CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB. 69. PELAJARAN BERHARGA


__ADS_3

Hukum adat di tempat itu masih sangat ketat, mereka di kenakan denda adat dan di minta menikah dengan benar karena sudah lancang berhubungan badan tanpa ikatan.


Warga masih sangat kental dengan kepercayaan adat , jika ada pasangan yang tidak menikah melakukan hubungan intim bisa membawa petaka untuk kampung mereka.


Ani shock bukan kepalang, dia malu luar biasa, selama ini dia cukup di hormati di kampung itu sekarang orang menatapnya jijik. Jika merekap tidak menikah dengan benar, Ani akan di usir dari kampung itu, dan di berikan sangsi hukum adat sekaligus laporan ke instansinya untuk dipertimbangkan supaya di berhentikan dari profesinya sebagai bidan.


Ani bukanlah pegawai negeri, dia hanya tenaga kontrak daerah, jadi akan begitu mudah membuat Ani dipecat.


Dan pagi itu, saat di lepas pulang dengan perjanjian melegalkan hubungan mereka, Ani mencoba bunuh diri. Selama dua hari Ani di rawat di rumah sakit kecamatan. Di dalam dua hari itu, Farazlah yang merawat Ani.


Rasa sayang, rasa simpati itu tumbuh antara mereka.


Akhirnya, Faraz bersedia bertanggung jawab, dia akan menikahi Ani demi nama baik Ani. Dengan syarat, setelah enam bulan mereka bercerai kembali, mengingat dia sudah berkeluarga. Dan Ani bersedia, hanya untuk membersihkan dirinya dari cemoohan orang-orang. Setidaknya statusnya pernah menikah dengan Faraz.


Karena mereka berbeda kepercayaan, Ani kemudian memutuskan untuk mengikuti kepercayaan Faraz, dan menikah secara siri diam-diam tanpa sepengetahuan Atifa.


Awal mula pernikahan mereka hanya sandiwara untuk menutupi kesalahan satu malam mereka tetapi lama kelamaan Ani benar-benar jatuh cinta dengan suami sirinya itu karena kelembutan dan kebaikan Faraz.


Faraz yang dasarnya adalah orang yang baik, membimbing dan mengimami Ani yang kini mualaf, mengajari dan menunjukkan rasa sayang yang tak pernah di terima Ani dari mantan suaminya yang kasar dan ringan tangan.


Rasa takut kehilangan itu membuat Ani tergoda menjebak Faraz untuk benar-benar menjadi miliknya, paling tidak dia mempunyai suami seperti Faraz, meski harus berbagi dengan istri pertamanya.


"Aku Ikhlas di madu, Bang. Asalkan abang jangan menceraikan aku."


"Dik, kita sudah berjanji setelah enam bulan kita bercerai baik-baik."


"Jangan ceraikan aku, Bang...aku tak bisa hidup lagi tanpa Bang Faraz." Ani menghiba.


"Kenapa? kenapa kamu membuat semuanya sulit, Ani. Aku mencintai istriku aku mencintai anakku. Dosa yang telah kita lakukan ini pun aku tak tahu bagaimana caranya mengatakan pada Atifa, aku tak bisa berbohong pada Atifa lebih lama lagi."


"Aku juga mencintaimu, Bang. Bukankah bang Faraz juga punya perasaan yang sama padaku?"


"Aku...aku juga mencintaimu, Ani...tapi..."

__ADS_1


"Aku tak meminta bang Faraz bercerai dengan kak Atifa, Katakan saja pada kak Atifa, kita sudah menikah siri, dan aku bersedia di madu."


"Atifa tak akan mudah mengijinkannya, Ani...Dia sedang mengandung sekarang, bulan depan akan melahirkan, aku harus pulang."


"Bang...tapi...tapi aku juga sedang hamil anak bang Faraz..."


"HAAAAAH...!" Faraz terkesiap, matanya membeliak.


"Kamu hamil?"


"Aku hamil sudah 5 bulan."


Faraz tahu benar, Ani seorang bidan tak mungkin tidak tahu jika dia hamil dan mungkin juga dia lebih tahu bagaimana mencegah kehamilan dari kebanyakan orang.


Dan sekarang dia hamil?


Yah, Ani sengaja untuk hamil demi memiliki Faraz.


Faraz menikmati semua yang berbeda itu.


Sebaik-baiknya seseorang jika dia menutup matanya maka tak ada yang dilihatnya benar dengan yang lain. Apalagi jika mulai membandingkan-bandingkan.


Dia berfikir untuk meminta Ani menggugurkan kandungannya.


"Jika aku tak berhasil membujuk Atifa untuk berpoligami, bisakah kamu menggugurkan bayi itu?" Tanya Faraz dengan mata berkaca, sungguh dilema baginya mengambil keputusan jahat itu.


