CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 21. BERTEMU DIAH


__ADS_3

Bram keluar dari mobilnya, dadanya bergemuruh karena sedikit gugup.


Dia telah sampai di depan rumah mantan mertuanya, di mana Diah untuk pertama kalinya setelah perceraian mereka mengajaknya bertemu langsung dengannya.


Enam bulan setelah perceraian mereka, Diah sepertinya memang memilih untuk menghindari komunikasi berlebihan dengannya, entah untuk alasan apa.


Sebenarnya, Diah sekarang tinggal di Apartemen Sarah, tetapi Diah tak pernah sekalipun mengijinkan Bram untuk menemuinya dan Bella di apartemen itu sendiri.


Bram bisa bertemu anaknya kapan saja dia mau, Diah tak pernah membatasinya untuk itu tetapi selalu saja Diah menyuruh Bram menemui Bella di rumah orang tuanya saja.


"Menghindari fitnah, mas. Kita berdua tak lagi terikat pernikahan. Kita boleh bertemu tetapi dengan syarat tidak berkhalawat atau berduaan saja. Berkhalawat itu diharamkan dalam agama." Itulah alasan yang di katakan oleh Diah pada Bram.


Dan Bram pernah menanyakan ini pada seorang ustad yang di tunjuk oleh Abah untuk menambah ilmunya dan dia tahu, Diah mengatakan hal yang benar.


"Tidaklah seorang lelaki berduaan dengan perempuan melainkan yang ketiganya adalah setan. Meski berkhalawat dilarang, perempuan boleh bertemu dengan mantan suaminya, sebagaimana ia boleh bertemu dengan lelaki lain. Namun, pertemuan tersebut harus dalam batas-batas yang diperbolehkan syariat. Memenuhi adab-adab diniyyah, mengenakan pakaian yang ditentukan syara' di depan umum. Jangan berduaan tidak ber-tabarruj atau menampakkan keindahan tubuh dan auratnya serta tidak disertai dengan sesuatu yang haram." Kata pak Ustad itu, memberikan jawaban atas pertanyaan Bram.


Bram mengerti, Diah lebih faham tentang agama dari pada dirinya. Dia menerima hal itu sebagai sebuah keputusan yang tepat.


Di depan pintu, Bella sudah berdiri dengan senyum lebarnya.


"Papa datang..." Bella melompat kegirangan dan menghambur ke dalam pelukan Bram.


"Anak papa cantik." Sambut Bram.

__ADS_1


Dalam sekejap gadis kecil itu telah berada dalam gendongan Bram.


Akhir-akhir ini Bram menjadi dekat dengan Bella. Hatinya terketuk untuk melimpahkan kasih sayangnya pada sang anak, setelah sekian lama dia melewatkan banyak masa untuk dekat dengan putrinya itu.


"Karena anak perempuan membutuhkan perhatian, cinta dan kasih sayang yang lebih dibandingkan anak laki-laki. Jika anak tidak mendapatkan dari orang tuanya terutama ayahnya sebagai seorang laki-laki pengayom yang biasanya di puja pertama oleh putrinya, maka besar kemungkinan dia akan mencarinya dari orang lain atau laki-laki lain. Dan hal ini tentunya sangat tidak baik untuk perkembangannya, apalagi di usianya yang masih belia. Bukankah kita berharap, dia akan baik-baik saja sampai masa kita mengantarnya pada pernikahannya, pada seorang laki-laki yang kita percayai bisa membahagiakannya di kemudian hari?" Kata-kata Abah itu masih di ingat Bram ketika dia menceritakan betapa dia mengabaikan perannya sebagai seorang ayah.


Ciuman di kedua pipi anaknya itu bertubi-tubi, sehingga tawa bocah cantik itu berderai karena geli.


Dan beberapa saat kemudian Bram menghentikannya, ketika melihat Diah berdiri di depan pintu dengan pakaian rapih.


"Assalamulaikum..." Suara Bram serasa tercekat di kerongkongan, dia tak pernah mengucapkan salam saat pulang ataupun pergi, dia bahkan kadang tak perduli dengan kehadiran sang istri.


"Wallaikumsalam..." Diah menyambut salam itu, dengan mata hampir tak berkedip. Dia tak kalah terkejutnya dengan perubahan sikap Bram.


"Masuklah, mas." Diah menawarkan dengan sikap canggung yang kentara, dulu saat mereka memutuskan mengakhiri pernikahan mereka sikap Diah benar-benar dingin padanya.


Bram mengangguk, dia juga penasaran kenapa Diah menelponnya saat berada di rumah Aisyah tadi, terdengar sangat ingin bertemu.


"Maaf mas Bram, apakah mas punya waktu? kalau mas Bram bisa, aku ingin bertemu." Kalimat itu tadi membuat tengkuknya meremang. Setengah musim masa perceraian berjalan, dalam perjalanan taubat Bram, bukan hal yang mudah baginya melupakan seorang Diah.


Semakin banyak dia beristigfar dan mendekatkan diri pada jalan lurus, semakin dia menyadari betapa banyak dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya di belakang. Itu membuat rasa bersalah menyergap di setiap dzikirnya, dan orang yang paling menderita karenanya adalah Diah, jadi bukan hal mudah untuk memalingkan wajahnya sekarang dari bayang-bayang mantan istrinya itu.


"Mas, kenapa bengong saja? Mas tidak ingin masuk?" Suara Diah memecah senyap yang menyergap sesaat antara mereka.

__ADS_1


Sikap Diah terlihat lebih tenang dari terakhir bertemu di pengadilan agama 6 bulan yang lampau, setelah mereka menerima ketuk palu hakim bahwa perpisahan adalah hal terbaik dari semua keputusan terburuk.


"Oh, iya." Bram segera masuk setelah melepas alas kakinya. Bajunya terasa lembab berkeringat, hari sudah lewat tengah hari tapi dia belum pulang sama sekali setelah mengantar Aisyah ke pasar tadi . Untung saja dia telah menyempatkan shalat Dzuhur di mesjid depan rumah abah tadi, meski sampai sesiang ini belum ada sebutir nasipun masuk ke perutnya.


"Ayah dan ibu ada?" Tanya Bram, sambil melirik ke bagian dalam rumah.


"Ada. Ayah ada di kamar, usai sholat dia belum keluar, Ibu sedang menyiapkan makan siang sepertinya tadi." Jawab Diah sambil mempersilahkan Bram duduk di ruang tamu.


"Oh..." Bram benar-benar tak punya banyak kata saat berbicara dengan mantan istrinya yang terlihat lebih fresh dan lebih bahagia setelah berpisah dengannya.


Bella turun dari pelukan papanya dengan raut masam, kemudian duduk manja di pangkuan Bram, sepertinya dia begitu rindu bertemu papanya setelah hampir sebulan tak bertemu sang papa.


"Ada apa?" Tanya Bram sungkan, ketika mereka berdua sudah duduk saling berhadapan.


"Apa yang bisa ku bantu?"



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...

__ADS_1


__ADS_2