CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 75 TAK SABAR UNBOX!NG


__ADS_3

Orangtua Bram benar-benar merestui hubungan Aisyah dan Bram. Bahkan, saat pertama kali Bram memperkenalkan Aisyah pada mama dan papanya, mereka mendesak Bram untuk segera menikahi Aisyah.


"Ini gadis yang kau ceritakan dalam beberapa bulan ini?" Mama Bram mengusap kepala Aisyah, gadis itu menunduk dengan raut malu. Dia tak pernah di perlakukan dengan begitu lembut oleh seorang ibu kecuali pada masa kanak-kanaknya.


"Iya, ma." Bram menyahut malu-malu, mamanya terlalu blak-blakan, mengatakan kalau dia suka menceritakan soal Aisyah pada sang mama.


"Apakah kamu mencintai, Bram?" Mama menatap Aisyah dengan lembut, dia tak pernah melihat anak gadis begitu santun seperti ini baik dalam berpakaian maupun bersikap. Diah memang tak kurang baik, hanya saja mantan istri Bram itu terlalu penurut dan tak banyak bicara.


Aisyah mengangguk dengan malu-malu, sikap polosnya begitu menggemaskan di mata Bram.


"Bram, apakah kamu juga mencintainya?" Mama nendelik pada Bram dengan penuh selidik, dia ingat dulu Bram menikahi Diah tanpa dasar cinta maka kandaslah rumah tangga mereka, dia sungguh tak ingin hal itu terulang kembali.


"Akh, mama...yang begituan jangan di tanya." Wajah Bram memerah, duda cukup berumur ini merasa malu di tanya seperti anak-anak di depan Aisyah.


"Eh, jawab. Mama perlu jawabanmu." Mama melotot pada Bram.


"Ya, iyalah ma..."


"Ya, iyalah apa?"


"Ya, iyalah, aku cinta sama dia." Bram menyahut sambil melirik Aisyah yang wajahnya tampak merona tersipu.


"Nak Aisyah, kamu juga benar-benar mau sama Bram?"


Aisyah menatap mama Bram sedikit bingung, pertanyaan mama Bram membuatnya susah menjawab.


"Maksud mama, kamu benar-benar mantap nih memilih Bram jadi pasanganmu?"


Aisyah menjawabnya dengan anggukan, dia semakin malu ketika Bram tersenyum lebar padanya.

__ADS_1


Mama Bram menatap Aisyah dengan terpesona, dia tak tahu apa yang ada di balik diri gadis ini sehingga bisa membuat kepribadian Bram jauh berubah dalam setahun terakhir ini.


Bram tak lagi arogan dan lebih tenang, dia tidak lagi liar seperti dulu bahkan sekarang Bram sosok yang santun dan rajin beribadah. Dia adalah orang yang paling cerewet dalam rumah jika ada yang melewatkan sholat.


"Jangan mempermainkan perasaannya, jangan menyakitinya. Kamu berdosa besar jika menyakitinya..." Mama memegang bahu Aisyah yang tertunduk di depannya, antara malu dan segan.


"Dia adalah gadis yang baik, semua hal baik telah merubahmu, salah satunya karena kehadiran Aisyah dalam hidupmu." Mama Bram telah memberi restunya, begitupun sang papa.


Tak pernah papa Bram menitikkan air mata, ketika Aisyah mencium punggung tangannya untuk pertama kali.


"Tahukah kamu, nak Aisyah. Bram telah lahir kembali bagi kami. Aku tak pernah menyangka, Bram menjadi seperti sekarang setelah semua kekacauan dalam hidupnya. Terimakasih telah datang dalam keluarga kami." Papa Bram, pensiunan yang mulai sakit-sakitan itu terlihat bahagia luar biasa.


Selama ini dia berfikir anak semata wayang mereka itu tak pernah berubah. Tetapi, tak ada yang terlambat saat seseorang menyadari kesalahannya.


"Jangan pernah menyia-nyiakan perempuan ini, Bram. Aku tak akan memaafkanmu jika kamu melakukannya." papa Bram mendelik pada putranya itu.


"Jaga dia, sayangi dia..."


"Ya, mustinya kamu malu, lho. Anak gadis jagain duda."


"Papa tidak usah bawa status ah. Aisyah sudah menerima aku apa adanya, ya kan sayang?"


Aisyah makin salah tingkah dengan sikap genit Bram yang baru di lihatnya sedikit over hari ini. Biasanya laki- laki ini suka jaga image, sok dewasa menasehati dirinya.


Sekarang di depannya, mirip bocah pecicilan.


Papa Bram tersenyum puas melihat dua orang itu bergantian.


"Setidaknya, jika aku harus meninggal nantinya, aku tenang karena melihatmu sudah bisa bertanggungjawab dengan benar."

__ADS_1


"Papa, jangan ngomong begitu dong di depan Aisyah, rasanya aku jadi seperti bocah jahat saja." Raut wajah Bram masam.


"Kalau sudah mantap cepat lamar dia, biar cepat halal..." Papa Bram melirik Bram yang terlihat begitu bersemangat memperkenalkan Aisyah pada mereka.


"Iya, ini rencana mau lamaran cepat-cepat, makanya Aisyahnya ku bawa kemari, pa. Minta restu mama dan papa, begitu maksudnya..." Bram mengerling nakal pada Aisyah, yang di lirik mengangkat wajahnya saja tidak berani.


"Akh, soal restu mah gampang nak, kalau kalian sudah mantap berumah tangga, orangtua cuma mendukung saja. Tapi, ingat kesalahan di masa lalu jangan di ulang lagi. Mama dan papa tidak mau kamu mempermainkan anak orang lagi." Mama Bram merengut menatap kepada Bram.


"Iya, ma. Tenang saja, untuk yang ini Bram janji, tidak akan nakal lagi. Aisyah bakal Bram bahagiakan dunia akherat." Bram berucap dengan mimik jenaka.


"Eh, jangan main-main begitu. Mama serius ini! Awas, ya" Mama mendelik pada Bram.


"Kurang serius apa lagi aku, ma? Aku malah tak sabar segera nikah. Kalau bisa besok langsung ijab qobul saja."


"Haaah..." Aisyah mengangkat wajahnya terkejut nendengar pernyataan Bram.


"Mas..." Wajahnya yang lugu itu menatap Bram memelas, dia ketar ketir juga kalau di bawa menikah mendadak begitu.


"Mas tak sabar sudah..." Bram mengedipkan matanya pada Aisyah, senang membuat gadis itu akhirnya menatap ke arahnya.


"Tak sabar apa?"Papa memalingkan wajahnya kepada Bram yang tersenyum lebar menggoda Aisyah di depan kedua orangtuanya itu.


"Tak sabar unbox!ng." Jawab Bram sambil nyengir pada Aisyah.


"Unbox!ng? Unbox!ng itu apa?" Tanya Aisyah dengan polos. Matanya berbinar, begitu lugu.


(Hari ini kita usahakan Double UP yaaa☺️ di tunggu lanjutannya🤭)


__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


...Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis😂...


__ADS_2