudah memberitahukanmu kan di telpon kemarin."


"Oh, iya...ayah, kan?"


Bram terkesiap, rasanya kalimat itu seperti petir di telinganya.


Sebuah pelukan hangat pada Bella di berikan Doddy, sungguh tak bisa di cegah oleh Bram. Laki-laki itu seolah mengambil tempatnya di hati Bella.


"Assalammualaikum..." satu kata itu yang bisa Bram ucapkan.


"Wa'alaikumussalam." Doddy dan Diah menyambut bersamaan.


"Terimakasih sudah menjaga Bella."


"Tidak masalah, Bella juga adalah anakku." Sahut Bram, menyambut ucapan Diah.

__ADS_1


"Bella, ayo ke atas, ayah dan mamamu membawa banyak oleh-oleh." Doddy menggandeng tangan Bella dan tersenyum pada Diah.


"Mungkin kalian perlu waktu bicara, sayang. Aku akan membawa Bella ke atas."


Diah tak sempat mencegah Doddy untuk masuk ke lift sambil menggandeng Bella, anak itu asyik berceloteh, terlihat dia sangat senang bertemu kembali dengan Doddy.


Diah dan Bram berdiri berhadapan, sepertinya Diah tak berniat duduk kembali dan mengobrol dengan Bram, dia terlihat sangat sungkan.


"Selamat telah menunaikan ibadah umroh..." Bram memulai kalimat itu dengan lidah yang serasa kelu.


"Terimakasih, mas." Senyum Diah terlihat manis tiba-tiba meski hanya muncul beberapa saat di bibirnya.


"Terimakasih sudah menjaga Bella." Diah menarik koper Bella dari depan Bram.


"Kalian tampak bahagia." Bram terkekeh, mengalihkan pembicaraan.


"Kami..." Diah terdiam sesaat, kemudian matanya tertumbuk pada cincin emas bertatah berlian yang ada di jari manisnya.


Kini, ada cincin baru yang berkilau dan tampak begitu cocok berada di sana.


"Kami...aku dan Doddy sudah menikah di tanah suci." Diah mengangkat wajahnya, mengabarkan berita itu kepada Bram dengan penuh keyakinan.


Bram seperti baru saja di sambar petir, telinganya terasa berdenging, mulutnya sedikit terbuka, menatap Diah tanpa tahu harus mengucapkan apa.


"Maafkan aku jika tidak mengatakan ini lebih dulu. Tapi semuanya serba mendadak." Lanjut Diah. Bram menelan ludahnya, berusaha membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering.


"Mas Bram, baik-baik saja?" Diah mengerutkan keningnya.


"Oh, aku hanya...bahagia...Jujur, hati aku sangat bahagia mendengar tentang pernikahanmu, Diah. Akhirnya, Ini adalah masa di mana kamu akan menikmati indahnya hidup berumah tangga. Tak ada yang bisa mewakili rasa bahagia ini, kecuali dengan doa untuk kalian berdua. Semoga rumah tanggamu sakinah mawadah warrohmah..." Bram mengerjapkan matanya, dia terlihat berusaha tersenyum tapi ekspresi menjadi aneh.

__ADS_1


"Tetapi...di sudut hatiku yang lain, aku tak bisa bohong, Diah..kabar tentang pernikahan kamu membuat hati aku sakit. Entah kenapa." Bram menunduk sesaat, telapak tangannya tanpa sadar memegang dadanya sendiri. Diah menatap Bram tak berkedip.


"Namun aku menyadari, bahwa inilah yang terbaik untuk semuanya. Doaku akan selalu menyertai setiap langkahmu ke depan. Semoga kamu bahagia dan damai dalam menjalani rumah tangga nanti. Semua pelajaran burukmu di masa lalu bersamaku, semoga bisa kamu lupakan."Bram merasakan matanya sedikit panas, dia segera nembuang tatapannya ke arah resepsionis Lobby, menghindari tatapan Diah yang melekat ke wajahnya.


"Terimakasih, mas..." Suara Diah terdengar pelan. Sesaat suasana hening antara mereka berdua.


Ketika Diah memutuskan untuk pamit meninggalkan Bram dan menyudahi pertemuan canggung mereka, tiba-tiba Bram bertanya,


"Apakah kamu bahagia, Diah?" Tanyanya getir.


Diah tertegun, lalu mengangkat wajahnya lurus pada Bram.


"Aku pernah mencintaimu dengan sederhana meskipun tak selalu bisa sempurna, mas. Tapi, sekarang ini justru perasaanku terasa jauh lebih sempurna ketika aku bersama-sama dengan orang lain yang mencintaiku. Jika kamu bertanya apa aku bahagia? Insya'allah mas aku sangat bahagia." Jawab Diah dengan pasti tanpa keraguan sedikitpun.


"Dan begitu pula harapanku untukmu, aku berdoa untukmu suatu aat aku melihat kamu bahagia dengan seseorang, yang mampu mengisi kekurangan dan kelebihanmu. Do’a terbaikku akan selalu ku kirimkan untukmu, mas Bram. Apapun dan siapapun yang kamu pilih dalam perjalanan hidupmu, aku akan selalu berharap yang terbaik untukmu. Tuhan akan selalu melindungi dan menuntun kamu kepada kesejatian dan keabadian cinta." Diah menghela nafasnya sesaat.


"Hanya jika kamu bertemu pelabuhanmu yang baru, jangan pernah kamu mengulang menyakitinya dengan cara yang sama, karena tak semua orang sanggup di perlakukan seperti itu." Diah tersenyum, senyum yang manis. Sebelum kemudian dia mengucapkan selamat malam dan salam. Lalu setelahnya, menghilang di balik pintu lift meninggalkan Bram yang terpaku sendiri tanpa sanggup membalas ucapan salam mantan istrinya itu.


Lama dia berdiri di sana, dengan dada yang terasa sesak, seperti benar-benar kehilangan sesuatu dan tak mungkin bisa melihatnya kembali.


Bunyi ponsel menyadarkannya, membuatnya kembali ke alam nyata.


Di rogohnya saku celananya, mengambil ponselnya, nomor tak dikenal mengirimkan sebuah pesan WA.


"Tuan, saya punya informasi tentang pak Faraz."



Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....

__ADS_1


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


__ADS_2