
Bram menatap tajam Aisyah yang sedang menantang matanya.
"Kenapa kita kemari?" Tanya Aisyah sekali lagi.
"Kita akan menemui ayahmu..." Ucap Bram dengan volume lembut, mereka berdua masih duduk di jok mobil Bram setelah mengantarkan Tito ke sekolahnya.
Sekarang mereka berhenti di suatu daerah yang menurut Aisyah begitu asing di bagian utara sungai Jagir, daerah bantaran sungai yang belum pernah di kunjungi oleh Aisyah, jaraknya juga lumayan jauh dari perkampungan Aisyah, memakan waktu lebih dari setengah jam meski jalan tidak terlalu padat pagi ini.
Bram sengaja datang hari ini sebelum Tito pergi ke sekolah di antar oleh Aisyah dengan motor maticnya seperti biasa.
Dengan dalih sedang ada urusan di tempat yang tidak jauh dari kampung Aisyah, Bram menawarkan diri mengantarkan Tito sekaligus minta tolong kepada Aisyah untuk memasakkan sesuatu padanya hari ini karena dia sedang mencari selera makan dan teringat dengan semur daging buatan Aisyah yang enak saat ulang tahun abah.
"Mas Bram kemari untuk membujukku bertemu dengan ayahku?" Tanya Aisyah dengan mata terpicing, rasa kecewa menggelayut di dadanya, di antara desir aneh yang bersarang di sana.
"Aku telah memastikan sendiri, dan aku hampir yakin seratus persen dia adalah ayahmu." Sahut Bram dengan ekspresi hati-hati.
"Aku hanya ingin kamu melihatnya sendiri dan meyakinkan bahwa pak Faraz ini adalah ayahmu..."
"Mas Bram..." Aisyah tiba-tiba menyela. Suaranya bergetar.
"Apakah menurutmu aku harus menemuinya?" Tanya Aisyah dengan tajam.
Bram terdiam, dia hanya menatap mata Aisyah yang berkilat menatapnya.
__ADS_1
"Aku rasa..." Bram menjawab dengan suara rendah.
"Aku rasa almarhum abah sangat ingin kamu menemui ayah kandungmu." Lanjut Bram, sedikit ragu.
"Aku tidak bertanya tentang pendapat abah tapi aku ingin mendengar pendapat mas Bram." Potong Aisyah, tegas.
Bram sekali lagi terdiam beberapa saat hanya menatap Aisyah dengan mata nyaris tak berkedip, wajah polos di depannya itu terlihat tegang.
"Aku...aku fikir, kamu juga harus menemuinya." Jawab Bram kemudian.
"Kenapa?" Tanya Aisyah.
Bram menatap lamat-lamat wajah cantik tanpa sedikitpun polesan lipstik itu. Agak pucat tetapi tak mrngurangi kecantikannya.
"Itu bukan alasan, jika mas Bram ingin menikahiku, aku bisa meminta wali hakim dari pengadilan agama untuk menikahkanku." Aisyah masih berusaha menunjukkan kekerasan hatinya, meski sebenarnya sudah sedikit banyak meluluh oleh wejangan dan nasehat mbak Retno dan mpok Mumun kemarin siang
"Aisyah..." Bram memiringkan badannya supaya bisa menatap Aisyah yang duduk di sebelah kursinya dengan leluasa.
"Lembutkan hatimu...jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, aku tahu di balik rasa bencimu kamu sangat merindukannya." Bram tersenyum lembut, seakan sedang menatap anaknya Bella.
"Kamu tahu, untuk menikahimu aku tak perlu seribu satu alasan. Cukup dengan cinta dan niat, aku bisa menemukan jalan keluarnya. Tetapi..." Bram menghela nafasnya.
"Menikah bukanlah permainan. Aku pernah melakukannya dengan hati yang setengah maka aku gagal menjalaninya. Aku tak mau melakukan kesalahan yang sama bersamamu, aku ingin kamu menikahiku dengan bahagia tanpa ada akar pahit yang berasal dari masa lalu. Menikah ibarat membuka lembaran baru, aku ingin kita berdua membereskan semua luka dari masa lalu baru memulai mencoret babak baru tanpa ada bayang-bayang buram yang belum kita berdua tuntaskan." Bram menghela nafasnya sesaat.
__ADS_1
"Aku telah membereskan semua hal tentang akar pahit dari kegagalan pernikahanku, aku berusaha bangkit menjadi lebih baik karena Allah. Dan menemukanmu, adalah hal terbaik dalam niatku menyempurnakan taubat dan ibadahku." Bram meraih jemari Aisyah dengan gemetar, entah berdosa atau tidak tapi dia sangat ingin melakukannya untuk meyakinkan Aisyah.
"Bayang-bayang buram itu termasuk aku ingin kamu bertemu dengan ayahmu. Apapun dia, bagaimanapun keadaannya, hadapilah dengan berani dan besar hati. Jadilah seorang anak, tanpa menghakimi semua yang telah terjadi, toh semuanya telah kamu lewati dengan baik. Abah telah mengajarimu untuk memaafkan, bukankah kamu telah mencurangi dirimu sendiri jika masih menyimpan kebencian diam-diam di hatimu dengan menyembunyikan perasaan itu dari depan abah selama beliau hidup? Yang terluka adalah dirimu sendiri, kamu berdarah dari dalam tanpa kamu sadari oleh dendammu sendiri."
Aisyah mengerjapkan matanya, dia terlihat berusaha mencerna setiap kata demi kata yang di ucapkan oleh Bram. Nafasnya turun naik menahan perasaannya sendiri.
"Aku...aku takut...aku tak bisa menerimanya..." Setetes air bening hatuh di sudut mata Aisyah.
"Aku tak menuntut kamu bisa menerima kehadirannya kembali, karena sebagai calon suamimu aku insya'Allah berusaha sanggup menjadi figur ayah yang kau cari untuk mengisi kekosongan tempat di hatimu, tetapi aku hanya ingin kamu datang padanya dan memaafkannya. Dengan begitu, aku dan kamu bisa melangkah dengan tenang. Aku akan menikahimu, mengambil tanggungjawab untuk merawat ibumu dan Tito, aku akan berusaha sebaik mungkin menjadi suamimu." Bram menciumi jemari Aisyah, dengan haru. Sementara gadis itu tak berkedip, membiarkan Bram melakukannya.
"Jika..." Aisyah menelan ludahnya sesaat.
"Jika mas Bram menginginkannya, aku akan mendengarkannya dan melakukannya." Ucapnya parau, membuat Bram tertegun. Tak pernah ada seseorang yang begitu menurut padanya tanpa mempertanyakan dirinya, kecuali mungkin Diah di masa lalunya.
"Dimana ayahku? aku akan menemuinya sekarang..."
(Terimakasih ya, sudah tetap setia dengan novel ini, Mak Othor tunggu VOTE nya nih mumpung dini hari senin😆 biar hari ini kita UP langsung lanjutannya😅🙏
Vote dan semua bentuk dukungannya adalah semangat mak Othor menulis tengah malam buta begini🤣🤣 Yuk, akh...mari lemparkan Vote, kopi, bunga, bahkan di silet-silet othor bahageaaaaa😆)
...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
__ADS_1
...Jangan Lupa dukungannya yah untuk novel ini, like dan komen, biar othor tetap semangat menulis😂🙏...