CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 8. SEBUAH MAKNA


__ADS_3

 “Aku lupa kapan terakhir kali melakukan ibadah puasa.” Lanjut Bram dengan malu-malu.


Pak Syarif mengangkat alisnya, jauh di dalam lubuk hatinya mungkin dia heran, orang seusia Bram, tidak bisa dikatakan sekedar muda tetapi sudah dewasa, dalam usia tigapuluhan dan dia adalah seorang muslim, rasanya aneh mendengarkan orang lupa kapan dia pernah menunaikan ibadah puasa.


“Apakah kamu tahu nak Bram, apa makna berpuasa?” Tanya pak Syarif dengan hati-hati, seolah takut menyinggung perasaan laki-laki yang duduk dengan kaki berlipat di depannya.


Bram terdiam, matanaya tak berkedip menatap pada pak Syarif, dia sama sekali tak berusaha menjawab, karena dia benar-benar tak tahu, kecuali setiap bulan Ramadhan pada setiap tahunnya, seorang umat muslim wajib melakukan puasa. Selebihnya, dia sama sekali tak bisa menjabarkan dengan benar. Dia terlalu tua untuk mengingat apa yang di ajarkan oleh guru agamanya di waktu kecil, selama ini dia begitu tenggelam dalam kehidupan duniawinya sehingga segala hal yang berhubungan dengan Tuhan dia nyaris lupa.


Dia ingat, sang istri selalu mencoba membangunkannya untuk sahur di pagi-pagi buta tetapi dia akan dengan marah menghardik istrinya karena menganggu tidurnya yang lelap.


Dan dia juga pernah mengamuk hampir membalikkan meja, ketika saat dia bangun tak ada makanan yang tersaji di atas meja, sementara hari hampir siang.


“Kenapa tidak ada makanan di sini? Apa pekerjaanmu sepanjang hari ini? Tidur? Kamu tahu artinya melayani suami? Kenapa kamu menjadi istri sama sekali tidak becus? Kamu tidak perlu melakukannya kalau kamu tidak mau, kita punya pembantu, tinggal kamu suruh saja apa susahnya, Hah!”


Ingatan itu tiba-tiba kembali, ketika dia marah besar dengan Diah suatu kala.


“Tapi, mas…” Diah tertunduk ketakutan, dia masih memakai mukena, mungkin baru saja sholat atau semacamnya.


 “Kamu tahu, ini yang membuatku tidak betah tinggal lama di rumah, dalam hal apapun kamu sama sekali tak becus! Dari urusan melayani di tempat tidur sampai urusan dapur, kamu sama sekali tidak pintar. Ini yang selalu kau sebut sebagai istri?” Dia hampir saja melemparkan sebuah tempat tissue ke arah Diah, ketika Diah menghambur padanya dan memegang pergelangan tangannya. Beni yang duduk di kursi meja makan sambil memegang sebuah buku gambar menatap mereka dengan mata kuyunya. Terlihat dia sangat ketakutan mendengar papanya berteriak dengan keras kepada sang mama.

__ADS_1


“Mas, tadi aku telah membangunkan mas untuk sahur, tapi mas tidak mau bangun.”


“Kamu yang bod0h kenapa membangunkan orang sedang tidur untuk makan! Sekarang aku lapar…”


“Tapi ini bulan puasa, mas. Sebagai umat muslim, kita wajib berpuasa…”


“Jangan mengajariku tentang kewajiban. Karena aku tidak akan mendengarmu. Buatkan akau makanan sekarang!”


“Mas, tidak baik makan di depan anak-anak saat bulan puasa, aku telah mengajarkan mereka untuk berpuasa, sebagai orang tua tidak baik jika kita memberi contoh yang tidak…”


“Astaga…hentikan ceramahmu itu, Diah!” Bram menghempaskan tangannya di atas meja, bersamaan dengan tangisan Beni yang memeluk mamanya dengan sempoyongan, dan dengan senyum lebar Diah memeluk Beni, tanpa memperdulikan mata Bram yang melotot sebesar kelereng.


“Tidak apa-apa, sayang…tidak lapa-apa.” Diah menenangkan Beni, tapi Bram bisa melihat air mata yang di seka perempuan itu dengan ujung mukenanya.


