
“Aku telah gagal sebagai suami dari awal aku mengucapkan ijab Kabul dengan Diah, akau telah gagal menjadi seorang ayah sejak aku memaksa Diah untuk menggugurkan anakku, aku telah gagal dalam semua hal. Aku mengakuinya dan aku akan bersediamempertanggungjawabkan kelak di hadapan Tuhan, karena aku memang telah gagal di masa lalu.” Bram menahan nafasnya yang tiba-tiba memburu.
“Tetapi mama yang selalu menuntutku untuk mempertahankan Diah meski mama tahu benar itu menyiksa Diah, mama yang memaksa Diah bertahan walau mama tahu diah sudah tak sanggup lagi, aku minta maaf mengatakannya, mama sebagai seorang mertua juga mempunyai andil membuat Diah menderita."
Mata perempuan berumur itu tak berkedip menatap Bram, anaknya ini jarang berbicara banyak tetapi hari ini dia melihat Bram begitu berapi-api.
“Apakah kamu benar-benar mencintai perempuan yang menjadi simpananmu itu? Sampai-sampai kamu merasa bahwa perceraianmu dengan Diah adalah hal yang kamu inginkan.” Suara Mama Bram menjadi tajam. Sorot itu menunjukkan kekecewaan yang dalam. Sampai saat ini dia masih belum bisa menerima perceraian Diah dengan Bram, meskipun untuk mencegahnya dia tak lagi punya kekuatan. Diah sangat berkeras dan Bram mengabulkannya. Sebagai orangtua yang sangat menyayangkan perpisahan itu, mama Bram merasa sangat terpukul.
“Aku tak berbicara tentang siapapun selain tentang apa yang terbaik bagi kami berdua, aku dan Diah.”
“Mama tak akan pernah merestui jika kamu akan menikahi kekasih simpananmu itu! Sampai matipun mama tak akan merestuinya."
“Aku tak akan menikahinya! Mama tak perlu kuatir.” Wajah Bram bersemu, bayangan malam terakhir dia bertemu dengan Sally segera berkelebat seperti kereta hantu, lewat di depan matanya. Rasa sakit menyergap sampai ke sumsum, dia merasa dirinya benar-benar kehilangan harga karena peristiwa itu.
“lalu apa yang kamu inginkan dengan menceraikan Diah, jika kamu tidak akan menikahi orang lain? “
“Aku menginginkan Diah bahagia.” Jawaban itu pendek tetapi membuat mama Bram sesaat terpana menatap puteranya itu. Sesuatu yang tak pernah dia dengar selama ini jika Bram sungguh-sungguh berharap untuk kebahagiaan istrinya itu.
__ADS_1
Pernikahan mereka bukan karena perjodohan, tetapi sepasang suami istri itu seperti dua orang yang tak pernah bisa menyatu, mereka begitu asing satu sama lain. Bram begitu semena-mena terhadap Diah sementara Diah terlalu takut saat berhadapan dengan Bram.
Mama dan papa Bram menyetujui pernikahan mendadak itu karena Diah yang datang pada mereka dengan tangisan dan membawa darah daging Bram dalam rahimnya.
Mama Bram tak terlalu dekat dengan Diah tetapi dia menyayangi cucu-cucunya dengan sangat, Bram juga adalah anak yang sangat di sayanginya, sedikit banyak selama ini mereka memang terlalu lunak pada Bram dan terkesan membiarkan Bram mengkhianati pernikahannya bekali-kali dengan mengorbankan perasaan Diah.
“Sejak kapan kamu perduli pada kebahagiaan Diah? Kamu meninggalkannya berkali-kali, kamu berselingkuh darinya dan tak pernah sekalipun mencoba mendengarkan orangtuamu ini demi perempuan yang selama ini kamu pacari itu. Sekarang kamu menyalahkan mama yang berharap kalian tidak bercerai, mama hanya tidak mau cucu mama di pisahkan dari mama.”
“Aku menceraikan Diah, karena aku ingin membebaskannya dari pernikahan kami yang telah berantakan sejak awal. Mama kira aku tidak merasa sakit dengan perceraian kami? Tapi sesakit-sakitnya aku atau mama atau siapapun di luar lingkaran hubungan kami, Diah adalah orang yang paling sakit. Semakin lama ku berfikir selama beberapa waktu belakangan ini, setelah perceraian kami, aku merasa bersyukur bahwa aku mengambil keputusan yang tepat dengan menceraikannya. Setidaknya aku tidak memperpanjang penderitaannya dengan tetap sebagai istriku.”
