
"Tak sabar unbox!ng." Jawab Bram sambil nyengir pada Aisyah.
"Unbox!ng? Unbox!ng itu apa?" Tanya Aisyah dengan polos. Matanya berbinar, begitu lugu.
"Hush, Bram!" Mama Bram melotot pada Bram yang disambut derai tawa Bram, dia hanya bercanda tapi jauh di hati dia serius dengan ucapannya. Dia tak sabar mensahkan Aisyah.
Papa Bram tak bisa menahan gelaknya melihat kepolosan Aisyah.
"Jangan juga terburu-buru begitu lah. Di siapin dulu matang-matang. Anak gadis orang juga mau lho di nikahin bener-bener, orangtuanya juga ingin melihat anaknya nikah baik-baik, di acarakan meriah. Ya, kan?" Mama Bram membelai bahu Aisyah, dia tak bisa menepis rasa sayangnya saat melihat anak ini.
"Kapan kamu membawa mama dan papa bertemu papa dan mama Aisyah? mama harus segera bertemu kedua orangtua Aisyah untuk menentukan waktu. Niat baik tidak perlu di tunda."
Pertanyaan itu sebenarnya begitu lumrah tetapi segera membuat Bram tertegun terlebih Aisyah, dia terdiam dan tertunduk, tak tahu harus berbicara apa.
"Kita akan bertemu mereka." Sahut Bram kemudian dengan sedikit ragu, matanya mencuri pandang pada Aisyah yang semakin menunduk.
"Hanya saja..." Bram berusaha terlihat biasa, dia sendiri masih belum yakin harus mengatakan apa soal kondisi kejiwaan ibu Aisyah.
Bram bukannya malu, tetapi kadang-kadang orangtua suka mempertimbangkan soal silsilah keluarga orang lain. Dia takut, jika dia mengatakan ibu Aisyah tidak sehat mentalnya dalam sepuluh tahun ini dan ayahnya bagaimana, itu menjadi batu sandungan untuk hubungan mereka berdua Aisyah ke depannya.
"Ibunya Aisyah sedang sakit dan ayahnya juga...belum terlalu sehat."
"Mereka sedang sakit semua? Bagaimana sih maksudnya?" Mama Bram terlihat bingung dan prihatin.
"Bukan...bukan begitu, tapi...mereka sudah hidup terpisah lama. Dan kondisi kesehatan mereka sedang tidak terlalu baik." Bram berusaha menjelaskan.
"Orang tua Aisyah bercerai?"Mama Bram mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Ya, semacam begitulah." Bram menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Semacam begitu? Ngomong yang jelas. Sudah bercerai atau bagaimana?"Mama Bram menatap anaknya itu dengan bingung.
"Mereka sudah...sudah bercerai." Aisyah menyahut, ragu. Dia hanya ingat surat sang ayah bahwa dia telah menalak ibunya sebelum meninggalkan ibunya. Entah itu sah atau tidak, setidaknya itulah status orangtuanya yang bisa di jelaskannya.
"Betul begitu, Aisyah?" Tanya mama Bram, penuh selidik pada Aisyah.
Aisyah hanya mengangguk, salah satu yang di takutkannya dalam hidup adalah ketika keluarga pihak keluarga calon pasangannya menanyakan bobot, bibit, bebetnya. Dia adalah korban perceraian yang tak jelas, ayah yang pergi meninggalkan ibunya dan anak dari seorang ibu yang tidak sehat mentalnya. Dia tak pernah tahu bagaimana cara menjelaskan itu.
"Tidak apa-apa, mereka bercerai bukankah demi kebaikan mereka. Tak ada yang menghakimi keputusan orang untuk melakukan yg di anggapnya lebih baik untuk dirinya sendiri. Seperti Bram dan Diah, mereka bercerai karena alasan tertentu dan sekarang hidup mereka masing-masing jauh kebih baik dari sebelumnya. Aisyah seumpama Bella, dia tak tahu apa-apa dengan itu. Jadi jangan takut, itu hal yang biasa dalam hidup." Ucapan papa Bram terdengar bijak, berusaha menenangkan Aisyah yang terlihat tegang.
"Apakah kalian akan tetap bisa mengatakan tidak apa-apa jika tahu ibuku adalah orang yang sakit jiwa?" Bisik Aisyah dalam hati, jujur memang harus di lakukan tetapi dia tidak siap sekarang.
...***...
"Ya, aku tahu. Tak ada yang perlu di sembunyikan. Tapi, bisakah kita menundanya setelah kita resmi menikah?" Bram terlihat bimbang.
"Kita harus memberitahukannya, sebelum mas Bram menikahiku. Aku tak ingin menipu keluarga mas Bram."
"Bukan menipu, Aisyah. Kita hanya menunda memberitahukannya."
"Mas Bram takut mereka mencabut restu untuk kita?"
Pertanyaan Aisyah terdengar biasa saja tetapi menusuk sampai ke jantung Bram.
Bram terdiam. Dia tak bisa memungkiri, sedikit takut respon orangtuanya tidak sesuai dengan harapannya.
__ADS_1
"Aku tidak takut jika orangtua mas Bram tak merestui hubungan kita karena silsilah keluargaku. Aku bisa menerimanya. Aku terlahir dalam keluarga yang miskin dan berantakan. Tak ada yang ku sesali dengan itu."
"Apa maksudmu, Aisyah?"
"Berarti Mas Bram bukan jodohku. Bukankah Allah akan menunjukkan berbagai cara dan jalan untuk mengatakan bahwa kita berjodoh atau tidak?" Mata Aisyah sedikit berembun saat mengatakannya.
"Aisyah!" Bram menyela dengan nada sedikit meninggi. Diraihnnya jemari Aisyah yang terkepal di atas meja.
"Kamu adalah jodohku. Aku percaya kamu adalah jodoh yang dikirim Allah untukku. Jika tidak tertulis seperti itu di buku perjodohan kita, aku yang akan menulisnya sendiri." Kalimat Bram terdengar tegas dan serius.
"Dengan apa mas Bram menulisnya?" Aisyah bertanya sambil mengerjap matanya yang mulai mengaca.
"Dengan semua dzikirku, dengan semua tahajjudku! Aku akan memaksa Tuhan menjodohkanmu denganku jika perlu. MemaksaNya dengan setiap do'a dalam butiran tasbih yang di berikan abah padaku!"
Aisyah terpana, dia tak pernah melihat Bram begitu serius bahkan rahangnya mengeras saat mengatakannya.
"Bagaimana bisa kita memaksa Tuhan...?" setetes air mata jatuh di sudut mata Aisyah.
Bram tak bergeming, jemarinya meremas tangan Aisyah tanpa sadar dengan sedikit kuat.
"Selama niat kita baik, tak ada yang mustahil. Aku yang akan meyakinkan orangtuaku untuk menikahimu tak perduli latar belakang keluargamu. Dengan Bismillah aku meminangmu dan aku percaya kalimat penutupnya adalah Alhamdulillah."
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
...Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis😂...
__ADS_1