CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB.48 APA KABARMU, IBU?


__ADS_3

POV AISYAH:


Aisyah berjalan dengan kaki gemetar menuju pintu ruangan di mana ibunya berada.


Seperti biasa, ibunya duduk di sebuah kursi kayu menghadap jendela kaca yang diteralis. Dia dalam posisi yang sama di setiap pagi jika Aisyah mengunjunginya, membelakangi pintu. Di pangkuannya sebuah guling kecil yang di bungkus selimut lusuh. Dia memangkunya dengan penuh perasaan seperti seorang ibu yang sedang menimang bayinya.


"Assalammualaikum..." Suara Aisyah terdengar serak. Dia tahu, ibunya tak akan bergeming, kecuali dia berdiri di depan sang ibu.


"Ibu, Isah datang menjenguk ibu." Aisyah berjongkok dan meraih tangan ibunya, menciuminya dengan santun.


Atifa sesaat menatap kepada Aisyah, tanpa ekspresi. Lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.


Aisyah mengelus pipi ibunya yang terlihat berkerut-kerut itu, merapikan rambut ibunya yang terlihat acak-acakan. kerudung yang dipakaikan Aisyah tiga hari yang lalu saat terakhir dia menjenguk ibunya, tampak teronggok di kaki dipan tempat tidurnya yang kecil itu.


Aisyah meraihnya dan mengenakannya ke kepala ibunya, Atifa sejenak menunjukkan penolakan tetapi kemudian dia menurut saat Aisyah mengelus rambut ibunya.


"Ibu, lihatlah aurat ibu terbuka, Aisyah akan memakaikan ibu kerudung, supaya ibu terlihat cantik di hadapan Allah. Bukankah dulu ibu pernah mengatakan begitu kepada Isah?"


Aisyah mengenakan kerudung ibunya itu dengan gemetar. Lalu tersenyum pada sang ibu ketika mata mereka bertemu pandang.

__ADS_1


Tatapan ibunya itu telah kosong selama belasan tahun, Aisyah tak heran melihatnya, tetapi hari ini dia merasa begitu sedih melihat kantong mata yang cekung itu, seperti bingkai yang mengelilingi kaca bening tanpa pantulan.



"Ibu selalu mengajari Isah untuk memakainya karena setiap orang akan menunduk saat kita menutup aurat kita, dengan begitu Allah akan mengenali Isah di antara umatnya di hari kiamat. Aisyah tak mau ketika Tuhan memanggil, Isah tidak bisa bertemu abah, tidak bertemu bibi Asniah dan kak Rahimah, karena Allah tak mengenali Isah, karena itu Isah selalu mengingat untuk mengenakannya." Bibir Aisyah yang gemetar itu bergerak-gerak mengucapkan semua kalimat itu dengan suara sedihnya.


"Ibu juga jangan melepasnya lagi, karena aku juga ingin berkumpul di rumah Allah suatu saat nanti bersama ibu." Aisyah merapikan sekali lagi kerudung yang telah melekat di kepala ibunya dan kembali berusaha tersenyum.


"Sekarang ibu terlihat sangat cantik." Aisyah mengelus kembali pipi ibunya.


"Isah...? Isah...Isah sedang bermain lompat tali, dia belum pulang? Aku harus memanggilnya pulang sekarang sudah magrib." Tiba-tiba ibunya mengoceh. Meski matahari pagi masuk lewat celah jendela menimpa wajahnya tetapi Atifa bahkan tak bisa membedakan bahwa sekarang sedang pagi bukan senja.


"Ibu duduklah saja, Isah akan segera pulang." Sahut Aisyah menenangkan ibunya. Kalimat itu menghentikan gerakan ibunya. Lalu seakan mengerti dia mengangguk dan duduk dengan tenang, memeluk erat guling kecil berbungkus selimut lusuh yang sedari tadi di pangkunya.


"Faiq...tidurlah, nak. Sebentar lagi ayahmu pulang. Dia akan mengajakmu ke mesjid setelah itu membelikan kembang api. Dia akan membawamu bermain...bermain...bermain sampai puas."


Aisyah menatap sedih, saat ibunya memeluk erat guling itu, guling adiknya yang tak boleh jauh dari ibunya, sejak hari dia kehilangan kewarasannya. Dia akan mengamuk jika guling lusuh yang warnanya buram di makan usia itu di jauhkan darinya.


"Ibu, apa kabar ibu?" Aisyah menurunkan lututnya dan kemudian bersimpuh di depan ibunya.

__ADS_1


Tak ada jawaban, hanya suara desah nafas ibunya yang teratur. Air mata Aisyah terasa sedang menggantung di sudut matanya, dia tidak sedang ingin menangisi keadaan ibunya tetapi sedang bersedih dengan apa yang kini menimpa dirinya dan ibunya.


"Ibu..." Aisyah meletakkan perlahan pipinya di pangkuan sang ibu. Kain yang di gunakan ibunya itu sedikit berbau pesing, ibunya ini tentu belum mandi pagi ini saat dirinya tiba karena Aisyah mengunjungi ibunya lebih pagi, bahkan sebelum matahari benar-benar terbit dia sudah berangkat dengan motornya menuju panti.


Tetapi Aisyah sungguh tak memperdulikan aroma tak sedap itu, dia hanya tiba-tiba sangat rindu meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya, seperti yang sering di lakukannya di waktu dia masih kanak - kanak.


"Ibu..." Ucap Aisyah sambil memejamkan matanya, menahan sesak yang menghimpit dadanya, ingatannya pada wajah tenang abah yang dikebumikan kemarin sore berkelebat di kepalanya.


"Aisyah tidak baik-baik saja sekarang, Aisyah hampir tak bisa bernafas rasanya. Tahukah ibu, Abah sudah pergi...abah sudah meninggalkan kita. Abah, kakak yang selalu menyayangi ibu pergi tanpa sempat menjenguk ibu, padahal dia sudah berencana minggu depan di hari ulang tahun ibu, abah ingin membelikan ibu kerudung yang baru, kerudung warna ungu kesukaan ibu. " Airmata itu akhirnya mengalir melewati sea matanya saat matanya terpejam. Betapa sakit hatinya, ketika mengatakan abah telah tiada.


Atifa tak menunjukkan reaksi apa-apa, tubuh itu diam seperti arca tetap memeluk guling kecilnya.


"Abah sudah menunaikan semua tugasnya di dunia sebagai pemenang yang di cintai Allah. Tetapi, ibu...apakah Isah berdosa dengan rasa kehilangan ini? Isah merasa Tuhan mengambil separuh nyawa Isah saat Dia mengambil abah. Kemana kah Isah akan mengadu, jika Isah sedang sedih? Kepada siapa Isah bertanya jika Isah tak mengerti sesuatu?" Aisyah menangis tetsedu di pangkuan sang ibu, seperti seorang anak yang begitu merindukan tempat melngadu, sayangnya dia sekarang bukan seorang anak kecil lagi, dia adalah gadis yang sedang tersesat dalam perasaannya dan berusaha mencari jalan pulang. Dia sedang begitu kehilangan.


Dan sang ibu, hanya menatap kosong keluar jendela tetapi matanya terlihat berkaca-kaca. Entah dia mengerti apa yang di sampaikan Aisyah ataukah dia sedang larut dalam kesedihannya sendiri di dalam dunia yang menjebak alam sadarnya.



...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......

__ADS_1


...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏...


__ADS_2