"Aku tak akan menggugurkannya, Bang! Aku bersumpah akan tetap akan melahirkan bayi kita, meski mungkin bang Faraz tak pernah kembali lagi setelah ini. Aku bersumpah setelah melihat wajah anak kita, aku akan mati bersama mereka, meminum racun dari gelas yang sama. Dan bang Faraz akan hidup bahagia di atas tiga nyawa." Ani bersikukuh dengan tangisan yang meluluh lantakkan perasaan Faraz.


Kepulangan Faraz, hari itu ingin jujur pada Atifa tapi sang istri meraung, nenangis tak terima jika dia memiliki perempuan yang lain selain dirinya, meski dia berkali-kali membujuk Atifa untuk bisa menerima Ani.


Malam itu, Faraz mempertimbangkan banyak hal,


Atifa mempunyai seorang kakak yang baik dan menyayanginya yaitu Syarif, dia tak akan kekurangan kasih sayang sementara Ani sebatang kara hanya memiliki Adka putranya. Dia anak dari panti asuhan yang di bersekolah bidan karena beasiswa pemerintah.

__ADS_1


Jika dia meninggalkan Atifa, ada orang yang masih bisa menjaganya? Tapi kalau Ani, dia tak punya siapa-siapa dan mati tentu bukan hal yang menakutkan baginya. Fikiran tak berdasar itu membuat Faraz akhirnya memutuskan meninggalkan Atifa yang sedang hamil tua.


Dia yang dirasuki nafsunya, yang dirasuki keinginan dagingnya mengkhianati pernikahannya secara total.


*Saat orang dikuasai nafsu, tak ada apapun yang bisa membuatnya berfikir jernih*


Sekembalinya, Faraz resign dari perusahaannya, bersamaan dengan Ani yang dipindahkan ke desa sebelah yang berjarak 60 km dari tempatnya yang lama karena di kampung itu ditempatkan seorang dokter yang sedang tugas ikatan dinas.


Faraz bekerja sebagai nelayan di pinggiran sungai Barito sambil sambil membuka bengkel sepeda kecil, nenunggu kelahiran anaknya dengan Ani.


Tepat saat Ani melahirkan putra keduanya Aqsa, Faraz yang sedang 'manyuar' (memancing ikan malam) menggunakan perahu di pinggir sungai Barito di sambar oleh buaya. Untung saja Faraz bisa menyelamatkan diri di bantu oleh seorang nelayan lain, meski dia harus kehilangan empat jari kakinya.


Dan, penderitaan Faraz tak kurang lagi, dua tahun setelah melahirkan bayi yang ternyata ada jelainan pada langit-langit mulutnya sehingga sedikit kesulitan berbicara itu, istrinya, Ani meninggal dunia karena penyakit yang tak diketahui jelas penyebabnya. Hanya saja setiap menjelang subuh, Ani akan kesakitan pada perut bagian bawahnya. Jika sakitnya datang Ani bahkan berguling-guling di tempat tidurnya.


Mereka sudah memeriksanya, tetapi hanya di diagnosa terkena maag kronis. Selama Tiga minggu Ani menderita siksaan setiap subuh, kesakitan pada perutnya hingga nyaris sesak nafas bahkan jika kambuh Ani sampai memohon-mohon untuk mati karena tak tahan sakitnya.


Dokter menyerah, tidak ada apapun di perut Ani kecuali indikasi lambungnya yang terkena Gastritis dan dokter telah memberi pengobatan yang sesuai.


Sebelum meninggal, Ani memohon kepada Faraz untuk kembali kepada Atifa, istri yang di tinggalkannya.


"Bang, aku mau kamu kembali pulang pada kak Atifa...sampaikan permintaan maafku padanya." Ucap Ani dengan air mata yang menggenang di sudut matanya.


"Aku telah berdosa padanya, mungkin azab sedang menimpaku, telah merampasmu dari kak Atifa."



*Kadang kita menolak untuk mendengar teguran orang sampai kita di tampar oleh perbuatan kita. Kesadaran yang paling menyakitkan ketika kita di sadarkan dengan pelajaran yang datang dari diri kita sendiri.*


(Okaaaay, itu adalah asal usul cacatnya Faraz dan hilangnya Ani dari kisah ini, ya😅 Faraz pernah berkata dalam suratnya, katakan dia telah mati tenggelam hanyut dalam sungai Barito jika Aisyah bertanya kemana ayahnya dan Tuhan mengabulkan doanya, paling tidak sebagian telapak kakinya hilang di makan buaya seperti do'a para readers🤣🤣🤣🤣)


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


...Jangan Lupa dukungannya yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis😂...

__ADS_1


__ADS_2