Dosanya terasa seperti batu besar, menghimpit pundaknya, membuat kepalanya tertunduk demikian dalamnya, hampir tak mampu di angkatnya.


“Aku…aku tak tahu apa-apa tentang puasa. Aku tak tahu, seperti apa berpuasa. Aku…aku sungguh berdosa.” Dua bulir bening jatuh di sudut matanya. Dia tak berani mengangkat kepalanya sama sekali.


“Kamu tahu nak, kenapa bulan Ramadhan selalu di rindukan? Satu bulan itu adalah bulan yang penuh dengan rahmat dan keberkahan sehingga di dalamnya ada pengampunan dan doa dikabulkan. Pada bulan ini juga ada jaminan pembebasan dari api neraka bagi mereka yang mengisi bulan suci dengan penuh keikhlasan.” Pak Syarif tersenyum, matanya berbinar hangat ketika perlahan Bram mengangkat kepalanya menatap kepada lelaki tua itu.

__ADS_1


"Saat kita berpuasa, kita ikut merasakan kelaparan dan dahaga, merasakan keseharian yang dialami oleh saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Kita mungkin tak pernah merasa kekurangan, kita mungkin tak pernah merasakan kelaparan tetapi dari berpuasa kita belajar memahami bahwa nasi di atas piring adalah benda berharga bagi sebagian orang yang kurang mampu. Berpuasa memberitahu kita tentang seperti apa itu sesungguhnya persaudaraan, dan keindahan saat kita bisa berbagi.” Pak Syarif merapikan pecinya, senyumnya tampak lebar dan tulus saat bercerita.


“Nak Bram, jika kamu adalah muslim, baligh, berakal, mampu, muqim dan tidak memiliki penghalang-penghalang, maka sebuah kewajiban untukmu menunaikan ibadah puasa.  Puasa adalah ibadah kepada Allah ta’ala yang disertai niat, yaitu niat karena Allah ta’ala.”


“Apakah berpuasa hanya untuk menahan lapar dan haus?” Pertanyaan itu terlontar tanpa bisa di tahan oleh Bram. Betapa minim yang dia tahu tentang ibadah ini, kecuali di masa kecil jika dia berhasil melewati puasa maka dia akan mendapatkan angpao atau di belikan sesuatu oleh mamanya. Sebagai orang yang sudah dewasa, pertanyaan ini membuat alis pak Syarif tak urung bertaut.


“Berpuasa bukan hanya menahan diri dari makan, minum tetapi termasuk seluruh pembatal puasa termasuk menahan hawa nafsu keduniawianmu yang lain. Sejak terbit fajar kedua sampai terbenam matahari, yaitu sejak masuk waktu sholat Shubuh sampai masuk waktu sholat Maghrib. Puasa yang diterima adalah puasa yang maksudnya tercapai. Jadi jangan sekali-kali berbohong, menggunjing, mengadu domba, sumpah palsu, dan melihat dengan syahwat, pada saat kamu berniat dalam puasa." Pak Syarif menghela nafasnya sejenak.


"Dan ingatlah satu hal ini nak, suatu saat ketika kamu telah menimati berpuasa, maka hatimu terasa damai saat tahu bahwa bulan suci Ramadan itu akan segera datang. Kamu akan teringat akan semua kenikmatan yang pernah dirasakan seperti janji-janji Tuhan tentang pengampunan, indahnya makan sahur, bahagianya berbuka dan senangnya berkumpul bersama dengan orang-orang yang mencintaimu.”


Bram terpekur, hatinya terasa nyeri ketika mendengar kalimat terakhir dari pak Syarif, tentang senangnya berkumpul dengan orang-orang yang mencintai kita, karena sekarang dia merasa tak punya siapa-siapa yang sungguh-sungguh mencintainya. Dia telah membuat Beni kecilnya meninggal, Diah sang istri meninggalkannya dan Bella yang kini bersama sang mama.


 “Nak, sebentar lagi fajar terbit, sebaiknya kita ke rumah dulu, pagi ini Aisyah akan memasak banyak.  Karena hari ini adalah ulang tahun Abah, jadi aku mengundangmu untuk makan bersama kami.” Pak Syarif mengibaskan sarungnya, pertanda dirinya siap untuk bangkit dan beranjak.


"Makan di rumah abah?"


...***...


Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....

__ADS_1


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2