Mama Bram tercengan menatap pada Bram, selama ini dia tak pernah mendengar anaknya ini begitu memepertimbangkan perasaan orang lain selain perasaannya sendiri.
Pertanyaan itu di lontarjan oleh Bram dengan volume yang rendah tetapi mama Bram merasa seperti baru saja di tusuk dengan keras. Dia menatap lekat pada Bram, dia tertegun dengan ketenagan dan kepasrahan yang kini terpancar di raut wajah putranya yang selama ini begitu keras kepala dan selalu bersikap semaunya itu. Bram tampak berbeda, dia telah berubah, seperti bukan Bram yang di kenalnya selama ini.
“Bram…mama hanya memikirkan nasib Bella, kamu tak akan tahu penderitaan seorang anak yang orangtuanya tak lagi bisa bersama.”
“Bella akan baik-baik saja, dia berada di tangan yang tepat selama itu adalah dengan Diah. Aku tahu benar, taka da istri dan ibu yang sesempurna Diah untuk anakku.” Bram menelan ludahnya, membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Penyesalan itu menggelitik lagi,
__ADS_1
“Jika kamu tahu, Diah itu istri yang baik, kenapa kamu menyia-nyiakannya?” Mama Bram baru kali ini merasa bisa berbicara begitu banyak dengan Bram. Dulu, dia baru berbicara beberapa kalimat, Bram akan segera pergi meninggalkannya, dia tak pernah mau mendengarkan orang lain.
“Karena pada saat itu, mata dan hatiku di kuasai oleh keegoisan dan kejahatan!”Jawaban Bram terdengar begitu menyedihkan, suaranya bahkan gemetar saat mengucapkannya.
“Bram…” Mama Bram menatap anaknya itu, wajah keruhnya terlihat hampir tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Dia tak punya kata-kata lagi, Bram sekan menyudahi perdebatan mereka dengan menunjukkan pada mamanya, dialah akar dari semua permasalahannya dan dia telah berpasrah diri dengan semua resiko yang kini di tanggungnya.
“Mama, Bella akan baik-baik saja. Meski aku dan Diah bercerai, Bella akan tetap bertemu denganmu karena kamu adalah neneknya, dan aku sampai di akhiratpun tetap adalah ayah bagi Bella. Tak akan ada yang berubah, kecuali sekarang aku tak lagi mengikat Diah dengan status sebagai istriku. Dia tak lagi berkewajiban melayani dan mendengarkanku. Dia tak akan merasa sakit lagi, ketika memandang wajahku.” Bram menunduk dalam-dalam, ada kabut yang menggantung di pelupuk matanya, dia hanya berusaha menyembunyikannya. Dia teringat semua perkataan Diah, berdenging halus di telinganya.
“Untuk bertemu dengan keyakinan ini, aku telah melewati banyak malam dalam tahajjudku. Bercerai mungkin memang bukan jalan yang baik tapi inilah sekarang yang terbaik. Aku menyerah, mas. Aku tak bisa terus menghibur hatiku, mengatakan aku kuat dan baik-baik saja. Tidak ada satupun perempuan di dunia ini yang benar-benar sanggup di siksa dengan pengkhianatan, di duakan, di hina dan di sakiti seperti yang telah mas lakukan. Aku lelah, mas...dan aku tak mau lagi diperlakukan seperti barang rongsokan” kalimat itu masih terasa jelas di telinga Bram, ketika Diah meminta perceraian darinya.
“Maafkan aku, yang sampai akhir tak pernah bisa membuatmu bahagia dengan kehadiranku. Aku tak lagi ingin berjuang untuk menjerumuskan diriku dalam kesia-siaan. Aku tak menyalahkanmu atas penderitaanku, karena aku sendiri yang terjun ke dalam kubangan yang aku tahu adalah lumpur. Mari kita akhiri semuanya, seperti seharusnya pernikahan ini tak pernah terjadi. Aku berdoa, bahkan di alam berbeda, jangan sampai kita dipertemukan lagi." Dan Kalimat yang menghantui bahkan sampai tidurnya hingga kini. Sebesar itulah kekecewaan Diah padanya, lalu di mana celah baginya untuk mempertahankan rumah tangganya seperti yang diminta oleh sang mama. Bahkan dengan sejuta maafpun tak akan mengembalikan luka hati yang telah di goreskan oleh Bram pada Diah selama pernikahan mereka sejak dari awal.
Bram meraih tangan sang mama, yang menitikkan airmatanya, melihat bagaiman keadaan putranya itu.
“Jika mama benar-benar perduli pada Diah, jangan pernah memintanya kembali lagi.” Ucapnya Lirih.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
__ADS_1
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...