
Abah mengangkat kepalanya, menatap lurus pada Bram.
"Anakku Aisyah tak pernah menikah dengan siapapun." Suara abah terdengar tajam menusuk. Bram tertegun hingga matanya tak berkedip menatap abah.
"Apakah seorang perawan tidak pernah menikah tak boleh di panggil ibu oleh seorang anak yatim piatu?"
Wajah Abah yang tanpa ekspresi itu membuat Bram bergidik. Seperti wajah seorang ayah yang takut seseorang menyakiti anaknya.
Bram tak bisa berkata sepatah katapun, dia tak menyangka Aisyah, gadis muda dalam pembawaan yang sangat dewasa itu ternyata bukan seorang janda seperti yang diperkirakannya selama ini.
Yang di otaknya, Aisyah pernah menikah dan bercerai dan dari pernikahannya itu dia mempunyai seorang anak bernama Tito yang kini berumur 7-8 tahun.
"Kamu tak tahu apapun tentang anakku Aisyah, nak Bram. Dia adalah seorang puteri yang ingin ku jaga dengan nyawaku sendiri. Hatinya bersih, hanya saja kehidupan sungguh kejam untuknya." Mata yang semula berkilat bimbang itu mengalihkan matanya ke langit-langit kamar.
"Setelah tiga tahun ayahnya pergi dan anakku itu masih menyisakan trauma dari kematian adiknya yang tragis serta kehilangan ibu yang hidup tetapi tak mengenalinya. Dia harus kehilangan sekali lagi, kakaknya Rahimah yang menjadi tempatnya bersandar mencari sosok ibu ketika puteri itu meninggal dalam sebuah kecelakaan bus bersama suaminya.
__ADS_1
Anak kandungku tercinta, titipan Allah dan titipan istriku Asniah, meninggal dengan memeluk erat Tito yang masih berusia 4 bulan, besama suami yang dicintainya. Dia meninggal melindungi anak yang sangat di cintainya." Air mata itu akhirnya mengalir, menjalari pipinya. Kisah sedih itu akhirnya di ceritakannya pada seseorang, yang bahkan hampir asing baginya tetapi entah kenapa hatinya begitu percaya pada Bram seorang pendosa yang dulunya tak mencintai keluarganya, yang dulunya berkubang dalam maksiat, yang mungkin membuat orang takut menjadi dekat dengannya.
Bram menatap abah, hatinya berdebar dan dadanya sesak, rasanya menjadi abah ataupun Aisyah dia tak akan sanggup mengarungi hidup.
Tapi, bukankah Allah tahu kepada siapa Dia memberi ujian dan sebesar apa takaran yang menurut Allah mampu di hadapi masing-masing umatnya? Allah tahu, kebesaran hati dan iman seorang abah sehingga dalam penyucian dirinya di dunia kesulitan hidupnya begitu besar. Mungkin Abah adalah salah satu dari orang yang terpilih itu, yang menerima ujian seperti nabi Ayyub.
"Saat itu Aisyah masih berada di kelas 3 SMP, menangis sejadi-jadinya sambil memeluk cucuku Tito. Dia bahkan hanya menangis saja, tanpa ikut memakamkan kakaknya.
Sejak hari itu, Tito selalu di asuh oleh Aisyah, bahkan dia rela setahun tidak melanjutkan sekolahnya demi merawat bayi, keponakan yang kini menjadi anaknya itu. Aisyah dalam usia belia merawat Tito seakan dia adalah ibu kandungnya. Ketika mulai bisa berbicarapun, Isahku yang malanglah yang di panggil Tito dengan ummi." Abah menyeka airmatanya sambil berusaha tersenyum.
"Lalu, apakah tak boleh seorang anak yang mencintainya karena tak punya siapa-siapa menjadi ibu baginya?"Pertanyaan itu terasa menusuk sampai ke kalbu.
Seharusnya, Aisyah masih sibuk dengan dunia anak-anaknya, seharusnya Aisyah menikmati sebagai remaja tanggung yang ceria. Tetapi takdir hidup setiap orang tak pernah sama, Aisyah yang cantik itu menghabiskan masa remajanya mengasuh seorang bayi dan ibu yang mengalami gangguan jiwa tanpa basic apa-apa hanya mengikuti naluri dan instingnya.
"Aku menyayangi Isahku, aku tak bisa melihatnya menangis lagi. Satu kebahagiaan yang kutahu, seorang anak perempuan sangat ingin di nikahkan oleh ayahnya sendiri, menyaksikan dirinya mengucapkan ijab Qobul di kemudian hari. Karena itulah aku sangat ingin, jika Allah ijinkan, memberikan kebahagiaan itu padanya. Meski aku harus bertarung dengan sakit hati untuk bisa berhadapan dengan seorang laki-laki yang telah menghancurkan hidup adikku." Abah menggigit bibirnya sendiri. Dan kemudian memejamkan matanya, melawan sakit hatinya dengan mengucapkan istigfar berkali-kali dalam hati.
__ADS_1
"Abah tak perlu kuatir, aku akan mencarikan ayah Aisyah untuk abah." Bram berusaha tersenyum pada Abah yang terlihat lelah.
"Nak Bram, aku bersyukur Allah telah mengirimmu pada kami, jawaban dari do'a-do'a kami. Tidak ada kebetulan dalam kamus Tuhan, segala sesuatu yang terjadi hanya karena ijin dan kehendakNya."
Bram sekali lagi kehilangan kata-kata, bagaimana tidak, saat dia merasa dirinya begitu kotor dan tak berguna ada oranglain yang begitu bersyukur atas keberadaannya.
Tuhan selalu menunjukkan kebesarannya dengan cara yang berbeda, bahkan memuliakan orang yang telah begitu berdosa.
Bram menundukkan wajahnya di depan Abah, dia merasa dirinya di anggap sahabat oleh seseorang yang sebaik dan sealim pak Syarif, rasanya begitu mengharukan.
Di balik pintu, seorang gadis berdiri mematung dengan baki berisi bubur panas yang kini mulai dingin. Kakinya terpaku begitu saja sementara airmatanya turun berderai, Aisyah menangis tanpa suara.
(Semoga hari ini kita bisa double UP ya๐๐ Jangan lupa tunggu kelanjutannya)
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