CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 86. SAH


__ADS_3

Bram menatap terpana pada Aisyah yang terlihat begitu anggun dan menawan dalam balutan gaun putihnya itu, matanya bersinar seperti cahaya bintang. Aisyah sungguh seperti seorang bidadari bercadar yang berjalan dalam langkah perlahan.


Aisyah yang cantik itu, di tuntun oleh mbak Retno dan ibunya, Atifa. Ibu Aisyah mengenakan kebaya berwarna krem senada dengan jilbabnya. Hari ini, Faraz terpukau dari ujung meja Ijab pada sosok ini. Sisa kecantikan Atifa masih melekat, usianya bahkan tak bisa membohongi bahwa perempuan setengah baya itu juga mempesona. Aisyah, putrinya seolah jelmaan sang ibu di masa muda.


"Duduklah di sini." Ibu Bram yang berpenampilan ekslusif itu menyambut Aisyah dengan tatapan puas, dia berdiri dan menunjukkan tempat di sebelahnya. Dimana kemudian Aisyah duduk di apit oleh ibunya dan mama Bram.


Pernikahan itu dilaksanakan secara sederhana, di hadiri oleh kedua keluarga dekat Bram dan orangtua Aisyah, bahkan ada Bella dan Tito yang nampak tampan dan cantik di jejeran saksi keluarga, dua anak itu duduk tenang dan terluhat tak sabar sekaligus bahagia menunggu acara pernikahan kedua orangtua mereka. Beberapa tetangga dekat Aisyah juga hadir.


Bram benar-benar mengatur pernikahan itu dengan begitu simple dan sederhana. Bram sendiri mengenakan kemeja koko warna putih. Terlihat rapih dan tampan dengan wajah yang tercukur rapi.


Sepanjang malam, Bram hampir tak bisa memejamkan matanya, dadanya berdebar hebat, tak pernah dia begitu gugup dan bahagia seperti yang di rasakannya saat ini. Membayangkan akad nikah yang di jalaninya keesokan hari membuatnya kadang lupa memikirkan apapun.


Dia pernah menikah tetapi tetap saja mengucapkan kalimat ijab qobul itu terasa seperti mengingat rumus matematika, berulang-ulang Bram menghafal kalimat ijab qobul yang meskipun begitu pendek tetapi rasanya lebih sulit dari menghafal kitab undang-undang yang panjang.


Sejenak Bram mencuri pandang pada Aisyah ketika gadis itu duduk di belakangnya tidak jauh. Seakan memastikan Diah tidak hilang dari pandangannya. Aisyah menundukkan wajahnya, menerima pandangan Bram yang seolah berusaha menembus cadar yang di gunakannya, dia berusaha tersenyum tetapi dia menjadi salah tingkah sendiri sampai-sampai tak bisa melakukannya dengan benar kecuali menundukkan kepalanya.


Bram dengan tegak duduk menghadap meja ijab Qobul di mana ayah Aisyah duduk di seberangnya beserta seorang penghulu.


"Karena tidak ada lagi yang kita tunggu dan semua orang sudah hadir,


baik calon mempelai laki-laki dan perempuan, wali, keluarga kedua belah pihak serta kerabat hadiri yang bersedia hadir untuk menyaksikan prosesi ini, kita bisa langsung saja memulainya dengan mengucapkan Bismilah..." Kalimat itu di ucapkan oleh MC acaranya, seorang petugas dari KUA. Di lanjutkan dengan pembacaan do'a dan membaca ayat suci.


Bapak penghulu yang murah senyum itu menyampaikan sebuah khutbah nikah yang pendek, di hantar dengan ucapan syukur dalam hamdalah, istigfar sebelum masuk ke prosesi inti.


Tiba saatnya menjelang pengucapan ijab qobul.


"Saudara Bramantyo apakah Anda setuju untuk menerima Saudari Aisyahrani sebagai calon istri saudara dengan mahar seperangkat alat sholat ini?"

__ADS_1


"Ya, saya bersedia..." Sahut Bram mantap.


Pertanyaan itu diulang tiga kali sampai Bram menjawab dengan suara tegas,


"Iya, saya bersumpah pak, saya bersedia, sungguh..."


"Tidak perlu bersumpah saudara Bram, sumpah-sumpahan itu berat." Celetuk pak Penghulunya, yang membuat suasana menjadi cair dan sedikit riuh karena tingkah Bram.


