
"Syah...kamu harus gercep, lho." Mpok Mumun sibuk mengupas bawang di tangannya, dia dan Mbak Retno dapat job membuat nasi liwet acara hajatan di rumah tetangga besok malam, karena Aisyah pandai memasak, maka Aisyahpun di ajak sekaligus ajang dua perempuan kawan dekat Aisyah itu memberi ceramah, masukan dan nasehat soal percintaan untuk Aisyah yang sedang jatuh cinta dengan Mas Bram, duda keren itu.
"Gercep itu apa?" Aisyah melongo pada Mpok Mumun, yang meski usianya sudah empat puluhan tetapi tetap terlihat awet muda itu.
"Astaga, kamu itu bener-bener ndak bisa di selamatkan lagi, gercep aja ndak ngerti. Gerak cepat syah, gerak cepat. Itu bahasa gaul. Ck...ck...jadi orang kok polosnya kebangetan." Mbak Retno menyambar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tangannya sendiri sibuk membantu Mpok mumun memilah bawang.
"Iya, nih. Kagak paham-paham die. Eh, syah sekata mas Brem itu jodoh elu, bakal bahagia dunia akherat elu. Mpok Jamin deh." Kalau mpok Mumun sudah ngeluarin kata elu gue, berarti dia sudah serius tingkat dewa.
"Mas Brem? Mpok sudah Retno bilang namanya mas Bram bukan mas Brem. Ganti nama orang itu nyembelih kambing, lho." mbak Retno merengut.
"Dah, terserah mulut-mulut aye." Balas mpok Mumun tanpa perduli dengan protes mbak Retno.
"Kagak usah mikir kepanjangan, Syah. Agamanya bagus, sholeh. Rajin sembahyang, jaminan jadi imam bagus, masuk surga kayak jalan tol jadi istrinye. Terus orangnya kaye, dermawan, kagak perhitungan. Dengan istri pasti gak bakal nurunin kalkulator. Die aja dah berencana nyekolahin Tito di sekolah intermilan eh...internasional itu, dah pasti duitnya bejibun, kamu kagak bakal ketemu nasi kucing ame tiwul lagi." Oceh mpok Mumun.
Aisyah tersenyum malu-malu, mendengar ocehan mpok Mumun dan Mbak Retno soal dirinya dan Bram.
"Dah pernah ketemu calon mertua belon?" Tanya mpok Mumun sok interogasi.
Aisyah menggeleng.
"Wah, mas Bram iki kebangetan, calon isteri belum di bawa ketemu keluarganya. ish...serius opo ndak, sih?" Mbak Retno mengenyitkan keningnya.
Aisyah terpana, di tatapnya sejurus mbak Retno seolah baru sadar bahwa dia tak mengenal siapapun dari pihak keluarganya Bram, bagaimana mungkin dia bisa berharap begitu banyak dengan hubungannya dengan laki-laki itu.
"Syah, kamu ndak pernah di bawa ke rumahnya?" Tanya mbak Retno lagi.
__ADS_1
"Belum pernah, mbak." Jawab Aisyah pendek dengan raut ragu.
"Wah, ndak bener ini. masa janji ngelamar tapi ndak pernah kenalin kamu ke keluarganya?"
"Eh, kagak usah ngomporin lu, Ret. Jangan suka pelihara fikiran suudzon model gitu itu. Aisyah belon di bawa ke nyaknya mas Brem, ya karena belon waktunye aje kali. Die pasti mikir yang di temuin siape pas ajak nyak babenya lamaran Aisyah? Elu? Ya kagak, kan? Mangkenye tuh lagi di cariin sama mas Bremnya babe Aisyah biar ada walinya pas Aisyah di lamarin." Mpok Mumun memonyongkan bibirnya yang setengah dower itu dengan muka kesal ke arah Mbak Retno.
Yang di omelin cuma meringis sambil melirik Aisyah.
"Oh, ngono tho..." Mbak Retno masam mesem melirik raut wajah Aisyah langsung berubah ketika membicarakan tentang ayahnya.
"Ada perkembangan ndak soal kabar ayahmu?" tanya Mbak Retno kemudian.
"Aku tidak mau bertemu dengan ayahku sekarang..." Tiba-tiba Aisyah berucap dengan lirih.
Mbak Retno dan mpok Mumun saling bertukar pandang.
"Eh, kagak boleh begitu, Syah. Biar bigimana, itu babemu, orangtuamu lho."
"Ayahku tak pernah mencintaiku, dia pergi begitu saja saat aku kecil. Apa yang bisa kurindukan darinya? sosok ayahku tidak pernah bertanggung jawab terhadap keluarganya, tidak pernah menafkahi, bahkan menghancurkan kehidupan ibuku menjadi tak berbentuk sampai berkeping-keping. Aku...aku tak ingin bertemu dengannya. Apakah aku salah jika tidak ingin bertemu?" Aisyah menundukkan wajahnya, semburat luka itu merebak di matanya yang jernih itu.
"Syah..." Mbak Retno memegang tangan Aisyah dengan pias prihatin.
