
Bram menjalankan mobilnya dengan perlahan menembus kabut di awal subuh. Seperti biasanya, seperti yang di lakukannya beberapa minggu ini secara rutin, dia akan pergi masjid kecil di pinggiran kota di mana pak Syarif menunggunya.
Seperti seseorang yang haus, dia akan selalu menunggu dengan rindu setiap subuh di setiap harinya, datang membantu pak Syarif membersihkan masjid, melihat lelaki tua itu mengumandangkan adzan, dan
menjadi sholat bersama. Dan setiapp pagi juga dia akan menikmati kopi manis yang di suguhkan oleh Aisyah, puteri pak Syarif. Kopi yang menurut pak Syarif di tumbuk sendiri oleh anaknya itu. Cita rasanya yang khas, benar-benar berbeda dan kini sepertinya diam-diam telah membuat Bram seolah merasa kecanduan.
Meskipun beberapa hari belakangan ini, Bram selalu bertemu Aisyah di teras rumah mereka yang sederhana, dia tak pernah sekalipun berbicara dengan Aisyah. Bram tak pernah merasa begitu sungkan dan hormat pada seorang perempuan seperti dirinya ketika berhadapan dengan Aisyah.
Dia juga tak pernah berkeinginan mencari tahu tentang perempuan muda yang cantik dan sederhana itu, meskipun dia sesungguhnya sedikit penasaran dengan status Aisyah, yang dalam usia menurut Bram begitu belia telah menjadi single parent dan memiliki anak yang berusia delapan tahunan itu.
Jika merunut dari apa yang dilihatnya, mungkin Aisyah telah menikah pada usia yang sangat muda, sehingga memungkinkan akhirnya dia melahirkan puteranya bernama Tito itu. Entah kemanakah suaminya, bercerai atau mungkin meninggal, sehingga sekarang dia menjadi janda di usia yang sangat belia. Jika benar begitu maka nasib Aisyah sungguh malang, menderita bahkan sebelum dia benar-benar dewasa.
Bram tak hendak terlalu berspekulasi apalagi bersuudzon tentang masa lalu Aisyah, yang dia sadari sekarang perempuan itu dalam kesahajaannya sedikit banyak mencuri perhatian Bram.
Tapi, Bram rutin datang kepada pak Syarif sungguh tak ada kaitannya dengan kopi yang di suguhkan Aisyah ataupun keberadaan perempuan itu, Bram bersungguh-sungguh sedang berusaha menyembuhkan jiwanya
dalam proses perjalanan dirinya memperbaiki diri.
Dia sekarang merasa lebih tenang saat bersujud di bawah bimbingan pak Syarif, mendengar pencerahan-pencerahannya yang sama sekali tak menggurui ataupun menghakiminya itu. Bahkan dosa-dosanya tak menjadi penghalang untuk dirinya merasa di hargai.
Bram memarkir mobilnya tepat di depan masjid yang sudah terang benderang, suara sholawat yang di putar dari dalam masjid terdengar mengharu biru.
Sejenak Bram menatap ke atas langit, bintang-bintang masih berkerlipan seperti ribuan pasang mata malaikat yang sedang mengawasi manusia di kala dini hari tiba. Seolah sedang menikmati syair sholawat dan doa-doa yang sedang di lantunkan oleh mahluk di bawahnya. Bulanpun bersinar tak kalah hangatnya, di pagi buta yang masih gelap itu, bulan sabit bercahaya dengan anggun, cahayanya menyamai bintang-bintang yang berpendar di
sekelilingnya.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, abah…” Sapa Bram saat melihat pak Syarif sedang berdiri di teras sambil memegang sapu. Lalu dengan penuh hormat dia menciumi punggung tangan laki-laki itu, dia memang di minta pak Syarif memanggilnya dengan abah saja, supaya lebih dekat katanya. Dia merasa sungkan saat Bram selalu memanggilnya dengan panggilan pak.
“Saya merasa panggilan seperti itu terlalu formal, seolah saya seorang pejabat kelurahan atau semacamnya.” Kata pak Syarif.
“Kalau nak Bram memanggil saya dengan abah, rasanya menjadi lebih dekat dan tak terlalu berjarak. Kita ngobrol juga lebih enak.”Kata laki-laki tua sederhana itu.
Dan Bram menurutinya, karena dia juga merasa sangat menghormati laki-laki yang telah banyak membantunya untuk keluar dari lingkaran neraka yang selama ini menjebaknya.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”Sambut pak Syarif, wajahnya begitu segar.
“Aku menunggumu dari tadi nak Bram, aku kira kamu tak datang pagi ini.” Pak Syarif berucap, suaranya
terdengar senang sekali.
“Masuklah, sebentar lagi kita harus mengumandangkan adzan subuh. Segeralah berwudhu.” Ujar pak Syarif
sebelum kembali masuk ke dalam.
Bram bergegas menuju samping masjid membersihkan diri dan berwudhu.
Seperti biasa dia segera mengambil tempat tidak jauh dari tempat dimana pak Syarif berdiri selaku muadzin untuk mengumandangkan adzan untuk mendirikan sholat. Selanjutnya setelah pak Syarif mengumandangkan iqomah,
Bram melakukan sholat dengan khidmat. Sekarang dia tak perlu lagi di bimbing oleh pak Syarif dalam mengucapkan do’a-do’a. Bram benar-benar berusaha keras untuk khusuk. Beberapa warga yang berdekatan dengan masjid kecil itu juga ikut menunaikan shalat di tempat itu, beberapa hari ini memang tak lagi hanya mereka
berdua yang selalu berada di masjid saat subuh. Menjelang bulan Ramadhan yang datang sebentar lagi, menurut pak Syarif masjid kecil itu akan lebih banyak didatangi.
__ADS_1
Azan subuh terasa menggetarkan relung sanubari setiap insan, ketika asma Allah di perdengarkan. Perlahan fajar akan terbit diiringi sejuta doa yang mengagungkan maha penciptanya. Tak ada yang lebih damai dari saat subuh, ketika hari akan di mulai dan orang-orang akan menyambutnya dengan sujud syukur atas hari yang baru dan nafas kehidupan yang masih diberikan oleh Dzat yang menciptakannya.
Bram sungguh menemukan pengalaman yang maha damai tak terlukiskan dalam waktu-waktu bersama Pak Syarif. Dan dia bersyukur saat dia hampir kehilangan arah dia dipertemukan pada laki-laki tua nan bijaksana ini.
Setelah selesai menunaikan sholat, seperti biasa pula Bram akan duduk dengan pak Syarif, berhadapan, mereka akan berbicara mengenai segala hal yang selalu menenangkan Bram jika mendengarnya.
“Nak Bram, dalam hitungan minggu lagi kita kan memasuki bulan Ramadhan.” Kalimat itu terdengar halus.
“Alangkah indahnya jika kita mempersiapkan diri untuk memasuki bulan suci ini, perbanyak berdo’a, perbanyak berniat serta berbuat baik. Insyaallah ibadah kita akan diterima dan berjalan lancar.”
“Tapi…” Bram menunduk, dia tampak ragu melanjutkan.
“Tapi kenapa?”
“Aku lupa kapan terakhir kali melakukan ibadah puasa.” Lanjut Bram dengan malu-malu.
Pak Syarif mengangkat alisnya, jauh di dalam lubuk hatinya mungkin dia heran, orang seusia Bram, tidak bisa dikatakan sekedar muda tetapi sudah dewasa, dalam usia tigapuluhan dan dia adalah seorang muslim, rasanya aneh mendengarkan orang lupa kapan dia pernah menunaikan ibadah puasa.
“Apakah kamu tahu nak Bram, apa makna berpuasa?” Tanya pak Syarif dengan hati-hati, seolah takut menyinggung perasaan laki-laki yang duduk dengan kaki berlipat di depannya.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1