Saat akan memasuki proses ijab kabul, kedua mempelai didampingi dengan walinya diarahkan untuk duduk di depan meja ijab qabul. Penghulu beserta para saksi dihadirkan dalam proses tersebut. Penghulu berkewajiban untuk memimpin jalannya pelaksanaan.


Faraz, ayah Aisyah sebagai wali nikah puteri kandungnya sendiri, menjabat tangan Bram yang sedingin es itu tetapi lembab berkeringat,


"Saudara Bramantyo bin Prasetyo, saya nikahkan dan kawinkan Aisyahrani binti Faraz, putri kandung saya, kepadamu, dengan mas kawinnya seperangkat alat shalat dibayar tunai."


Bram menarik nafasnya dalam satu tarikan, sambil memegang tangan ayah Aiyah dengan eratnya.


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Aisyah binti Faraz dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai."


"Sah?"


"Sah!"


"Saaaaaaaah!!"


Air mata Atifa menetes, jatuh di atas buku tangannya, di tatapnya dengan haru puterinya ketika Bram mengenakan cincin di jemari manisnya dan dengan takjim mencium punggung tangan Bram yang kini menjadi suaminya. mereka bukan lagi dua melainkan satu dalam pernikahan suci.


Bram meraih lembut dagu Aisyah dan mencium lembut dahi Aisyah yang kini menjadi istrinya, jodoh yang dipercayainya datang dari doa-doa di sepertiga malamnya.

__ADS_1


Mereka adalah sepasang suami istri yang telah sah sekarang.



Seorang ustad, sahabat abah Syarif hadir hari itu, laki-laki bersorban itu memberikan nasehat pernikahan bagi mereka, yang begitu menyentuh hati Bram.


"Menikahlah karena itu adalah sunnah. Wajib hukumnya bagi yang merasa siap dan mampu untuk melaksanakannya. Pernikahan merupakan sebuah perjanjian. Sebuah tanggung jawab yang besar akan bagi seorang laki-laki yang mempersunting wanita dari orangtuanya untuk diajak hidup bersama. Laksanakan karena keikhlasan, tanggung jawab dan mengikuti sunah supaya bisa bernilai ibadah."


Bram mendengarnya sambil menganggukkan kepalanya dengan mantap, sementara tangannya memegang erat jemari Aisyah.


"Pernikahan itu ibarat bersama-sama berjalan menyusuri sebuah jalan, terkadang tak selamanya mulus karena di satu titik mungkin berbatu dan tidak rata, pernikahan terlihat indah dan mudah dijalani di awal, tetapi itu semua tak akan selamanya seperti itu, ada kalanya pernikahan mengalami masa sulit bahkan pertengkaran. Jangan berfikir menikah itu hanya berisi pelukan saja tetapi pasti ada perkelahian."


Saat mendengar itu, Aisyah menoleh pada Bram, dan seketika mereka bertemu pandang, membuat Aisyah kembali menundukkan wajahnya dengan tersipu.


"Tetapi yakinlah selama kalian saling bergandengan tangan, berpegang satu sama lain. Ketika terjatuh, tak akan benar-benar sakit. Jika dalam perjalanan itu kamu merasa tak puas dengan apa yang kalian capai bersama maka sikap qana’ah adalah kewajiban yaitu ikhlas menerima dan berusaha untuk merasa cukup dari apa yang telah dilakukan.


Laki-laki tetaplah menjadi tiang dan perempuan adalah penyangganya, supaya terus bisa berdirilah rumah tangga itu. Dan ingatlah suami, saat kamu menikah di hadapan Allah maka halallah istrimu bagimu, janganlah kamu memenuhi sy@hw@tmu pada yang haram, itu berdosa. Tetapi jika memenuhi sy@hwatmu pada yang halal, kamu beroleh pahala”


Wajah Faraz memerah, dia mencuri pandang pada Atifa, perempuan itu menatap lurus ke depan tanpa memindahkan pandangannya.


"Dalam pernikahan kalian boleh jatuh cinta berkali-kali....tetapi pastikan selalu itu terhadap orang yang sama."


Nasehat pernikahan yang indah itu menutup rangkaian acara pernikahan sederhana Bram dan Aisyah.



(Terimakasih para readers sudah menghadiri ijab qobul Aisyah dan Bram🤗🤗🤗 Jangan bilang gak sabar nunggu Unbox!ng, ya🤣🤣🤣)

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis


__ADS_2