CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 42. MARI BERTEMU


__ADS_3

Bram mendapat informasi tentang keberadaan ayah Aisyah, laki-laki tang di carinya berbulan-bulan itu ternyata sudah bertahun-tahun pindah dari kalimantan. Dan yang paling mengejutkan Bram, ayah Aisyah itu ternyata sudah kembali ke Surabaya ini dalam beberapa tahun terakhir.


"Di sini?" Aisyah menatap mata Bram tak berkedip. Mata bulatnya yang cantik itu bersinar aneh, terlihat bingung, takut, marah dan rindu. Tatapan itu bersatu padu.


"Ya,"


"Apakah ayahku baik-baik saja?"


"Kalau itu aku belum tahu persis, aku hanya mendapat informasi dia tinggal di surabaya ini saja, wilayah sebelah utara sungai Jagir. Tapi alamat lengkapnya, aku masih berusaha mencarinya." Jawab Bram.


"Abah pasti terkejut dengan berita ini..."Suara Aisyah terdengar gemetar.


"Apakah...apakah kamu bisa kemari membicarakan ini denganku?" Tanya Bram sambil menatap tumpukan laporan keuangan di atas mejanya lalu kembali ke layar ponselnya di mana dia sedang melakukan video call dengan Aisyah.


Ini adalah panggilan video call pertamanya dengan gadis itu, dalam kesedihannya setelah kejadian tadi malam di apartemen Diah, dia memberanikan diri melakukan panggilan video call dengan Aisyah.


Rasanya, dia perlu seseorang yang menawar kegelisahannya dan wajah tenang Aisyah berkelebat.


"Aku sebenarnya ingin datang ke sana, tetapi ada beberapa pekerjaan yang harus ku selesaikan pagi ini dan lagi...aku agak ragu membicarakan ini pada abah, apakah waktunya tepat atau tidak." Bram berbicara dalam nada ragu, tak nyaman dengan perubahan pias di wajah Aisyah.


Dia sungguh takut, gadis itu salah paham dengan maksudnya.


"Mari bertemu, kalau kamu tidak sibuk, aku mengundangmu makan siang sekaligus mendiskusikan mengenai beberapa informasi tentang ayahmu yang ku dapat sebelum kita membawa abah ke dokter sore nanti. Sepertinya kita perlu menyampaikan ini pada abah dengan santai saja, aku kuatir mempengaruhi kesehatannya kalau terlalu emosi saat mendengarnya." Bram berucap lagi.

__ADS_1


Aisyah terdiam, matanya berkaca-kaca.


"Abah di mana?" Tanya Bram kemudian, mengalihkan pembicaraan mereka.


"Apakah dia sehat? Sore ini adalah jadwal check upnya?"


"Abah terlihat sangat sehat beberapa hari ini. Setiap subuh dia sudah pergi ke mesjid bahkan abah sudah bisa menyapu pekarangan mesjid. Beberapa hari ini juga malah abah tak pernah melewatkan sholat lima waktunya di mesjid depan, dia berkeras ingin sholat di mesjid saja, tidak mau dalam kamarnya. Katanya dia takut suatu saat merindukan mesjid itu, tetapi dia tak kuat lagi berjalan ke dalamnya." Aisyah bercerita dengan begitu bersemangat, sejenak dia melupakan tentang informasi mengenai ayahnya.


"Alhamdullilah kalau begitu. Senang sekali mendengar abah begitu sehat." Bram menyahut dengan senang.


"Abah tak sabar ingin bertemu denganmu katanya. Dia mau memberimu hadiah." Aisyah tersenyum kecil.


"Hadiah? Hadiah apa?"


Bram mendengarkan penjelasan dengan Aisyah, tanpa sadar memperhatikan seksama gerak bibir dan wajah Aisyah yang lembut itu.


Dia merasa wajah Aisyah jika di cermati sungguh lebih cantik dari yang di ingatnya, semakin di lihat semakin membuatnya sayang untuk mengedipkan mata.


"Waaah, kalau begitu sebaiknya aku bertemu abah saja." Bram menaikkan alisnya melihat ke jam tangannya, masih pukul 08.05 pagi.


"Tapi, mas Bram jangan bilang aku membocorkan rahasia, kalau abah mau memberikan hadiah untuk mas Bram, katanya kejutan untuk setahun lebih abah bertemu dengan mas Bram dan telah menjadi teman abah."


"Abah tidak memperbolehkan kamu memberitahuku?" Tanya Bram nyengir.

__ADS_1


Aisyah yang polos itu menggelengkan kepalanya.


"Aku takut, aku sedikit berdosa dengan mengatakan ini pada mas Bram. Tapi aku tak tahan tidak mengatakannya." Aisyah menundukkan wajahnya yang merona.


"Tidak apa-apa, biar aku menanggung dosanya." Bram tertawa kecil menanggapi kekuatiran Aisyah.


"Aku akan berpura-pura terkejut nanti supaya abah tidak curiga." Bram tertawa lagi. Aisyah menjadi tersipu. Lesung pipinya membuat senyum Aisyah terlihat semakin cantik.


"Apakah kita bisa bertemu?" Tanya Bram, sambil menaikkan alisnya.


Aisyah menarik nafasnya sesaat,


"Sebaiknya, mas Bram saja yang kemari, bukankah hari ini hari jumat? Mas Bram bisa langsung sholat jumat di mesjid depan dengan abah."


"Oh, hari ini jumat, ya...? Astaqfirullah.." Bram menepuk jidatnya sendiri, gara-gara terlalu memikirkan Diah, dia melupakan hari ibadah ini.


"Baiklah, aku akan ke sana, mari bertemu nanti siang." Bram berucap kemudian, entah mengapa dia begitu bersemangat untuk sholat jumat hari ini, untuk beribadah kepada Tuhan sekaligus bertemu Aisyah.


(Yeay, akhirnya double UP ya hari ini🤭 yang belum VOTE ayo di vote, biar mak othor semangat menulis🤗)



Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....

__ADS_1


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


__ADS_2