CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 16 BERPURA-PURALAH LUPA


__ADS_3

Aisyah sungguh tak bisa melupakan hari naas itu, sepanjang hidupnya, ketika ibunya berteriak-teriak melawan bunyi hujan di dalam kamar sambil menunjuk ke arah jendela, paman Syarifnya berlari dari dalam dapur masih memegang secangkir kopi panas, sepertinya dia baru saja menyeduh kopi untuk dirinya.


"Aaaaaa...aaaaa....tolong...toloooooong, anakku, anakku...dia terbang...!"


Atifa berteriak dengan mata bulat besar dan merah menunjuk ke arah luar jendela.


Faiq tertelungkup di atas tanah, tanpa suara, hujan deras membuatnya seperti boneka yang basah kuyup.


Anak istimewa itu, nasibnya sungguh tragis, meregang nyawa dilempar ibunya sendiri dari jendela, meski rumah mereka tak bertingkat tapi bayi mungil itu menghantam pinggir teras, tubuh mungil yang rentan dan lemah itu tak berdaya, dia bahkan mungkin tak sempat merasakan sakit.


Syarif melolong seperti orang gila tanpa sadar melempar gelas kopinya dan melompat melewati jendela yang memang tanpa teralis itu.


Tangisan pilu Syarif di tengah hujan, memeluk dan menggoncang bayi dalam yang berada di pelukannya, warna merah di basuh hujan. Faiq tak bergerak lagi.


Syarif menangis sejadi-jadinya, sambil berlari ke puskesmas terdekat berharap Faiq bisa di selamatkan tetapi Tuhan berkata lain, dia yang memberi, dia pulalah yang berhak mengambil. Entah apa rencana Tuhan, tetapi cahaya untuk mengantar Faras kembali kepada Atifa sepertinya memang harus padam, semua kenangan buruk yang tersemat dalam rupa Faiq atas Faras, Tuhan ambil kembali.


Atifa kehilangan kewarasannya karena cinta.


Ingatan itu, terasa seperti hantu, kadang lewat di ingatan Aisyah hingga dia tumbuh dewasa. Dan setiap kali kenangan itu lewat dia hanya bisa memejam matanya. Aisyah tak pernah bisa benar-benar berhenti melupakan setiap ingatan itu, meski abah selalu mengatakan,

__ADS_1


"Setiap kenangan buruk itu lupakan, jangan mengingatnya jika hatimu sakit. Jika kamu tidak bisa benar-benar lupa, berpura-pura lah lupa. Allah memberikan ujian dan pengalaman hidup yang berat selalu ada tujuannya, meski kamu menolaknyq, cobaan akan datang pada siapa saja. Namun mereka tidak pernah datang tanpa alasan, selalu ada hal baik yang bisa didapatkan dari sebuah cobaan yang datang silih berganti."


"Abah, bagaimana bisa aku lupa? Wajah Faiq yang pucat tetapi berdarah itu selalu ku lihat meski mataku terpejam. Aku benci ibu, dia telah melemparkan adikku."


"Nak, bagaimanapun keadaan ibumu, dia tetap adalah ibumu. Jangan membencinya karena itu membuatmu terjerat dalam akar pahit, terlebih jangan pernah kamu membenci Tuhan karena kesakitan yang kamu alami. Bawalah dirimu lebig dekat pada Allah, dalam kepasrahan penuh, biarkan Tuhan mengatur semua rencanaNya atas hidupmu. Jika kamu menjauh dari Tuhan karena ujian hidupmu, itulah yang membuatmu akan seperti ibumu, kehilangan dirinya, tersesat dalam kesedihannya sendiri."


Aisyah tahu betapa besar ujian hidup yang telah di alami pamannya itu, dari kehilangan kedua orang tua mereka di saat dia masih remaja, harus mengurus adiknya, Atifa yang masih anak-anak dan ketika Tuhan memberinya kebahagiaan dengan kehadiran Asniah, bibinya Aisyah, sang istri yang sangat di cintainya, tetapi semua tak berlangsung lama. Bibinya itu sakit hampir lima tahun dalam kelumpuhan kemudian, meninggal dalam pelukannya saat pulang dari sholat tarawih, meninggalkan seorang puteri yang masih kecil.


Tak ada yang setabah paman Syarif yang kini di panggilnya abah itu, saat dia berjuang dalam kesulitan hidup, ibunya dan dia menjadi beban buat pamannya ketika ayahnya meninggalkan mereka begitu saja di tengah malam buta.


Dan yang terakhir, puterinya Rahimah, kakak sepupu Aisyah meninggal bersama suaminya, dalam sebuah kecelakaan bus dalam perjalanan setelah mudik dari kampung suami Rahimah.


Dan rahasia kenapa dia tetap waras sampai saat ini melalui semua ujian hidupnya itu, dia menyerahkan hidupnya secara penuh ke tangan Allah, Tuhan yang sangat di cintainya.


"Kenapa Tuhan selalu memberikan ujian berat dalam hidup kita? Tuhan tidak menyayangi kita? Orang lain tidak pernah mengalami kepahitan seperti yang Tuhan timpakan kepada kita?" Kadang kala Aisyah bertanya demikian pada Abah.


"Setiap orang memiliki ujiannya masing-masing dalam hidup. Kita tak bisa membandingkan ujian yang kita alami dengan ujian yang orang lain hadapi. Semuanya punya takaran yang berbeda. Setiap orang pasti punya masalah hidup, yang membedakan hanyalah bagaimana cara mereka dalam menghadapinya."


"Bagaimana cara menghadapinya, Isah merasa Isah tak sanggup menghadapinya, abah. Kadang Isah takut dan lelah dengan apa yang terjadi."

__ADS_1


"Nak, berpeganglah pada Allah, niscaya kamu tak akan merasa takut, Tuhan tak akan salah dalam memberikan ujian. Jika kau tak mampu, Ia tak akan memberikan itu padamu. Kenapa kamu terpilih melewati jalan sesulit ini, karena Allah tahu kamu orang yang tepat menjalaninya. Mengeluh tidak akan pernah bisa memperbaiki keadaan, jadi terus hadapi saja, sambil berzikir, sambil bertahajud supaya kita di lapangkan hati, di berikan ikhlas dan kesabaran." Lelaki yang semakin hari tampak semakin tua itu selalu memberikan kekuatan kepada Aisyah.


"Ada banyak cara untuk melalui sebuah ujian. Maka hadapilah dengan tenang dan tawakal. Ujian dalam hidup akan membawamu pada kehidupan yang lebih baik. Membuatmu naik level sebagai manusia, dan bersiap menuai pahalamu di akherat nanti. Hujan boleh deras, dia boleh membawa petir dan angin ribut besertanya tetapi tak ada hujan yang tak berhenti. Jadi bersabarlah..."


Aisyah telah kenyang dengan semua nasehat pamannya sekaligus ayah baginya itu, karena itu dia tumbuh sebagai gadis yang kuat. Gadis cantik yang tulus dan kuat dalam himpitan trauma dan kesulitan hidup.


"Jadi, anakku Isah, semakin Allah cinta pada seseorang, maka ujian yang diberikan padanya bisa semakin berat. Karena ujian tersebut akan semakin menaikkan derajat dan kemuliaannya di hadapan Allah."


"Rasanya Tuhan tidak adil, abah...teman Isah di sekolah lebih di sayangi Tuhan, Ninis dari kecil selalu bahagia, orangtuanya lengkap tidak ada yang pergi dan tak ada yang mengalami gangguan mental seperti ibu. Ninis juga adiknya dua, kembar dan lucu-lucu. Mereka punya mobil, rumah besar. Sepertinya Allah lebih mencintai Ninis dari pada Aisyah." Dulu Aisyah sering protes tentang ini pada Abah.


"Nak Isah, orang yang paling dicintai Allah adalah para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang yang paling berat menerima ujian semasa hidupnya. Bahkan tahu kah kamu nak, ujian hidup mereka sangat berat melebihi ujian yang diberikan kepada manusia lainnya. Pernahkah kamu mendengar tentanga kisah Nabi Ayub? pada salah satu nabinya ini Allah SWT mengujinya dengan kemiskinan setelah mengambil semua kekayaannya. Nabi Ayub juga dalam kelaparan juga menanggung penyakit yang sangat berat selama berpuluh-puluh tahun, tapi ia tetap sabar. Beliau tetap menyerahkan hidupnya pada Tuhan dalam kepasrahan tanpa pernah berburuk sangka. Dan Akhirnya Allah mengembalikan kebahagiaannya berlipat ganda dan menaikkan derajatnya."


"Abah, aku juga ingin beriman seperti nabi Ayub...."



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2