
Pintu tiba-tiba berderit. Wajah pucat Aisyah menyembul dari balik pintu. Matanya menatap Bram dengan kilat takjub, seolah dia sedang menanti laki-laki di depannya itu dalam kecemasan yang tak bisa di ceritakannya.
"Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Aisyah membuka pintu lebar-lebar saat melihat sosok Bram.
Ada sinar lega yang aneh sesaat terpancar di matanya yang sendu itu.
Dua minggu ini, Bram memang tak ada menyambangi Abah. Dia sibuk mengurus cafe dan toko bakerynya yang mulai ramai. Mamanya telah menyerahkan semua urusan usaha itu padanya berikut manejerialnya.
"Mas Bram..."
"Aisyah."
Bram menaikkan alisnya melihat wajah Aisyah yang tak seperti biasanya itu.
"Abah ada?"
"Abah di dalam, beliau sedang tidur."
"Abah sedang tidur?" Bram mengerutkan keningnya. Aisyah menganggukkan kepalanya.
"Pantas saja aku mencari beliau di mesjid pagi ini tetapi beliau tak ada."
"Kami baru pulang kemarin siang."
"Pulang? Pulang dari mana?"
"Pulang dari rumah sakit."
"Hah? Rumah sakit? siapa yang sakit?" Bram bertanya dengan bingung, suaranya menjadi cemas.
"Abah..."
"Abah? Abah kenapa? Kenapa kamu tidak memberi tahuku?" Tanya Bram bertubi-tubi dengan raut terkejut.
"Aku...aku takut mengganggu mas Bram." Aisyah menunduk.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Kita ini keluarga. Abah adalah orangtuaku yang kedua. Seharusnya kamu memberitahukan aku hal sepenting ini." Bram terlihat benar-benar khawatir.
"Masuklah..." Aisyah menyela, memberi jalan untuk Bram masuk ke dalam rumah.
"Aku akan membuatkan mas Bram kopi sambil menunggu abah bangun, aku tak ingin membangunkan abah, karena setengah jam yang lalu aku memberikannya obat. Dia tertidur baru beberapa menit yang lalu."
"Tidak usah, Aisyah. Tidak usah repot-repot, aku hanya ingin bertemu abah tadinya."Bram duduk di kursi kayu ruang tamu dengan tak enak.
"Abah sakit apa?" Tanya Bram, membuat Aisyah mengurungkan niatnya untuk pergi ke belakang.
Aisyah perlahan duduk di kursi seberang meja sambil merapikan ujung kerudungnya dengan ragu.
"Abah...abah terkena gejala stroke."Jawab Aisyah kemudian.
"Stroke? Bagaimana keadaannya sekarang?" Bram terkesima.
"Abah tak apa-apa. Kejadiannya seminggu yang lalu, kami dan wak Agil langsung membawa Abah ke rumah sakit. Abah terkena serangan stroke saat sedang menghadiri acara selamatan tambak baru di rumah wak Agil."
"Bagaimana keadaan Abah? parahkah?"
"Hanya saja dokter mengatakan harus di rawat dengan baik, mungkin untuk strokenya tidak apa-apa karena suplai darah ke otak akibat penyumbatan emboli di pembuluh darahdi otak hanya terjadi sebentar saja. Tetapi, selain hipertensi abah di curigai mengalami penyakit jantung." Aisyah bercerita dengan wajah yang tak lagi bisa menyembunyikan ketakutannya.
Bram melongo mendengarnya, dia menatap Aisyah dengan tegang.
"Abah...abah tak apa-apa, kan? Kenapa dokter menyuruhnya pulang?"
"Abah tak apa-apa, mas. Dia sudah tak apa-apa, hanya badannya sebelah kanan masih sedikit kaku. Dokter bilang, hanya perlu istirahat dan minum obat dan banyak di ajak bergerak, abah akan cepat pulih." Aisyah menjawab dengan volume rendah seolah mengerti Bram mencemaskan abah dari sorot matanya yang terlihat tegang itu.
"Oh, syukurlah kalau begitu." Bram menghela nafasnya dengan sedikit lega.
"Tapi kita harus tetap memeriksakan abah lebih intensive. Besok atau lusa, aku akan membawa abah kepada dokter spesialis saja, biar diagnosanya lebih meyakinkan dan pengobatannya lebih jelas." Tambahnya dengan serius.
"Ti..tidak usah..." Aisyah menundukkan kepalanya dengan gelisah.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku...aku mungkin bisa merawatnya di rumah saja, dokter juga mengatakan hanya menjaga pola makannya, istirahatnya...obatnya...aku hanya perlu...aku hanya perlu menjaga abah lebih baik lagi..."
"Aisyah..." Bram menyela sambil mengerutkan kening mendengar kalimat Aisyah yang di ucapkannya dengan terbata-bata itu.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan biayanya. Aku yang akan mengurusnya."
Aisyah terdiam sejenak, menatap Bram dengan mata bulatnya yang cantik.
"Abah pasti tidak ingin kamu melakukan itu untuknya." Gumamnya dengan suara bergetar.
"Tapi aku mau melakukannya dengan ikhlas dan senang hati untuk abah. Kamu tahu Aisyah, aku berhutang banyak pada abah bahkan tidak seujung kuku bisa membalas meski dengan apapun yang ku lakukan ini padanya." Bram menatap hangat pada perempuan yang tampak gelisah di depannya itu.
Aisyah tak lagi menjawab, seolah menekan dilema yang sedang melanda hatinya. Dia takut menerima bantuan Bram tetapi dia juga tak bisa bohong sangat membutuhkannya sekarang.
Sejenak mereka saling diam, terkurung dalam sunyi yang tercipta tiba-tiba.
"Kalau abah masih istirahat, aku akan pulang dulu. Aku tak ingin menganggu istirahatnya. Aku akan kembali nanti atau besok. Hubungi saja aku jika kamu memerlukan sesuatu." Bram beranjak untuk berdiri, dia memutuskan untuk pulang, dia tak bisa tinggal lebih lama jika hanya berdua dengan Aisyah, hatinya sedang tak baik-baik saja di tambah dengan kabar Abah yang membuatnya cemas. Tetapi dia sedikit tenang mendengar abah baik-baik saja sekarang.
"Mas Bram..." Aisyah memanggil dengan suara yang ragu, mendonggak dengan tatapannya yang membuat Bram tak berkedip.
"Bisakah mas Bram tinggal sebentar menunggu abah bangun saja." Suara itu terdengar memohon dalam nada bimbang.
"Aku akan kembali nanti, aku takut menjadi fitnah untukmu jika..."
"Abah berpesan kemarin, jika mas Bram datang...beliau ingin bicara dengan mas Bram..."
(Yeaaaaay, sudah double UP ya hari ini, doakan besok lagi kita bisa double UP lagi😅)
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1