CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 56 DO'A DI SEPERTIGA MALAM


__ADS_3

Sekumpulan ingatan berlompatan di kepala Aisyah dan setelah berlutut dalam sholat tahajjud dan istiqarahnya, dia mengingat satu nama yang ingin di sebutkannya di antara untaian do'a nya, yaitu nama seorang" Bram".


"Ya, Allah...banyak hal yang selalu ku munajatkan di hadapan hadirat-Mu, Engkaulah yang maha mendengar setiap do'a mahlukmu. Di saat mata lain terpejam, aku terjaga. Di kala semua hening, dalam malamku aku terus berbicara padamu. Aku tak malu mengatakan kesedihanku, kesepianku dan dukaku di sepertiga malamku. Bahkan kerinduanku...kerinduanku pada...pada Mas Bram.


Ya, Allah, tak pernah hatiku serisau ini, pada salah satu umatmu yang kini diam-diam mencuri fikiranku. Apakah rasa ini, Tuhan? Siapakah dia yang bisa mengganggu lamunanku? Kenapa saat dia dekat aku merasa waktu seperti berlarian terlalu cepat? Dan ketika dia jauh, aku berharap dia datang mencariku?


Aku bangun disepertiga malamku, menceritakan bebanku di atas sajjadahku ini. Dengan tanpa malu, aku menyebut namanya di depanMu, berharap bersua atas seijinmu.


Apakah rasa ini, ya Allah? Apakah hanya aku yang merasakannya ataukah ini pantas ku terima?" Aisyah menggigit bibirnya sendiri, dia tak mungkin mengatakan perasaannya ini pada Bram tetapi dadanya bergemuruh seperti air pasang yang sangat ingin di luapkan. Hanya dalam do'a di sepertiga malamnya dia tahu tempatnya menumpahkan rasa.



Di tempat berbeda, di bawah langit yang sama, seorang laki-laki tertunduk di atas sajjadah berwarna biru pupus. Di tangannya sebuah tasbih yang persis sama.


Setelah istiqarah dan taubat nasuha, dia larut dalam dzikirnya.


Berbagai kalimat permohonan ampunan di panjatkannya. Dan berakhir pada do'a untuk seseorang yang di rindukannya.


"Ya, Allahku, HambaMu ini tahu betapa tak layaknya diri ini di hadapanMu. Terlalu lancang untukku meminta padamu lagi...setelah dosa-dosaku di masa lalu. Maafkan aku ya Allah, yang mencurangi sepertiga malamku untuk meminta lagi padamu atas sebuah nama yang saat ini begitu dalam mengusik hatiku. Dan aku percaya tak mungkin Engkau beri rasa ini tanpa maksud dan alasan.


Jika Aisyah adalah jodohku, dekatkanlah aku padanya dengan caraMu, maka Insyaa'Allah atas ridhoMu aku akan mengimami dia sepanjang hidupku hingga AkheratMu. Tetapi, andai perasaanku padanya hanyalah satu dari ujian yang harus kulewati dan Aisyah bukanlah jodohku, tunjukkan aku jalan supaya tak lagi memikirkan dirinya, ringankan hatiku yang fana ini. Biarkan aku menjalankan amanatku untuk menjadi walinya saja, seperti yang titahkan abah. Aku hanya ingin dia bahagia saja ya Allah...aku hanya ingin melihat dia bahagia. Jikalau dia bahagia bukan denganku, maka aku akan ikhlas. Aku hanya ingin mencintai dia sesudah aku mencintaiMu, karena itulah Ya Allah, apa yang menjadi kehendakMu maka aku akan menerimanya saja."

__ADS_1


Bram tertunduk begitu dalam, do'a itu di ucapkannya dengan bibir gemetar.


Tak pernah seunur hidup dia berdo'a dan begitu pasrah menyebut nama seorang perempuan. Bahkan nama Diah sekalipun, tak petnah di sebutkannya dalam tahajjudnya.


Entah kebetulan atau bagaimana, dua orang ini saling mendoakan di waktu yang sama, dan siapalah yang tahu kehendak Tuhan untuk itu?


Sesungguhnya Allah maha mendengar dan mengetahui, manusia hanyalah serpihan debu yang ditiupkan nafas. Ketika dua orang merasakan kegelisahan satu sama lain maka sebaik-baiknya ungkapan rindu, adalah saling mendo'akan, mendo'akan dalam diam, mendo'akan dalam sepertiga malam dan mendoakan dia dalam sujud panjangmu.


...***...


Bram baru saja tiba di kantor kecilnya, dia sibuk memeriksa laporan dari cabang cafenya yang baru di buka.


Kepalanya sedikit berat, dia terbangun tengah malam lewat dan setelah itu matanya terbuka sepanjang malam hingga subuh. Berkali-kali setelah tahajjudnya, dia membuka surat abah dan membacanya.


"Dan untukmu suatu saat nanti,


Jatuh cintalah karena Kamu mencintai Allah, bukan karena kamu mencintai mahluknya baru mencari Allah...."


Mengiang-ngiang di kepalanya. Dia berusaha mengerti dan menterjemahkannya. Semakin di fikirkannya, semakin pusing kepalanya.


Tiba-tiba ponselnya menggelepar di atas meja. Semula dia tak memperdulikannya. Tetapi ketika ponsel itu terus menerus menggelepar karena hanya mode getar yang di aktifkannya. Akhirnya Bram meraihnya dan seketika dadanya menjadi gugup bukan kepalang.

__ADS_1


"Hallo, Assalamulaikum, Aisyah?"


"Wallaikumusallam mas Bram...!" Suara itu terdengar tegang.


"Aisyah ada apa?" Tanya Bram dengan nafas tertahan.


"To..tolong mas Bram, aku mohon..." Sekarang suara Aisyah berubah dari gemetar menjadi seperti terisak.


"Selamatkan aku dari ini..." Bisiknya lirih.


"Aisyah! Kamu kenapa???" Bram tanpa sadar berdiri dari duduknya. Rahangnya mengeras, nafasnya turun naik. Jemarinya menggenggam erat ponsel di tangannya.


Terdengar suara beberapa orang di bekang Aisyah seperti sedang berdiskusi, entah perempuan atau laki-laki.


"Aku akan alihkan panggilan ini menjadi video call sekarang!!!" Suara Bram meninggi, dia benar-benar tegang.



(Akhirnya mak othor ini bisa crazy UP hari ini yaaa๐Ÿ˜…๐Ÿ˜„ Terimakasih atas vote dan dukungan dari semuanya untuk novel ini, senang rasanya mendapat apresiasi positif dari pembaca tersayang semuaโ˜บ๏ธ Author tanpa pembaca adalah butiran debu ๐Ÿ˜…๐Ÿ™๐Ÿ™


Apa yang terjadi dengan Aisyah, yang pasti Tuhan sedang menunjukkan jalan untuk mereka bersatu meski harus melewati satu rintangan lagi untuk membuktikan bahwa Bram tak sanggup kehilangan Aisyah๐Ÿค—๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„)

__ADS_1


...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full.......


...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™...


__ADS_2