"Kamu ndak salah, ndak salah sama sekali. Mengingat ayahmu sangat-sangat ndak bertanggungjawab, wajar itu menimbulkan luka begitu dalam untuk kamu. Jika aku diposisimu mungkin aku akan bersikap sama. Bahkan jika kamu membenci ayahmu sampai seumur hidup juga itu ndak salahmu, kok." Jawaban mbak Retno membuat kepala Aisyah terangkat, baru kali ini dia mendengar seseorang yang dengan gamblang menyetujui perasaannya tentang rasa benci yang diam-diam di simpannya dalam hati itu.
"Eh, astagfirullah Ret, elu kagak boleh ngomong begitu? dosa, lho!" Mpok Mumun melotot.
__ADS_1
"Lah, aku ngomong sebagai manusia biasa, mpok. Aisyah memang ndak salah opo-opo. Tapi, aku ndak bilang Aisyah juga benar, lho. Namanya orangtua ya tetap orangtua, seburuk apapun mereka. Kita ndak bakal bisa mbrojol ke dunia tanpa salah satu dari mereka. Tapi, semua memang butuh waktu untuk menyembuhkan diri, ya tho? belum bisa menerima yo wes, tapi belum tentu ndak bisa memaafkan." mbak Retno menatap Aisyah, tatapan seorang teman yang mengerti.
Mpok Mumun mengerjap matanya, menatap mbak Retno, menyelami maksud perempuan yang meskipun mulutnya seperti kupasan bawang saat membedah urusan orang tetapi dia adalah orang yang jujur dan apa adanya saat berbicara.
"Sebagai orang yang ndak merasakan berada di posisi Aisyah ya masa kita menghakimi perasaannya Aisyah, mpok? Wajar tho? Kalau mpok Mumun jadi Aisyah belum tentu lho bisa nrimo dan adem sampe sekarang." Mulut mbak Mumun meruncing khas dirinya kalau lagi serius.
"Ya, tapi sebagai temen...pendapat sebagai temen lho, ya. Ndak ada gunanya kita menyimpan kebencian terlalu lama. Kemarahan seperti itu menghalangi kebahagiaan kita sendiri. Hak kita merasa marah tetapi kewajiban kita memaafkan, hak Allah memberi ujian tetapi Allah akan membalasnya umatnya dengan setimpal. Wes, okelah Ayahmu bersalah, ninggalin keluarga, fix dosa besar, sebagai suami, sebagai ayah ndak menafakah ya hukumnya tetap salah. Tetapi yang pantes menghukum ya masa anaknya? Yang pantes menghukum hanya Allah."
Aisyah dan Mpok Mumun melongo menatap Mbak Retno seolah terpana,
"Ret, elu sehat-sehat aja, kan?" Mpok Mumun memegang dahi mbak Retno, si nyablak ini tumben waras hari ini.
"Mpok Mun, Retno memang ndak sepintar Aisyah soal agama, ngaji yo seadanya, Retno jugq ndak sepengalaman mpok Mumun yang sudah berpengalaman di bidangnya dalam hal rumah tangga. Tapi di bidang urusan di khianatin, di jandain, Retno lebih tahu rasanya. Kalau ndak kurang-kurang iki sabar neng ati, ngikut bude Atifa aku ke panti." Mbak Retno terkekeh seakan merasa lucu dengan pernyataannya sendiri.
"Supaya ndak jadi beban, lha aku santai wae, berserah sama urusannya Allah saja. Ta ma'afin semua, terserah lah, Tuhan atur aja, aku manut aja. Lah dosa pahala kam masing-masing kita yang bungkusin ke akherat nanti. Orang bilang aku jande gatel, yo wes ta garukin yang penting aku ndak pernah gangguin rumah tangga uwong, orang ghibahin aku, yo sekareplah, paling-paling ta ghibahin balik, wes aman. Kecuali ada yang ngajak duel, yo monggo cari tempat gelud. Tapi semua urusan dunia yang bikin puyeng ndak aku bawa ke jantung. Jadi pas mau tidur, plong nyess, ndak kefikiran lagi." Tutur Mbak Retno dengan gaya santainya, setengah curhat sambil mengeluarkan cara berfikirnya yang sederhana itu.
"Hidup itu, simpel tanpa syarat kalau dinikmati. Di terima aja, kalau pak ustad bilang, belajar ilmu ikhlas, bisa ngamalinnya seupil saja, wes hidup bakal waras lahir bathin." Mbak Retno mengahiri ceramahnya dengan senyum lebar seolah baru menang perang, membuat Aisyah terpana begitu lama, tanpa menyadari ponselnya berbunyi, sebuah pesan masuk
Bram [ Dia memang benar ayahmu, aku telah menemukan rumahnya]
(Tak selamanya belajar tentang hidup dari orang yang lurus, tetapi kadang kala kayu yang bengkok lebih tahu sakitnya di patahkan🤗 ambillah hal yang baik, buanglah yang buruk dari pengalaman orang, supaya kita bisa belajar maknanya menjadi manusia🙏🤗)
...Mbak Retno...
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏...