CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 67. AWAL MULA KEHANCURAN


__ADS_3

(Flashback Faraz : 10 tahun yang lalu)


Faraz tak pernah menyangka, kisah satu malam bersama Ani di pustu (Pusat Kesehatan Terpadu) yang ada di kampung kecil bernama Puruwian, pada sebuah desa kecil Kalimantan Tengah itu, berakhir dengan dirinya di 'tumbur' warga kampung dan adat.


Ani, seorang janda dengan seorang putera berusia 7 tahun itu, seorang bidan yang bekerja di sana.


Faraz sendiri tinggal di Kamp perusahaan tambang yang di mana dia bekerja sebagai teknisi tidak jauh dari kampung itu.


Sebenarnya jika karyawan tambang sakit, mereka bisa berobat pada klinik milik perusahaan. Hanya saja untuk mencapai kantor di mana klinik perusahaan berada memakan waktu perjalanan sejam dari lapangan di mana mereka bekerja.


Desa kecil di daerah dimana lokasi tambang itu berada berdekatan dengan kamp mereka. Malah, sebenarnya tanah yang kini sedang di tambang itu sebenarnya adalah milik warga desa itu pada mulanya tetapi kemudian di jual kepada pihak perusahaan.


Ani, profesinya sebenarnya bidan. Tetapi karena kekurangan tenaga medis, maka Ani akhirnya tak hanya menjadi bidan tetapi merangkap seorang perawat untuk kampung dimana dia bertugas itu.


Beberapa waktu sebelumnya, Faraz pernah menderita penyakit malaria, dan di rawat oleh Ani, dari sanalah berawal perkenalan mereka.


Awalnya mereka hanya sekedar hubungan antara pasien dan tenaga medis, Ani juga perempuan yang baik.


Mereka kadang ngobrol saat Faraz datang untuk memeriksakan dirinya.


"Bang Faraz sudah menikah?"


"Ya, aku sudah menikah. Aku mempunyai seorang puteri berumur sepuluh tahun dan seorang istri."


"Istri bang Faraz pasti cantik."


"Ya, dia cantik."


Obrolan-obrolan ringan itu sering mewarnai pertemuan mereka entah karena tak di sengaja atau memang karena Faraz ada kepentingan ke pustu tempat Ani bekerja sebagai pelayan masyarakat di desa kecil itu.


"Ada apa dengan pernikahanmu sebelumnya?"

__ADS_1


"Kami bercerai, bang."


"Kenapa? Kenapa ayah Adka menceraikanmu?"


"Aku yang meminta kami bercerai."


"Kenapa?"


"Aku tidak sanggup hidup selalu di atur oleh mertuaku. Semua yang kulakukan salah."


"Hanya karena itu? Masa bercerai hanya karena alasan campur tangan mertua."


"Sebenarnya...Aku lebih tak tahan karena sikapnya yang kasar."


"Kasar bagaimana?"


"Dia sering memukuliku, bahkan dia pernah menghajarku sampai pingsan di depan anaknya sendiri."


"Yang membuatku memilih bercerai, mertuaku selalu menyalahkan aku. Meskipun pernah aku terbangun di bangsal rumah sakit setelah dipukulnya, ibunya tetap membelanya."


Tak pernah Faraz begitu bersimpati pada seorang perempuan karena kekerasan yang di alaminya dalam hubungannya dengan laki-laki yang seharusnya mencintainya.


"Aku tidak tahan...karena itu aku memilih berpisah dan membawa Adka bersamaku."


Faraz menjadi bersikap lembut pada Ani, setidaknya dia ingin perempuan itu merasa berbeda setelah kekerasan yang di alaminya dalam pernikahannya sebelum itu.


Saat bulan puasa, Ani sering mengantarkan makanan untuk berbuka bagi Faraz dan kawan-kawannya meskipun dia sebenarnya nonmuslim.


Faraz dan Ani benar-benar hanya teman, selama setengah tahun mereka saling mengenal tak ada hal aneh yang terjadi.


Ani seperti halnya baik dengan Bino, perhatian dengan Ganda, begitupun dia bersikap pada Faraz. Mereka hanyalah orang-orang perantau yang mengadu nasib di tanah orang.

__ADS_1


Tapi, mungkin pepatah lama benar adanya, sesuatu bisa nyaman karena terbiasa. Faraz juga adalah seorang laki-laki normal, meski dia dalam tiga bulan sekali akan pulang ke Surabaya untuk menjenguk istri dan puteri kecilnya.


Mereka menjadi sering bersama, karena Ani seringkali meminta bantuan Faraz, menitip membeli obat-obatan dan perlengkapan medisnya jika dia tak sempat ke kota yang jaraknya sekitar 40 Km dari desa tempat mereka.


Hingga di suatu malam, Faraz baru saja tiba dari kota kecamatan di mana Kantor perusahaan mereka berada dan Ani menitipkan Faraz membelikannya beberapa kotak kapas, kain kassa dan obat dari apotek.


Hari saat itu hujan deras, hampir tengah malam. Faraz memarkir mobi kabin operasional milik perusahaan itu tepat di depan bangunan Pustu yang di tinggali Ani dan anaknya itu.


Dia tak ingin menunggu besok karena, pagi-pagi besok dia di jadwalkan ke tambang, ada sebuah alat berat yang rusak dan dia di suruh memperbaikinya segera bersama dua orang temannya satu shiff. Biasanya pekerjaan seperti itu memakan waktu bisa sehari semalam, jika kerusakannya cukup berat.


Faraz takut jika menundanya, Ani sedang memerlukan bahan-bahan yang di bawanya untuk melayani pasiennya.


TOK! TOK! TOK!


"Dik Ani...!"


Tak ada jawaban.


Sekali lagi Faraz mengetuk pintu dan memanggil Ani, melawan suara hujan.


Dan...


Pintu di buka, Ani dengan rambut dan badan yang basah kuyup menyambutnya, kain yang basah di tubuhnya menempel membentuk siluet, menonjolkan lekuk tubuhnya yang sintal dan padat itu.


"Bang Faraz, untunglah kamu datang..." Bibir Ani yang pucat itu gemetaran. Dia seperti baru saja kehujanan.



Bagaimana kah kisah selanjutnya, mari ikuti kehidupan Faraz sampai kemudian dia harus berada di tepian sungai Jagir😁 (catt: Waktu pinggir sungai itu belum di tata ya, kalau sekarang sudah bagus😅)


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......

__ADS_1


...Jangan Lupa dukungannya yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis😂...


__ADS_2